Thursday, October 31, 2019

Jazakallah

"Jazakallah khairan katsir"

Agak terkejut dengan respon bapak penjual bakpao depan kosan saat saya membayar bakapo yang saya beli.

Walaupun secara gender, kalimat bapak barusan keliru, seharusnya Jazakillah bukan Jazakallah, karena ia mengucapkannya pada perempuan. Tapi saya tahu maksud bapak ini mendoakan, bukan sekadar mengucapkan 'terimakasih' tapi berarti: semoga Allah membalasmu dengan yang baik dan banyak. Sungguh doa yang jauh lebih manis daripada bakpao coklat yang ia jual.

Maka, sebetulnya beberapa orang bukan hanya 'sok arab'. Beberapa kalimat memang mengandung doa, yang mungkin akan 'wagu' kalau diterjemahkan.

Bukan berarti tidak cinta Bahasa Indonesia. Namun kita tahu bahwa sebagian besar bahasa Indonesia adalah kata serapan. Mencintai bahasa Indonesia adalah mungkin mengakui bahwa tidak ada yang benar-benar orisinil.

Terima kasih Bapak doanya, waiyyakum.

Saturday, October 19, 2019

Resensi Perempuan Tanah Jahanam

Kamis (17/10) kemarin saya 'tiba-tiba' diajak seorang teman nonton film terbaru Joko Anwar, Perempuan Tanah Jahanam.
Beberapa netizen menyebut film ini adalah karya Jokan (Joko Anwar) yang terbaik. Apa iya?
Film dibuka dengan sepasang sahabat Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) yang berjuang hidup di kota. Di tengah keputusasaan, Maya memutuskan mencari jejak kedua orangtuanya, Dini memutuskan untuk ikut.
Di desa terpencil bernama Harjosari inilah semua 'keabsurdan' terjadi.
Susah untuk mereview film tanpa membocorkan banyak spoiler.
Salah satu kehebatan Perempuan Tanah Jahanam adalah alur yang tidak bisa ditebak. Setiap adegan membuat kita bertanya-tanya, dia baik enggak ?, jadi bagaimana kelanjutannya?, jadi siapa yang salah?.
Kekuatan lain film ini adalah pada aktor-aktrisnya. Christine Hakim tidak diragukan lagi, sebagai Nyi Misni ia berhasil membuat penonton (baca: saya) stres sepanjang film.
Kehadiran tokoh utama perempuan lain membuat film ini menjadi satu dari sedikit yang lolos Bechdel test. Akting Ratih (Asmara Abigail) yang lugu namun berani membuat kita juga bertanya-tanya "dia ini maunya apa?!". Dan di akhir film lah pertanyaan kita baru terjawab, perempuan mana kah yang paling jahanam. Haha
Beberapa dialog di film ini seperti sengaja ditempelkan untuk menyindir masyarakat dewasa ini. Seperti "semuanya aja manusia diganti mesin, mau jadi apa negara ini" atau "lagian kenapa sih orang mati harus dikubur, ngabis abisin lahan aja".
Konflik film terkesan berakhir dengan adegan flashback yang menjawab semuanya. Hampir terasa agak deus ex machina.
Ada adegan yang tidak begitu 'penting' untuk alur cerita, tapi membuat saya kepikiran terus. Ketika Ratih dan Maya mengunjungi Tole di hutan, bayuli cacat yang 'dibiarkan' hidup dewasa dengan menderita.
Akhirul kalam, film ini sangat bagus. Lebih bagus dari Midsommar, dan tidak semenyeramkan Pengabdi Setan. Tapi cukup membuat saya keluar bioskop dengan perasaan terganggu.
Selamat menonton!