Senin, 09 November 2015

Habiskan Makananmu! (Dan Curhatan Lain)

Jadi gini,
Saya mau mengumumkan pada dunia bahwa laptop saya rusak, hape saya rusak, tab saya rusak. Kiamatlah lah dunia. Lebay ya, padahal masih banyak anak- anak kelaparan di Afrika, di Suriah, bahkan mungkin di sekitar kita. Ini gak bisa haha hihi di whatsapp dan path aja kayak udah mau kiamat. Haha


Oke, sebenernya pembuka di atas gak nyambung sama apa yang ingin saya sampaikan. Belakangan ini pengen banyak nulis di blog aja. Semoga gak nyampah dan masih ada manfaat yang bisa dipetik ya.

Saya suka mengeluh kalau saya ini orang yang sangat boros. Walaupun saya udah  bisa mencari uang jajan sendiri, semuanya habis buat hal- hal yang menurut saya gak penting. Kayak lipstik dan jajanan, haha. Saya suka menimbun banyak barang- barang dari mulai buku, kosmetik, perintilan stationery gak penting, sampai makanan. Saya kadang- kadang takut kalau perilaku menimbun ini sudah cukup kelewatan seperti di reality show Hoarders, huhu.


Saya pun menemukan 'terapi' untuk perilaku saya ini yaitu 'membuang' dua barang per hari. Membuang di sini tidak berarti harus berakhir di tong sampah, tapi juga bisa disumbangkan, dijual ke tukang loak, di recycle, dsb. Tapi recylenya harus beneran dilakuin ya, gak boleh wacana. Kayak beli berbagai macam pita warna warni buat kerajinan tangan tapi berakhir berdebu di atas lemari karena gak pernah dieksekusi. Ide ini saya dapatkan dari sebuah blog, tapi saya lupa linknya, huhu.

Oke, balik ke perilaku menimbun. Ketika saya menimbun buku atau baju, mungkin ke depannya bisa saya sumbangkan atau diberikan ke teman kita. Tapi tidak dengan makanan, makanan selalu berakhir basi. Saya sedih banget ketika harus membuang sekresek makanan kemasan yang sudah kadaluarsa. Ini saya tinggal sendirian di kamar kos loh ya, huhu.

Dan karena peristiwa ini saya teringat roomate saya waktu di Kairo. Namanya Alisha, (Hai Alisha, ijin mencatut nama kamu ya, haha). Satu hal dari Alisha ini, dia selalu menghabiskan makanannya!. Hal ini saya amati dari mulai kita berangkat bareng naik Emirates, walaupun makanan di pesawat gak semuanya enak  cocok sama lidah kita, dia selalu ngabisin makanannya. Begitupun waktu di Mesir, dia berhasil melahap sepotong Foul dan Falafel, kalau saya, wek sekali gigit rasanya pengin makanan itu saya tanam di bawah tanah, ahaha apasih.

Selidik punya selidik, saya pun kepo pada Alisha. ternyata dia memang dibiasakan menghabiskan makanan sejak kecil, "kalo gak habis nanti petani nangis lho" ujar Alisha menirukan petuah ibunya saat ia kecil. Saya pun tertegun, pertama karena tiap keluarga pasti punya value yang unik masing- masing. Kedua, saya teringat dosa- dosa saya yang suka membuang makanan. Untuk insight kedua ini saya lama loh nyadarnya, karena waktu tinggal bareng ortu saya selalu yakin makanan yang gak habis di reuse jadi pakan untuk ayam, bebek, ikan atau kucing di 'kebun binatang' Ibu saya. Hal ini tentu gak bisa saya lakukan saat saya ngekos sendiri.

Mulai sekarang saya pengen tobat. Saya pengen ngabisin makanan saya dan kebanyakan laper mata. Supaya semakin hemat, dan gak mubazir. Hehe keliatannya sepele ya, padahal sebagian besar makanan di dunia ini memang berakhir jadi sampah [sumber]. Balik ke pembuka yang saya tulis, gak semua orang 'seberuntung' kita loh bisa buang- buang makanan.

Jadi mulai sekarang,
Habiskan makananmu!

Sabtu, 07 November 2015

Charles Simonyi

Jadi ceritanya hari itu saya sedang merapikan buku- buku saya untuk disumbangkan. Kemudian mata saya tertuju pada sebuah buku berjudul 'Sungai dari Firdaus'. Buku ini adalah karya Charles Dawkins dengan judul asli River Out Of Eden. Saya tertarik membaca halaman demi halaman dan sangat menikmatinya, tidak jarang terkekeh dengan humor- humor yang diselipkan Dawknis. Salah satunya mengigatkan bahwa semua orang di dunia ini adalah sepupu, entah sepupu yang keberapa. Jadi suatu hari jika seseorang menikah, berarti dia menikahi sepupunya! Haha. Oia, buat yang belum tahu Charles Dawkins adalah ilmuwan biologi yang cakap di bidang evolusi, buku ini pun membahas tentang evolusi.

Kemudian saya membaca halaman belakang di mana terdapat rangkuman isi buku dan profil penulis. Saya selalu suka membaca profil penulis pada sebuah buku, karena saya tertarik bagaimana penulis (atau mungkin editornya) mendeskripsikan dirinya dalam kolom yang sangat singkat. Dan dari deskripsi itu kemudian saya mengetahui bahwa Charles Dawkins adalah pemegang gelar keprofesoran Charles Simonyi untuk pemahaman publik atas ilmu pengetahuan. Tanpa kepo lebih lanjut, saya menyetujui bahwa Dawkins memang pantas menyadang gelar tersebut. Padahal Sungai Dari Firdaus juga buku karya Dawkins pertama dan baru satu- satunya yang saya baca.

Kepo selanjutnya mengantarkan saya pada pengetahuan bahwa Charles Simonyi adalah seorang saintis sekaligus filantropis ia menyumbangkan sejumlah kekayaannya beberapa proyek pengembangan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah bidang "Pemahaman publik atas ilmu pengetahuan" di Universitas Oxford ini.

Sekarang kita kembali ke Indonesia. Saya bukan tipe orang yang suka mengeluhkan keadaan tanah air karena menurut saya hal itu tidak menyelesaikan masalah bahkan mendorong kita untuk berpikir negatif terus menerus tentang negara kita. Tapi saat saya pergi ke toko buku - sebuah kemewahan yang tidak dapat saya nikmati di kampung halaman saya, karena di sana tidak ada toko buku yang bagus. Bagus dalam artian seperti Gramedia atau Toko Gunung Agung misalnya. Tak usah se muluk Kinokuniya atau Periplus. Oke selain keterbatasan akses pada buku yang saya alami ketika kecil, kini saya tinggal di kota dan dapat menikmati buku- buku populer. Ketika saya pergi ke rak psikologi misalnya, saya heran kok beda ya psikologi populer yang ada di toko buku dengan apa yang saya pelajari di kampus.

Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa memang ada gap antara para 'ilmuwan' dan masyarakat 'awam'. Sedihnya karena gap ini, membuat masyarakat awam gampang percaya pada berita hoax yang bertebaran di sosial media yang dengan mudah mereka akses. Para ilmuwan pun sudah kadung merasa tinggi dan berbeda kasta dengan si awam. Sang ilmuwan hanya membicarakan masalah sains dan apa yang ia pelajari dengan sesamanya. Opini saya ini sangat serampangan memang. Mungkin ada beberapa insan terpelajar yang tersinggung, hehe.

Tapi membicarakan ilmu pengetahuan dengan orang yang berbeda bidang dengan kita memang tidak mudah. Misalnya ketika saya coba menjelaskan topik skripsi saya pada kakak- kakak saya yang belajar Ekonomi dan Seni, tentu tak mudah bagi mereka memahami apakah memang ada hubungan antara kebahagiaan dan partisipasi politik, hingga topik ini pun tak menarik dan saya hanya bisa bilang "yah jurnalnya bilang gitu". Padahal ini tanda kalau mungkin saya sesungguhnya belum paham paham banget sama topik yang saya pelajari. Haha *ketawamiris*

Untuk apa kita terus terusan menerangi tempat yang sudah terang ya, bukankah lebih baik ketika menerangi tempat yang gelap. hihi
Selamat menerangi!