Thursday, December 26, 2019

Mencoba Menjadi Stoik

Kalian tahu apa itu stoicism?

sto·i·cism
/ˈstōəˌsizəm/
noun
  1. 1.
    the endurance of pain or hardship without the display of feelings and without complaint.


Belakangan kayaknya istilah ini mulai agak populer di Indonesia karena Henry Manampiring bikin buku Filosofi Teras. Gue belum baca sih. Haha. Tapi pernah belajar stoicism ini dulu di kampus.

Intinya, kalau sepemahaman gue, stoic itu gak bereaksi berlebihan terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita, walaupun itu 'menyakitkan'. Kalau kata orang Jawa (baca: bapakku) ora usah getun. Gak usah kecewa berlebihan. Gak usah marah, sedih berlebihan.

Belakangan gue 'kehilangan' dua hal yang cukup signifikan: pertama, saat otw balik ke Cilacap, gue lupa bawa charger, powerbank dan earphone. Waduh, beberapa menit pertama pas baru nyadar, cukup panik. Tapi yaudahlah mau gimana lagi (kayaknya kalimat ini kunci stoicism). Akhirnya yang gue lakukan adalah whatsapp mama, ngabarin kalau misalnya nanti gak bisa dihubungin gak usah panik, karena batre gue lowbatt atau mati. Karena gak bisa dengerin spotify, sepanjang perjalanan gue malah banyak merenung dan akhirnya tidur cukup nyenyak.

Sampai di rumah, masih agak mati gaya juga karena gak ada earphone. Tapi ternyata, karena gak ada konsumsi audio, gue malah bisa menyelesaikan baca dua buku.

Kemalangan (walah lebay) gue gak berhenti sampai di situ. Gue accidentally menghapus semua pesan whatsapp di hape gue termasuk whatsapp dari bang Fay.  Sebelumnya sejak punya hape ini, gue gak pernah hapus pesan di whatsapp, mungkin sudah hampir dua tahun lebih. Again, tapi yaudahlah mau gimana lagi. Karena semua pesan itu terhapus, gue jadi punya free memory untuk menginstall game kesukaan gue, hahaha. 

Intinya, mungkin gue sedang dilatih untuk menjadi stoic, untuk letting go obstacle-obstacle kecil dalam hidup biar bisa terus 'maju'. Dan mengalihkan energi gue untuk hal lain yang lebih penting.

Aja kakehan getun.

Friday, December 20, 2019

Mengenal Diri Sendiri, Sekali Lagi

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya memutuskan bergabung dengan KLIP, kepanjangannya adalah Kelas Literasi Ibu Profesional. Jadi triggered ya ada term 'Ibu'. Walaupun mayoritas membernya memang mereka yang sudah punya anak, yang belum kayak saya juga ada kok (bukan saya doang gituuh). KLIP ini kalau gak salah adalah sub-kegiatan Institut Ibu Profesional-nya Ibu Septi Peni.

Lalu, kenapa saya memutuskan untuk gabung dengan KLIP ini. Awalnya terinspirasi dari Kak Dea Adhicita. Kak Dea adalah mentor liqo saya yang paling uwu (apa pula uwu itu yak?). Saya perhatikan Kak Dea setiap hari menulis di laman facebook atau blognya. Setelah ditelisik, ternyata Kak Dea mengikuti KLIP ini, jadi jebe lah saya.

KLIP ini mengharuskan membernya (kalau bisa) untuk setor satu tulisan setiap harinya. Hal ini menantang saya untuk menjadi 'produktif'. Bahwa cukup menyenangkan merayakan keberhasilan kecil setiap hari, misalnya setor tulisan ke KLIP. Haha. Lalu apakah saya berhasil? tentu tidak, Hahaha. Tapi saya tidak sedang bersaing dengan siapapun, saya sedang bersaing dengan diri saya sendiri di masa lampau. Jadi target saya tahun ini memang: menulis sebisanya, agar semua bisa terdokumentasikan dan tidak menguap begitu saja. Saya cukup bangga sama diri sendiri. Di blog ini, misalnya, tahun ini saya menulis lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya (wow *tepuk tangan sendiri*).



Tema tulisan saya di blog ini memang cukup random, kalau ada panutan yang saya ikuti dalam nge-blog yaitu adalah Pandji, iya Pandji timsesnya Anies Baswedan itu, haha. Walau tahun ini bahkan Pandji udah gak ngeblog lagi, kalau gak salah, dia pernah nulis-atau bilang- bahwa blognya adalah rekaman pikirannya sejak bertahun-tahun lalu, secupu apapun itu. Nah saya ingin memperlakukan blog saya demikian. Ini karena pikiran saya sering sekali berisik dengan banyak hal, dan gak setiap saat ada orang yang available untuk diajak ngobrol. Maka, blog ini adalah 'tantangan' bagi saya apakah saya bisa cukup mengartikulasikan keberisikan dalam otak saya.

Dengan demikian perjalanan menulis tahun ini ya sangatlah egois, untuk mengenal diri sendiri. Hehe. Maka dari itu seharusnya saya biasa aja dengan traffic blog ini yang 'menyedihkan'. Loh kenapa harus sedih? kan memang menulis untuk diri sendiri.

Selain di blog, tulisan yang saya setor ke KLIP juga ada pada instagram, bahkan google documents!. Instagram jadi dopamin banget sih kalau pengen immediate feedback dari followers. Biasanya kalau di instagram memang nulis sesuatu yang pendek, ringan, dan cukup 'aman' untuk dishare ke publik. Artinya saya gak perlu terlalu malu atau cemas dengan persepsi orang saat membaca tulisan saya. Blog ini resikonya intermediate (udah kayak produk investasi aja ada profil resikonya, wkwk). Kadang saya nulis sesuatu yang pengen saya share, tapi gak terlalu pengen dikomentarin. Aneh dah emang aing. Dan saya bahagia banget sih KLIP mengakomodir Google Docs, selama ini Gdocs cuma saya pakai untuk hal-hal terkait pembelajaran dan pekerjaan, tapi asyik juga ya nulis di gdocs, isi otak tertumpahkan namun tidak perlu membanjiri rumah orang lain, asik. Tulisan-tulisan di gdocs murni untuk konsumsi saya sendiri atau terbatas pada member KLIP saja.

Lalu bagaimana tahun depan?

Saya masih akan ikut KLIP, semoga saya makin konsisten merekam buah pikiran saya dalam tulisan-tulisan. Mulai berani beranjak dari zona nyaman, mungkin. Mencoba peruntungan lebih berani menulis di media?.

Saya excited menyambut diri saya sendiri di tahun depan. Satu bab yang pasti akan dibuka: paruh kedua tahun ini saya akan mulai S2 (wuhuu), insya Allah. Semoga saya juga bisa merekam ilmu-ilmu yang saya dapat di bangku kuliah dalam tulisan yang berkualitas, wuhu ambi ya kak.

Bagaimana dengan kuantitas? KLIP me-reward para membernya tiap bulan dengan badge outstanding (30 tulisan), excellent (20 tulisan) dan good (10 tulisan). Saya selalu dapet badge good, karena paling saya cuma menulis 10 tulisan. But, I'm good enough with good. Semoga setiap bulan saya dapet badge minimal good.

Salah satu achievement lain buat saya tahun ini adalah saya berhasil menulis dua cerpen Alexandria dan Abesien. "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara" seperti kata Seno Gumira Ajidarma. Walaupun bukan jurnalis, saya kepingin menjajal kemampuan sastrawi saya, hihihi. Semoga tahun depan sempat melanjutkan perjalanan saya meramu tulisan fiksi.

Menulis adalah skill, maka dari itu saya juga ingin memoles keahlian saya ini dengan belajar berbagai teknik kepada orang lain. Semoga ada kesempatan, dan uang. Haha

Terakhir, tahun depan saya ingin ngobrol dengan lebih banyak orang. Terinspirasi dari 30 Days of Lunch nya Ruby dan Ario. Tapi saya masih belum tahu bagaimana nanti akan mengintisarikan pertemuan-pertemuan itu. Semoga bisa dalam bentuk tulisan.

Wabillahi taufiq wal hidayah

"Segalanya menjadi mudah dengan mudah-mudahan" -Joko Pinurbo

Thursday, December 19, 2019

Mundane Things

Medio 2013, saya dipercaya menjadi penanggungjawab materi untuk OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) UI. Artinya saya bertugas untuk menyusun kurikulum dan tugas yang diberikan untuk para mahasiswa baru se-Universitas Indonesia.

Saya tidak akan bicara banyak tentang tugas dan program OKK yang saya susun bersama tim, karena tentu masih jauh dari sempurna. Jika kebetulan Anda adalah peserta saat itu, saya minta maaf.

Justru saya selalu mengingat betapa OKK mengubah saya sebagai individu, yang saat itu bukanlah peserta, melainkan panitia.

Mahasiwa/i UI tiap tahunnya ada sekitar 8000 orang, dan saya harus memeriksa SEMUA tugas yang sudah mereka buat. Walaupun sudah dibagi dengan tim, tugas ini rasanya sangat menyiksa. Saya sangat membenci tugas klerikal yang repetitif.

Pada saat itu saya berdoa, atau lebih tepatnya berkata kepada diri sendiri, "kalau saya bisa melewati semua ini, saya akan menjadi lebih baik di hari kemudian".

Benar saja, penderitaan itu berakhir. This too shall pass. 

Beberapa pekerjaan saya berikutnya (yang profesional dan dibayar) juga sering menuntut saya melakukan hal yang klerikal dan repetitif. Dan, saya baik-baik saja. Saya sudah pernah melewati yang jauh lebih buruk.

What doesn't kill you hurts you so damn bad makes you stronger!

Sunday, December 15, 2019

Our Stars Will Never Collide

your mind is a museum I'd like to visit everyday

your heart is a library, which books I really want to steal

your face is a precious artwork I'll never understand

then I thought you were home, you never was

our stars will never collide

Saturday, December 7, 2019

Spaghetti Marshmallow Challenge

Pada waktu onboarding Think Policy Society beberapa waktu lalu, kami bermain Spaghetti Marshmallow Challenge untuk ice breaking atau mengakrabkan diri satu sama lain.

Detail game atau tantangan ini bisa dilihat di sini hahaha dasar penulis malas

Intinya kami sebagai tim disuruh membuat menara dengan spaghetti, selotip dan benang setinggi mungkin dengan marshmallow berada di pucuknya, menara yang paling tinggi yang menang. Waktu pembagian kelompok, kebetulan gue sekelompok sama Afu dan dia langsung bilang "ayo kita fokus menang" hahaha kurang lebih gitu deh. Karena takut tangan gue yang clumsy akan mengacaukan pembangunan menara kami, gue memilih tugas remeh-temeh yaitu: nyobekin selotip. Tapi ternyata dengan demikian pembangunan menara berjalan dengan efektif dan efisien karena stok selotip selalu aman dan tersedia. Duileh serius amat. Dan tibalah masa pengukuran menara masing-masing kelompok daaan, yeaay kelompok kami menang!.
Menara kami yang akhirnya menang! yeay!

Anggota kelompok yang happy karena menang


Setelah game selesai, saatnya wrap-up. Hana, sang instruktur memberi kami tebak-tebakan kira-kira kelompok apa yang paling banyak berhasil dan paling banyak gagal dalam game ini?. Ternyata jawabannya: yang paling sering berhasil: anak TK, yang paling sering gagal: mahsiswa/i MBA. Hahaha. Kenapa begitu? salah satu faktornya adaalah: anak-anak MBA ini terlalu banyak bacot, pake teori dan gak langsung nyobain, ga ada yang mau ngalah.

Ternyata dibahas bahwa peran apapun penting. Exactly keputusan saya untuk guntingin selotip doang adalah sangat tepat. Kalau kata YSEALI, "no act is too small" *kalogaksalah yaa. Haha.

Kalau direfleksikan ke dunia nyata, saya kerap dan sering mengeluh karena yang saya kerjakan terlalu 'remeh-temeh'. Sama seperti pekerjaan guntingin selotip tadi. Tapi toh itulah yang membuat menara berhasil berdiri.

So, remember

No act is too small.


Sunday, December 1, 2019

Kim Ji Young, Born 1982

Beberapa hari lalu nonton film Kim Ji Young, Born 1982. Walaupun telat beberapa menit dan melewatkan scene yang penting, overall film ini memang bagus dan sukses bikin nangis beberapa kali. Huhu

Katanya film ini begitu dibenci di negara asalnya sampai aktrisnya dibully sama netizen. Memang kayaknya semua isu patriarki ditumpahkan dalam satu film sampai beberapa agak terkesan 'maksa'.

Sutradaranya cukup jago melihat segala 'keribetan' dari angle perempuan, misalnya saat Ji Young mau pipis di toilet umum sambil gendong anaknya dan bawa segala tentengan. Mungkin ini pentingnya peran perempuan di segala bidang, biar 'sudut pandang' kita terwakili.

Cerita film ini 'biasa' banget. Bahkan kayak cuma dengerin cerita tetangga atau temen deket lo. Saking 'biasa'nya isu-isu seperti ini lah yang sering diabaikan. Nah mungkin film ini pengingat buat kita untuk look around dan aware dengan orang-orang di sekeliling kita yang mungkin butuh bantuan.



Ini adegan yang relatable banget saat Ji Young nunggu cucian. Gue yang ngelakuinnya seminggu sekali aja bosen banget. Nah dia tiap hari. Tulung 

Sunday, November 10, 2019

Low Hanging Fruit

Low Hanging Fruit

"ya kita low hanging fruit aja lah" belakangan saya sering banget mendengar frasa itu. Apa sih maksudnya low hanging fruit?.

What Is Low-Hanging Fruit?

The term "low-hanging fruit" is a commonly used metaphor for doing the simplest or easiest work first, or for a quick fix that produces ripe, delectable results. In sales, it means a target that is easy to achieve, a product or service that is easy to sell, or a prospective client who seems very likely to buy the product, especially compared with other, more reluctant prospects.

dari investopedia.com

Tadi pagi saya baru saja mengerjakan soal SIMAK UI. Seperti kebanyakan soal, ada instruksi "kerjakan yang paling mudah terlebih dahulu".

Low Hanging Fruit, petik buah yang paling rendah, paling dekat, paling mudah untuk diraih.

Sebenarnya hal ini bisa jadi dalam kalau dimaknai, bahwa dalam hidup juga demikian. Kita kadang putus asa karena merasa beban terlalu banyak, sukses terlalu jauh. Kita juga bisa "low hanging fruit", kerjakan yang paling mudah dulu, nyetrika baju misalnya.

Hahahaa

semangat memetik buah yang paling mudah

Thursday, October 31, 2019

Jazakallah

"Jazakallah khairan katsir"

Agak terkejut dengan respon bapak penjual bakpao depan kosan saat saya membayar bakapo yang saya beli.

Walaupun secara gender, kalimat bapak barusan keliru, seharusnya Jazakillah bukan Jazakallah, karena ia mengucapkannya pada perempuan. Tapi saya tahu maksud bapak ini mendoakan, bukan sekadar mengucapkan 'terimakasih' tapi berarti: semoga Allah membalasmu dengan yang baik dan banyak. Sungguh doa yang jauh lebih manis daripada bakpao coklat yang ia jual.

Maka, sebetulnya beberapa orang bukan hanya 'sok arab'. Beberapa kalimat memang mengandung doa, yang mungkin akan 'wagu' kalau diterjemahkan.

Bukan berarti tidak cinta Bahasa Indonesia. Namun kita tahu bahwa sebagian besar bahasa Indonesia adalah kata serapan. Mencintai bahasa Indonesia adalah mungkin mengakui bahwa tidak ada yang benar-benar orisinil.

Terima kasih Bapak doanya, waiyyakum.

Saturday, October 19, 2019

Resensi Perempuan Tanah Jahanam

Kamis (17/10) kemarin saya 'tiba-tiba' diajak seorang teman nonton film terbaru Joko Anwar, Perempuan Tanah Jahanam.
Beberapa netizen menyebut film ini adalah karya Jokan (Joko Anwar) yang terbaik. Apa iya?
Film dibuka dengan sepasang sahabat Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) yang berjuang hidup di kota. Di tengah keputusasaan, Maya memutuskan mencari jejak kedua orangtuanya, Dini memutuskan untuk ikut.
Di desa terpencil bernama Harjosari inilah semua 'keabsurdan' terjadi.
Susah untuk mereview film tanpa membocorkan banyak spoiler.
Salah satu kehebatan Perempuan Tanah Jahanam adalah alur yang tidak bisa ditebak. Setiap adegan membuat kita bertanya-tanya, dia baik enggak ?, jadi bagaimana kelanjutannya?, jadi siapa yang salah?.
Kekuatan lain film ini adalah pada aktor-aktrisnya. Christine Hakim tidak diragukan lagi, sebagai Nyi Misni ia berhasil membuat penonton (baca: saya) stres sepanjang film.
Kehadiran tokoh utama perempuan lain membuat film ini menjadi satu dari sedikit yang lolos Bechdel test. Akting Ratih (Asmara Abigail) yang lugu namun berani membuat kita juga bertanya-tanya "dia ini maunya apa?!". Dan di akhir film lah pertanyaan kita baru terjawab, perempuan mana kah yang paling jahanam. Haha
Beberapa dialog di film ini seperti sengaja ditempelkan untuk menyindir masyarakat dewasa ini. Seperti "semuanya aja manusia diganti mesin, mau jadi apa negara ini" atau "lagian kenapa sih orang mati harus dikubur, ngabis abisin lahan aja".
Konflik film terkesan berakhir dengan adegan flashback yang menjawab semuanya. Hampir terasa agak deus ex machina.
Ada adegan yang tidak begitu 'penting' untuk alur cerita, tapi membuat saya kepikiran terus. Ketika Ratih dan Maya mengunjungi Tole di hutan, bayuli cacat yang 'dibiarkan' hidup dewasa dengan menderita.
Akhirul kalam, film ini sangat bagus. Lebih bagus dari Midsommar, dan tidak semenyeramkan Pengabdi Setan. Tapi cukup membuat saya keluar bioskop dengan perasaan terganggu.
Selamat menonton!

Tuesday, September 24, 2019

Mosi Tidak Percaya

Sedih. Itu mungkin yang merangkum perasaan saya atas keadaan negara hari ini.

Anggota legislatif yang kita pilih 5 tahun lalu tiba-tiba kepingin serangkaian Rancangan Undang-Undang bermasalah. Termasuk Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang mana beberapa poin di dalamnya amat sangat konyol.

Belum lagi, institusi yang kiranya menjadi terakhir dan satu-satunya, jika tidak satu dari sedikit yang masih dipercaya rakyat habis-habisan dikebiri.

Di tengah udara sesak di Sumatera dan Kalimantan yang dihirup bayi baru lahir hingga meninggal tanpa sempat diberi nama, presiden kita memilih pamer kemesraan dengan cucunya.

Marah.

Jika kita marah dengan pacar atau orangtua. Mungkin bisa saja kita ngambek. Pergi atau mengunci diri sebentar.

Bagaimana jika kita sedih, marah dan bahkan helpless kepada negara?

Dari dulu saya tidak pernah menganggap demo atau unjuk rasa sebagai sesuatu yang negatif. Ia adalah salah satu bentuk partisipasi politik. Agar penguasa tahu kita marah, agar semua orang tau ada masalah.

Tadi malam saya tidak bisa tidur, terus melihat linimasa twitter, amarah publik yang menjadi-jadi.

Padahal pagi hingga siang esoknya saya harus rapat di 3 tempat berbeda. Saya bangun dengan kalut. Rasanya ingin turut ambil bagian dalam Mosi Tidak Percaya ini, tapi ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Semua rapat saya selesai jam 5 lebih, ditambah macet saat harus kembali ke kantor. Saya lelah, merasa lemah. Tiba-tiba ada rasa hendaya, ketidakmampuan untuk bertindak.

Sesaat kemudian, teman dekat saya yang ikut aksi mengabari. Dia dikejar polisi dan terkena gas air mata. Beruntung berhasil selamatkan diri.

Sedih,

Tapi sekaligus bangga melihat adik-adik mahasiswa, yang bahkan mungkin baru lahir 1998. Mereka tidak kenal Soeharto. Mereka lahir dalam udara reformasi yang bersama-bersama kita rayakan. Maka mereka yang pertama maju ketika reformasi ini dikorupsi.

Panjang umur perjuangan,

dari kami yang tidak mampu berbuat banyak

Tuesday, September 10, 2019

"Saya Nggak Bisa Bahasa Inggris"

Di sebuah grup whatsapp, seseorang meminta informasi lowongan pekerjaan. Karena kantor saya kebetulan sedang membuka banyak lowongan, saya teruskan informasi tersebut.

Lalu ia berkomentar "ada lowongan buat posisi X gak mba? lokasi kantornya dimana?", saya jawab pendek "bisa dibaca pada link yang saya kasih mba😊". Dia menjawab lagi "saya nggak bisa Bahasa Inggris mba, gak ngerti".

Jawaban seperti itu sering saya terima, dari orang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. Ketika saya membagikan artikel atau berita dalam Bahasa Inggris. Keluhan yang datang pun sama.

Saya sadar kesempatan untuk belajar dan menguasai bahasa kedua adalah privilege. Tapi bukan lantas hal ini membuat kita tak acuh dan malas belajar bahasa asing. Tidak sedikit juga yang 'bersembunyi' di balik alasan nasionalisme, padahal pemerintah pun berulang kali menyuarakan: "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing".

Menguasai Bahasa Inggris sendiri sangat mendasar dan penting dalam konteks karir. Bayangkan berapa buku yang belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia yang bisa Anda baca dan berapa orang yang bisa Anda ajak ngobrol jika Anda menguasai bahasa yang sama.

Semoga kita semua semangat mengembangkan kompetensi diri, terutama keahlian bahasa.

Sukses selalu

Sunday, September 8, 2019

How to Adult

Menurutku, salah satu fase terberat dalam hidup manusia adalah memasuki usia dewasa. Kita berpindah begitu cepatnya dari era main-main tiba-tiba tanggung jawab yang begitu berat kita emban sendirian. Tiba-tiba kita harus punya tujuan hidup yang jelas, tentang pendidikan, karir dan hubungan interpersonal.


Memasuki usia dewasa, kadang kita (atau setidaknya saya) kebingungan akan pertanyaan: "siapa saya?". Kita mungkin akan mencoba mengasosiasikan diri kita dengan berbagai afiliasi, entah pekerjaan, hobi, latar belakang pendidikan, agama, suku dan lain-lain. Waktu kecil, saya menonton potongan film Anger Management di atas dan merasa lucu. Sekarang, saya sama bingungnya dengan tokoh Dave dalam film itu.

Minggu lalu, beberapa teman kuliah S1 saya sudah wisuda S2. Wah waktu cepat sekali berlalu ya, dan kadang terbersit penyakit hati: iri.

Bukan cuma iri pada pencapaian teman-teman, tapi lebih kepada 'ketangguhan' mereka. Ada teman yang S2 sambil bekerja penuh waktu, ada juga yang sambil memulai perannya sebagai seorang Ibu. 

Kadang saya berpikir "why I don't push myself harder" dan kemudian muncul rasa bersalah dan rendah diri. 

Lalu saya curhat sama Afina. Kata dia, "ya kamu mungkin bisa, tapi apakah kamu ingin?".

Kemudian diri ini mengevaluasi lagi apa tujuan hidup ini?. Ikut-ikutan orang lain?, validasi orang lain, atau apa?

Ndilalah, mata ini tertumbuk pada Kegan's stage of development. Yang ternyata menjawab kegalauan di atas, mungkin saya baru sampai tahap socialized mind. Berusaha menambal sulam identitas diri dengan berbagai label dalam masyarakat.

Semoga segera mencapai tahapan perkembangan diri yang berikutnya!



Monday, September 2, 2019

Unlearn

Dalam sebuah podcast, CEO Bukalapak Ahmad Zaky menuturkan bahwa manusia dewasa sebenarnya tidak susah untuk belajar (learn), yang susah adalah unlearn.

Unlearn dapat didefinisikan menjadi: menghapus informasi dari pikiran seseorang (yang telah dipelajari, misalnya kebiasaan buruk atau informasi yang salah atau usang).

Zaky mengibaratkan saat suatu perangkat elektronik, misalnya handphone akan susah di operasikan atau lemot ketika memorinya terlalu banyak. Hal ini menurutnya yang membuat golongan tua susah berkembang dengan pesat atau mengejar ketertinggalan.

Bahwa 'pura-pura bego' kadang memang perlu.

Tapi menurut saya, kapasitas maksimal otak manusia belum diketahui pasti. Unlearn bukan alasan untuk membiarkan otak kita kosong, namun menyisihkan ruang dalam otak (dan hati, eyak) agar selaku dapat menerima hal baru.

Selamat unlearn!

Thursday, August 22, 2019

Transaksi Kita Dengan Tuhan

Satu adegan dalam film Ayat-Ayat Cinta yang membuat saya menangis adalah ketika Fahri solat di dalam penjara, Fahri menangis karena masalah yang menimpanya begitu berat. Ia ditertawakan pria yang satu sel dengannya: "Jangan-jangan kamu solat hanya kalau ada masalah?".

Adegan itu membuat saya ikut menangis. Bukan karena turut larut dalam emosi fiksi tokoh Fahri. Namun kata-kata laki2 teman satu sel Fahri itu sungguh menohok.

Saya tiba-tiba ingat adegan itu tadi siang. Ketika entah kenapa ada rasa ingiiin banget kuliah S2. Kemudian sempat membuka-buka website universitas dan jurusan yang saya inginkan. Jiper duluan, hahaha. Susah, ribet, berat, males, MAHAL!

Kemudian ngademin hati sendiri: "berdoa aja, pasti bisa".

Lah, kok, apa aku cuma berdoa saat butuh ya. Kembali ke Allah saat sedih dan banyak masalah. Lalu dimana aku saat senang-senang, saat berlimpah nikmatNya?

Tuhan bukan dokter yang hanya kita temui saat raga sakit berat. Lalu lupa atas saran-saranNya untuk hidup 'sehat'.

Tuhan bukan produsen dan kita bukan konsumen, doa juga bukan mata uang.

Selamat memaknai kembali relasi (bukan transaksi) mu dengan Tuhan, Binar.

Sunday, August 18, 2019

Sambi

Tadi saya menyelesaikan cucian di mesin cuci, biasanya karena menunggu cucian dibilas dan dikeringkan butuh waktu, walau cuma 5 menit atau 3 menit, saya biasanya bawa HP.

Tapi tadi karena HP saya baterainya sedang lemah. Saya memutuskan untuk tidak bawa HP ke ruang cuci yang letaknya di lantai 2 sedangkan kamar saya ada di lantai 1.

Pada waktu nganggur yang cuma 5 menit itu saya pakai buat merenung. Iya juga ya, sebenarnya kadang-kadang smartphone itu cuma dipakai untuk menyibukkan diri kita ketika menunggu. Tapi seringnya malah menjadi distraksi atas pekerjaan utama kita.

Pikiran saya mengawang.

Begitu pula hidup di dunia yang cuma sementara ini, sejatinya cuma menunggu. Tapi kadang-kadang kita terdistraksi hingga lupa tujuan aslinya apa.

Semoga kita tidak sering-sering lupa.

aamiin

Saturday, August 17, 2019

Kewarganegaraan

Malam ini saya menikmati sepiring spaghetti sambil mendengar sayup-sayup lagu Bendera-Coklat yang diputar oleh kafe tempat saya makan. We often take our citizenship for granted. Saya sendiri tidak pernah sadar betapa bermaknanya sebuah kewarganegaraan sampai bertemu dengan Svenja, kawan saya dari Belanda yang meneliti tentang statelessness orang-orang Palestina di Yordania.

Bayangkan, mereka tidak punya kewarganegaraan, tidak ada negara yang mengakui mereka, ada di dunia tapi tidak tercatat.

Konsep negara memang absurd, tapi begitulah kenyataan di dunia saat ini. Seorang anak kecil pernah bertanya "Who draws line on the maps?". Pertanyaan yang jika dijawab mungkin akan sarat dengan amarah dan air mata.

Bertahun ke belakang saya tinggal di jantung ibukota dan cukup beruntung untuk mencicipi kunjungan ke beberapa wilayah di Indonesia. Jalan yang berkelok di Papua, listrik yang cuma enam jam di Satando, Pangkajene Kepulauan, hingga lada dan timah di Pulau Bangka.

Semuanya menggetarkan hati, menyadarkan jiwa bahwa Indonesia bukan main luasnya, tak terkira bagaimana cara mengurusnya. Adalah hal yang terlalu mengagumkan bagaimana ratusan juta orang ini punya identitas yang sama: orang Indonesia.

Let's not take our citizenship for granted.

Terserah bagaimana Anda memaknainya.

Tuesday, August 6, 2019

A New Chapter

Masih surreal rasanya,

Kemarin saya memulai hari di kantor baru. Setelah hampir 3 tahun berkantor di gedung dan organisasi yang sama. Kemarin saya pindah.

Ada rasa kagok, bahkan alamat 'work' di aplikasi Grab saya masih gedung kantor lama.

Aargh.

Ini kali pertama saya bekerja penuh waktu untuk for profit company, setelah sejak kuliah saya memilih bekerja di NGO.

hehe

Ada rasa terharu karena onboarding process di perusahaan baru ini terbilang cukup rapih. Ada pengenalan singkat dari HR kemudian dilanjutkan dengan lunch bersama tim saya yang isinya baru 4 orang termasuk saya.

terus lunch nya fancy dong, hahaha #penting

Kemudian seharian dilanjutkan dengan belajar banyak banget hal.

Otak rasanya mendlep mendlep (bahasa apa ituu)

Hehe, need to take more magnesium to relax my muscle

Cheers,
Binar

Sunday, July 14, 2019

Peak of My Singlehood

Dilihat dari judulnya, apakah ini adalah tulisan yang sedih? Bisa jadi

Melajang sering kali di diasosiasikan dengan dua hal yaitu: kebebasan dan kesepian. Dalam tulisan kali ini saya akan lebih banyak membahas tentang kebebasan. Jujur saya takut banget saat ulang tahun ke-25. Takut mengalami apa yang namanya quarter Life Crisis. Tapi ternyata Alhamdulillah saya sangat happy, karena saya menyadari bahwa di usia ini dengan keadaan jomblo (hahaha), saya mengalami kebebasan yang kayaknya berada pada puncaknya.

Saya sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, bahkan beberapa keputusan dalam hidup sifatnya hanya saya konsultasikan kepada orang tua dan kakak kakak, bukan minta izin.

Keadaan finansial pun mengizinkan saya untuk melakukan apa yang disarankan oleh teman-teman saya yang sudah menikah: "puas-puasin mumpung masih single".

Saya bahkan pernah menulis tentang apa yang bisa kita lakukan waktu masih single di post ini.

Tapi kadang saya sadar bahwa apa-apa yang berlebihan itu tidak baik. Maka di umur ini juga saya harus sudah tahu apa sih sebenarnya value dalam hidup saya. Pada akhirnya value inilah yang membatasi saya untuk tidak melakukan hal-hal tertentu, yang bertentangan dengan prinsip hidup.

Kebebasan ini juga membuat ilusi untuk tidak buru-buru melakukan hal-hal yang penting. Misalnya dalam hal finansial, kita bebas spending sebanyak-banyaknya tapi lupa menabung, karena memang belum urgent. Padahal angka lebih baiknya kalau kita memulai sedini mungkin. Enggak ada salahnya kan punya rumah sendiri waktu masih single 😉.

Jebakan yang lain adalah membuang-buang waktu untuk hal yang kurang penting. Misalnya terlalu banyakbersenang-senang sama teman-teman, alih-alih melakukan hal yang bermanfaat kayak belajar atau berolahraga, beribadah dan lain-lain.

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan mereka yang tidak lagi single, bukan pula 'menghibur' diri sendiri atas ejekan masyarakat. Hanya sebagai pengingat bahwa setiap fase hidup ada 'perks' nya masing-masing.

So, seize the day!

Wednesday, July 10, 2019

Menghitung Hal yang Salah

Dini hari ini, saya melihat akun  Instagram Perpustakaan Nasional memposting statistik yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki jumlah perpustakaan terbanyak kedua di dunia. Hal ini membuat saya geregetan dan sekaligus marah tapi tetep pengen ketawa karena nyatanya statistik yang lain menunjukkan bahwa minat baca Indonesia berada pada peringkat kedua dari bawah

Ini contoh kecil dari kesalahan yang sering saya temui pada kerja pemerintah atau pembangunan: mengkuantifikasi hal yang keliru.

Jika teman-teman akrab dengan kerja pemerintah salah satu tolak ukur yang sering mereka gunakan adalah penyerapan anggaran, artinya sejauh mana mereka menghabiskan uang yang sudah dibagi-bagikan oleh Ibu Sri Mulyani kepada tiap-tiap kementerian atau lembaga untuk program-program mereka, dengan asumsi ketika uangnya habis berarti programnya jalan.

Lalu bayangkan Kementerian ini adalah seorang anak atau ibu rumah tangga yang memiliki jatah uang bulanan dan tugas mereka hanya menghabiskan uang itu.

Lalu bagaimana menjamin bahwa uang itu tepat sasaran?

Sejak mengenalnya, manusia nampak terobsesi dengan angka, karena ini dianggap hal paling universal untuk menggambarkan sesuatu. Makanan yang enak bagi orang Turki dan orang Jepang mungkin berbeda, tapi kain dengan luas 1 x 1 m akan sama luasnya bagi mereka.

Tapi obsesi ini kadang salah arah, kita mudah terbuai dengan angka-angka yang dibuat oleh penguasa, atau bahkan penjual yang ingin mempromosikan produknya.

Lain kali, ketika melihat angka, kita harus skeptis, bagaimana proses di baliknya hingga angka-angka itu lahir.

Friday, June 28, 2019

Why We Have to Check Our Privilege


priv·i·lege

/ˈpriv(ə)lij/

noun

1. a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.

"education is a right, not a privilege"

synonyms:advantage, right, benefit, prerogative, entitlement, birthright, due; More

verb

FORMAL

1. grant a privilege or privileges to.

"English inheritance law privileged the eldest son"


Judulnya bahasa Inggris tapi kontennya Bahasa Indonesia, haha

Belakangan, setelah Maudy Ayunda keterima di Harvard DAN Stanford, netizen ramai membicarakan tentang privilege. Banyak yang berpendapat, Maudy gak akan mendapatkan itu jika ia tidak memiliki sekumpulan keistimewaan khusus yang membantunya meraih pencapaian yang cukup luar biasa itu.

Privilege- belum ada satu padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang benar-benar cocok menggambarkannya. Terjemahan umumnya adalah: hak istimewa, hak ini bisa saja kita dapatkan secara cuma-cuma, sesimpel karena kita terlahir dalam keluarga Bakrie misalnya (hahaha) atau memang kita raih karena pencapaian tertentu, contoh: diskon gym karena kita karyawan perusahaan X (yes, that kind of things does exist)

Melihat privilege orang lain mungkin memang lebih gampang dibanding mengecek privilege pada diri sendiri. Serupa peribahasa "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak". Walau privilege ini bukanlah sebuah 'keburukan' namun terus-terusan menghilight privilege orang lain dan lupa mengecek privilege diri sendiri, lama-lama bisa menjadi toxic. Comparison is the thief of joy, katanya.

Kita melihat teman kita sukses kemudian bilang: "Ya lo sih enak, lahir di keluarga kaya, di kota besar, kuliah di universitas terkenal, gampang lah mau sukses" heyyy, sebelum kita begitu teliti dengan keadaan orang lain, coba ambil cermin dan cek keadaan kita.

Mengecek privilege akan memudahkan kita mensyukuri hal-hal yang mungkin selama ini kita take for granted: punya badan yang sehat dan lengkap, tinggal di negara yang relatif aman dan tanpa perang, menguasai bahasa kedua dan masih banyak lagi.


Dengan menyadari bahwa ternyata kita memiliki 'kelebihan' dibanding orang lain. Kita akan lebih mudah berempati, bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Konon, semua orang memulai dari garis start yang sama, adalah mitos kapitalisme (haha apa apa salah kapitalisme). Maka kita tidak akan secepat itu nge judge "ah dia miskin karena males aja kali", "ya udah sih, tinggal belajar lewat google apa susahnya".

So, everytime you want to give any judgement, Check your privilege first!




Tuesday, June 4, 2019

Jangan Jadi Orang Culamit

Culamit: suka minta/meminta
Kalimat :
Jadi orang kagak boleh culamit, nanti nggak punya temen.
(Jadi orang tidak boleh suka meminta, nanti tidak punya teman.)
sumber: http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id/post/culamit

Mendekati Idul Fitri, saya selalu teringat pesan Mama saya, untuk anti minta-minta sangu (angpau, uang saku) ke kerabat. Walaupun sudah jadi tradisi, kalau dikasih ya diterima tapi kalau tidak ya tidak usah meminta.

Jangan jadi orang culamit.

Tumbuh besar, saya juga jadi sebal ke orang yang punya kebiasaan meminta-minta ini. Meski kadang terasa sepele seperti minta oleh-oleh ketika teman pergi liburan atau minta ditraktir.

Have some dignity, guys. Ketika kita mungkin niatnya bercanda tapi kalau dibiasakan jadi bikin ketergantungan sama orang lain lho. Mentalitas yang harus dihilangkan agar kita bisa selalu mandiri.
Permintaan kita ke orang lain bukan tidak mungkin membuat dia kepikiran dan bahkan kerepotan, walaupun lagi-lagi mungkin niat kita bercanda.

Lagian, sebagai Muslim, meminta-minta ini termasuk perbuatan tercela lho

Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i, dan selainnya).

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/8813-penjelasan-mengenai-larangan-meminta-minta.html

Yuk jangan jadi orang culamit!

Sunday, June 2, 2019

Unicorn Store: Tentang Berdamai dengan Masa Kecil

Sejak kecil, Kit menginginkan seekor unicorn untuk menjadi temannya. Seperti kita tahu, hewan itu hanya ada dalam dongeng belaka.

Tumbuh dewasa, Kit mencoba mengejar passion-nya dengan kuliah seni rupa, yang ternyata gagal karena ia terlalu 'nyeleneh'. Ia pun mencoba bekerja di kantor menjadi staf pengganti yang ternyata tidak berujung mulus juga.

Di tengah-tengah  itu ada surat misterius yang yang mengatakan bahwa kit mendapatkan kesempatan untuk membeli Unicorn di Unicorn Store Beberapa syarat harus ia lewati untuk lolos kualifikasi sebagai pemilik Unicorn. Semua orang tentu tidak percaya kepadanya karena Unicorn adalah hewan dalam dunia dongeng belaka.

Film ini sedikit mengobati Kerinduan saya akan cerita yang ringan dan hangat, seperti yang saya rasakan ketika nonton film Little Miss Sunshine atau Easy A.

Agak aneh memang melihat Brie Larson dan Samuel L. Jackson beradu peran bukan sebagai Captain Marvel dan Nick Fury melainkan dalam cerita drama komedi yang agak absurd.

Di akhir film saya dapat menangkap pesan yang tersirat, tapi plot film ini kurang ngena aja gitu. Agak terlalu lamban akting Brie juga kurang cocok memerankan Kit.

Karena ceritanya yang agak membosankan, saya sampai harus pause berkali-kali untuk menyelesaikan film ini.

Overall 6/10 lah

Tuesday, May 14, 2019

Walking Distance

Belakangan aku mengenal istilah baru, yaitu: walking distance. Artinya kurang lebih: jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Contoh: "Grand Indonesia itu walking distance dari Bundaran HI"

Lalu aku menyadari bahwa definisi Walking distance setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang 1 km, ada yang 10 km. Semua tergantung pada kondisi fisik juga kemauan atau asa dalam dada.

Maka Walking distance ini bisa dimaknai lebih jauh bukan hanya tentang berjalan kaki tapi tentang menjalani kehidupan ini. Ada orang yang bisa sangat kuat berjalan dari satu titik ke titik lain tanpa istirahat. Ada orang yang butuh bantuan orang lain untuk menggandengnya, menuntunnya atau bahkan butuh waktu yang lama hanya untuk mengumpulkan niat.

Hidup ini perkara 2 hal: kemampuan dan kemauan. Semuanya bisa dilatih terserah kita. Apakah Walking distance kita akan semakin jauh atau dibiarkan semakin pendek dan pendek.

Semua ada di 'kaki' kita

Jadi, ayo berjalan!

tidak peduli sepelan apa
tidak peduli selama apa

Sunday, May 12, 2019

Ibu Sumarsih

Hari Ibu Internasional jatuh pada hari ini. Dunia tidak akan kehabisan cerita tentang cinta kasih, perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu.

Maka ijinkan saya menceritakan kisah tentang cinta Ibu yang satu ini. Kalau teman-teman berkunjung ke Taman Aspirasi Monas- tepat di seberang Istana Negara, ada seorang ibu yang hadir setiap Kamis di sana. Seorang Ibu yang kian hari rambutnya kian memutih menunjukkan makin senja usianya.
Namanya Bu Sumarsih, putranya, Wawan wafat pada tragedi Semanggi I 21 tahun yang lalu. Bu Sumarsih dan Suciwati, istri Alm. Munir menginisiasi Aksi Kamisan, menuntut Presiden menyelesaikan pelbagai kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Sudah lebih dari 580 hari kamis berlalu, belum ada jawaban yang mantap dari Pemerintah.

Kita bisa bicara HAM dan keadilan, tapi bagi saya Bu Sumarsih adalah bentuk nyata kasih ibu yang sepanjang jalan. Tidak habis dimakan tahun, tidak surut tanpa takut.

Semoga, perjuangan Bu Sumarsih segera menemui jawabannya.

#MenolakLupa

Tuesday, May 7, 2019

Abesien

Bab 1

Aurora berlari makin kencang, jantungnya berdegup keras. Mungkin ini pertama kalinya ia membangkang pada orang tuanya. Ia mendapat pesan aneh tadi malam. Ada harapan itu dari kakaknya, Balthazar yang sudah hampir satu tahun hilang. Ayah Aurora, Demeter Hakovic adalah pejabat terhormat di Bank Distrik, ibunya, Shana Hakovic adalah pengajar Kimia di Universitas. Keluarga Hakovic adalah keluarga terhormat. Anehnya, ayah dan ibu Aurora tidak pernah merisaukan kehilangan Balthazar. Mereka selalu bilang ke kerabat bahwa anak sulungnya pergi ke luar negeri, untuk penelitian sejarah. Aurora tahu itu dusta.

Napas Aurora makin tersengal-sengal, ia tidak biasa dengan aktivitas outdoor. Senja semakin surut di ufuk barat, langit makin gelap ketika gadis 16 tahun itu sampai di lereng Gunung Abesien. Terbaca tanda "DILARANG MELINTAS TANPA IJIN PEMERINTAH" yang sudah usang. "Orang gila pun malas pergi ke sini" gerutu Aurora dalam hati.

Ia melihat arlojinya, titik koordinat yang ia terima tadi malam menunjukkan tempat di dalam hutan di lereng Gunung Abesien, sekitar 120 kilometer dari rumahnya. Ia melangkah dan terus melangkah ke dalam hutan, ada beberapa pagar kawat berduri tapu dengan bantuan kacamata inframerah semuanya terang benderang.

Hampir satu jam Aurora berjalan, ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Dalam kesunyian, pikirannya melayang kemana-mana. Ia selalu heran kenapa daerah di balik Gunung Abesien ini terlarang untuk dikunjungi. Pernah suatu kali ia naik pesawat dan memandang jauh ke bawah, hutan tropis yang begitu lebat hijau dan indah kemudian pemandangan itu tertutup oleh awan. Aurora bertanya pada Ibunya apakah suatu saat mereka boleh berkunjung ke situ. Shana hanya menjawab tanpa memandang anaknya "Kau tau kita harus menghormati hutan dan wilayah-wilayah yang dijaga pemerintah. Terlalu bahaya untuk kaum seperti kita".

Seperti kita, pikir Aurora, memang ada siapa lagi selain kita.

Saat itulah kaki kirinya menyandung sebongkah batu besar dan licin, badan itu terpleset ke belakang. Kacamata inframerah Aurora terlepas dari wajahnya.

Ada tiga pasang mata bertemu dengan matanya yang buram. Nafasnya tercekat, ingin teriak tapi tidak ada suara yang keluar. Bau yang sangat tidak enak merasuki hidung Aurora. Mirip... bangkai binatang

Makhluk, seperti kita, tapi kotor, pendek, rambutnya berantakan dan sangat sangat menakutkan.

-bersambung-

We Really Hate to Lose


Materi Think Policy Bootcamp malam ini adalah Behavioral Economics (BE). BE sejatinya adalah hasil kawin silang antara ilmu ekonomi dan psikologi. Wah pas banget dong ya secara saya S1 nya dulu psikologi. Tapi kenyataannya udah banyak yang lupa teori-teorinya.

BE mengubah 'mitos' ilmu ekonomi tradisional bahwa semua manusia mengambil keputusan secara rasional. Nyatanya tidak, manusia tidak selalu memproses keputusan dan perilaku melalui sistem berpikir yang kompleks tapi juga banyak dipengaruhi refleks dan emosi.

Setelah diteliti, ternyata ketidakrasionalan manusia ini kurang lebih berpola, sehingga bisa juga diprediksi.

Pertanyaan pembuka untuk kelas ini, mana yang Anda pilih:

1. dapat diskon 2000 rupiah jika membawa tas belanja sendiri

atau

2. harus membayar 2000 jika memakai kantong plastik dari minimarket

Silakan menebak.

Tapi ternyata kebijakan 2 lebih efektif mengurangi penggunaan kantong plastik. Pendek kata, kehilangan 2000 rupiah ternyata efeknya lebih menyedihkan dibanding kesenangan mendapatkan 2000 rupiah (utility cost).

We call it loss aversion, karena perasaan kehilangan begitu menyakitkan maka inilah yang digunakan oleh para pembuat kebijakan untuk 'mengakali' perilaku manusia.

Kalau ditarik pada tema bulan Ramadan kali ini, berarti lebih efektif menakut-nakuti bahwa jika kamu tidak beribadah maka kamu akan masuk neraka? atau anjuran, beribadahlah maka kamu akan masuk surga?

Kalau menurut saya,

Dengan tidak beribadah maka kita kehilangan kesempatan untuk masuk surga.

Hehehe

Menurut teman-teman bagaimana?

Buku bacaan jika tertarik untuk belajar Behavioral Economics:

1. Nudge by Richard Thaler
2. Thinking Fast and Slow by Daniel Kahneman

Monday, May 6, 2019

Resensi Knock Down The House

Knock Down The House
"Everyday American deserved to be represented by everyday American"
-Alexandria Ocasio-Cortez
Amerika adalah negara maju, kita semua tahu itu. Tapi Amerika juga negara dengan ketimpangan yang besar. 0,1 % orang terkaya di Amerika menguasai 188 kali kekayaan dibanding 90% orang lainnya (inequality.org).
Bukan hanya ekonomi, mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan juga berasal dari kalangan berpunya. Biasanya mereka adalah laki-laki, kulit putih, kalangan menengah ke atas, dan kemungkinan besar pengacara.
Dokumenter Knock Down The House menceritakan empat perempuan di Amerika Serikat yang mencoba melawan politisi mapan.
Mereka adalah pelayan bar, suster, ibu yang kehilangan anaknya karena tidak memiliki asuransi dan anak penambang batubara.
Selama menonton film ini saya sangat larut dalam emosi. Kemarahan yang berapi-api, ketakutan melawan si besar dalam kontestasi politik hingga kesedihan dan keputusasaan.
Menonton film ini membuat saya merasa ikut berjuang betapa susahnya untuk menjadi calon kandidat kongres dari partai demokrat. Sambil tetap bekerja, mengetuk pintu demi pintu, meminta tanda tangan dukungan, mengikuti berbagai kegiatan politik dan tetap menjaga eksistensi dengan harapan terpilih sebagai kandidat kongres.
Salah satu 'bintang' utama dokumenter ini Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) yang akhirnya berhasil menduduki kursi kongres Amerika, anggota kongres perempuan termuda sepanjang sejarah AS menujukkan betapa ia meraih semua ini dengan tidak mudah. Hal yang menarik darinya, menurut saya adalah dia benar-benar besal dari konstituennya di daerah Bronx dan Queens, New York. Salah satu distrik yang penuh dengan imigran. AOC pun berusaha berbicara dalam bahasa mereka dan berinteraksi dengan mereka. Inilah, mungkin, yang membuat ia akhirnya terpilih.
Tiga calon kandidat lain tidak semujur AOC, mereka kalah dari politisi mapan dari distriknya masing-masing. Saya pun tertegun dengan quote dalam film ini:
"For one of us make it through, a hundred of us had to try."
David telah berhasil mengalahkan Goliath, tapi dengan perjuangan yang memakan energi luar biasa.
Ini semua baru permulaan.
Oh iya, dokumenter ini bisa ditonton di Netflix ya

Sunday, May 5, 2019

Work Life Balance


"Take care of yourself. When you die, your employer will replace you easily"

Kemarin saya melihat instastory nya @raimulho tentang fake grinding, saya juga baru tahu ada istilah ini. Intinya, dewasa ini kita bangga  kalau terlihat sibuk. Dengan adanya sosial media, nampaknya kawula muda bangga kalau memamerkan 'kesibukan'nya entah dengan menunjukan bahwa jam 10 masih lembur, atau harus bekerja di akhir pekan.

Agama kita semua mungkin sekarang sama, agama kapitalisme. Kita menganggap bekerja adalah ibadah yang patut dibanggakan dan diumumkan. Mungkin bagus, to some extent, tapi menakutkan juga bila hal ini berakibat fatal. Seperti @raimulho yang sekarang sakit parah karena terlalu banyak mengonsumsi obat dan vitamin untuk memacunya tetap prima saat lembur. Banyak juga yang sampai meninggal karena terlalu banyak bekerja.

Hal ini menyedihkan memang, di saat konon umat manusia mencapai peradaban paling ultima dalam sejarah, kita kaum pekerja masih bekerja layaknya budak. Bahkan hingga kehilangan nyawa karenanya.

Tentu tidak manusiawi, di saat sudah ada hukum yang mengatur tentang maksimum jam kerja manusia per hari (8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi) standar umum di dunia yang disepakati oleh ILO dan beberapa kesepakatan internasional lain.

Manusia akan melakukan hal yang paling bermakna untuk mengisi harinya. Sekarang, pekerjaan nampak 100 persen mendefinisikan diri kita. Saran saya, carilah hal-hal di luar pekerjaan yang bisa kita lakukan. Hobi, belajar, beribadah mauapun kegiatan komunitas yang membuat kita tetap 'waras'. Lagi-lagi, saya sadar hal seperti ini adalah privilege. Selagi kita masih beruntung memilikinya, do submit our life to our employer, they are not god.

Kita tentu punya teman dan keluarga. Temuilah mereka, jangan ada lagi cerita bahwa ibu atau ayah tidak mengenal dengan baik anak-anaknya karena terlalu dikuasai pekerjaan. Jangan ada lagi penyesalan anak-anak tak sempat menemani hari-hari terakhir mereka.

Jika kondisi saat ini masih membuat Anda bekerja serupa budak- tapi dibayar sedikit. Menengoklah ke luar, perbaiki diri dengan skill-skill yang dibutuhkan pasar. Sisihkan tabungan untuk pensiun. Your life is always in your hand, but sometimes we hand it to anyone else.

Lastly, work life balance can happen if only you have 'life'.

Live your life to the fullest!

Selamat bertemu hari Senin!

Thursday, March 28, 2019

Alexandria

Nak, dulu banyak orang berpesan pada Ibu. Bahwa tugas Ibu adalah di rumah memasakkan makanan terlezat untuk suami dan anak-anak Ibu. Beranjak dewasa Ibu bingung, karena suami dan anak-anak itu tidak kunjung hadir dalam hidup Ibu.

Ibu marah dan sedih, lalu apa sebenarnya yang bisa Ibu lakukan?. Ibu bekerja tidak kenal lelah, Ibu yakin semoga kerja Ibu bermanfaat bagi banyak saudara kita di luar sana. Tapi diam-diam Ibu menanti. Menanti suatu hari bisa bersenda gurau dengan keluarga kecil kita di meja makan terhangat di dunia ini.

Lalu Ibu bertemu Ayahmu. Seseorang yang selalu sabar mendengarkan saat Ibu marah atau sedih. Kami menikah, Ibu bahagia sekali hari itu. Ratusan orang berkumpul menyelamati kami. Ibu makin tidak sabar bertemu kamu, anak-anak yang konon menjadi fitrah untuk Ibu besarkan.

Sepuluh tahun berlalu, kamu belum juga hadir. Belum ada tawa saat sore hari di belakang rumah kita. Belum ada tangismu di tengah malam yang membangunkan kami dari tidur paling pulas.

Orang-orang mulai menasihati Ibu lagi. Menyuruh Ibu berhenti bekerja, meminum ramuan ini itu, bahkan menyuruh Ayahmu menikah lagi, dengan perempuan yang barangkali bisa menghadirkanmu di dunia ini, yang lebih sempurna daripada Ibu.

Yang mereka tidak tahu nak, berapa jarum suntik yang telah Ibu rasakan, betapa dingin meja operasi yang Ibu lewati. Ibu terus berdoa, agar suatu saat bisa berjumpa denganmu, walau tulang ini barangkali sudah tidak kuat menggendong tubuhmu kelak.

Hari ini Ibu sangat bahagia, jantung Ibu rasanya ingin keluar dari rongganya. Pertama kali kami mendengar tangisanmu yang sangat kencang. Matamu yang teduh dan sangat cantik.

Ibu mendekapmu erat-erat, memastikan dunia ini aman untukmu. Alexandria, kamu mungkin tidak lahir dari rahim Ibu, tapi kamu datang dari hati Ibu.

Peluk sayang,
Ibu, Ayah dan Bunda

Wednesday, March 6, 2019

Being Present

Suatu hari di sebuah percakapan whatsapp:



Saat itu entah kenapa saya mengalami kebosanan yang teramat sangat, dan (mungkin) ketakutan akan usia 25 yang segera datang di tengah tahun ini.Quarter life crisis kata mereka.

Kemudian teman saya mengingtakan tentang satu hal ini, hidup di saat ini, sekarang. Kita bisa hidup di masa lalu: menyesali hal-hal yang sudah terjadi atau terjebak pada kejayaan masa lalu. Atau kita hidup di masa depan: mengkhawatirkan dan menanti-nanti momen di masa depan- yang belum tentu pasti kejadian.

Memang hidup menjadi indah, dan otak manusia cukup canggih untuk merekam memori menyenangkan di masa lalu dan memproyeksikan visi-visi di masa depan. Tapi kita kerap lupa hidup di saat ini.

Ketika saya coba menerapkan: fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini, saya langsung melihat tumpukan kantong plastik yang berantakan di sudut kamar dan langsung terpanggil untuk membereskannya.

Mungkin saya tidak akan menyelamatkan dunia, tapi saya bisa membereskan kamar saya. One thing at a time.

Dan, seperti kata Mbak Maudy Ayunda: dreams, when broken down into concrete goals, become achievable plans.

So, inhale, exhale, one thing at a time :)

Monday, February 4, 2019

Tentang Bekerja

one who has why can bear almost any how

Seorang teman pernah menulis adagium itu di status pesan singkatnya. membuat saya mengingat-ingatnya hingga kini.

Tahun lalu saya menandatangani kontrak baru di kantor saya, kali ini untuk membantu proyek konservasi di Papua-pendeknya begitu.

Papua, tak ubahnya Narnia dalam sistem berpikir saya, suatu tempat yang hanya saya kenal lewat layar televisi dan lembaran buku. Dan konservasi alam bukanlah topik saya, walau satu dekade lalu saya sangat gemar membaca artikel tentang go green di majalah Cosmogirl, hehe. Tentu pengetahuan saya tak bisa sebanding dengan kolega-kolega saya yang menyandang gelar doktor bahkan profesor dalam bidang ini.

Tempat baru, teman baru, topik baru. Banyak sekali tantangan (karena saya tidak mau menyebutnya sebagai hambatan) yang saya temui.

Saya mulai frustrasi dan bertanya-tanya akan banyak hal. Apakah yang saya kerjakan ini berguna? apakah betul-betul memberikan dampak? kenapa semuanya seolah begitu rumit dari hulu ke hilir.

Semua pertanyaan itu berujung pada pertanyaan. Kenapa saya bekerja? atau lebih spesifiknya, kenapa saya memilih pekerjaan ini?.

Lama saya berpikir dan mencoret-coret jawaban dalam buku catatan saya. Hingga saya meraih kaus gratisan dari kitabisa.com dengan tagar #orangbaik. Saya ingin jadi orang baik, bisakah? salahkah? terlalu muluk-muluk kah? terlalu narsistis kah?.

Saya ingin jadi orang baik. Lantas bagaimana caranya?

Saya bisa memberi makan anak-anak jalanan. Saya bisa pergi ke timur tengah untuk jihad. Saya bisa mendonorkan darah saya. Saya bisa menikah dan menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga saya.

He* who has why can bear almost any how.

*and also she, of course

Gagasan menjadi orang baik begitu abstrak, kurang spesifik, tidak operasional. Kemudian saya ingat kutipan milik Eckhart Tolle "salvation is here and now". Sesaat kemudian saya juga teringat brosur Visi Papua 2100 yang dibawa oleh kolega saya.

2100, sebuah angka tahun, 81 tahun dari sekarang. Jika beruntung saya sudah menjadi pupuk subur bagi tanah tempat jenazah saya dikubur kelak. Dan apakah visi-visi itu, yang coba kami bantu wujudkan, akan menjadi kenyataan kelak? siapa tahu, mungkin belum, mungkin kenyataan melebihi.

Tiba-tiba hati terasa ringan, jika bekerja bukan melulu tentang hasil, kita bisa berserah tanpa menyerah. Menanam pohon yang kita tahu tak akan pernah kita nikmati buah atau teduh dahannya.

Saya belum menemukan why ultima saya. Namun barangkali serupa doa yang disisipkan orang tua lewat nama saya, menjadi Binar yang Asri nan Lestari.

Ijinkan, saya menjadi Binar itu, walau hanya redup setitik.

Aamiin

Friday, February 1, 2019

January Recap

Tidak terasa bulan Januari sudah berakhir, dua jam lebih cepat di sini, membuat saya berpikir apakah waktu hanyalah ilusi.

Kemudian di tahun yang baru ini saya bepikir, tidak ada salahnya untuk membuat refleksi bulanan, karena sepertinya untuk membuat jurnal harian masih terlalu 'berat'.

Di awal tahun saya seperti orang-orang kebanyakan, mecoba membuat 'resolusi'. Sebetulnya tak ubahnya momentum yang tepat saja untuk memulai hal-hal baru.

Pertama, saya sukses uninstall instagram, haha. Suatu hal yang saya kira sebelumnya cukup mustahil untuk dilakukan. Efeknya? mungkin saya jadi less FOMO dan lebih tidak peduli dengan detil kehidupan orang lain- yang sebenarnya gak penting-penting amat untuk saya ketahui. Apakah akan dilanjutkan? tentu saja, toh saya bisa akses lewat web sewaktu-waktu.

Uninstall instagram ini berujung pada suatu resolusi lain yaitu berhenti belanja lipstik dan skincare~ karena persediaan yang saya punya sudah seabrek dan saya berniat untuk menghabiskannya sebelum beli yang baru, yang lipstik sudah saya mulai sejak Desember 2018. Namun definisi skincare masih kabur nih, karena kemarin saya beli masker kaki Holika Holika dan bath bomb The Body Shop. Dan sepertinya persediaan pun makin menumpuk karena beberapa teman juga memberikan skincare ke saya #huft #suchaproblem.

Dan bulan ini ditutup dengan dua acara besar di dua kota di Papua, yang alhamdulillah bisa saya persiapkan dengan cukup baik karena waktu persiapannya cukup lama (hal yang jarang terjadi di kantor saya, haha)

Owow, here I come February

Sunday, January 27, 2019

Tentang Umur dan Mengingat Kematian

Kemarin sahabat saya mengunggah foto aqiqah anak pertamanya. Ayah dan Ibu anak itu adalah sahabat saya di bangku kuliah. Pikiran yang pertama menghatam saya adalah "anjir gue udah tua"

Apatah hidup selain siklus lahir, tumbuh dewasa, menikah, melahirkan anak kemudian mati.

Jika Tuhan mengijinkan saya akan berusia tepat 25 tahun ini. Umur yang dulu (saat saya kecil) selalu menjadi tolak ukur umur tua. Dulu saya kira di umur ini saya sudah akan sudah menikah, belum punya anak dan tinggal di apartemen (para pemilik modal bergumam: hahaha, Tidak semudah itu Ferguso).

Tapi kemudian mati bukanlah soal usia. Saya ingat kakak kelas saya meninggal di usia 20 saat mengendarai motor. Nabi Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Kakek saya meninggal di usia lebih dari itu.

Apakah umur panjang adalah keberuntungan? atau mati muda kah?. Apakah kematian membebaskan dan hidup adalah hukuman.

Selamat hidup

Valar Morghulis

Tuesday, January 22, 2019

Don't Sweat the Small Things

Kemarin saya pulang naik kereta bersama teman saya. Ketika kami sedang membahas tentang moda transportasi apa yang paling ideal untuk pergi dan pulang ke kantor, teman saya ini mengeluh "Aku tuh males banget kalau nunggu taksi online lama, tapi kalau supirnya yang nunggu aku juga ga enak". Saya berpikir memang ada benarnya juga pendapat teman saya ini. Tapi... apa iya ya kita harus sebegitu memikirkan hal-hal kecil seperti itu sampai membuat kita stres.


Saya jadi ingat prinsip Marie Kondo dalam beres-beres atau tidying. Is this item sparks joy? Begitu pula untuk orang yang punya kecenderungan overthinking seperti saya. Belakangan saya memilih mengeliminasi pikiran-pikiran yang tidak terlalu penting. Karena tinggal dan bekerja di kota besar sudah membuat hidup saya memiliki banyak hassles. Hehe

Jadi apa saja hal-hal yang membuat hidupmu sparks joy?

Sunday, January 13, 2019

What is There Beyond Money?

Beberapa hari belakangan saya punya kuota gratisan untuk nonton youtube, jadilah saya berjam-jam mantengin dari satu video ke video lain. Hingga saya stumbled upon satu video ini, penny pinchers alias orang-orang yang super ngirit demi bisa pensiun dini. Kesan pertama yang gue pikirin adalah: "harus banget ya hidup kayak gitu?"

ini video yang gue maksud

Kemudian suggested video di youtube mengarahkan gue untuk menonton berbagai topik serupa mulai tentang homeless, biaya hidup di berbagai kota, frugal lifestyle hingga perencanaan pensiun. Semua konten itu membuat gue makin cemas tentang finansial. Hahaha.

Langkah pertama yang gue lakukan setelah kecemasan tadi adalah: membuat budget bulanan sedetil-detilnya, biasanya gue membuat budget tapi cuma estimasi kasar aja jadi sering miss dan bocor sana sini. jadi untuk budget versi terbaru ini gue bahkan menghitung pos untuk laundry dan beli kuota. haha, semoga gue disiplin yaa kali ini *fingercrossed*

Langkah kedua adalah STOP BELI LIPSTIK !!!. Bulan Desember kemaren gue berhasil gak beli lipstik sama sekali (tapi beli skincare dan baju dan jilbab, dodol emang). Intinya dengan budget tadi gue berusaha untuk mengurangi konsumerisme. Stok skincare, make up dan personal care kayak sabun dan shampoo yang gue punya saat ini kayaknya cukup buat 6 bulan hingga setahun ke depan. Astaghfirullah 333 kali

Langkah ketiga adalah mulai memikirkan beli rumah?. Kedengerannya halu banget ya, tapi justru ini lebih realistis daripada pikiran kekanak-kanakan gue bahwa suatu hari nanti gue bakal tinggal di rumah yang dibeliin suami gue atau menunggu warisan dari bokap cair, wkwkwk. Intinya abis nonton video tentang homelessness gue bahkan takut nanti pas tua gue bakal jadi homeless kalo gak nyicil rumah dari sekarang. Jk


salah satu video tentang homeless


Ohiya GUE JUGA UNINSTALL INSTAGRAM, hahaha. Karena setelah dipikir-pikir instagram adalah penyebab perilaku konsumtif gue secara langsung maupun tidak langsung. secara langsung tentunya karena ngabisin banyak banget kuota, secara tidak langsung adalah racun bertebaran dari mba2 influencer yang senantiasa menguras rekening sayah.

Kemudian setelah kecemasan tadi lewat gue berkontemplasi, kenapa ya manusia bisa sebegitu cemasnya soal uang, padahal uang hanyalah alat tukar bikinan manusia, kenapa selembar kertas atau angka dalam rekening kita sukses menjadi salah satu standar baku untuk mimpi dan tujuan sekian banyak manusia? wedeh, night time philosopher right here.

Mungkin judul dari post ini adalah pertanyaan yang akan gue ajukan kepada diri sendiri dan siapapun yang kebetulan baca tulisan ini.

And then yesterday I stumbled upon this verse
  1. قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَqul ing kāna ābā`ukum wa abnā`ukum wa ikhwānukum wa azwājukum wa 'asyīratukum wa amwāluniqtaraftumụhā wa tijāratun takhsyauna kasādahā wa masākinu tarḍaunahā aḥabba ilaikum minallāhi wa rasụlihī wa jihādin fī sabīlihī fa tarabbaṣụ ḥattā ya`tiyallāhu bi`amrih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīnKatakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah 24)
  2. Xoxo