Selasa, 14 Februari 2017

Love

What is love actually
I was learning it at college for a semester and still haven't got any clue

You, by the way
I always have that silly tingly blushy feeling when I remember you
And I want to blame our pheromone
We've known each other for one year now
I have mesmerized by the second I met you
It's not your looks
You're not an open book
Your words always blew my mind in a way nobody ever does
Yet I'm afraid to ask
Is this love?

Yeah you,
If by any chance you read this
Maybe you don't know that I'm talking about you

Yeah you,
Since we still believe in God
I hope once in a rainbow He will sparkle moon dust around us
I have that vivid imagination
That we'll grow old together
Read books, drink coffee and take nap together
You'd be doing good, best
Because sometimes you just too good to be true
Yet you are the truest
Life with you would never just pay taxes and die

And if any of that will never happen
Please, be my good friend

I love you

Kukusan, February 14th 2017

Senin, 13 Februari 2017

Kisah 8 Dirham dan Konsumerisme Hari Ini

Pada suatu peselancaran youtube, saya menemukan video klip sebuah lagu Gita Gutawa yang ternyata sudah dirilis cukup lama namun saya baru mendengarnya. Yaitu Kisah 8 Dirham.
Kisah ini adalah tentang Rasulullah Muhammad SAW yang membawa uang 8 Dirham untuk membeli pakaian. Dalam perjalanan, ia bertemu budak sahaya yang kehilangan 4 Dirham, Rasulullah pun memberikan 4 Dirham uangnya. Dengan sisa 4 Dirham, ia bertemu lagi orang yang belum makan maka kemudian Rasulullah memberikan 2 dirham. Sisa uang Rasul kini 2 Dirham, ia ke pasar dan membeli pakaian seperti niat awalnya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu orang yang bilang bahwa ia tidak punya pakaian. Maka Rasul memberikan pakaian barunya terhadap orang tersebut. Lagu yang dibawakan Gita Gutawa sedemikian catchy hingga saya pun hapal kisah Rasul dengan keteladanan sedekahnya tersebut.
Sekarang, saya sedang suka 'kepo' tentang gaya hidup minimalism. Hal ini berawal dari blogger yang mempromosikan gaya hidup zero waste, yaitu Laura Singer dan Bea Johnson. Komitmen mereka untuk tidak menyisakan sedikitpun sampah dari gaya hidup yang mereka jalani praktis nengubah total pola konsumsi dan keseharian mereka.
Hari ini, kita hidup dimana semua barang dapat dengan sangat mudah didapatkan. Misalnya, pada masa kakek nenek saya, sebuah keluarga harus memproduksi minyak keletik (minyak kelapa) untuk keperluan goreng menggoreng. Nenek nenek kita juga kebanyakan memiliki kemampuan menjahit karena pada zaman itu, sepotong baju tidak bisa dengan mudah didapatkan di department store terdekat. Di satu sisi, tentu segala kemudahan ini adalah kemajuan. Di sisi lain, kita tahu bahwa 'kemajuan' industri ini tidak melulu berdampak baik, bahkan banyak efek samping dari segala kemajuan industri masal ini.
Saya baru saja selesai menonton dokumenter The True Cost. Dan praktis dibuat mual oleh seramnya industri fashion dunia. Ini baru industri fashion, belum lagi industri industri lain yang ada di dunia ini.
Entah darimana awalnya, kini kita mafhum dengan stereotipi bahwa perempuan suka belanja. Dan saya pun mengamininya!. Saya selalu menganggap aktivitas belanja adalah rekreasi. Melihat-lihat, memilih, hingga akhirnya membeli barang-barang yang tidak terlalu kita butuhkan. Saya sangat suka membeli pouch, dan setelah dihitung-hitung saya punya lebih dari 10 pouch, buat apa coba?!.
Ketika membicarakannya pada tataran yang lebih ideologis. Kita dapat berargumen bahwa perilaku konsumerisme sesungguhnya sengaja 'diciptakan' oleh sistem ekonomi kapitalis. Kepemilikan benda dianggap berbanding lurus dengan kebahagiaan. Iklan dibuat sedemikian rupa bahwa kita memerlukan banyak benda-benda agar bisa bahagia. Musim sale dan diskon-diskon diciptakan seolah-olah kita akan mengalami kelangkaan panjang. Kita terlena dengan kemewahan-kemewahan yang ditampilkan media dan sangat ingin memilikinya.
Pada akhirnya kita merasa lelah dan kewalahan. Saya tinggal di sebuah kamar kos berukuran kurang lebih 15 meter persegi dan selalu merasa memiliki terlalu banyak barang. Sebenarnya ada solusi simpel atas masalah saya ini, yaitu: stop belanja!. Namun ternyata tidak semudah itu, perlu proses panjang untuk mengubah pola pikir saya tentang konsumerisme. Bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh benda-benda yang kita beli dan miliki. Dan bahwa ada harga yang jauh lebih mahal atas aktivitas belanja yang kita lakukan.
Kembali lagi pada Kisah 8 Dirhamnya Muhammad SAW. Sebagai seorang muslim, seharusnya saya meneladani sikap hidup Nabi saya, yaitu zuhud. Dalam berbagai riwayatnya, Rasul selalu diceritakan sebagai pribadi yang sederhana, bahkan bisa dibilang anti kemewahan. Ia menjahit bajunya sendiri dan bahkan alas tidurnya hanya dari pelepah kurma :( Ya semoga kita semua bisa berproses menjadi lebih baik :)
2017, ayo hidup 'minimal' !!!
Insipirasi:

- Film dokumenter The True Cost
https://youtu.be/zB-YRhcH5tg
- Sejarah Singkat Konsumerisme
https://youtu.be/Y-Unq3R--M0
- TEDx Bea Johnson
https://youtu.be/CSUmo-40pqA
- Instagram Bea Johnson @zerowastehone dan Laura Singer @trashisfortosser
- Blog Caroline Joy dan Cait Flanders