Minggu, 02 April 2017

Belajar dari Sullivan

"I need scarers who are confident, tenacious, tough, intimidating. I need scarers like... like... James P. Sullivan."
-Henry J. Waternoose


Apa yang dapat kita pelajari dari Sullivan, salah satu monster di film Monster Inc. ?
Well kita mendapati bahwa Sullivan adalah salah satu pekerja yang jujur, passionate dan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

Tapi mari kita melihat ke masa lalunya yang diceritakan dalam film prekuel Monster University. Dari film itu kita tahu bahwa Sully ternyata drop out dari MU, tapi di akhir cerita ia tetap masuk ke Monster Inc. lewat jalur 'lain' yaitu menapaki tangga karir dari level pengantar surat.

Kisah Sullivan ternyata juga terjadi di dunia nyata manusia (Haha). Dari sebuah training, saya mengetahui Houtman Zainal Arifin sosok yang menapaki jenjang karir dari seorang Office Boy hingga Vice President di Citibank. [cerita pak Houtman]

Tidak seperti Sully, saya berhasil lulus dari universitas impian saya (walau dengan babak belur). Dan beberapa saat setelah menyanyikan Gaudeamus Igitur di Balairung (read: wisuda) saya begitu bingung 'shit, what's hella next?'. Masuk UI telah menjadi impian ultimate saya hingga seolah-olah setelah itu tidak ada yang perlu dicapai lagi. Konyol memang. Baca post saya yang ini

Kemudian saya menghabiskan waktu setahun setelah lulus dengan magang di KontraS dan UNDP. Sebuah pilihan yang sungguh antimainstream di kalangan teman-teman saya. Karena, alasan sesungguhnya adalah: I don't know what hella to do with my life, but at least I should keep my muscles and mind busy.

Saya juga sibuk kerja freelance (ngasong, kalo istilah anak Psikologi) dan melamar pekerjaaan di berbagsi company. Karena, ya saya butuh uang buat beli lipstik dan minum kopi, hehe. Ini karena kebutuhan pokok saya masih ditopanh oleh Ayah dan kakak-kakak saya. Maka hal tersebut juga privilese buat saya untuk tidak terburu-buru nyari uang.

Dan betul lah apa kata Francois Lelord. Perbandingan akan mendisrupsi kebahagiaan kita. Ih enak ya dia udah kerja di BUMN, Ih enak ya anu kerja di konsultan, Ih keren ya dapet lpdp bisa S2 di luar. Saya kerap melihat teman-teman saya yang jauh lebih 'sukses' dibandingkan saya.

Hingga saya mendarat di salah satu wawancara dengan perusahaan swasta. Interviewer bilang "saya lihat CV kamu, kalau kamu mau membangun karir di NGO, you are on the right track. Kenapa tiba-tiba daftar ke perusahaan ini?" Makjleb! Kalimat tersebut terasa seperti pujian sekaligus penolakan. Haruskah saya menjawab jujur, "saya butuh uang Pak!" Hahaha.

Hingga kini, saya masih menganggap passion itu mitos. Namun pekerjaan akan menjadi sangat melelahkan jika orientasinya hanya uang dan kita tidak happy melakukannya.

Saya juga meraba-raba ada sebuah sindrom millennial yang terlalu 'sombong' untuk mengerjakan pekerjaan remeh temeh, seperti pekerjaan Sullivan yang mengantar surat di kantor Monster Inc. Haha. Setelah lulus dari kampus, mungkin kita merasa sudah pro segalanya. Tapi yakinlah ketika masuk ke belantara pasar tenaga kerja, kita mulai semuanya dari dasar terendah rantai makanan. Hahaha

We're all get our perks and twerks. To all jobseekers, fresh graduates, millennials out there please stay tough, keep searching. Semoga kalian bisa seperti Sullivan atau seperti apapun yang kalian inginkan.

XO,

Kampung Bali
3 April 2017

Sabtu, 01 April 2017

Om, telat om

Bukan kok bukan telat datang bulan

Tapi... Ini kebiasaan buruk saya dari dulu. Sering sekali telat datang di suatu acara. Terutama jika acara tersebut di PAGI HARI. Karenanya ya, saya susah bangun pagi :'( saya pun malu banget ketika ditegur salah seorang dosen (yang saya tau beliau bukan muslim) "trus kamu solat subuhnya gimana dong kalau bangun siang?"

Iya Pak saya sering telat (bahkan terlewat) solat subuh. Atau bahkan begadang sampai solat subuh dulu baru tidur :(

Bangun pagi memang erat dikaitkan dengan produktivitas dan kesuksesan seseorang. Iya gak sih?. Jadi saya low grade banget dong sebagai manusia. Nanti kalau pas taaruf jangan-jangan bakal ditolak karena suka bangun siang #hah #apasih

Bolehlah saya berargumen kenapa saya tidak suka bangun pagi. Pertama, ini kebiasaan sejak kecil, menurut Mama, daripada saya ngerepotin sejak pagi saya dibiarin tidur aja sampe siang. Haha, ujung2nya nyalahin pola asuh.

Nah kebiasaan ini semakin menjadi-jadi saat saya kuliah dan sering begadang...

Nah kalau untuk masalah telat dateng ke suatu acara itu karena saya males nunggu #eak. Jadi kalau bukan panitia, saya prefer dateng mepet biar pas dateng acaranya udah mulai. Walaupun sering berakibat gak dapet tempat duduk atau kelewat coffee break. Haha.

Padahal saya tau kebiasaan ini banyak mudhorotnya buat saya. Banyak banget lah kerugian yang saya alami karena suka bangun siang dan suka telat.

Hufth

Ini shitposting setelah merasa bersalah telat dateng untuk presentasi pitching.

Jadi, ada yang punya tips biar saya bangun pagi dan gak suka telat?

Jumat, 31 Maret 2017

Nur

Nur adalah seorang mahasiswi PTN yang cukup terkenal. Selain kuliah, ia juga senang berorganisasi. Kepekaan Nur dengan lingkungan sosialnya membuat ia turut ambil bagian dalam bidang pemberdayaan masyarakat dalam Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusnya.

Suatu hari, ia mendapat kabar bahwa anak seorang petugas kebersihan di kampusnya sakit keras. Belum jelas apa sakitnya, Nur dan kawan-kawannya berinisiatif menghimpun dana untuk membantu Rendy, anak petugas kebersihan itu. Seminggu berselang, Rendy ternyata diketahui mengidap kanker paru-paru.

Di usianya yang belum genap lima tahun, ia menderita penyakit tersebut karena mungkin ayahnya adalah seorang perokok. Ia pun tinggal di pemukiman padat penduduk yang tingkat polusinya tinggi. Nur dan kawan-kawan sudah berhasil menghimpun 27 juta rupiah. Angka yang cukup fantastis bagi Nur. Namun ternyata biaya pengobatan Rendy jauh lebih mahal dari itu. Sedangkan orang tua Rendy tidak memiliki asuransi dan BPJS kesehatan. Gaji yang mereka peroleh per bulan pun di bawah UMR karena dipekerjakan sebagai pegawai outsourcing oleh kampus Nur. Gaji itu dipotong biaya macam-macam oleh si penyalur tenaga kerja. Nur tetap berinisiatif menghimpun dana, sambil mencoba mengusahakan asuransi untuk Rendy. Hari itu, di halaman sembilan surat kabar kota, tersiar kabar korupsi fasilitas kesehatan oleh kepala daerah.

Esoknya, Tuhan lebih menyayangi Rendy. Ia meninggal sebulan sebelum berulang tahun ke-lima. Nur menangis sejadi-jadinya di kamar mandi kampus, karena tidak ingin ketahuan oleh siapapun. Ia membetulkan riasan wajahnya dan bersiap rapat dengan kawan-kawan BEM nya. Setelah sepakat untuk menyerahkan 'uang duka' yang semula direncanakan sebagai biaya pengobatan Rendy, giliran teman Nur dari bidang Aksi dan Propaganda yang bicara.

Mereka akan ikut teman-teman dari BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat untuk demo ke DPR. Tentang FTTC katanya, Nur tidak tahu apa itu. Ia terlalu kesal dan sudah jengah dengan teman-temannya yang suka berdemo. Tidak solutif! Pikir Nur. Kemudian Nur merasa hatinya pahit karena iapun tidak bisa menjadi 'solusi' bagi si malang Rendy.

***

Waktu sudah lama berlalu, setelah lulus dengan nilai cum laude, Nur menjadi karyawan Management Trainee di sebuah korporasi FMCG. Tiga tahun bekerja Nur menjadi karyawan yang brilian namun merasa kurang bahagia. Ini karena ia juga tiga kali diopname selama bekerja di perusahaan tersebut.
Nur melihat lowongan CPNS di sebuah broadcast message di grup keluarganya. Iapun iseng mendaftar. Tak dinyana, entah beruntung entah kompeten, Nur diterima.

Ia kini bekerja di suatu direktorat jenderal yang cukup penting di Kementerian Kesehatan.
Suatu hari ia menghadiri workshop di hotel bintang lima. Dengan penginapan yang nyaman dan jamuan makanan yang lezat. Lucunya di workshop itu ia baru tahu apa itu FTTC, memori bertahun-tahun lalu pun berkilat. Tentang demo, tentang Rendy, dan kenangan masa kuliahnya.
Saat ini Indonesia belum meratifikasi FTTC juga ternyata. Hmm, ia jadi ingat betapa bos bulenya di perusahaan yang lama terkejut akan harga rokok yang begitu murah di negeri ini. Tentang bude nya di kampung yang berhenti menjadi petani dan memilih jadi buruh di pabrik rokok. Dan, tentang Rendy yang meninggal karena kanker paru-paru...

Seketika quiche yang ia suapkan ke mulutnya menjadi hambar... sembari mendengar ceramah Menteri Kesehatan, Nur berpikir
"Apa yang saya lakukan sudah benar?"

Ini adalah cerita fiksi

Rabu, 08 Maret 2017

LPJ Harta Karun Firaun

Dipos setelah 2 tahun balik dari Mesir bcs I'm mager af. Tadinya mau pake foto segala tapi hape lemot, semoga kalian happy.

1. Makan Indonie yang diekspor ke Mesir -mala
sudah kulakukan, setiap hari. Indomie di Mesir itu diproduksi di Arab Saudi, ada sambel ABC juga. untung gue ga mati ya tiap hari makan indomie, malah kurusan loh. serius!
2. Pake lipstik merah darah yang tebel tiap malem jumat -kharis
karena dinginnya suhu udara di bulan desember januari, bibir saya kering mengelupas, jadi jarang make up an deh :(. oia ada kosmetik lokal mereknya Luna, itu cocok banget buat kulit kering yang ampe pecah pecah gitu, #bukanendorse
3. Berdandan seperti Cleopatra dan pergi mall -kharis
Cleopatra tidak syar'i
4. Tayamum pake pasir Mesir -rima
alhamdulillah air bersih cukup mudah diakses sehingga tak perlu tayamum
5. Makan nasi, krupuk, dan sambel terasi bareng bule -kharis
di Kairo banyak restoran Indonesia lhoh! di Hay Al Asr, distrik 10 banyak mahasiswa Indonesia yang membuka rumah makan dengan Indonesia, bayangin cuy bisa makan soto, ayam bakar, mendoan di benua afrika. haha, tapi jangan bayangin restoran ini mudah ditemukan, soalnya ini sebenernya flat biasa yang dalemnya dijadiin rumah makan lesehan gitu. jadi disarankan nyari temen anak al azhar dulu minta dianterin ke sono. btw teman2 w yang bule senang dengan makanan kita :))
6. Pake cadar tiap hari jumat dengan warna yang berbeda -mala
yah sayang ga bawa cadar :( nanti w dikira pengikut IM gimana :( padahal kan iya :( tapi boong :( apasih :(
7. Pake kutek ungu -rima
karena gue lebih into FISIP daripada FKM jadinya gue pake warna orens aja ya, wkwk padahal ini karena warna itu yang lagi diskon di H&M di sini ada kosmetiknya dengan harga yang tentunya terjangkaw, gue beli kutek dan liptint doang sih, hauhau
8. Foto sama dubes Indo di Mesir -tile
Gue bahkan ga sempet ke kedubes Indo di sini, hwkhwk karena... kedubes Indonesia misah sendiri tempatnya di Garden City sedangkan negara- negara lain di Zamalek. hu, sedih
9. Ngobrol sama orang tentang pergolakan Mesir -pede
I did it, many times. Pertama sama Ahmed, mahasiswa hukum syari'ah Al Azhar, katanya dia ikut demo yang di Tahrir Square tahun 2011 an trus orang di depannya unfortunately ditembak polisi dan jihadis malang itu jatuh ke Ahmed, oh meen, serem banget gue aja ga kebayang bagaimana rasanya melihat orang kehilangan nyawa di hadapan lo :( yang kedua ngobrol sama Svenja, kolega gue dari Belanda yang belajar Middle East studies, seru bangat lah pokonya ngobrol sama mba Svenja, haha dia lebih tau sejarah timur tengah (yang banyak berkaitan dengan sejarah Islam) dibanding w yang mengaku Islam. *tawadhu*
Insight nya sih: demokrasi, freedom of speech semahal itu loh bray, jangan disia sia kan (sia- chandelier) *apasih. Dan selalu butuh politisi yang selfless untuk menjadi negarawan #wetsah
10. Temukan satu piramid baru -danti
yakali Dant
11. Fotoin tetangga kamar lo -rima
Ini Ira, cewek Ukraine yang ambi dan akan menguasai dunia bersama gue sebentar lagi, wakwak
12. Foto sama mumi -danti
kalo mau liat mumi di Egyptian Museum of Antique itu bayar dan serem, jadi buat apa gue bayar untuk ngeliat hal yang serem, oia dan di dalem museum ini gaboleh foto. salah satu EP dari Cina ada yang sampe dipenjara karena nekat foto2 di area terlarang :(
13. Makan es krim bareng cowo Mesir -kharis
cih, eskrim is for kid, we did nge sisha bareng :3
14. Selfie setiap kali ke tempat baru sama orang Mesir -tile
hape gue kan rusak le, dan orang mesir serem serem akghk
15. Gebet satu anak Al Azhar Kairo -danti
tidak saya lakukan, sekian
16. Nyuci kancut/ kaki/ mulut di Sungai Nil -danti
nyuci tangan doang pas naik felluca, trus gue liat ikan semacam ikan lele
17. Foto dengan pria bermata biru berambut pirang -pede
gak nemu
18. Temukan lampu ajaib aladdin dan foto penjualnya jadi jin -mala
nemu sebenernya pas di khan el khalili, mau beli juga ragu, dan para penjual di pasar ini garang- garang bingit. akunya tadi takut, fufu
19. Pake BB cream buat sunblock kaki - rima
wa selalu pake kaos kaki, syar'i bingit kan, padahal gara gara dingin
20. Minum susu yang tulisan di kotaknya arab -pede
mau merk apa? al marai, labanita, beyti, isis? haha hampir setiap hari mimik cucu karena enak dan murah :9
21. Minum susu unta seminggu sekali -tile
fyi, unta di mesir ga segitu banyaknya, dan gak umum juga buat dikendarai sehari- hari, lebih umum keledai, w banyak banget liat keledai disini. apalagi buat dikonsumsi
22. Bikin video maju mundur cantik depan kamar -mala
gamau, alay
23. Foto kepala sphinx diganti Binar, atau Binar di atas piramid -tile
jadi kan, gue jatoh dari kuda pas di piramid, trus lagi homesick homesicknya, jadi gak mood buat foto foto bgt, haha begok ya, yaudah mau gimana lg
24. Foto dengan barang yang mesir banget -pede
coba lebih operasional pet
25. Makan di cafe yang lambang tokonya biru -pede
lupa, Auntie Anne's?
26. Selfie lagi ngaji -rima
jangan ah, nanti riya'
27. Melakukan dialog dengan diri sendiri ketika matahari terbenam -pede
I did :) sunset di Mesir bagus bgt btw, di Al Azhar park dan di Alexandria. harus kuakui, bahkan Kuta kalah deh
28. Hafal satu lagu Mesir -tile
susah, ada sih lagu yg ngetren bgt tiap hari denger dimana mana, tapi gatau judulnya, huhu
29. Makan kebab unta -mala
daging unta tidak umum dikonsumsi
30. Nonton pertunjukkan tari perut dan ikut jadi penari -Kharis
nah ini yang wtf moment bgt pas gue naik felluca, rame rame sama penumpang lain, gak nyewa, tiba tiba sekelompok remaja putri nari perut, wakakak, mereka berjilbab dan all out banget narinya, wakakak
31. Bikin video spesial buat gue yang isinya ucapan dari cowok Mesir -kharis
udah ya :) tapi dari cowok Argentina, haha
32. Foto sama cowok Al Azhar, upload, tag ke Sukin -mala
apaan sih, mal. haha ntar deh gua tag, wk telat. oke bhay
33. Tahun baruan di Piramid/ sungai Nil -tile
aku tahun baruan di Cairo Opera House :3 nothing istimewa sebenernya, masih jetlag jugak
34. Buktikan bahwa Mesir pernah mengimpor kapur barus dari Sumatra -danti
ti :/
35. Tabung satu pound per hari -danti
ini paling praktikal sih, I do nabung sehari se pound, dan bener aja, di hari terakhir abis buat bayar taksi ke bandara :'
36. Sholat outdoor kayak di ayat ayat Cinta -rima
duh, susah bgt mau solat di sini, mushola aja bahkan bbrp khusus untuk laki- laki. tapi sering liat sih banyak musola outdoor, karena jarang ujan ya

sekian :*

Selasa, 14 Februari 2017

Love

What is love actually
I was learning it at college for a semester and still haven't got any clue

You, by the way
I always have that silly tingly blushy feeling when I remember you
And I want to blame our pheromone
We've known each other for one year now
I have mesmerized by the second I met you
It's not your looks
You're not an open book
Your words always blew my mind in a way nobody ever does
Yet I'm afraid to ask
Is this love?

Yeah you,
If by any chance you read this
Maybe you don't know that I'm talking about you

Yeah you,
Since we still believe in God
I hope once in a rainbow He will sparkle moon dust around us
I have that vivid imagination
That we'll grow old together
Read books, drink coffee and take nap together
You'd be doing good, best
Because sometimes you just too good to be true
Yet you are the truest
Life with you would never just pay taxes and die

And if any of that will never happen
Please, be my good friend

I love you

Kukusan, February 14th 2017

Senin, 13 Februari 2017

Kisah 8 Dirham dan Konsumerisme Hari Ini

Pada suatu peselancaran youtube, saya menemukan video klip sebuah lagu Gita Gutawa yang ternyata sudah dirilis cukup lama namun saya baru mendengarnya. Yaitu Kisah 8 Dirham.
Kisah ini adalah tentang Rasulullah Muhammad SAW yang membawa uang 8 Dirham untuk membeli pakaian. Dalam perjalanan, ia bertemu budak sahaya yang kehilangan 4 Dirham, Rasulullah pun memberikan 4 Dirham uangnya. Dengan sisa 4 Dirham, ia bertemu lagi orang yang belum makan maka kemudian Rasulullah memberikan 2 dirham. Sisa uang Rasul kini 2 Dirham, ia ke pasar dan membeli pakaian seperti niat awalnya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu orang yang bilang bahwa ia tidak punya pakaian. Maka Rasul memberikan pakaian barunya terhadap orang tersebut. Lagu yang dibawakan Gita Gutawa sedemikian catchy hingga saya pun hapal kisah Rasul dengan keteladanan sedekahnya tersebut.
Sekarang, saya sedang suka 'kepo' tentang gaya hidup minimalism. Hal ini berawal dari blogger yang mempromosikan gaya hidup zero waste, yaitu Laura Singer dan Bea Johnson. Komitmen mereka untuk tidak menyisakan sedikitpun sampah dari gaya hidup yang mereka jalani praktis nengubah total pola konsumsi dan keseharian mereka.
Hari ini, kita hidup dimana semua barang dapat dengan sangat mudah didapatkan. Misalnya, pada masa kakek nenek saya, sebuah keluarga harus memproduksi minyak keletik (minyak kelapa) untuk keperluan goreng menggoreng. Nenek nenek kita juga kebanyakan memiliki kemampuan menjahit karena pada zaman itu, sepotong baju tidak bisa dengan mudah didapatkan di department store terdekat. Di satu sisi, tentu segala kemudahan ini adalah kemajuan. Di sisi lain, kita tahu bahwa 'kemajuan' industri ini tidak melulu berdampak baik, bahkan banyak efek samping dari segala kemajuan industri masal ini.
Saya baru saja selesai menonton dokumenter The True Cost. Dan praktis dibuat mual oleh seramnya industri fashion dunia. Ini baru industri fashion, belum lagi industri industri lain yang ada di dunia ini.
Entah darimana awalnya, kini kita mafhum dengan stereotipi bahwa perempuan suka belanja. Dan saya pun mengamininya!. Saya selalu menganggap aktivitas belanja adalah rekreasi. Melihat-lihat, memilih, hingga akhirnya membeli barang-barang yang tidak terlalu kita butuhkan. Saya sangat suka membeli pouch, dan setelah dihitung-hitung saya punya lebih dari 10 pouch, buat apa coba?!.
Ketika membicarakannya pada tataran yang lebih ideologis. Kita dapat berargumen bahwa perilaku konsumerisme sesungguhnya sengaja 'diciptakan' oleh sistem ekonomi kapitalis. Kepemilikan benda dianggap berbanding lurus dengan kebahagiaan. Iklan dibuat sedemikian rupa bahwa kita memerlukan banyak benda-benda agar bisa bahagia. Musim sale dan diskon-diskon diciptakan seolah-olah kita akan mengalami kelangkaan panjang. Kita terlena dengan kemewahan-kemewahan yang ditampilkan media dan sangat ingin memilikinya.
Pada akhirnya kita merasa lelah dan kewalahan. Saya tinggal di sebuah kamar kos berukuran kurang lebih 15 meter persegi dan selalu merasa memiliki terlalu banyak barang. Sebenarnya ada solusi simpel atas masalah saya ini, yaitu: stop belanja!. Namun ternyata tidak semudah itu, perlu proses panjang untuk mengubah pola pikir saya tentang konsumerisme. Bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh benda-benda yang kita beli dan miliki. Dan bahwa ada harga yang jauh lebih mahal atas aktivitas belanja yang kita lakukan.
Kembali lagi pada Kisah 8 Dirhamnya Muhammad SAW. Sebagai seorang muslim, seharusnya saya meneladani sikap hidup Nabi saya, yaitu zuhud. Dalam berbagai riwayatnya, Rasul selalu diceritakan sebagai pribadi yang sederhana, bahkan bisa dibilang anti kemewahan. Ia menjahit bajunya sendiri dan bahkan alas tidurnya hanya dari pelepah kurma :( Ya semoga kita semua bisa berproses menjadi lebih baik :)
2017, ayo hidup 'minimal' !!!
Insipirasi:

- Film dokumenter The True Cost
https://youtu.be/zB-YRhcH5tg
- Sejarah Singkat Konsumerisme
https://youtu.be/Y-Unq3R--M0
- TEDx Bea Johnson
https://youtu.be/CSUmo-40pqA
- Instagram Bea Johnson @zerowastehone dan Laura Singer @trashisfortosser
- Blog Caroline Joy dan Cait Flanders

Minggu, 20 November 2016

Menjadi Orang Baik

Kenapa sih Bin, milih kerja di NGO mulu?

Sebuah pertanyaan, saya ajukan kepada diri sendiri. Kemudian saya menuju suatu jawaban. Mungkin, karena saya kepingin jadi orang baik, jadi bermanfaat bagi orang lain.

Ah Bin naif banget sih. Jadi orang baik kan banyak cara. Jadi anak yang baik misalnya. Orangtua mu toh gak butuh kamu menyelamatkan dunia. Berhenti minta duit, hidup mapan dan punya pekerjaan yang bisa dipamerkan saat arisan keluarga, tentu, mungkin lebih membanggakan.

Lebih berpahala

Lalu kemudian arus informasi dewasa ini terlalu kejam. Setiap hari ada saja masalah yang kita ketahui.
Kemiskinan
Kerusakan lingkungan
Diskriminasi
Kekerasan berbasis gender
Genosida
Pelanggaran HAM

you.name.it

Saya bukan pahlawan, saya orang biasa yang kepingin makan enak, beli lipstik matte dan hijab lucu, dan kemewahan lain yang tentunya butuh duit.

Nah, apakah nyari duit dan jadi bermanfaat harus dipertentangkan?

Hmm... harusnya sih enggak ya

Dan apakah bekerja di enjio (NGO) otomatis membuat kamu jadi orang baik dan satu satunya cara menjadi orang baik adalah kerja di enjio? Bhihihihik. Ya enggaklah. Bahkan nanti ada komplikasinya tersendiri yang kalau dijelaskan bakalan bikin saya pusing sendiri.

Jadi tujuan post ini apa Bro?

Seperti biasa, media curhat ketika 'kesedihan' melanda di tengah malam

**mohon maaf atas segala ketidakjelasan yang ada**

Karangtalun, 3.02 AM