Minggu, 27 Maret 2016

Tentang Hak

"Eh kalo bayar taksi boleh minta kembalian gak sih?"

"Ya boleh lah, tapi biasanya emang kembaliannya buat tip"

"Gue kemaren argonya 37 ribu gue kasih 50an ga dikasih kembali"

"Ya lu minta lah"

"Males"

"Ya itu kan hak lu"

"Ya gak segitunya juga"

"Eh asal lu tau ya! Kalo perempuan di amerika gak memperjuangkan hak pilihnya! Kalo buruh gak memperjuangkan 8 jam kerja! Kita gak bakal gini sekarang!"


"Iye iye"

Sabtu, 19 Maret 2016

Ketika Aku Bosan

Aku lupa ada milyaran orang yang belum ku kenal
Jutaan buku yang belum ku baca
Ribuan bahasa yang belum ku pahami
Ratusan negara yang belum ku kunjungi

Dan satu Engkau, Yang Belum Selesai Aku Pahami

Selasa, 01 Maret 2016

Sosial Media dan Kemunduran Berinternet

Lima tahun yang lalu, saat saya duduk di bangku kelas 12 SMA dan bersiap untuk kuliah, fungsi internet yang paling bermanfaat bagi saya adalah google. Memang saat itu sudah ada facebook, namun sosial media belum sepopuler sekarang karena –mungkin ponsel pintar belum dapat diakses oleh semua orang. Kala itu, istilah populer di internet adalah blogwalking, rasanya penting bagi setiap insan untuk memiliki blog, baik itu blogspot, wordpress maupun tumblr. Mungkin juga itu alasan mengapa saya mulai menulis di laman ini, hehe- saya tidak ingat persis.

Tahun- tahun berlalu dan entah bagaimana... oh iya, mungkin saat instagram diakuisisi oleh Facebook sehingga dapat diakses pada semua ponsel android, mungkin juga karena itulah banyak toko daring yang memanfaatkan sosial media ini “cek ig kita sis”. Sebelumnya kita juga mengingat twitter yang sempat primadona di seluruh penjuru negeri. Ingat bagaimana berbagai pihak dari mulai selebriti, aktivis sosial, ilmuwan, ustadz hingga politisi mencuitkan berbagai idenya dalam sarana per 140 karakter ini.

Saya jadi ingat kalimat Max dari serial 2 Broke Girls yang bilang
twitter is stupid and instagram is twitter for people who cannot read”
Benarkah?

Tentu kini kita juga mengenal satu lagi platform yang demikian populer di kalangan anak muda, khususnya di Indonesia, yap Path –yang konon sebagian sahamnya dimiliki Bakrie Group, hehehe. Mengapa saya memaparkan ‘sejarah’ singkat sosial media ini? Hmm, sebenarnya ini berawal dari kegelisahan saya karena kita mulai sepi membicarakan ide.

Beberapa waktu lalu, karena saya kesepian ‘ditinggal’ lulus oleh teman- teman (loh kok jadi curhat). Salah satu cara untuk ‘catch up’ dengan mereka adalah dengan aktif kembali di Path, alias bisa ngepoin mereka, haha. Path dirancang agar kita dapat berbagi momen- momen kita dengan lingkaran terdekat. Dan ternyata, mayoritas isi Path adalah hal- hal pribadi seperti kita makan di mana, dengan siapa, dll. Oke mungkin saya terdengar sangat sinis tentang hal ini. Tapi kembali lagi, saya hanya merindukan diskusi ide di internet dan bukan ‘hanya’ lo ngapain aja hari ini. Hehe
Jadi yuk kita mulai kembali membagi ide- ide kita?

Ingat kalimat bijak dari Ibu Kita Eleanor Roosevelt



#note #to #my #self

*ditulis oleh pengangguran yang kesepian