Minggu, 22 Mei 2016

Kakak dan Bapak

Saya ingin menceritakan tentang dua orang yang saya temui minggu ini, mereka bukan keluarga saya, dan saya hanya menemui mereka dalam waktu singkat namun kehadiran mereka (mungkin) membuat hidup saya cukup berbeda.

Cerita Kakak:

Kakak berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Tanah yang tandus dan gersang membuat Kakak harus pergi mengadu nasib ke tempat yang jauh. Umur 14, tanpa pengetahuan akan angka dan aksara Kakak pergi ke Medan. Di sana Kakak cukup beruntung merawat seorang jompo dan diperlakukan baik. Kemudian Kakak pulang kembali ke NTT, setelah itu ia pergi ke Malaysia, dengan iming-iming gaji yang menggiurkan. Kakak pun berangkat, masih dengan pengetahuan yang sangat minim. Naas, di sana Kakak dipekerjakan bak budak. Bekerja di pabrik makanan dari pagi hingga malam, diberi makan nasi tanpa lauk, gaji pun tak dibayar. Kakak dan seorang temannya kabur, Kakak sempat mengalami kecelakaan dengan bekas luka yang cukup parah di kaki kanannya. Beruntung akhirnya Kakak bertemu dengan seseorang yang baik hati, dari Malaysia ia kembali ke Jakarta- tempat kami akhirnya bertemu. Kakak susah sekali untuk belajar menulis, bahkan mengenal angka pun masih sangat susah, tapi Kakak sangat suka mewarnai. Selama dua minggu di Jakarta, tak kurang seratus gambar ia warnai dengan tekun. Sekarang Kakak sudah kembali ke rumahnya. Semoga hari-hari Kakak ke depan makin bahagia dan berwarna-warni cerah.

Cerita Bapak:
Kalian tahu Aksi Kamisan?, aku beberapa kali datang ke kesempatan tersebut. Kamis sore di depan istana negara, aku melihat sorang Bapak yang tidak biasanya ada di aksi tersebut. Namun menurut kawanku, Bapak itu sudah beberapa kali datang. Akhirnya kamipun menanyai Bapak. Aku sempat terkejut, menurut cerita Bapak, dia pernah ditembak oleh aparat, dioperasi kemudian salah satu organnya ada yang dibuang,- entah apa. Bapak kebingungan harus mengadu ke mana, hingga akhirnya mengetahui tentang Kamisan dari berita di koran. Alhamdulillah sore itu Bapak sudah ketemu dengan pengacara LBH Jakarta. Semoga Bapak segera mendapat keadilan.


*cerita di atas adalah nyata terjadi

Kamis, 12 Mei 2016

Go Big or Go Home?

Last week, I go home. I feel weird, a bit strange. My parents just did a major renovation that change many parts of it. I lost my dirty ugly green sofas, I lost corner between my bed and my desk, place where I used to write my diaries, crying to trashy love songs, and god only knows what else. But I can't complain. That house aged as old as my oldest brother and never have any refinement since then. It NEED to be fixed. And yes, I can not complain. I'm not feel that bad about that renovation. Now my home have nicer tile and wall, better roof that not leaked when it's rain, et cetera. And I'm not a little girl anymore. Don't be too sentimental. It's my parents' home, not mine. Maybe

Go big or go home. I often heard that words. Roughly translated into: be success, or yeah stay at your nest, do nothing.

Beside all that strange feelings towards my 'new' home. I just realized that I have certain distance with my neighboorhood. I went to high school uptown that quite far from my home, and then I go miles away to pursue my degree. I feel like a stranger in my own village. And too bad, I just realized that now.

I just graduated from my university. Now I'm on my 'liberty crisis' or yeah -unemployed- well I might said that I'm not totally legit to be called that. I am volunteering at an NGO as a researcher. My friends called it cool, my parents does not say so. There is a lot of better things, kid. Yeah. But I feel lost, not because I don't have map, but sadly, I pretty confused where is my direction.

So, go big or go home?

Maybe I should done this first:
Define what is 'big'?
And finding where is 'home'?

Wish me luck