Thursday, October 5, 2017

Psychological Cost

sumber gambar
Beberapa hari yang lalu, sebagian teman sekantor saya terlambat datang karena mereka berangkat ke kantor menggunakan KRL dan KRL pada hari itu anjlok di stasiun Manggarai. Praktis, hampir semua jalur KRL di Jabodetabek lumpuh total. Berbagai foto dan update berita disiarkan oleh teman-teman saya di berbagai platform sosial media.

Hari itu, saya tidak terkena dampak peristiwa di atas. Saya tinggal 5 menit jalan kaki jauhnya dari kantor. hal ini memberikan sederet kemewahan bagi saya, termasuk ngulet di kasur alih-alih dempet-dempetan di kereta.

Saya menyebutnya psychological cost

Saya belum riset sih kalau terminologi ini beneran ada atau enggak. Singkatnya gini, Biaya kos saya di Depok setengah biaya kos saya di Jakarta. Jika ditambah biaya transportasi pun masih lebih murah kalau saya milih ngekos di Depok. nah tapi dengan kasus tadi, tentu saya akan lebih capek kalau menjadi penglaju Depok-Jakarta. Biaya yang saya keluarkan untuk membuat saya less capek ini adalah psychological cost.

Sotoy benar ya

Nah, tapi less capek ini bukan berarti serta merta lebih sejahtera ya. karena ada banyak variabel lain seperti kualitas hunian saya yang lebih buruk saat ngekos di Jakarta, ruang publik yang kurang asri dan lain pelbagainya.

Intinya, psychological cost ini menjawab berbagai pertanyaan tentang, misalnya: "milih kerja gaji gede tapi gak seneng, atau gaji kecil tapi seneng" atau "milih nikah sama yang tajir tapi gak nyambung diajak ngobrol atau yang klop tapi proletar" haha. Psychological cost memberi perspektif baru dalam memilih dan tidak melulu mengutamakan benefit berbentuk uang.

Namun lagi-lagi masalahnya adalah, kesejahteraan terlalu sulit diukur secara mutlak dan terlalu banyak variabel lain. Dalam kasus milih pekerjaan misalnya, bagaimana jika pekerjaan gaji besar namun tidak kita suka itu justru lebih mengembangkan diri kita sedangkan pekerjaan yang kita suka malah membuat kita terjebak dalam zona nyaman.

Ah, memang sukar mengukur kebahagiaan, buat apa pula? Gimana menurut Kamu?


Bahagia mah bahagia aja keles,

Binski

*) ini artikel ngawur yang sama sekali ndak ilmiah, nggak usah serius serius lah :p

Wednesday, October 4, 2017

Perpustakaan Maya

Bukan, nama saya bukan Maya.

sumber gambar
Dari dulu, saya kepengen banget punya perpustakaan. Kenapa? mungkin karena sejak remaja saya suka banget baca tapi saya tinggal di daerah yang sangat minim akses untuk mendapatkan buku. Dan mungkin karena kelangkaan pilihan bacaan inilah saya juga jadi sangat menikmati membaca buku yang saya sukai.

Salah satu penulis yang membuat saya jadi hobi banget baca adalah Sidney Sheldon, saya pertama menemukan karya nya yang berjudul Doomsday Conspiracy, saya akhirnya kepo dan akhirnya menemukan fakta bahwa Mbah Sheldon saat itu sudah meninggal (tahun 2007). saya pun akhirnya terobsesi untuk membaca semua buku karyanya. Ini merupakan perjuangan panjang, karena tidak ada toko buku yang cukup decent di kota saya tercinta.

Akhirnya dengan berbagai cara, saya berusaha mencari semua novel Sidney Sheldon dengan cara meminjam di perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah, membeli online (10 tahun lalu saya sudah belanja online, wuouw) dan langsung ke toko buku kalau sedang berkunjung ke kota besar. saya bahkan sempat membuat bucket list novel Sidney Sheldo  di blog ini. Hingga saat ini saya udah kelar baca semuanya, kecuali 1 judul, yang Memories of Midnight kalo gak salah.

Hmm, kenapa malah jadi bahas Sidney sheldon ya...

Waktu berjalan, mimpi untuk membuat perpustakaan masih ada dalam benak saya, bahwa distribusi akses pada bacaan belum adil selalu mengusik saya pada kenyataan tingkat literasi di Indonesia yang demikian rendah. Saya salut banget sama temen saya Hastin, yang berhasil mendirikan perpustakaan di Kalimantan Utara. Oia, Hastin juga sedang menghimpun dana untuk programnya di sini. Sekarang, POS Indonesia juga menyediakan akses gratis untuk mengirim buku ke daerah setiap tanggal 17.

Saat kuliah, saya sadar bahwa buku kini hadir pada bentuk elektronik atau e book. Nah karena buku teks untuk kuliah saya dulu mahal- mahal, terkadang saya mengunduh buku elektronik secara ilegal.  Nah teman-teman di angkatan saya juga sering berbagi pakai buku ini lewat media google drive.

Syahdan, saya dan dua teman saya entah gimana ceritanya memutuskan untuk menyimpan buku-buku elektronik koleksi kita di google drive, supaya aman dari segala bencana duniawi. Trus, kalo cuma disimpen ya kurang berfaedah dong, akhirnya dengan kesaktian bit elye, saya membuat bit.ly/bukubukuabg sebagai perpustakaan maya kami. Sila diakses, gratis

Hidup sosialisme!,

Binski

Tuesday, October 3, 2017

8 Cara Menjadi Jomblo yang Baik, Nomor 5 Bakal Bikin Kamu Kaget

Betapa clickbait judulnya yes. Haha

Di tengah badai video bridestory Raisa Hamish dan iklan Meikarta sekaligus lagu Akad nya Payung Teduh, kadang menjadi jomblo sangat rentan di budaya ketimuran post modern ini. Dari mulai Ridwan Kamil hingga Raditya Dika masih aja menjadikan jomblo bahan olokan dan lelucon, heu. Nah, tanpa mengurangi segala hormat, saya ingin merangkum beberapa cara yang sesungguhnya sangat bisa dilakukan ketika kita jomblo. Kita? lu aja kali Bin!

1. Berbakti kepada orang tua

Sungguh sangat ketimuran dan NKRI yes, tapi bener loh, setelah saya lulus kuliah dan bekerja dan makin jarang pulang saya merasa orang tua makin butuh anak-anaknya (baca: saya) dan sayapun butuh mereka untuk bayarin kosan dan ngasih duit di tanggal tua.

Saya sadar saya termasuk beruntung masih bisa berinteraksi dengan kedua orang tua saya karena mereka masih sehat wal afiat. Dan karena anak terakhir, saya kadang juga merasa mereka sudah sangat tua, use your time wisely Pulang kampunglah selagi bisa. Beberapa dari kita yang masih bergaji UMR dan harga Ice latte kayaknya naik melulu, belum bisa ngasih banyak ke ortu, banyak dalam artian materi atau duwit, tapi bisalah kita kasih kado kecil buat mereka, misalnya jilbab buat mama atau... enaknya ngasih apa ya ke Bapak? Ada ide?

2. Merawat Diri

Ini istilahnya kok khas ukhti2 banget ya #eh. Secara evolusioner, kita sedang dalam masa mencari pasangan demi melestarikan keturunan. Maka layaknya burung merak jantan yang mengibaskan ekornya, kita butuh terlihat sehat dan menarik.

Siapa yang punya waktu untuk melakukan 10 steps Korean skincare kan? nah karena jomblo punya banyak waktu luang, kita bisa mecobanya selagi bisa. Merawat diri bukan cuma sekadar biar laku sih, lebih sebagai bentuk apreasiasi terhadap diri supaya kita makin love yourself kalo kata Justin Bieber mah.Selain itu, untuk berkembang biak, kita butuh gen yang sehat terutama untuk perempuan yang punya beban eh amanah hamil dan menyusui, maka makan makanan sehat dan olahraga lah. Cih, ngomong sih gampang

3. Hidup cuma sekali, YOLO

Membaca frasa di atas kadang membuat kita mikirin dua hal, hidup seliar-liarnya atau hidup sebaik-baiknya. Nah kadang ada kan hal-hal terliar yang pengen kita lakukan, yang kayaknya entar kalo udah nikah gak bisa dilakukan, atau bahasa solihahnya harus minta ijin suami, pret.

Kayak ngecat rambut jadi silver, solo travel ke Papua, skydiving, atau begadang sama temen sampe pagi, ehem ngapain yha begadangnya. Intinya, mumpung, mumpung nih lakukanlah apa yang ingin kalyan lakukan, tapi tetap mindful ya, jangan sampai membahayakan diri, kan kalian sudah dewasa :)

4. Save (and Invest!)

Tahukah Anda kalau biaya sekolah anak di Jakarta lebih mahal daripada kuliah di PTN? Tahukah Anda bahwa millenial tidak mungkin punya rumah di Jakarta? aku ingin pindah ke Meikarta. ya intinya masa depan ya jelas butuh uang, dan mumpung, mumpung nih ya, kita belum punya banyak tanggungan, maka sempatkanlah untuk menabung dan investasi.

Sebatang lipstick lime crime memang menggoda iman, namun alangkah baiknya kalau kita coba mulai investasi. Saya tertarik untuk nyobain di indves.com tapi belom nyoba haha, atau nabung emas pegadaian huhu #wacana. Tapi saya udah mulai nabung, sesuatu yang sangat sulit untuk saya lakukan sejak kecil,
hmm #crossfingers

izinkan ukhti Binar mengutip Salim A. Fillah "Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)"

sungguh wadidaw

5. LEARN PARENTING

nah, apakah beneran bikin kaget? sebagai mahasiswi Psikologi gadungan saya selalu dikelilingi dengan pop nya dunia parenting, dari mulai Montessori lah golden age nya Freud lah endesbra endesbre. Dan karena saya kepengen punya anak, maka saya sadar saya harus mempersiapkannya. Kata bapak saya "if you fail to prepare, you are preparing to fail", suer beneran belio pernah ngomong gini, walaupun konteksnya memang bukan parenting.

Gak ada metode parenting yang sempurna, oleh karenanya kita harus belajar dari berbagai sumber dan mengambil intisari yang pas dengan value kita, sungguh sotoy ya Binar. ya gitulah, intinya kita harus belajar bertanggung jawab kalau nantinya kita membesarkan seorang umat manusia yang harus dipenuhi hak-haknya, kayak tagline UNFPA

"delivering a world where every pregnancy is wanted, every childbirth is safe and every young person's potential is fulfilled"

wadidaw bingits

 6. Belajar

Mungkin kamu sudah terputus ikatannya dengan lembaga pendidikan formal, tapi belajar adalah tugas kita seumur hidup. Belajar bahasa baru, belajar masak, merajut, coding apakek BELAJAR NYETIR, OMG cewek- cewek di Saudi aja udah boleh nyetir tapi saya belum bisa nyetir, hiks.

learn to survive by your own self, you will save your family later. Hehe

7. Menapaki anak tangga karir

Kamu, masih punya waktu untuk lembur sampe jam 10 malem, masih bisa ngerjain tugas di weekend, masih bebas dinas ke luar negeri/ kota. dan lain sebagainya

maksimalkan potensi Anda untuk menjadi sekrup kapitalis sepenuhnya, selagi ada waktu dan tenaga.

8. Berkumpul dengan teman-teman

saya jadi ngeh kenapa kalau cewek mau nikah biasanya ngadain bridal shower, karena mungkin itu kali terakhir bisa ngumpul dengan teman teman sembari mendiskusikan kegagalan sosialisme di Eropa Timur, hiks. maka dari itu, pereratlah tali silaturahmi dengan handai taulan kita. Sekali lagi, selagi masih ada waktu.

hehehe, intinya tulisan ini sih sebagai pengingat bagi diri saya sendiri supaya gak sedih sedih amat jadi jombelo. Segalanya adalah, mensyukuri dan memanfaatkan waktu, tenaga dan biaya sebaik mungkin

salam wadimor, eh wadidaw,

Binski

Saturday, September 23, 2017

Hijrah? Ke mana?

Beberapa tahun lalu saya dikagetkan oleh seorang figur publik yang 'tiba-tiba' lepas jilbab. Saya beri tanda kutip karena saya yakin bahwa proses itu tidak mungkin tiba-tiba, dia mungkin menjalani berbagai kegalauan yang tidak tampak dari kejauhan.

Kakak saya kemarin berkelakar tentang seorang temannya yang 'hijrah'. Penampilannya berubah drastis katanya, pakai celana cingkrang dan menumbuhkan jenggot yang mungkin tidak cocok dengan feature wajah Asia nya. Kalau perempuan, yang hijrah ya berjilbab panjang menjulur hingga dada, memakai pakaian yang lebih longgar hingga aurat tertutup sesempurna mungkin.

Saya tidak akan menyinyiri siapapun.

Saya justru ingat waktu saya jadi volunteer Jakarta Fashion Week 2014 lampau. Saya berdesak-desakan di mushola mall untuk sholat maghrib, fi tempat wudhu saya bertemu dengan seorang model yang sering saya lihat di majalah. Saya bahkan melirik ke name tag nya untuk memastikan bahwa itu dia. Mungkin saya terlalu tinggi hati untuk tidak syok bahwa sholat juga kewajiban Mbak model itu. Hal yang sama juga saya amati ketika berkunjung ke kost salah satu sahabat saya, banyak sekali doa dan dzikir yang ia tulis dan tempel di dinding, ketika saya heran melihatnya, dia cuma berkata "Iya soalnya aku belum hapal". Dan ya, iya dia belum berjilbab.

Hati saya mengecil, saya takut kalau kualitas ibadah saya kalah dengan saudari-saudari saya yang belum menutup auratnya dengan sempurna, yah saya pun belum.

Mari memperbaiki, dari dalam dan luar, dan berhenti menghakimi saudara/i kita. Karena sesungguhnya kita sedang hijrah ke tujuan yang sama.

#selfreminder

Sunday, August 13, 2017

Taken For Granted

Kemarin malam, pilek yang sudah dua hari saya derita makin menjadi-jadi. Saya pun sudah dua hari gak masuk kantor. Akhirnya, mau tidak mau, saya harus ke dokter.

Saya punya asuransi Cigna dari kantor. Saya lihat di websitenya bahwa asuransi ini bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Jakarta, salah satunya Rumah Sakit Medistra. Saya pun menelepon untuk memastikan bahwa keperluan medis saya benar-benar bisa ditanggung, sekaligus reservasi dokter umum.
Di bagian pendaftaran, ternyata kartu saya ditolak, karena kartu saya terdaftar di Cigna Global, bukan Cigna Indonesia. Walhasil saya harus mendaftar dan membayar dengan biaya sendiri. Nantinya memang bisa direimburse, tapi kan ribet ya. Haha
Setelah cek dengan dokter, diberi resep, sampailah saya ke kasir. Ternyata tagihan cek dokter umum dan obat sekaligus administrasi tadi sampai 862.500 rupiah! Waduh! mahal gilak. Untung saya masih punya orangtua untuk bayarin ongkos berobat itu.

taken for granted, belakangan frasa tersebut menjadi favorit saya. Entah apa padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia, saya belum menemukannya.

Karena belakangan, saya sadar bahwa banyak sekali hal-hal dalam hidup ini yang saya take for granted. Kasus berobat tadi misalnya, waktu kecil biaya kesehatan saya sekeluarga ditanggung perusahaan tempat Bapak saya bekerja, kalau sakit tinggal ke dokter, ambil obat di apotek, pulang! gak mikir blas!.

Saya lulus pendidikan sarjana atas biaya orangtua, memiliki tempat tinggal dengan akses listrik, air dan pendingin ruangan yang layak, dan lain sebagainya. Semua itu saya anggap normal-normal saja saya terima.

Padahal, bisa jadi saya adalah sekian kecil persen warga dunia yang menikmati privilese ini.

Belakangan ini, saya takut, atas segala nikmat yang saya peroleh dalam hidup ini. Saya takut menjadi ignoran.

Kemudian ketus pada para gelandangan, ya mereka gak mau kerja sih!

Jauhkanlah hamba dari sikap demikian, ya Tuhan

Saturday, May 27, 2017

Air

disclaimer: ini adalah celotehan pribadi saya dan tidak mewakili organisasi manapun

Pernah dengar cerita tentang sumur Raumah? Pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah ada sebuah sumur yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Ia memberikan tarif yang sangat mahal bagi siapapun yang mengambil air di sumur tersebut. Melihat masalah tersebut, Utsman bin Affan berinisiatif untuk membeli sumur tersebut. Si pemilik pun menolak. Dengan negosiasi yang sengit, Utsman berhasil memiliki setengah hak milik sumur tersebut.
Bagaimana konsekuensinya? Utsman memiliki hak guna sumur tersebut selama sehari, dan Si Pemilik Yahudi pada hari yang lain. Tak dinyana, Utsman mewakafkan sumur tersebut atau menggratiskan orang-orang untuk mengambil air di sumurnya pada hari gilirannya, orang-orang pun berbondong-bondong datang untuk mengambil air. Pada hari giliran si Yahudi tiba, sumur pun tidak laku, karena kebutuhan air untuk hari itu sudah disiapkan kemarin.

Si Yahudi menyerah dan akhirnya menjual sumur raumah dengan penuh kepada Utsman. Beratus tahun berlanjut dan ternyata sumur Raumah ini masih memberikan manfaat bagi sekitarnya. Dimulai dari perkebunan, hingga usaha hotel, kini pun masih terdapat rekening atas nama Utsman bin Affan di Bank Arab Saudi.

Air bersih, adalah komponen dari hak asasi manusia. Pada SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, akses air bersih juga menjadi tujuan nomer 6.

Tentu, Utsman telah mengamalkan ini seribu tahun lebih sebelum dokumen internasional ini resmi dikumandangkan di ranah internasional.

Kini, kita taking for granted untuk membeli air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingat betul bahwa sumur rumah tetangga saya tidak layak untuk diminum, sehingga untuk air minum dan memasak ia meminta ke rumah tetangganya yang lain, ini karena hingga hari ini pipa PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) belum mengalir ke kampung saya.

Sehari-hari, darimana sumber air minum Anda? mungkin berasal dari botol plastik dengan label Aqua atau merk lain jika Anda tinggal di kota besar. Dan tidak perlu saya beritahu bahwa air tersebut menjadi hak jual korporasi asing.

Maka tidak lagi lucu ketika teman saya berceloteh, mungkin sebentar lagi udara bersih pun kita akan beli. Maka mengapa kita masih mencemooh ibu-ibu yang menyemen kakinya di depan istana negara, hanya karena ingin mempertahankan sumber air bersih di desanya.

Jangan lupa minum air ya! Stay hydrated

Monday, May 1, 2017

Memaknai Ulang Keikhlasan


خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas)

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain"

Saya sering sekali mendengar kutipan di atas. Dan kurang lebih telah menjadi motto favorit ketika saya sedang sok alim, hehehe.

Sepertinya bukan hanya saya, saya tumbuh dan hingga kini beraktivitas di sekitar manusia- manusia yang ingin berfaedah bagi sesamanya. Siapa sih yang enggak?

Walaupun dulu saya percaya homo homini lupus, tapi kiranya saya sekarang saya sudah bertobat dan ingin menjadi lebih altruist. Cie.

Bahkan setidaknya, hingga kini saya masih istiqomah bekerja di sektor sosial, bukan privat. Namun kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, apakah yang saya lakukan ini benar? tepat? efektif?

Apakah keikhlasan menjadi faktor utama ketika kita ingin menolong orang lain?. Apakah memang tidak ada indikator yang lebih 'profan' dalam hal kebaikan?.

Saya jadi ingat anekdot keikhlasan. Yaitu seperti saat kita, maaf, BAB. Setelah itu tidak usah dilihat. Hal ini tentu menjadi bahaya ketika, misalnya, kita mendonasikan sejumlah uang kepada suatu lembaga dan kemudian karena lembaga tersebut tidak diaudit secara berkala, terjadi penyelewengan oleh pengurusnya. Ini contoh yang terlalu ekstrem memang.

Tapi ketika kita hanya melihat dengan kacamata duniawi. Tentu kita ingin perbuatan baik (dan uang yang kita sumbangkan) bermanfaat untuk sesama manusia dan lingkungan di bumi ini.
Hingga entah bagaimana semesta berkonspirasi (yaelah) menyuruh Bimo merekomendasikan sebuah buku kepada saya.

Judulnya adalah: Effective Altruism oleh William MacAskill. Saya langsung meminta (setengah memaksa) meminta kopi e-book nya dari Bimo.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna. Dari judulnya kita bisa menebak, bahwa buku ini mirip seperti manual book bagi orang-orang yang ingin berbuat baik, bukan sekadar berbuat baik, namun berbuat baik seefektif efektifnya. Haha

Ini cukup menyentak diri saya. Karena selama ini, ketika kita berbuat baik, kita lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika (iya gak sih?) kita akan cenderung empati dan menyumbang untuk korban bencana alam- yang MacAskill temukan dalam buku ini bahwa perbuatan tersebut kurang efektif dibanding berdonasi misalnya, untuk usaha pengurangan cacingan (deworming)- yang MacAskill paparkan dapat meningkatkan angka partisipasi sekolah.

Buku ini menyuguhkan data statistik empiris tentang usaha-usaha sosial di dunia, yang gagal dan yang berhasil. Supaya kita bisa belajar dan merencanakan aksi sosial secara lebih efektif.
Bahkan MacAskill mengenalkan alat ukur QALY untuk mempermudah kita mengukur efektivitas sebuah kegiatan sosial.

Oh iya, ada satu bab yang menarik dalam buku ini, yaitu advise tentang karir. MacAskill mengukur probabilita seorang kawannya yang alumni PPE ketika ia akan berkarir sebagai politisi di UK. Saya juga jadi mengenal istilah earning to give. Bahwa waktu dan skill kita mungkin akan lebih efektif jika kita bekerja di sektor privat dan mendonasikan penghasilan kita untuk kegiatan sosial, alih-alih menjadi pekerja sosial (habis ini siap-siap jadi kutu loncat, eh :p).

Buku ini memang 'hanya' membahas efektivitas altruisme secara kuantitatif dan makro. Dan faktor afektif dalam berbuat baik tidak mungkin terhindarkan.

Tapi tenyata, kita harus memaknai ulang keikhlasan. Yaitu dengan rasional menghitungnya :)

catatan: makna Ikhlas dalam Bahasa Arab adalah 'melakukan segala sesuatu semata-mata untuk Allah SWT'. namun 'ikhlas yang saya maksud di tulisan ini adalah yang secara umum dipahami masyarakat Indonesia, yang dalam bahasa Arab lebih tepat disebut 'ridha'