Sabtu, 27 Mei 2017

Air

disclaimer: ini adalah celotehan pribadi saya dan tidak mewakili organisasi manapun

Pernah dengar cerita tentang sumur Raumah? Pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah ada sebuah sumur yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Ia memberikan tarif yang sangat mahal bagi siapapun yang mengambil air di sumur tersebut. Melihat masalah tersebut, Utsman bin Affan berinisiatif untuk membeli sumur tersebut. Si pemilik pun menolak. Dengan negosiasi yang sengit, Utsman berhasil memiliki setengah hak milik sumur tersebut.
Bagaimana konsekuensinya? Utsman memiliki hak guna sumur tersebut selama sehari, dan Si Pemilik Yahudi pada hari yang lain. Tak dinyana, Utsman mewakafkan sumur tersebut atau menggratiskan orang-orang untuk mengambil air di sumurnya pada hari gilirannya, orang-orang pun berbondong-bondong datang untuk mengambil air. Pada hari giliran si Yahudi tiba, sumur pun tidak laku, karena kebutuhan air untuk hari itu sudah disiapkan kemarin.

Si Yahudi menyerah dan akhirnya menjual sumur raumah dengan penuh kepada Utsman. Beratus tahun berlanjut dan ternyata sumur Raumah ini masih memberikan manfaat bagi sekitarnya. Dimulai dari perkebunan, hingga usaha hotel, kini pun masih terdapat rekening atas nama Utsman bin Affan di Bank Arab Saudi.

Air bersih, adalah komponen dari hak asasi manusia. Pada SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, akses air bersih juga menjadi tujuan nomer 6.

Tentu, Utsman telah mengamalkan ini seribu tahun lebih sebelum dokumen internasional ini resmi dikumandangkan di ranah internasional.

Kini, kita taking for granted untuk membeli air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingat betul bahwa sumur rumah tetangga saya tidak layak untuk diminum, sehingga untuk air minum dan memasak ia meminta ke rumah tetangganya yang lain, ini karena hingga hari ini pipa PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) belum mengalir ke kampung saya.

Sehari-hari, darimana sumber air minum Anda? mungkin berasal dari botol plastik dengan label Aqua atau merk lain jika Anda tinggal di kota besar. Dan tidak perlu saya beritahu bahwa air tersebut menjadi hak jual korporasi asing.

Maka tidak lagi lucu ketika teman saya berceloteh, mungkin sebentar lagi udara bersih pun kita akan beli. Maka mengapa kita masih mencemooh ibu-ibu yang menyemen kakinya di depan istana negara, hanya karena ingin mempertahankan sumber air bersih di desanya.

Jangan lupa minum air ya! Stay hydrated

Senin, 01 Mei 2017

Memaknai Ulang Keikhlasan


خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas)

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain"

Saya sering sekali mendengar kutipan di atas. Dan kurang lebih telah menjadi motto favorit ketika saya sedang sok alim, hehehe.

Sepertinya bukan hanya saya, saya tumbuh dan hingga kini beraktivitas di sekitar manusia- manusia yang ingin berfaedah bagi sesamanya. Siapa sih yang enggak?

Walaupun dulu saya percaya homo homini lupus, tapi kiranya saya sekarang saya sudah bertobat dan ingin menjadi lebih altruist. Cie.

Bahkan setidaknya, hingga kini saya masih istiqomah bekerja di sektor sosial, bukan privat. Namun kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, apakah yang saya lakukan ini benar? tepat? efektif?

Apakah keikhlasan menjadi faktor utama ketika kita ingin menolong orang lain?. Apakah memang tidak ada indikator yang lebih 'profan' dalam hal kebaikan?.

Saya jadi ingat anekdot keikhlasan. Yaitu seperti saat kita, maaf, BAB. Setelah itu tidak usah dilihat. Hal ini tentu menjadi bahaya ketika, misalnya, kita mendonasikan sejumlah uang kepada suatu lembaga dan kemudian karena lembaga tersebut tidak diaudit secara berkala, terjadi penyelewengan oleh pengurusnya. Ini contoh yang terlalu ekstrem memang.

Tapi ketika kita hanya melihat dengan kacamata duniawi. Tentu kita ingin perbuatan baik (dan uang yang kita sumbangkan) bermanfaat untuk sesama manusia dan lingkungan di bumi ini.
Hingga entah bagaimana semesta berkonspirasi (yaelah) menyuruh Bimo merekomendasikan sebuah buku kepada saya.

Judulnya adalah: Effective Altruism oleh William MacAskill. Saya langsung meminta (setengah memaksa) meminta kopi e-book nya dari Bimo.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna. Dari judulnya kita bisa menebak, bahwa buku ini mirip seperti manual book bagi orang-orang yang ingin berbuat baik, bukan sekadar berbuat baik, namun berbuat baik seefektif efektifnya. Haha

Ini cukup menyentak diri saya. Karena selama ini, ketika kita berbuat baik, kita lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika (iya gak sih?) kita akan cenderung empati dan menyumbang untuk korban bencana alam- yang MacAskill temukan dalam buku ini bahwa perbuatan tersebut kurang efektif dibanding berdonasi misalnya, untuk usaha pengurangan cacingan (deworming)- yang MacAskill paparkan dapat meningkatkan angka partisipasi sekolah.

Buku ini menyuguhkan data statistik empiris tentang usaha-usaha sosial di dunia, yang gagal dan yang berhasil. Supaya kita bisa belajar dan merencanakan aksi sosial secara lebih efektif.
Bahkan MacAskill mengenalkan alat ukur QALY untuk mempermudah kita mengukur efektivitas sebuah kegiatan sosial.

Oh iya, ada satu bab yang menarik dalam buku ini, yaitu advise tentang karir. MacAskill mengukur probabilita seorang kawannya yang alumni PPE ketika ia akan berkarir sebagai politisi di UK. Saya juga jadi mengenal istilah earning to give. Bahwa waktu dan skill kita mungkin akan lebih efektif jika kita bekerja di sektor privat dan mendonasikan penghasilan kita untuk kegiatan sosial, alih-alih menjadi pekerja sosial (habis ini siap-siap jadi kutu loncat, eh :p).

Buku ini memang 'hanya' membahas efektivitas altruisme secara kuantitatif dan makro. Dan faktor afektif dalam berbuat baik tidak mungkin terhindarkan.

Tapi tenyata, kita harus memaknai ulang keikhlasan. Yaitu dengan rasional menghitungnya :)

catatan: makna Ikhlas dalam Bahasa Arab adalah 'melakukan segala sesuatu semata-mata untuk Allah SWT'. namun 'ikhlas yang saya maksud di tulisan ini adalah yang secara umum dipahami masyarakat Indonesia, yang dalam bahasa Arab lebih tepat disebut 'ridha'