Sunday, May 20, 2018

Mencampur Kosmetik a la Safiya Nygaard


Youtuber 'alumni' Buzzfeed ini telah menciptakan tren tersendiri dalam menciptakan konten beauty video, yaitu mencampur semua koleksi produk kosmetiknya untuk bikin satu produk baru. Cewek dengan lebih dari 4 juta subscribers menamai series ini "Bad Make Up Science". Sejauh ini Safiya udah mencampur, foundation, lipstik, eye shadow, liquid lipstick dan highlighternya. Bahkan baru-baru ini ia beli sekitar 600 lipstik di Sephora untuk ia lelehkan dan cetak untuk kemudian dibagikan kepada para subscribersnya sebagai giveaway.

credits: Safiya Nygaard

Tren Bad Make Up Science a la Safiya ini jadi diikuti oleh para content creator Youtube lokal dan luar negeri. Bahkan gak cuma makeup, banyak youtuber yang mencampur minuman, makanan bahkan slime. Safiya dan beberapa beauty vlogger seperti Tati, Manny MUA hingga Tasya Farasya yang mencampur makeupnya on camera ini mengaku puas dengan produk ciptaan mereka itu.

Mencampur makeup seperti foundation misalnya, sebenarnya umum dilakukan oleh MUA untuk mendapatkan warna yang paling pas dengan warna kulit kliennya.

Anastasia Beverly Hills juga sempat meluncurkan lip pallete yang membuat kita bebas berkreasi dan menemukan warna lipstik favorit kita.

Dengan mencampur makeup, kita bisa menemukan warna makeup yang sesuai dengan warna kulit atau selera kita. Kalau misalnya bosan dengan warna lipstik atau eyeshadow yang kita miliki, kita bisa campur beberapa warna untuk menciptakan warna yang baru, meskipun gak seekstrim Safiya yang mencampur semua koleksinya.

Walau terdengar seru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan mencampur produk kosmetik. Perhatikan ingredients nya! ada beberapa bahan aktif yang tidak boleh dicampurkan bersamaan, misalnya retinol dan vitamin C atau salicylic acid dan glycolic acid. Aturannya mirip dengan hal-hal yang harus kita perhatikan saat akan menggunakan produk skincare.

Meskipun demikian, makeup relatif lebih aman untuk dikombinasikan. Karena menurut Gilbert Soliz, Sephora Pro Lead Artist, kandungan produk high end dan drugstore bahkan seringnya relatif sama.

Kebersihan proses dan alat yang digunakan pada saat mencampur makeup juga harus diperhatikan, supaya makeup tetap higienis sehingga aman untuk disimpan dan dipakai dalam jangka waktu yang lama.

Jadi, siap bereksperimen?



Saturday, May 19, 2018

Menyambut Lipstik ElsheSkinxTasyaFarasya

Credit: @Healthy Skin Beautiful Skin 

Nude matte lipstick ternyata belum kehabisan pamornya di Indonesia. Brand asal Jogja Elshe Skin bekerja sama dengan beauty vlogger Tasya Farasya meluncurkan tiga bullet lipstick dengan formula matte dan range warna nude.

Elshe skin memang cukup populer dikenal dengan range skincare dan klinik kecantikannya. Sebelumnya, brand ini juga sempat meluncurkan lima warna matte lipstick yang banyak direkomendasikan oleh para beauty personality seperti Suhay Salim, Alifah Ratu Saelynda dan Tasya Farasya sendiri. Dalam video di akun instagramnya, Tasya mengungkapkan kecintaannya terhadap formula lipstik Elshe Skin yang membuatnya mau diajak kolaborasi untuk menciptakan warna-warna yang wearable.

Credit: @tasya farasya

Tiga warna baru ini diberi nama Dream (nude dengan nuansa pink), Wish (nude keunguan) dan Hope (nude kemerahan). Jika koleksinya yang dulu dibanderol 49 ribu rupiah per bullet, belum ada informasi berapa harga koleksi terbaru dari Elshe Skin ini. Belum jelas juga apakah koleksi ini kan dijual dalam bundle atau bisa dibeli satuan. Peluncuran produk ini akan dilaksanakan di Cafe La Moda, Plaza Indonesia 26 Mei mendatang. Semoga formula lipstik baru Elshe Skin ini senyaman koleksi sebelumya ya.

Siap menambah koleksi lipstik nude?


Sunday, February 25, 2018

Curhat: Tentang Belajar Islam

Jadi gini,

Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk ikut sebuah 'program' belajar tentang Islam. Singkat cerita, dua pekan (yang artinya dua kelas) saya ikut program tersebut, saya memutuskan untuk keluar, karena gak cocok. Haha

*sebetulnya saya ingin cerita lebih detil, tapi ndak usahlah

Jadi gini,

Kalau boleh dibilang, saya berasal dari keluarga yang gak religius-religius amat. Saya baru memutuskan belajar dan mendalami Islam ketika saya memutuskan untuk memakai jilbab, pada tahun 2012. Itu semua atas kemauan saya sendiri, karena saya suka!. (Dan kalau boleh sok-sok an) saya merasa it's my calling. Wedeh.

Di blog ini saya bahkan nulis beberapa tulisan dengan tags: Islam.

Waktu kuliah saya bergabung ke kelompok liqo. Mentor saya baik banget, namanya Kak Ana. I miss her and my group. Hehe.

Oke, kelompok saya ini memang terafiliasi pada salah satu aliran. Tapi sekitar 4 tahun saya bersamanya, saya merasa kami sangat open minded.

Waktu berlalu,

Hampir semua pengajian udah saya cicipin. Dan beberapa waktu yang lalau itu. Saya merasa, kok gini sih. Susah dijelaskan dengan kata-kata. Seperti, saya kehilangan 'rumah'.

Saya gak cocok dengan satupun pengajian yang saya cicipi. Ada suatu kecenderungan yang saya endus: satu kelompok pasti akan menganggap dirinya yang paling baik, dengan demikian, ia akan menganggap kelompok lain tidak sebaik dirinya.

Kemudian saya kecewa. Tapi kecewa sama siapa?

Hingga detik ini saya percaya, Islam baik, tapi Muslim (orangnya) belum tentu demikian.

Saya capek denger 'saudara-saudara' saya berantem. Semoga saya gak jadi ignoran dan menjauh.

Kalau kamu yang baca ini kenal saya dan merasa saya butuh 'disembuhkan' please call me. Kalau enggak, ya cukup doakan saya.

Hmm
Makasih

Sunday, February 18, 2018

Hidup Kita Setelah Internet

Tadinya, saya mau menulis ulasan dua buku yang saya baca di bulan Januari, yaitu Modern Romance oleh Aziz Ansari dan Show Your Work oleh Austin Kleon. Tapi kayaknya dua buku itu membahas sesuatu yang mirip: perubahan hidup kita setelah internet.

Modern Romance- yang ternyata saya baru tau kalo penulisnya adalah aktor slash stand up comedian, yang habis dituduh melakukan pelecehan seksual- membahas soal dating, pacaran, mencari jodoh you name it, wabilkhusus setelah ada internet dan tentunya beragam media online dating. Sebenernya pas gue remaja juga udah mulai merasakan mengamati fenomena ini. Kala itu, beberapa temen gue (nahloh tadi saya sekarang gue) kenalan sama cowok lewat nomer yang sms nyasar trus mereka pacaran lewat sms gitu, wtf. Pas udah ada sosmed, sodara gue juga ada yang ketemu jodohnya di internet, ketenmu pertama kali langsung lamaran dan kemudian menikah, sekarang mereka hidup bahagia bersama dua orang anak. Walaupun gak semua kisah cinta internet berakhir manis, fenomena ini juga banyak dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.


sekarang tokobagus jadi OLX yakan?

Insight utama dari buku ini, iya loh kita masih bahas buku kan. Internet expands pilihan kita tentang calon jodoh potensial. Dan seperti apapun yang banyak pilihannya, orang jadi semakin berlama-lama dan tambah picky memilih pilihan yang ada di depan matanya. Online dating bukanlah dating, ujar Ansari melainkan media perkenalan aja. Maka kopi darat adalah menjadi penting, wakakak. Ya teknologi mungkin belum mengijinkan kita ena-ena virtual, waks. Dan karena kita (jika beruntung) akan hidup dengan orang beneran, bukan dengan persona nya di sosial media.


"We have two selves: a real-world self and a phone self, and the nonsense our phone selves do can make our real-world selves look like idiots." (Aziz Ansari, Modern Romance)
Kamu bisa unduh buku Modern Romance di sini 

Buku kedua adalah "Show Your Work!, 10 Ways to Share Your Creativity and Get Discovered" by Austin Kleon. Panjang ya judulnya, buku ini adalah buku kedua yang saya beli di Google Play Book pake email kakak saya (tanpa sepengetahuan beliau) biar dapet diskon 90%, soalnya jatah akun saya udah buat beli buku Hygge.


Buku ini menerangkan bahwa social media is actually good, terutama untuk para (but not limited to) pekerja kreatif. Sebelumnya, saya selalu risih dengan orang-orang yang terlampau pede memamerkan dirinya di sosmed. Tapi setelah baca buku ini, sesuai dengan yang Kleon katakan: if your work isn’t online, it doesn’t exist.

Btw, penulis buku ini juga aktif menulis di austinkleon.com

Saya sendiri menyaksikan beberapa orang yang rising di jagad maya, misalnya Diana Rikasari atau Suhay Salim. Mereka konsisten dengan karya mereka sehingga bisa sampe kayak sekarang. And I? nontonin doang, wkwk.

Yang saya highlight dari buku ini adalah betapa kita harus menghargai proses. Jadi inget, dulu pas kecil saya sering kepengen menang lotre, tiba-tiba terkenal, tiba-tiba jadi dokter dan tiba-tiba yang lain. Kemudian saya sadar bahwa pendidikan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli hanya dengan uang. Belajar adalah tentang proses, dan tidak jarang memang pedih. Kita lihat selebgram sekarang bisa hidup foya-foya, tapi di balik itu pasti ada struggle yang gak mereka perlihatkan ke publik. Atau ada tagihan utang yang memnti dibayar tiap bulan, hehe #julid. We never knows

Selain dua buku tadi, saya juga baru menemukan tv series yang membuat umm... Pernah gak abis nonton atau baca sesuatu trus kita kayak mindf*cked gitu. Haha, diem, mikir, bingung.



Begitulah yang saya rasakan kalau habis nonton episode demi episode Black Mirror. 

Black Mirror adalah serial tv Inggris yang ditayangkan di Netflix sejak Desember 2011. Berbeda kayak tv series pada umumnya. Black Mirror lebih mirip antologi yang ceritanya gak nyambung tiap episodenya. Tapi ada tema besarnya: teknologi dan kehidupan manusia.

Saya gak mau spoiler ceritanya di sini. Tapi intinya, kalau kalian nonton dari season 1 episode 1. Siap-siap bereaksi "apaan sih inih?!" atau simply "what the f**k".

Kalau kalian butuh stimulasi buat berpikir tentang eksistensialisme, tonton satu aja episode Black Mirror, abis itu kalian akan mikir:
kenapa kita suka banget mempermalukan orang?
kenapa kita berbuat baik?
kita ngumpulin uang untuk apa sih?
apa kamu percaya orang yang kamu sayang gak bohong?
apa yang terjadi setelah kita mati?

dll dsb dst ampe mumet

Black Mirror menohok kita dengan sarkasme yang begitu dekat dengan kehidupan manusia. It's science fiction, but it doesn't seems like fiction at all.

At the end of the day, kita tau bahwa apa yang ada di internet itu tidak nyata

but

what is real, anyway?


Monday, January 1, 2018

Buku Terbaik pada Tahun 2017

Ijinkan saya membuka tahun baru ini dengan memamerkan beberapa buku bagus yang saya baca di tahun 2017. Karena bingung kalau harus mengurutkan, maka saya bagi saja sesuai potongan identitas saya, hingga kenapa saya bisa bilang buku-buku ini layak kalian baca.


1.      Sebagai orang Indonesia, Pulang oleh Leila S. Chudori


Saya membaca Pulang di awal tahun 2017 dan selesai dalam waktu kurang lebih seminggu- karena saat itu saya masih nganggur, hehe. Tapi novel ini benar-benar bagus, bahkan mungkin salah satu karya fiksi terbaik yang pernah saya baca. Walaupun fiksi, novel ini meng-capture momentum bersejarah di Indonesia. Diawali dengan cerita sekawanan teman pada tahun 1965 hingga mereka terpaksa menjadi eksil di Eropa hingga ‘reuni’ anak-anaknya pada konflik 1998. Dua tahun keramat bagi Indonesia, namun bagi sebagian besar anak-anak milenial, hal ini masih menjadi misteri. Drama keluarga yang dibalut kemelut situasi politik dituturkan dengan indah oleh Leila S. Chudori, membuat Pulang layak dibaca oleh setiap warga negara Indonesia atau mereka yang ingin belajar tentang Indonesia.

2.       Sebagai Muslim, Dalam Dekapan Ukhuwah oleh Salim A. Fillah


Buku ini mungkin menjadi satu-satunya ‘penyejuk’ dalam daftar buku terbaik Binar tahun ini. Hehe, becanda. Saya sudah membaca salah satu buku karya Salim A. Fillah yaitu Saksikan Bahwa Saya Seorang Muslim. Kemudian kembali dipertemukan dengan buku ini, yang boleh dibilang adalah sekuel dari bukunya terdahulu. Setelah memantapkan identitas sebagai seorang Muslim, kita perlu belajar dan menata interaksi kita dengan sesama Muslim yang lain, atau bahkan orang lain yang non-muslim.
Salim A. Fillah adalah salah satu ulama muda yang produktif menulis buku-buku berkualitas. Ia selalu dengan apik menyisipkan cerita Nabi dan sahabat-sahabatnya, sejarah hingga kutipan dari buku-buku self help modern untuk memberikan ilustrasi atas pesan yang ingin disampaikan.
Buku ini wajib dibaca bagi siapapun yang ingin menjadi Muslim yang baik, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk sesamanya.

3.       Sebagai Pekerja Sosial, Doing Good Better oleh William McAskill

Ulasan buku ini sudah ditulis di sini. Dengan jalur ‘karir’ yang saat ini saya pilih, saya selalu meragukan “apa yang saya perbuat sudah benar?”. Saya membaca buku ini, berharap menemukan jawaban, ternyata tidak, yang saya alami malah jadi makin skeptis. Buku ini cukup mengobrak-abrik nalar saya tentang berbuat baik. Intinya, perbuatan baik akan sangat mungkin berakhir menjadi egoisme jika tidak diperhitungkan dengan baik. Berbuat baik bukanlah “yang penting niatnya”. Hehe
Seperti judulnya, buku ini cocok untuk mereka yang ingin berbuat baik, dengan lebih baik.

4.       Sebagai Perempuan Bekerja, Lean In oleh Sheryl Sandberg.


Buku ini kayaknya udah menjadi feminis abad 21 starter pack ya, haha. Sudah lama banget pengen baca buku ini hingga akhirnya bisa download di archive.org. Buku ini menceritakan perjuangan Sandberg sebagai perempuan yang bekerja di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Waktu liat reviewnya di goodreads sih banyak yang kritik kalau Sandberg nulis memoar hidupnya dari sudut pandang elitisnya yang duduk di C level perusahaan (sandberg adalah COO, Chief Operating Officer di Facebook). Tapi sebenarnya kalau kita resapi (woelah) cerita Sandberg dalam buku ini, ia tidak mendapatkan posisinya sekarang dengan mudah dan ia selalu berani speak up untuk menyuarakan kebutuhan (atau unek-unek) nya sebagai perempuan di lingkungan kerja. Insight lain yang saya dapat dari buku ini adalah: sangat susah jadi Ibu yang sempurna, bahkan hampir tidak mungkin. Everyone got their own battle lah.

5.      Sebagai Twentysomething, The Defining Decade oleh Meg Jay






Pernah denger quarter life crisis? Rasa-rasanya setelah lulus kuliah dan akhirnya kerja ‘beneran’ di usia 23 ini, banyak banget perubahan dalam hidup ini. Kemudian saya berpikir, ada gak sih semacam manual book untuk melewati semua ini. Alhamdulillah saya direkomendasikan buku ini oleh Gina, makasih Gina.

Meg Jay berargumen kalau usia 20an ini adalah periode yang sangat krusial untuk perihal karir, percintaan dan kesehatan manusia. Buku ini kayak semacam membantah paham western yang mendikte YOLO (mumpung muda, gak usah serius-serius lah). Justru pada periode ini kita kudu kerja keras, harus belajar dewasa menghadapi segala cobaan hidup #waniperihsquad #uopo. Intinya kalau kalian remaja yang menghadapi kebingungan a la twentysomething kayak saya, buku ini patut dicoba lah. Hehe

6.      Sebagai Manusia, Sapiens oleh Yuval Noah Harari


Ini buku yang super mindblowing, dah gitu aja, haha. Pas niat membaca buku ini adalah karena lihat kak Afutami baca buku ini di akun goodreads nya. Dan kayaknya buku ini juga hype banget di sosmed, saya jadi nyadar kalau tren yang paling susah diikuti adalah tren baca buku. Effortnya paling susah bok.

Kalau dibilang buku ini ‘hanya’ buku antropologi kayaknya menyempitkan banget ya. Argumen dasar Harari adalah: homo sapiens itu ya hewan, tapi kok kita bisa jadi menguasai bumi ini? Dikupas lah segala sejarah dari revolusi agrikultur hingga hari ini, buku ini menjawab banyak banget pertanyaan yang mungkin ada di benak kita sejak kecil, kenapa begini kenapa begitu. Yang paling penting, Harari menuturkan segala kerumitan dunia dengan bahasa yang mudah dicerna awam kayak saya. Bab paling mindf*cking buat saya adalah tentang modern economy. Intinya kalian harus cepet-cepet baca buku ini kalau gak mau ketinggalan hype intelektual masa kini. Hahahah

Saya tidak menyelesaikan terlalu banyak buku tahun ini, hanya sekitar 11 judul kalau tidak salah. Yang menarik adalah, buku nomor 1 dan 2 adalah buku pinjaman, sedangkan yang lain adalah e book yang saya baca dari hp. Bersyukur sih dikenalkan dengan google playbook untuk membaca e book dengan format e pub. Pokoknya aktivitas membaca jadi lebih enak (am I sound like bad spokeperson?) haha. Dan tahun ini kayaknya saya juga lebih suka baca buku non fiksi. Dengan fitur read aloud di google playbook juga memudahkan saya untuk memahami buku yang berbahasa Inggris.


Semoga di 2018 kita makin semangat belajar ya, aamiin J

Thursday, October 5, 2017

Psychological Cost

sumber gambar
Beberapa hari yang lalu, sebagian teman sekantor saya terlambat datang karena mereka berangkat ke kantor menggunakan KRL dan KRL pada hari itu anjlok di stasiun Manggarai. Praktis, hampir semua jalur KRL di Jabodetabek lumpuh total. Berbagai foto dan update berita disiarkan oleh teman-teman saya di berbagai platform sosial media.

Hari itu, saya tidak terkena dampak peristiwa di atas. Saya tinggal 5 menit jalan kaki jauhnya dari kantor. hal ini memberikan sederet kemewahan bagi saya, termasuk ngulet di kasur alih-alih dempet-dempetan di kereta.

Saya menyebutnya psychological cost

Saya belum riset sih kalau terminologi ini beneran ada atau enggak. Singkatnya gini, Biaya kos saya di Depok setengah biaya kos saya di Jakarta. Jika ditambah biaya transportasi pun masih lebih murah kalau saya milih ngekos di Depok. nah tapi dengan kasus tadi, tentu saya akan lebih capek kalau menjadi penglaju Depok-Jakarta. Biaya yang saya keluarkan untuk membuat saya less capek ini adalah psychological cost.

Sotoy benar ya

Nah, tapi less capek ini bukan berarti serta merta lebih sejahtera ya. karena ada banyak variabel lain seperti kualitas hunian saya yang lebih buruk saat ngekos di Jakarta, ruang publik yang kurang asri dan lain pelbagainya.

Intinya, psychological cost ini menjawab berbagai pertanyaan tentang, misalnya: "milih kerja gaji gede tapi gak seneng, atau gaji kecil tapi seneng" atau "milih nikah sama yang tajir tapi gak nyambung diajak ngobrol atau yang klop tapi proletar" haha. Psychological cost memberi perspektif baru dalam memilih dan tidak melulu mengutamakan benefit berbentuk uang.

Namun lagi-lagi masalahnya adalah, kesejahteraan terlalu sulit diukur secara mutlak dan terlalu banyak variabel lain. Dalam kasus milih pekerjaan misalnya, bagaimana jika pekerjaan gaji besar namun tidak kita suka itu justru lebih mengembangkan diri kita sedangkan pekerjaan yang kita suka malah membuat kita terjebak dalam zona nyaman.

Ah, memang sukar mengukur kebahagiaan, buat apa pula? Gimana menurut Kamu?


Bahagia mah bahagia aja keles,

Binski

*) ini artikel ngawur yang sama sekali ndak ilmiah, nggak usah serius serius lah :p

Wednesday, October 4, 2017

Perpustakaan Maya

Bukan, nama saya bukan Maya.

sumber gambar
Dari dulu, saya kepengen banget punya perpustakaan. Kenapa? mungkin karena sejak remaja saya suka banget baca tapi saya tinggal di daerah yang sangat minim akses untuk mendapatkan buku. Dan mungkin karena kelangkaan pilihan bacaan inilah saya juga jadi sangat menikmati membaca buku yang saya sukai.

Salah satu penulis yang membuat saya jadi hobi banget baca adalah Sidney Sheldon, saya pertama menemukan karya nya yang berjudul Doomsday Conspiracy, saya akhirnya kepo dan akhirnya menemukan fakta bahwa Mbah Sheldon saat itu sudah meninggal (tahun 2007). saya pun akhirnya terobsesi untuk membaca semua buku karyanya. Ini merupakan perjuangan panjang, karena tidak ada toko buku yang cukup decent di kota saya tercinta.

Akhirnya dengan berbagai cara, saya berusaha mencari semua novel Sidney Sheldon dengan cara meminjam di perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah, membeli online (10 tahun lalu saya sudah belanja online, wuouw) dan langsung ke toko buku kalau sedang berkunjung ke kota besar. saya bahkan sempat membuat bucket list novel Sidney Sheldo  di blog ini. Hingga saat ini saya udah kelar baca semuanya, kecuali 1 judul, yang Memories of Midnight kalo gak salah.

Hmm, kenapa malah jadi bahas Sidney sheldon ya...

Waktu berjalan, mimpi untuk membuat perpustakaan masih ada dalam benak saya, bahwa distribusi akses pada bacaan belum adil selalu mengusik saya pada kenyataan tingkat literasi di Indonesia yang demikian rendah. Saya salut banget sama temen saya Hastin, yang berhasil mendirikan perpustakaan di Kalimantan Utara. Oia, Hastin juga sedang menghimpun dana untuk programnya di sini. Sekarang, POS Indonesia juga menyediakan akses gratis untuk mengirim buku ke daerah setiap tanggal 17.

Saat kuliah, saya sadar bahwa buku kini hadir pada bentuk elektronik atau e book. Nah karena buku teks untuk kuliah saya dulu mahal- mahal, terkadang saya mengunduh buku elektronik secara ilegal.  Nah teman-teman di angkatan saya juga sering berbagi pakai buku ini lewat media google drive.

Syahdan, saya dan dua teman saya entah gimana ceritanya memutuskan untuk menyimpan buku-buku elektronik koleksi kita di google drive, supaya aman dari segala bencana duniawi. Trus, kalo cuma disimpen ya kurang berfaedah dong, akhirnya dengan kesaktian bit elye, saya membuat bit.ly/bukubukuabg sebagai perpustakaan maya kami. Sila diakses, gratis

Hidup sosialisme!,

Binski