Tuesday, November 25, 2014

Keping


Jujur sesungguhnya kunjunganku ke acara maha akbar pasar seni itb malah menyisakan banyak kesedihan.
Diawali dari ketinggalan kereta hingga harus muter muter nyasar dago dan menyusahkan keluarga pede yang kami tumpangi pulang :(

Merasa bersalah sama Puput. Merasa bersalah karena seharusnya bisa bangun lebih pagi. Merasa bersalah karena seharusnya punya kemampuan spasial yang lebih baik.

Kesal dengan hujan hari itu dan manusia yang sungguh penuh sesak, yang membuatku tidak bertemu Bandu dan tidak sempat melihat karyanya yang keburu rusak karena hujan.

Pikiranku pun terokupasi emosi negatif. Di perjalanan pulang, aku pun seperti ingat kepingan yang tidak akan kutemukan kembali.

Aku kangen Bandu. Mas Bandu. Sedih sekali rasanya aku ke Bandung hari itu dan hanya beberapa jam bertemu dengannya.

Aku sangat sayang kedua kakak laki lakiku. Ketika banyak temanku yang perempuan bilang mereka ingin punya kakak laki laki. Aku selalu berkata maupun menggumam dalam hati, aku punya dong! Mereka sangat keren! Dan hey, aku punya dua!

Di perjalanan pulang, ketika aku melihat Pede dan adiknya, tiba tiba aku kangen mas Bandu. Mas Bandu yang dulu mengajariku sholat dan puasa. Mas Bandu yang membawakanku brem yang didapatkannya dari abang abang lotre di sekolah. Yang selalu mengajakku bermain, bersama teman temannya. Aku hampir kenal semua teman Bandu, dari dia TK hingga kuliah di FSRD ITB. Yang mengajakku diskusi apapun hingga larut malam. Yang selalu mendukung gagasan gagasan anehku. Yang nampaknya tau segalanya.

Iya, kami sekarang jadi makin jarang bertemu. Setelah ia bekerja, menjadi seniman freelance nampaknya sangat sibuk. Kadang dia pulang, aku tidak. Seringnya aku pulang, dia tidak.

Jika ada dua orang paling signifikan dalam hidupku, mungkin ya Bondan dan Bandu. Dua kakakku yang keren itu. Bondan anak UGM, Bandu anak ITB. Dan hey, aku mungkin bisa jadi anak UI karena termotivasi oleh mereka. Ingin rasanya mengulang saat kami bertiga main kapal kapalan di kasur bapak yang luas.
Mereka berdua yang sangat berbeda. Bagai dua kutub. Bondan pendiam, penyuka sejarah dan geografi, konservatif, sangat gila bola berbanding terbalik dengan Bandu yang cerewet, seniman yang pandai matematika dan fisika, antimainstream, dan tidak bisa main gitar tidak suka bola. Kalau mungkin ada yang heran kenapa aku suka sekali dengan hal hal trivial. Kata mama, itu agar aku bisa 'mengimbangi' mereka saat ngobrol. Aku harus tau sistem politik di Kuba dan Rusia sekaligus karya karya Andy Warhol dan Rembrandt. Pula, kami biasa berkelakar satir tentang depresi 1929. Supaya tetep bisa ngobrol sama mereka, sesimpel itu.

Kini keluargaku menjadi keping- keping. Depok, Bandung, Cilacap, dan Denpasar.

Kangen kepada Bandu pun menjalar menjadi kangen pada Bondan, mama, bapak, mbah uti dan mbah kakung. Ah betapa rindu aku dengan rumahku yang dulu ramai dan selalu banyak makanan karena memang ada banyak orang. Sekarang rumah besar itu selalu sepi, cukup besar untuk membuat seluruh penghuninya beraktivitas tanpa bertemu muka.

Aku tidak ingat persis. Tapi nampaknya aku selalu ditinggalkan. Pertama, bapak yang sangat workaholic, Bondan yang kuliah ke Jogja, Bandu ke Bandung, dan mbah kakung yang meninggal sebelum aku lulus SMP. Aku pun bosan di rumah dengan mama dan mbah uti. Aku pun seperti ingin balas dendam. Suatu hari aku ingin meninggalkan rumah ini dan melihat dunia.

Sekarang, sebanyak apapun teman yang kumiliki di Depok, sebanyak apapun hal yang sudah aku rasakan. Aku rindu nyanyian bapak di malam hari, rindu makanan lezat mbah uti, rindu saat minum teh sore tiba, rindu diskusi dengan bapak, mas bandu, mas bondan tentang pemerintah, dunia, Tuhan, leluhur kita, dan apapun itu, rindu mama dan ayam ayamnya, dan mainan- mainan serta cerita buatan mbah kakung.

Keluargaku, rumahku, mungkin bukan tipe keluarga cemara atau mereka yang biasanya ditampilkan di iklan asuransi atau bank. Keluargaku unik. God tailored them for me. They are shapes us. Ingin rasanya menceritakan mereka satu persatu.

Saat ini ketika tekanan menjadi mahasiswa tingkat akhir melanda. Di saat aku rasanya tidak cukup resilien. Ini mungkin yang namanya homesick, belum pernah separah ini. Aku ingin kembali pada kepinganku. Atau mungkin aku harus menjadi kepingan yang utuh sendiri :')

Kukusan, 25 November 2014