Minggu, 25 Maret 2012

Udah Masuk UI, terus... ?

Judul diatas adalah pertanyaan yang selama hampir setahun kuliah disini selalu crossing in my mind. Dari kecil, saya lupa sejak kapan, mungkin sejak saya ditanya orang, "besok mau kuliah dimana, dek?". Saya selalu jawab "UI", setiap berdoa saya selalu meyelipkan impian ini agar dikabulkan Tuhan, meskipun saya belum mengerti tentang konsep kuliah, dan tidak UI itu wujudnya seperti apa. Hingga waktu ikut tes SNMPTN, saya tetap mempertahankan impian- yang menurut saya sedikit silly itu.
Entah karena keberuntungan atau sedikit kebaikan hati Tuhan, saya diterima.
Ssssh, enough, serita diatas mungkin memang terlihat sangat payah.
Yang jadi masalah adalah. Selama ini saya menganggap bahwa impian itu adalah impian yang amat besar, seolah- olah impian yang hampir final. Sehingga, mungkin, saya tidak sempat memikirkan rencana- rencana lainnya.
Ketika masih euforia atau lagi norak- noraknya, lagi seneng- senengnya punya jaket kuning dan lain- lain. Saya mendapat berbagai pengetahuan bahwa mahasiswa ituh, harus berkontribusi, mahasiswa ituh agen perubahan, mahasiswa ituh lalala, lilili.
Saya sadar, bahwa saya amat sangat clumsy. Makanya saya bingung, walaupun UKM di UI seabrek, tapi saya bingung mau ikutan yang mana. Pada saat itu kegiatan ospek pun sangat menyita waktu. Saya.... bingung.
Saya bersyukur, disini saya menemukan orang- orang hebat, dan dapat berteman dengan sebagian dari mereka, terinspirasi oleh sebagian lainnya. Mereka adalah orang- orang yang amat pintar, cerdas, dan passionate. Saya mungkin bukan, eh belum menjadi bagian dari mereka. Tapi, saya harap, suatu saat saya bisa menjadi seperti mereka.
Setiap bangun pagi, seperti ada setan yang selalu membisiki telinga saya "do something !". Saya sadar bahwa sekarang bukan waktunya mengeluh dan mengutuki keadaan. Saya telah menjadi bagian dari sesuatu yang hebat, saya pun harus menjadi demikian, semoga, Amin.sumber gambar

Sabtu, 24 Maret 2012

Selamat Jalan, Memeng

Memeng waktu masih kecil :3


Siapakah Memeng ?
Haha, she is my little sister... yap, mungkin orang akan menganggap dia cuma seekor kucing. Tapi buat saya, dia punya arti yang jauh lebih bermakna.

Memeng dengan tiba- tiba datang di suatu pagi pada 14 November 2009 (Kalau saya gak salah inget). Dari dulu, banyak sih kucing yang mampir ke rumah, kebanyakan langsung pergi setelah dikasih makan. Makanya, waktu memeng dateng, saya gak berharap dia akan stay dan mau dipiara. Eh ternyata setelah saya pulang sekolah, memeng masih ada dirumah.
Dan cerita berlanjut, memeng yang tadinya cuma segede kepalan tangan saya (gede dong?) haha, saya rawat, saya mandiin, saya kasih makan, dibeliin friskies kalo lagi ada rejeki. memeng pun menjadi kucing gendut nan sexy (kayak yang punya) haha *jitak.
Walaupun awalnya sebel, akhirnya orang rumah juga pada ikutan sayang sama memeng, kecuali mas Bondan. Bahkan bapak pun ikutan sayang sama memeng. protes pun berdatangan dari para tetangga, mereka bilang kalo miara kucing betina itu cuma nambah masalah aja, yap betul sekali sepanjang hayatnya memeng melahirkan 14 anak (buseeet).
Ada rasa sedih waktu harus ke depok dan meninggalkan memeng, rasanya pengen bawa memeng, tapi yaa gak mungkin.
sampai akhirnya mama menelepon bahwa memeng udah pergi, untuk selamanya pada 22 Maret 2012.
Selamat Jalan meng, sampai ketemu di surga yaa :')Memeng dan Kakaknya


Minggu, 18 Maret 2012

Bekas Paku, Analogi Sakit Hati


menyakiti hati orang lain itu seperti menancapkan paku di papan kayu atau tembok. walaupun paku tadi sudah dicabut, bekasnya akan tetap ada, sampai kapanpun
*the power of sakit hati
sounds silly, tapi saya belum bisa menemukan salahnya analogi ini.

sumber gambar