Senin, 09 November 2015

Habiskan Makananmu! (Dan Curhatan Lain)

Jadi gini,
Saya mau mengumumkan pada dunia bahwa laptop saya rusak, hape saya rusak, tab saya rusak. Kiamatlah lah dunia. Lebay ya, padahal masih banyak anak- anak kelaparan di Afrika, di Suriah, bahkan mungkin di sekitar kita. Ini gak bisa haha hihi di whatsapp dan path aja kayak udah mau kiamat. Haha


Oke, sebenernya pembuka di atas gak nyambung sama apa yang ingin saya sampaikan. Belakangan ini pengen banyak nulis di blog aja. Semoga gak nyampah dan masih ada manfaat yang bisa dipetik ya.

Saya suka mengeluh kalau saya ini orang yang sangat boros. Walaupun saya udah  bisa mencari uang jajan sendiri, semuanya habis buat hal- hal yang menurut saya gak penting. Kayak lipstik dan jajanan, haha. Saya suka menimbun banyak barang- barang dari mulai buku, kosmetik, perintilan stationery gak penting, sampai makanan. Saya kadang- kadang takut kalau perilaku menimbun ini sudah cukup kelewatan seperti di reality show Hoarders, huhu.


Saya pun menemukan 'terapi' untuk perilaku saya ini yaitu 'membuang' dua barang per hari. Membuang di sini tidak berarti harus berakhir di tong sampah, tapi juga bisa disumbangkan, dijual ke tukang loak, di recycle, dsb. Tapi recylenya harus beneran dilakuin ya, gak boleh wacana. Kayak beli berbagai macam pita warna warni buat kerajinan tangan tapi berakhir berdebu di atas lemari karena gak pernah dieksekusi. Ide ini saya dapatkan dari sebuah blog, tapi saya lupa linknya, huhu.

Oke, balik ke perilaku menimbun. Ketika saya menimbun buku atau baju, mungkin ke depannya bisa saya sumbangkan atau diberikan ke teman kita. Tapi tidak dengan makanan, makanan selalu berakhir basi. Saya sedih banget ketika harus membuang sekresek makanan kemasan yang sudah kadaluarsa. Ini saya tinggal sendirian di kamar kos loh ya, huhu.

Dan karena peristiwa ini saya teringat roomate saya waktu di Kairo. Namanya Alisha, (Hai Alisha, ijin mencatut nama kamu ya, haha). Satu hal dari Alisha ini, dia selalu menghabiskan makanannya!. Hal ini saya amati dari mulai kita berangkat bareng naik Emirates, walaupun makanan di pesawat gak semuanya enak  cocok sama lidah kita, dia selalu ngabisin makanannya. Begitupun waktu di Mesir, dia berhasil melahap sepotong Foul dan Falafel, kalau saya, wek sekali gigit rasanya pengin makanan itu saya tanam di bawah tanah, ahaha apasih.

Selidik punya selidik, saya pun kepo pada Alisha. ternyata dia memang dibiasakan menghabiskan makanan sejak kecil, "kalo gak habis nanti petani nangis lho" ujar Alisha menirukan petuah ibunya saat ia kecil. Saya pun tertegun, pertama karena tiap keluarga pasti punya value yang unik masing- masing. Kedua, saya teringat dosa- dosa saya yang suka membuang makanan. Untuk insight kedua ini saya lama loh nyadarnya, karena waktu tinggal bareng ortu saya selalu yakin makanan yang gak habis di reuse jadi pakan untuk ayam, bebek, ikan atau kucing di 'kebun binatang' Ibu saya. Hal ini tentu gak bisa saya lakukan saat saya ngekos sendiri.

Mulai sekarang saya pengen tobat. Saya pengen ngabisin makanan saya dan kebanyakan laper mata. Supaya semakin hemat, dan gak mubazir. Hehe keliatannya sepele ya, padahal sebagian besar makanan di dunia ini memang berakhir jadi sampah [sumber]. Balik ke pembuka yang saya tulis, gak semua orang 'seberuntung' kita loh bisa buang- buang makanan.

Jadi mulai sekarang,
Habiskan makananmu!

Sabtu, 07 November 2015

Charles Simonyi

Jadi ceritanya hari itu saya sedang merapikan buku- buku saya untuk disumbangkan. Kemudian mata saya tertuju pada sebuah buku berjudul 'Sungai dari Firdaus'. Buku ini adalah karya Charles Dawkins dengan judul asli River Out Of Eden. Saya tertarik membaca halaman demi halaman dan sangat menikmatinya, tidak jarang terkekeh dengan humor- humor yang diselipkan Dawknis. Salah satunya mengigatkan bahwa semua orang di dunia ini adalah sepupu, entah sepupu yang keberapa. Jadi suatu hari jika seseorang menikah, berarti dia menikahi sepupunya! Haha. Oia, buat yang belum tahu Charles Dawkins adalah ilmuwan biologi yang cakap di bidang evolusi, buku ini pun membahas tentang evolusi.

Kemudian saya membaca halaman belakang di mana terdapat rangkuman isi buku dan profil penulis. Saya selalu suka membaca profil penulis pada sebuah buku, karena saya tertarik bagaimana penulis (atau mungkin editornya) mendeskripsikan dirinya dalam kolom yang sangat singkat. Dan dari deskripsi itu kemudian saya mengetahui bahwa Charles Dawkins adalah pemegang gelar keprofesoran Charles Simonyi untuk pemahaman publik atas ilmu pengetahuan. Tanpa kepo lebih lanjut, saya menyetujui bahwa Dawkins memang pantas menyadang gelar tersebut. Padahal Sungai Dari Firdaus juga buku karya Dawkins pertama dan baru satu- satunya yang saya baca.

Kepo selanjutnya mengantarkan saya pada pengetahuan bahwa Charles Simonyi adalah seorang saintis sekaligus filantropis ia menyumbangkan sejumlah kekayaannya beberapa proyek pengembangan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah bidang "Pemahaman publik atas ilmu pengetahuan" di Universitas Oxford ini.

Sekarang kita kembali ke Indonesia. Saya bukan tipe orang yang suka mengeluhkan keadaan tanah air karena menurut saya hal itu tidak menyelesaikan masalah bahkan mendorong kita untuk berpikir negatif terus menerus tentang negara kita. Tapi saat saya pergi ke toko buku - sebuah kemewahan yang tidak dapat saya nikmati di kampung halaman saya, karena di sana tidak ada toko buku yang bagus. Bagus dalam artian seperti Gramedia atau Toko Gunung Agung misalnya. Tak usah se muluk Kinokuniya atau Periplus. Oke selain keterbatasan akses pada buku yang saya alami ketika kecil, kini saya tinggal di kota dan dapat menikmati buku- buku populer. Ketika saya pergi ke rak psikologi misalnya, saya heran kok beda ya psikologi populer yang ada di toko buku dengan apa yang saya pelajari di kampus.

Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa memang ada gap antara para 'ilmuwan' dan masyarakat 'awam'. Sedihnya karena gap ini, membuat masyarakat awam gampang percaya pada berita hoax yang bertebaran di sosial media yang dengan mudah mereka akses. Para ilmuwan pun sudah kadung merasa tinggi dan berbeda kasta dengan si awam. Sang ilmuwan hanya membicarakan masalah sains dan apa yang ia pelajari dengan sesamanya. Opini saya ini sangat serampangan memang. Mungkin ada beberapa insan terpelajar yang tersinggung, hehe.

Tapi membicarakan ilmu pengetahuan dengan orang yang berbeda bidang dengan kita memang tidak mudah. Misalnya ketika saya coba menjelaskan topik skripsi saya pada kakak- kakak saya yang belajar Ekonomi dan Seni, tentu tak mudah bagi mereka memahami apakah memang ada hubungan antara kebahagiaan dan partisipasi politik, hingga topik ini pun tak menarik dan saya hanya bisa bilang "yah jurnalnya bilang gitu". Padahal ini tanda kalau mungkin saya sesungguhnya belum paham paham banget sama topik yang saya pelajari. Haha *ketawamiris*

Untuk apa kita terus terusan menerangi tempat yang sudah terang ya, bukankah lebih baik ketika menerangi tempat yang gelap. hihi
Selamat menerangi!

Rabu, 19 Agustus 2015

100 Years - Five for Fighting

I'm 15 for a moment
Caught in between 10 and 20
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are

I'm 22 for a moment
And she feels better than ever
And we're on fire
Making our way back from Mars

15 there's still time for you
Time to buy and time to lose
15, there's never a wish better than this
When you only got a hundred years to live

I'm 33 for a moment
Still the man, but you see I'm a "they"
A kid on the way, babe.
A family on my mind

I'm 45 for a moment
The sea is high
And I'm heading into a crisis
Chasing the years of my life

15 there's still time for you
Time to buy and time to lose yourself
Within a morning star

15 I'm all right with you
15, there's never a wish better than this
When you only got a hundred years to live

Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We're moving on...

I'm 99 for a moment
And dying for just another moment
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are

15 there's still time for you
22 I feel her too
33 you’re on your way
Every day's a new day...

(oh oh ohs)

15 there's still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there's never a wish better than this
When you only got a hundred years to live

Selasa, 04 Agustus 2015

Sayur Tanpa Garam


Pasti kalian juga bosen bin sebel kan ditanyain sodara- sodara kapan lulus? Kapan kawin? Yang kemaren mana? #eh. Dan untuk saya ada satu kalimat yang rasanya wajib saya terima dari handao taulan ini: "tambah gede ya?" dan sejenisnya, haha. Dulu sih pasti sakit hati banget kalo denger gitu. Sekarang cuma dijawab "Alhamdulillah" sambil senyum aja mereka diem :) and I feel win haha. Lucu juga karena di hari Lebaran ada kawan yang mengeluh karena dibilang kurus oleh sodara- sodaranya. Hmm namanya juga manusia.

Ternyata tidak sesimpel itu, kenapa sih berat badan jadi hal yang sangat sensitif di dunia ini?. Berat badan adalah ukuran termudah dan paling tampak untuk mengukur kesehatan seseorang. Kurang lebih seperti itu kutipan dari reality show "The Men That Made Us Thin". Memang benar, untuk mengukur gula darah, kolesterol, atau tekanan darah pastinya lebih ribet dan sulit. Jadilah berat badan yang dijadikan ukuran paling umum untuk 'kesehatan'. Masuk akal juga menurut saya.

Kemudian Ibu saya membujuk saya untuk melakukan diet mayo yang sedang ngetren banget itu. Ibu saya memang berada di garda terdepan untuk masalah kurus kurusan, haha. Oke, karena Ibu mau menyediakan masakan yang harus saya konsumsi selama 13 hari, saya pun mengiyakan.

Inti dari diet mayo adalah tidak mengonsumsi garam sama sekali. Membatasi asupan karbohidrat, protein dan vitamin dengan seimbang serta mengurangi gorengan, nasi dan gula. Dan hari ini 4/7/15 saya menyelesaikan diet 13 hari saya. Menurut penggagasnya, Dr. Moyes garam mengikat air dalam tubuh sehingga membuat badan lebih besar, dan diet ini berfungsi untuk mengurangi kadar garam dalam tubuh.

Gimana hasilnya? Turun berapa kilo? Hmm saya gak nimbang before after sih, hehe. Cuma waktu seminggu diet berjalan saya ke apotik dan nimbang ternyata turun 5 kilo. Itu bonus sih, karena dari awal saya berkomitmen untuk diet tujuannya adalah supaya lebih sehat, anggap aja seperti terapi gitu.

Yakin gak cheating? Sebenernya program ini paling gak menyika sih buat saya. Menu makanannya lebih enak malah dibanding makan saya sehari hari, tiap hari ada menu daging sapi atau ayam atau ikan, walaupun hanya boleh dibakar dan dikukus. Yucks sih rasanya, tapi lama lama terbiasa. Kalau masih lapar saya makan roti gandum tawar dan minum susu low fat walau gak ada di menu, serta makan buah dan minum air putih sebanyak- banyaknya. Jeleknya juga saya masih kurang banget olahraga sih

Sebenernya diet ini mengingatkan saya pada tradisi masyarakat Jawa, terutama mereka yang masih menganut kepercayaan kejawen yaitu mutih atau ngadem. Mutih adalah hanya mengonsumsi nasi putih dan air sedangkan ngadem adalah mengonsumsi makanan tanpa rasa *cmiiw.

Saya menemui insight baru, mengapa beberapa keyakinan spiritual biasanya juga mengatur pola makan penganutnya, seperti Buddha yang vegetarian, Hindu yang tidak makan daging sapi, Islam yang melarang minuman beralkohol dan daging sapi, berpuasa serta beberapa diet lain yang mungkin tidak saya ketahui.

Semua itu adalah tentang self control, teman- teman. Selama ini saya menjadikan makanan sebagai 'hiburan' bukan kebutuhan. Menahan diri untuk tidak memasukan sesuatu ke mulut adalah hal yang sulit. Yang seharusnya manusia pahami sebagai latihan untuk mengontrol diri pada hal- hal yang lain. Ya, seperti Neraka Juu yang berhasil menaklukan si hawa nafsu :D

Toh saya masih hidup kok walau tidak makan nasi, indomie, gorengan, dan coca cola. Memang baru 13 hari sih. Tapi semoga sebagai awalan untuk hidup sehat. Karena, okelah standar kecantikan ada sangat banyak tapi kayaknya standar sehat cuma ada satu (sehat fisik ya, hehe). Mumpung masih diberi kesehatan, jagalah kesehatan itu :)

Semoga kita semua senantiasa sehat ya

Selasa, 30 Juni 2015

Binar's Picks

Sebenernya tiap mau nulis di blog pasti selalu ragu. Apakah tulisan gue akan bermanfaat ? Apakah tulisan gue akan bermutu? Dan biasanya keraguan ini akan berujung gajadi nulis. Mungkin social pressure juga karena teman- teman saya blognya keren keren. Lah we? Lolz
Okedeh kali ini saya mau nulis hal yang rada 'gak penting' yaituuu: rekomendasi produk- produk kosmetik yang saya pakai. Hahaha walaupun saya bukan Michelle Phan, semoga list ini berguna. Enjoy!
1. Vaseline Petroleum Jelly
Dalam rangka survival udara dingin Cairo kala itu saya mencoba hampir semua produk pelembab di drugstore. Vaseline ini memang terkenal banget dan katanya banyak banget manfaatnya. Sebelumnya belum pernah coba, akhirnya setelah coba memang multifungsi banget.
Pertama sih bisa buat lipbalm yang jelas, untuk kondisi bibir yang chapped dan kering parah banget. Ini resep saya: apply some vaseline petroleum jelly on your lips then kiss some sugar, yes, lol after 5 minutes scrub your lips ta da your lips now is smoother than ever.
Kedua untuk menghilangkan bekas luka. Pas luka udah mau sembuh apply dikit aja. Inget ya pas udah sembuh jangan pas masih basah lukanya, haha. Koreng si luka pun bakal cepet hilang dan lembut, hihi
Ketiga menebalkan alis dan bulu mata, udah dicobain sih tiap mau tidur, gatau ngefek atau gak, haha
Pokoknya jago banget lah soal lembab melembabkan di seluruh bagian tubuh. Hahaha recommended sis
2. Nivea Creme
Sama kayak vaseline, produk nivea yang ini juga kayanya 'klasik' banget. Terus pernah baca review nya konon krim ini setara sama creme de la mer yang jutaan itu. Ebucet kan haha. Yaudah daripada nganggur gue pake sebagai krim malam karena teksturnya yang terlalu berminyak jadi kayaknya gak mungkin dipakai siang hari. Ya khas produk drugstore 'barat' ya produk ini gak mungkin memutihkan, tapi fresh smooth and safe yak daripada krim gajelas yang bikin muka merah merah. Haha
3. L'occitane lip balm
Harga lip balm ini memang terlalu mahal buat saya. Ini pun dapetnya dari temen, haha. Penerbangan Garuda katanya juga dapet toiletries l'occitane ini dan termasuk lipbalm, haha.
Kelebihan produk lipbalm ini adalah kalo dipake enak, buttery dan gak terlalu berminyak kayak abis makan gorengan, hehe. So I love it
4. Hada Labo Whitening Lotion
Udah tau kan peraturan dasar membersihkan muka, cleansing - washing - tonering, haha yha kurang lebih begitu lha. Nah Hada Labo Lotion ini sering saya gunakan sebagai toner. Haha gak istimewa istimewa banget sih tapi baunya enak (karena gak ada baunya) haha, tapi cocok cocokkan banget soalnya temenku ada yang pake Hada Labo malah jerawatan
5. Herborist Body Butter Mango
Umumnya tekstur body butter emang kayak butter beneran ya, jadi susah dipake setiap hari. Dan saya juga jarang cocok sama body lotion atau butter. Sejauh ini cuma cocok beberapa merk, ehe. Nah herborist mango ini emezing banget wanginya enak (mirip body shop yang mango) gak terlalu berminyak juga cepet kering jadi bisa dipake siang hari, murah pula! Juara! Cinta produk Indonesia!
Sekian dulu ya guys, ini edisi pelembab dulu, edisi lainnya menyusul, wkwk. Jangan lupa minum air putih, keep your skin hydrated :*

Sabtu, 14 Maret 2015

Feminis Bingung

Kalau ada satu mata kuliah yang saya ingat sampai sekarang dan bisa dikatakan mengubah hidup saya, itulah Paradigma Feminis, mata kuliah lintas fakultas yang 'cuma' 2 sks namun sebegitu signifikan dalam hidup saya. Kenapa? feminisme memberikan saya perspektif baru tentang kehidupan, tentang dunia, mengajak saya melihat dunia ini dari sudut pandang baru. Tugas Akhir mata kuliah tersebut yang saya post di blog ini pun kemudian diakses teman- teman saya yang mengambil mata kuliah tersebut di semester selanjutnya, haha.

Sebegitu signifikan hingga kemudian saya menaruh minat yang besar dalam topik- topik tentang perempuan. Membicarakan tentang ini dengan beberapa teman- teman saya, membaca Jurnal Perempuan dan buku- buku para pemikir feminis,hingga menjadi social climber di acara yang diadakan media tersebut. Hingga akhirnya saya memilih untuk magang di Yayasan Pulih yang fokus pada pemulihan penyintas kekerasan terhadap perempuan. Bahkan, saya jauh jauh ke benua Afrika untuk magang lagi Egyptian Feminist Union.

Kadang saya merenung dan juga bingung, kenapa saya sebegitu tergerak untuk menekuni bidang ini, walau saya sering mengaku "ah saya tertarik ke banyak hal kok". Melihat latar belakang, saya juga cukup beruntung sebagai perempuan. Saya anak perempuan satu- satunya, paling muda lagi, namun orangtua saya, terutama ayah saya mendukung saya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Ya, pendidikan, adalah hal yang kemudian saya yakini bisa membebaskan seorang manusia sebenar- benarnya. Bayangkan berapa kemungkinan yang muncul ketika seorang manusia yang tadinya buta huruf jadi bisa membaca, berapa banyak lagi kemungkinan ketika seorang bisa menguasai bahasa Inggris misalnya. Pendidikan sesungguhnya menyadarkan saya bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang tidak terbatas. Kata Ayah saya, kurang lebih begini "kita bukan apa- apa, bapak cuma buruh, dan yang nantinya bisa meningkatkan derajat kalian cuma pendidikan, cuma itu yang bisa bapak wariskan"

Saya juga beruntung, saya adalah warga negara Indonesia. Tidak berlebihan, saya harus mengakui bahwa negara ini cukup 'ramah' pada perempuan. Tentu saja masih terdapat kekurangan di mana mana, namun ketika saya memiliki kesempatan untuk melongok beberapa data tentang kekerasan terhadap perempuan di region MENA (Middle East and North Africa) keadannya jauh, jauh lebih parah daripada di negara ini. Praktek genital mutilation masih umum dilakukan, banyak perempuan tidak memiliki hak dalam politik, dan masih banyak dari para orangtua tidak mau menyekolahkan anak- anak perempuannya. Tahu kan, bahwa negara adidaya seperti Amerika Serikat pun baru memberikan hak pilih pada warga negaranya yang berjenis kelamin perempuan pada amandemen konstitusi yang ke 17.

Keberuntungan selanjutnya yang harus saya akui adalah karena saya beragama Islam. Tunggu dulu, anda pasti sering mendengar bahwa Islam berpaham opresif terhadap perempuan. Ada hal lucu yang ingin saya ceritakan, hal ini ketika kakak saya membuka Adobe reader di ponsel saya dan menemukan buku- buku tentang feminisme. Ia bertanya
"jadi feminis kamu sekarang?"
"masih belajar"
"hati- hati lho"
Hal ini menggelitik saya, bahkan kakak saya yang paling dekat dengan saya sekaligus sangat terbuka pemikirannya menyampaikan hal itu, hati hati kamu akan jadi feminis!. Belakangan saya berkesimpulan, kita terlalu terkekang dengan segala stereotip yang ada pada label- label tertentu, dan memang kecenderungan manusia mungkin untuk melabeli segala hal untuk mempermudah proses kognitifnya. Label 'feminis' yang dipahami kakak saya kala itu mungkin sama dengan label 'Islam' yang dipahami kebanyakan warga Eropa atau AS atau label 'seniman' yang dipahami kebanyakan orang di Indonesia. Hal ini saya jadikan penjelasan kepadanya karena notabene ia adalah seniman, tentu penghayatan seorang seniman tentang seniman begitu mendalam dibandingkan prasangka orang kebanyakan tentangnya. Kita cenderung membenci hal- hal yang tidak (belum) bisa kita pahami.

Oke, mengapa saya bilang saya beruntung sebagai perempuan- Islam. Salah satu contoh mudanya adalah, cara kami berpakaian. Ya, jilbab yang lagi- lagi mungkin banyak dianggap sebagai simbol opresi terhadap perempuan. Jadi begini, kita sudah mahfum bahwa banyak perempuan di dunia kini menjadi 'budak' kapitalisme industri kecantikan. Dari mulai fashion, kosmetik, operasi plastik, dan sebagainya. Perempuan yang sibuk mengurusi tubuh dan kecantikkannya sampai sampai lupa bahwa masih banyak hal lain di dunia ini. Lupa untuk belajar, lupa untuk mengupgrade kemampuan diri, lupa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya. Penghayatan saya adalah, sesungguhnya Islam melindungi perempuan dari hal ini. Tata cara berpakaian muslimah mengedepankan kesederhanaan, jadi idealnya perempuan tidak lagi dipandang dari rupa atau bentuk tubuhnya, tapi dinilai dari pemikirannya, perilakunya terhadap orang lain. Dengan demikian, kualitas diri yang intangible seharusnya lebih nampak dari penampilan tubuh yang fana. Kalau begitu, mengapa sekarang tren hijaber malah marak di kalangan muslimah. Bukan kapasitas saya untuk menilai, tapi semoga kita semua adalah orang- orang yang berproses menjadi baik. Suatu ketika saya ditanyai oleh teman saya yang orang Eropa dan atheis
"mengapa kamu berjilbab?"
"karena agama saya memerintahkan demikian"
"apakah kamu merasa terpaksa memakainya?"
"I'd rather be slave of my Allah, than slave of fashion industry"
Dia pun tersenyum dan mengangguk- angguk.

Tapi, pengetahuan saya tentang Islam masih cetek banget sih dan saya yakin semua pengalaman spiritual sifatnya sangat subjektif. Jika anda berpendapat lain, mohon tinggalkan komentar :)
Hingga akhirnya saya berpikir, sampai kapan saya akan 'ngulik' topik ini. Apakah saya akan istiqomah dengan perjuangan ini. Cielah perjuangan, padahal saya belum melakukan apa- apa. Saya juga kadang sangsi, apakah hal ini benar atau jalan ini akhirnya membuat saya tersesat. Yang jelas, jauh pada diri saya sesungguhnya hal ini membuat saya memiliki semangat baru dalam hidup. Walaupun mungkin terdengar berlebihan. I had to be powerful to empower others.

Saya pun sering terharu ketika banyak laki- laki, minimal di sekitar saya yang mendukung tentang 'gerakan' feminisme. Walaupun masih banyak juga yang skeptis. Seperti, "mengapa ada hari perempuan internasional, tapi tidak ada hari laki- laki internasional". Begini teman- teman, mungkin banyak kelakuan para pejuang hak perempuan yang akhirnya disalah artikan dan akhirnya membentuk stigma negatif. Tapi kita tidak boleh menutup mata, bahwa diskriminasi perempuan masih terjadi di mana mana. Memang bukan hanya perempuan satu satunya 'kaum' yang mengalami hal ini di dunia. Perjuangan para LGBT misalnya, atau ras- ras tertentu yang didiskriminasi. Kurang lebih sama semangat yang mendasarinya. Walaupun sejauh ini saya masih yakin kesetaraan yang mutlak mustahil untuk terjadi.

Jadi, gimana?

Sabtu, 24 Januari 2015

Homemade Beauty (1)

Dulu pas masih tinggal di rumah Cilacap, gue sering acak acak isi dapur, bukan buat masak dan dimakan melainkan buat ‘diaur aurin’ ke muka dan badan. Haha, iya kalian pernah ada yang suka baca majalah Kartini gak, kalo gak salah di situ ada rubrik Aduhai yang isinya bahas tips tips rumahan, termasuk tips ‘kecantikan’ hihihi. Nah dari situlah gue hobi coba2 isi dapur buat perawatan muka dan tubuh. Bahkan dulu sempet pingin buat blog khusus untuk itu dengan judul ‘Homemade Beauty’ tapi ya akhirnya biasa, mager, hadu.
Nah tahun berganti tahun, sekarang masih suka juga bacain beauty blognya kak alodita dan mrsdelonika *sok kenal*. Dan karena sekarang juga sedang tinggal di rumah (rumah= lengkap dengan kulkas, dapur dan kamar mandi pribadi) saya bisa menyalurkan hobi lama. Terutama karena kemarin kulit sempat bereaksi terhadap udara dingin iklim gurun saat winter jadi keriiing. Padahal dari Indonesia bawanya skincare untuk kulit berminyak semua (karena normalnya kulit gue begitu) jadilah googling tips tips rumahan buat kulit kering. Nah disini gue akan coba merangkum beberapa benda dari dapur yang bisa dipakai untuk skincare, hehe, enjoy!
1.       Minyak Zaitun
Kayaknya gue bahkan pernah nulis ttg zaitun ini ya. Emang cairan satu ini super sekalih deh, wattini wazaitun ! *apadeh*. Minyak zaitun bisa dipake untuk seluruh badan dan muka. Caranya gampang, tinggal usapkan minyak zaitun ke seluruh badan sebelum tidur. Pas bangun pagi jangan lupa mandi ya, hehe. It helps banget deh saat kulit lagi kering. Oia kulit kita kan selalu regenerasi yah, nah walaupun gak keringetan atau kena debu harus wajib dibersihin tuh, nah minyak zaitun bisa mempermudah proses pembersihan ini, bisa dibantu dengan scrub juga.
Minyak zaitun juga bisa dicampur dengan brown sugar sebagai scrub. Oia, kakak iparku pas hamil juga pake minyak zaitun untuk menghindari strechmarks. Bisa pake minyak zaitun untuk pijat atau untuk masak yang gampang dibeli dimana saja. Untuk pemakaian di wajah, jangan lupa bersihin dulu wajahnya yaa.
2.       Yoghurt
Ini iseng banget nyobain karena harga yoghurt di Mesir murah, haha. Waktu itu nyobain buat masker di muka dan karena sisa aku pakein di kaki, hahaha. Pake yoghurt yang plain yaa. Memang kurang ngefek untuk kulit kering tapi abis maskeran ini jadinya seger gituu, haha (mungkin lebih cocok untuk kulit berminyak?)
3.       Madu
Campur madu dengan brown sugar atau gula pasir biasa untuk exfoliating wajah dan bibir. Kalau kemakan gapapa kan maniss, hehe. Ini juga membantu banget. Bibir yang pecah pecah dan kulit wajah yang kering mengelupas gitu, huhu iya kemarin kulit gue separah itu. Lebih oke pake air hangat ya ngebilasnya, hehe.
4.       Brown Sugar
Nah ini dia *berasa pos kota* bumbu yang bisa dicampur dengan apapun untuk menjadi homemade scrub, hihi. Bedanya sama gula pasir biasa apa? Warna dan teksturnya yang lebih kasar, selain itu gatau haha. Belinya dimana? Gak beli! Biasanya ngambil kalo pas ngopi di sbucks atau kafe lain buat persediaan, hehe.


Silakan mencoba, semoga bermanfaat. Efeknya mungkin beda ke masing- masing kulit orang ya. Kalau aku sih lebih seneng ngubek ‘bumbu dapur’ untuk skincare daripada nyobain krim krim gajelas, hihihi. kisskiss

Rabu, 21 Januari 2015

Berpikir dengan Berani dan Hati- Hati


Tulisan ini merupakan after affect kompre (ujian komprehensif) mata kuliah Pelatihan II. Tugas akhir mata kuliah ini adalah membuat rancangan pelatihan dan kemudian diuji secara lisan. Unfortunately, kelompok saya memang kurang siap, mendapat giliran ujian awal, dan penguji kami adalah dosen senior yang merupakan pakar di bidang pelatihan J (not to mention her J).
Insight dari kompre tadi adalah sangat mendalam. Seperti judul artikel ini, kita harus berpikir dengan hati- hati, apalagi dalam konteks sebagai akademisi. Setiap frasa dan kalimat harus dapat divalidasi, siapa yang mengucapkan, kapan, tercantum di mana, dan seterusnya. Bagaimana kaitan antar argumen dan sebagainya dan seterusnya. Pusing ya?
Iya, tapi kemudian saya mikir, kalau kita, kaum akademisi nan tercerahkan dan budiman  yang sudah tahu kalau berpikir itu harus sistematis, logis dan rasional (halah) malah mager dan menyerah. Nanti bisa bisa dikalahkan oleh para kaum modal screenshot itu (wkwk, mungkin Cuma saya yang mengerti). Apalagi lahan kami, psikologi, yang sangat rawan untuk diambil alih common sense.
Sedih memang kalau alur berpikir kita yang pemula ini dikomentari pedas pedas oleh dosen. Tapi lebih sedih lagi jika kemudian apa yang ‘benar’ dan akademis hanya dapat dinikmati sebagian kecil kalangan. Sedangkan khalayak malah menikmati wacana wacana yang tak jelas sumbernya.

Mungkin benar apa kata pak menteri pendidikan, mendidik adalah kewajiban setiap terdidik. Jika ada memiliki ilmu, bagilah kepada sekitar, maka ilmu itu akan bertambah *walah so bijak banget* Semoga teman saya yang pintar- pintar kelak tidak membangun pagar dengan dunia luar. Semoga semua yang berilmu bisa membagi ilmunya dengan siapa saja.
semoga kita semua sadar bahwa berpikir itu memang tidak mudah, maka kita harus berani dan hati- hati