Friday, August 31, 2018

2038

Aku masuk ke dalam lift. Saat pintunya menutup, aku bisa melihat refleksi diri, kulit wajah yang kian keriput, beberapa uban mengintip di sela-sela rambutku yang sudah berulang kali aku cat. Aku membetulkan kalung mutiara yang menjuntai di atas gaun biru tua selutut. Senormal mungkin, Larasati, senormal mungkin.

Hujan tiba-tiba turun ketika aku sampai di parkiran. Aku bergegas masuk ke mobil, mengaturnya agar secepat mungkin sampai ke rumah.

Baru akan kukeluarkan kunci rumah, anak sulungku membuka pintu.

"Nak..."
"Maaf Rio baru pulang, baru dengar kabarnya tadi malam, ada sedikit masalah di imigrasi"

"Gak papa nak, gak papa"

Kami berpelukan dan bersama-sama menangis.

Rio memecah hening dan melihat arlojinya.

"Sudah jam 6 Bu, Ibu saja dulu, aku jaga-jaga"

"Tutup semua tirai ya nak"

Aku membasuh wajah dan tanganku, wudhu-sebuah kata terlarang, aku hendak menangis lagi, tapi ingat kalau menangis membatalkan wudhu sedangkan waktuku sungguh sedikit.

Di ruang yang sejatinya kamar pembantu, tersembunyi di balik gudang, setersembunyi mungkin, aku selesai sholat-kata terlarang lain. Aku cuma sholat dua atau tiga kali sehari sekarang. Seharian aku bekerja, orang bisa lapor polisi jika melihat aku sholat, dan aku bisa mati di tempat.

Aku berdzikir seingatku, mungkin aku kian pikun sedangkan hafalan Alqur'an- kata terlarang lain, ku terbatas. Aku ingat ketika warga komplekku berkumpul di lapangan membakar semua cetakan kitab suci yang tersisa, ada yang diam, ada yang bersorak sorai, aku hanya menggenggam tangan suamiku, ketakutan. Semilir angin menusuk tengkukku yang sejak dulu ditutupi jilbab- mulai saat itu, tidak boleh.

Ah suamiku, sekarang aku berdoa sambil memeluknya. Kemarin polisi mengantarnya dalam kotak kaleng, sudah jadi abu. Iya, bahkan pemakaman yang dulu aku kenal pun sudah tidak ada. Aku memeluknya, setelah bertahun-tahun hilang, ia pamit bergerilya katanya, pemerintah menemukannya bersama kawan perkumpulnya, membunuh di tempat, dibakar, hingga hanya abu yang dapar kukenang.

Aku melihat lubang-lubang di mukenaku yang usang.

"TIDAK, KAMI SETIA PADA NEGARA!" pekik sulungku dari depan rumah.

Aku tercekat, celaka! pemerintah tahu segalanya.

-BERSAMBUNG-

Tuesday, August 14, 2018

Skincare dan FOMO

Sore itu saya baru selesai menghadiri acara di Kebayoran. Karena males pulang ke kosan, saya memutuskan cari makanan di Gandaria City. Belum lapar, saya muter2 mall untuk window shopping. Kebetulan saya menemukan ternyata toko Nature Republic sudah buka di Gancit, saya mau masuk ke toko tapi dicegah oleh mbak SPG, ternyata saya harus antri dan ada sekitar 20 orang mengular di antrian yang areanya terpisah dari toko. Huah males banget, saya pun akhirnya mengurungkan niat sekadar liat-liat ke konter brand kosmetika asal Korea Selatan itu.

Skincare memang belakang menjadi hal yang saya hobi-i (is that even a word?). Pada dasarnya saya yakin semua orang butuh hobi. Ndilalah saya suka dengan hal berbau kecantikan dari saya remaja (tapi kok saya ndak cantik2? ya tuhan). Kenapa? ya karena enjoy aja dan saya merasa self esteem saya meningkat setelah merawat diri. Saya menyukai prosesnya, tidak melulu hasilnya.

Ngomong-ngomong soal self esteem. Hal itu gak muncul begitu saja dalam diri setiap orang, begitu pula pada saya. Kalau standar kecantikan ala industri saat ini bisa terukur misal 1 skor untuk kulit seputih Chelsea Islan, 1 poin lagi untuk rambut seindah Raissa, pastilah saya masuk tergolong pada kategori Tidak Cantik. But then, I decided to not buy those criteria. Akhirnya, kampanye industri kecantikan juga bergeser ke menghargai keberagaman.

Misalnya iklan Dove ini:



Atau iklan Fenty Beauty nya Rihanna yang ini


Terus, kalau jaman dulu iklan produk kecantikan banyaaak yang fokus dengan narasi 'cantik biar dapet cowok' things. kayak gini,


Sekarang mulai bergeser ke narasi kepercayaan diri, positive vibes dan lain-lain. But then ads is no longer a things.

Muncullah beauty blog, dimana orang-orang 'biasa' share tentang pengalamannya di internet. And then, muncul berbagai platform. Youtube, kemudian instagram. Dan disinilah saya mulai sering merasa FOMO (fear of missing out).

Mungkin sejak SMP saya suka follow beberapa blogger, selain fashion blogger ternyata ada juga spesies bernama beauty blogger. Karena ternyata saya lebih into ke skincare dan make up, jadilah saya lebih seneng mengikuti para byutiblojer ini hingga kini feeds instagram saya pun penuh dengan mbak2 yang 'mencoba' lipstik, pensil alis, masker, toner, serum berbagai merek. Makinlah FOMO menjadi-jadi.

Sebetulnya ada satu resep yang cukup ampuh menyembuhkan penyakit FOMO ini. Sadari bahwa influencer, memang bekerja untuk itu, mereka memakai dan mencoba kosmetik untuk dibayar. Memang tidak semuanya, tapi yakinlah ini komponen penting yang menyuburkan industri kecantikan, dan juga kita sebagai konsumen.

Jadi gimana?

Kalau saya balik ke niat bahwa skincare (dan make up) adalah bentuk self care, bentuk saya mencintai diri saya sendiri. Seperti, "here my skin, have a good things". No, you do not have to understand that. Karena mungkin kalian punya cara lain untuk mencintai diri kalian.

Itu saran idealisnya, kalau saran pragmatis ya: Tetapkan budget!. Realistis lah, kalau gaji kalian cuma 5 juta, masa mau beli serum La Prairie yang harganya tiga kali lipat gaji bulanan? sampe dibela-belain abisin limit credit card? Ooops. Misalnya kalian punya budget 500.000 per bulan untuk beli skincare dan pengen beli yang harganya lebih mahal dari itu, ya nabunglah sampe bulan depan, You won't die kok.

Dan wabilkhusus untuk skincare, it's much scientific that you think. Menjadi skincare geek yang belajar tentang berbagai kandungan dan zat aktif membuat saya lebih bijaksana dalam memilih dan menghabiskan uang untuk hal ini. Mempelajari step yang benar untuk menggunakan skincare juga lebih penting dibanding jor-joran menghabiskan uang untuk membelinya.

So,

Love yourself first and always

Xoxo

Wednesday, August 8, 2018

Die Trying

Kemarin, waktu kami mengajar anak-anak di Pulau Satando. Kami membuat pohon harapan. Membuat origami di mana anak-anak menuliskan harapannya di situ. Banyak anak-anak menulis cita-citanya di situ. Dokter, guru, polisi, presiden. Ah indahnya, ketika kita masih tau dan sudah tau akan jadi apa.

Namun aku sendiri bingung. Aku mau jadi apa? Mencapai jenjang karir apa di usia berapa? menikah kapan? punya anak berapa? punya rumah dimana? mulai mengajukan KPR kapan?.

Tumbuh dewasa begitu menyebalkan dengan segala pertanyaan yang menuntut rasionalitas.

Aku berpikir dan berpikir, anak-anak mulai menggantung origaminya.

"Ayo kak, kakak gantung juga"

Aku bingung menulis apa.

Kami menuju ke dermaga, bersiap pulang ke Pelabuhan Maccini Baji.

Mungkin aku tau aku ingin apa. Aku ingin mati saat aku masih berusaha. Mengusahakan segala apa sebaik-baiknya?.

Baik bagaimana?

Biar aku pikirkan dulu. Aku saja yang tau :)

Tepi Sungai Ciliwung,
9 Agustus 2018