Sabtu, 24 Januari 2015

Homemade Beauty (1)

Dulu pas masih tinggal di rumah Cilacap, gue sering acak acak isi dapur, bukan buat masak dan dimakan melainkan buat ‘diaur aurin’ ke muka dan badan. Haha, iya kalian pernah ada yang suka baca majalah Kartini gak, kalo gak salah di situ ada rubrik Aduhai yang isinya bahas tips tips rumahan, termasuk tips ‘kecantikan’ hihihi. Nah dari situlah gue hobi coba2 isi dapur buat perawatan muka dan tubuh. Bahkan dulu sempet pingin buat blog khusus untuk itu dengan judul ‘Homemade Beauty’ tapi ya akhirnya biasa, mager, hadu.
Nah tahun berganti tahun, sekarang masih suka juga bacain beauty blognya kak alodita dan mrsdelonika *sok kenal*. Dan karena sekarang juga sedang tinggal di rumah (rumah= lengkap dengan kulkas, dapur dan kamar mandi pribadi) saya bisa menyalurkan hobi lama. Terutama karena kemarin kulit sempat bereaksi terhadap udara dingin iklim gurun saat winter jadi keriiing. Padahal dari Indonesia bawanya skincare untuk kulit berminyak semua (karena normalnya kulit gue begitu) jadilah googling tips tips rumahan buat kulit kering. Nah disini gue akan coba merangkum beberapa benda dari dapur yang bisa dipakai untuk skincare, hehe, enjoy!
1.       Minyak Zaitun
Kayaknya gue bahkan pernah nulis ttg zaitun ini ya. Emang cairan satu ini super sekalih deh, wattini wazaitun ! *apadeh*. Minyak zaitun bisa dipake untuk seluruh badan dan muka. Caranya gampang, tinggal usapkan minyak zaitun ke seluruh badan sebelum tidur. Pas bangun pagi jangan lupa mandi ya, hehe. It helps banget deh saat kulit lagi kering. Oia kulit kita kan selalu regenerasi yah, nah walaupun gak keringetan atau kena debu harus wajib dibersihin tuh, nah minyak zaitun bisa mempermudah proses pembersihan ini, bisa dibantu dengan scrub juga.
Minyak zaitun juga bisa dicampur dengan brown sugar sebagai scrub. Oia, kakak iparku pas hamil juga pake minyak zaitun untuk menghindari strechmarks. Bisa pake minyak zaitun untuk pijat atau untuk masak yang gampang dibeli dimana saja. Untuk pemakaian di wajah, jangan lupa bersihin dulu wajahnya yaa.
2.       Yoghurt
Ini iseng banget nyobain karena harga yoghurt di Mesir murah, haha. Waktu itu nyobain buat masker di muka dan karena sisa aku pakein di kaki, hahaha. Pake yoghurt yang plain yaa. Memang kurang ngefek untuk kulit kering tapi abis maskeran ini jadinya seger gituu, haha (mungkin lebih cocok untuk kulit berminyak?)
3.       Madu
Campur madu dengan brown sugar atau gula pasir biasa untuk exfoliating wajah dan bibir. Kalau kemakan gapapa kan maniss, hehe. Ini juga membantu banget. Bibir yang pecah pecah dan kulit wajah yang kering mengelupas gitu, huhu iya kemarin kulit gue separah itu. Lebih oke pake air hangat ya ngebilasnya, hehe.
4.       Brown Sugar
Nah ini dia *berasa pos kota* bumbu yang bisa dicampur dengan apapun untuk menjadi homemade scrub, hihi. Bedanya sama gula pasir biasa apa? Warna dan teksturnya yang lebih kasar, selain itu gatau haha. Belinya dimana? Gak beli! Biasanya ngambil kalo pas ngopi di sbucks atau kafe lain buat persediaan, hehe.


Silakan mencoba, semoga bermanfaat. Efeknya mungkin beda ke masing- masing kulit orang ya. Kalau aku sih lebih seneng ngubek ‘bumbu dapur’ untuk skincare daripada nyobain krim krim gajelas, hihihi. kisskiss

Rabu, 21 Januari 2015

Berpikir dengan Berani dan Hati- Hati


Tulisan ini merupakan after affect kompre (ujian komprehensif) mata kuliah Pelatihan II. Tugas akhir mata kuliah ini adalah membuat rancangan pelatihan dan kemudian diuji secara lisan. Unfortunately, kelompok saya memang kurang siap, mendapat giliran ujian awal, dan penguji kami adalah dosen senior yang merupakan pakar di bidang pelatihan J (not to mention her J).
Insight dari kompre tadi adalah sangat mendalam. Seperti judul artikel ini, kita harus berpikir dengan hati- hati, apalagi dalam konteks sebagai akademisi. Setiap frasa dan kalimat harus dapat divalidasi, siapa yang mengucapkan, kapan, tercantum di mana, dan seterusnya. Bagaimana kaitan antar argumen dan sebagainya dan seterusnya. Pusing ya?
Iya, tapi kemudian saya mikir, kalau kita, kaum akademisi nan tercerahkan dan budiman  yang sudah tahu kalau berpikir itu harus sistematis, logis dan rasional (halah) malah mager dan menyerah. Nanti bisa bisa dikalahkan oleh para kaum modal screenshot itu (wkwk, mungkin Cuma saya yang mengerti). Apalagi lahan kami, psikologi, yang sangat rawan untuk diambil alih common sense.
Sedih memang kalau alur berpikir kita yang pemula ini dikomentari pedas pedas oleh dosen. Tapi lebih sedih lagi jika kemudian apa yang ‘benar’ dan akademis hanya dapat dinikmati sebagian kecil kalangan. Sedangkan khalayak malah menikmati wacana wacana yang tak jelas sumbernya.

Mungkin benar apa kata pak menteri pendidikan, mendidik adalah kewajiban setiap terdidik. Jika ada memiliki ilmu, bagilah kepada sekitar, maka ilmu itu akan bertambah *walah so bijak banget* Semoga teman saya yang pintar- pintar kelak tidak membangun pagar dengan dunia luar. Semoga semua yang berilmu bisa membagi ilmunya dengan siapa saja.
semoga kita semua sadar bahwa berpikir itu memang tidak mudah, maka kita harus berani dan hati- hati