Thursday, April 13, 2023

Cita-cita Ibu

 Suatu hari aku pernah bertanya kepada Ibu, apa cita-citanya dulu

"Punya sumur" katanya, kemudian Ibu bercerita bagaimana dia dulu harus berjalan sekian puluh meter ke kali untuk ngangsu atau mengambil air di kali. Aktivitas mencuci pakaian pun dilakukan di kali, dan ini sangat melelahkan. Jadi memiliki sumur di rumah sendiri adalah kemewahan yang tak hingga buat Ibu di masa kecilnya. 

Bahkan tak terpikirkan pompa air dan keran yang bisa menyala setiap saat. Ibu sekarang sudah memiliki jauh melampaui apa yang ia imajinasikan berpuluh tahun lalu.

"Lalu apa lagi Bu?," tanyaku 

"Jendela kaca, dulu Ibu pernah melihat orang kaya sedang membersihkan jendela rumahnya sampai kinclong, kok sepertinya asyik sekali"

"Kok sekarang sudah punya jendela kaca, malah jarang dibersihkan?"

"Malas, hahaha"

Kemudian kami tertawa bersama. Aku coba gali lagi, tapi nampaknya mimpi-mimpi Ibu selanjutnya fokus kepada orang lain, suaminya, anak-anaknya, dan orang tuanya. Aku urung bertanya lebih jauh.

Senang rasanya mengetahui bahwa Ibu sudah bisa menggapai cita-citanya. Betapapun remeh di mataku. Sekaligus iri, andai saja cita-citaku sesederhana cita-cita Ibu.

Tuesday, August 2, 2022

Refleksi Tujuh Bulan Terakhir

Berikut adalah nasihat yang saya ambil dari berbagai sumber, saya tulis di sini untuk saya baca lagi sewaktu-waktu. Bagi pembaca silakan ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk atau tidak cocok buat Anda.


Hang in there, terus menjalani hidup seberat apapun, karena Allah akan selalu pelihara kamu (manusia) selama kamu hidup.

Keimanan manusia kepada Allah adalah karunia, biasanya hubungan dua pihak adalah mutual. Kita dekat dengan Allah karena Allah juga 'mau' dekat sama kita. Tapi jangan sombong, karena kedekatan ini suatu waktu juga bisa ditinggalkan oleh Allah 😟

Barangsiapa mengenali diri, maka ia mengenal Rabb-nya. “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,”

Maka dari itu, terus berusaha mengenali diri, tapi jangan lupa mengenali situasi, kata Sunan Kalijaga "anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli, atau Menyesuaikan mengalirnya air, tapi jangan terbawa arus"

Coba kurangi melakukan sesuatu hanya untuk validasi dari orang lain, belajar memiliki motivasi internal.

Put yourself first, yang artinya juga termasuk merawat diri, agar lebih sehat dan nyaman, sebagai bentuk rasa syukur atas jasad yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Tidak perlu terlalu banyak mempedulikan orang lain lebih dari diri kita. Di akhirat kita akan dimintai pertanggungjawaban atas diri kita, bukan orang lain. Ingat lagi tiga lingkaran kehidupan, tidak semua hal ada dalam kontrol kita. 

Ikhlas adalah berusaha sekuat tenaga dan berharap hanya kepada Allah. Jangan ngotot tentang 'hasil akhir' yang ada pada ranah kekuasaan Allah.

Mengelola emosi, jangan buru-buru memberikan label atas perasaan yang sedang dialami dan melampiaskan emosi tersebut. Pelan-pelan pergi ke balkon (keluar dari diri) untuk mengamati emosi yang dirasakan. Rasakan emosi sepenuhnya dengan kesadaran.

Memperbanyak istighfar dan dzikir ketika emosi sedang menggebu-gebu, mengatur nafas dan memperlambat waktu.

Menghargai waktu dan menggunakannya untuk hal yang bermakna. Mengurangi hawa nafsu akan benda-benda, dan lebih banyak menghabiskan uang serta waktu untuk pengalaman yang bermakna. Pengalaman akan membuat kita lebih bahagia dibanding benda-benda.

Tidak tergiur dengan instant gratification dan mengorbankannya untuk delayed gratification yang lebih bermakna.

Selesaikan apa yang telah dimulai, jangan ragu untuk meminta bantuan ketika mengalami kesulitan (ini adalah bagian dari usaha), jangan buru-buru kecewa ketika ditolak, gagal, atau merasa buntu.

Selalu berbaik sangka kepada Allah.

Terus cultivate my love for learning. Belajar, membaca, mencatat, mengorganisir ingatan, mendiskusikan, mengamalkan, dan cari kesempatan untuk mengajarkannya ke orang lain, termasuk dengan menulis.

Dunia ini adalah senda gurau, tidak salah untuk menghibur diri, orang lain, dengan tertawa.

Belajar memaafkan dengan meminta maaf.

Terus melatih diri agar bisa menyampaikan ketidaksetujuan, kekecewaan, dan lain pendapat dengan artikulatif dan asertif.




Tuesday, July 12, 2022

Tiga Lingkaran Kehidupan

Beberapa waktu lalu, saya mendapat proyek untuk membuat sejumlah modul untuk sebuah perusahaan. Salah satu modulnya adalah tentang sikap proaktif. Karena brief dari rekan saya cukup jelas, bahwa modul harus dibuat dengan bahasa yang mudah dipahami dan populer. Saya mengambil satu literatur populer yang ada di ‘top of mind’ saya. Stephen R. Covey dalam bukunya, 7 Habits of Highly Effective People (sebuah cult classic dan pionir dalam genre self help) memuat sikap proaktif sebagai habits pertama untuk diamalkan oleh manusia jika ingin ‘highly effective’. Dalam sub-bab proaktif ini, Covey mengemukakan sebuah konsep yang menurut saya sangat powerful, yaitu circle of concern.



Ilustrasi yang paling mudah dibuat oleh Mas Sabrang dalam menjelaskan 3 lingkaran di atas, circle of control adalah ketika kita mengendarai motor, jalannya motor sepenuhnya ada dalam kendali kita. Circle of influence adalah ketika kita membonceng motor, kita tidak bisa mengendalikan motor, namun kita bisa memberitahu pengemudi arah yang benar, saran rute yang lebih baik, kapan mau berhenti, dan lain sebagainya. Circle of concern terjadi kita papasan dengan motor lain, atau hanya melihatnya dari pinggir jalan, kita bisa saja khawatir motor itu jalannya oleng atau hampir menabrak sesuatu, tapi kita tentu tidak bisa melakukan banyak hal.


Mengenal framework ini cukup membantu saya dalam mengelola pikiran yang selama ini kerap dilabeli ‘overthinking’. Saya sering baper saat memikirkan hal-hal yang ‘jauh’ dari saya. Misalnya saya pernah sangat sedih hingga mengalami emotional breakdown ketika mendengar kabar seorang aktivis ditangkap oleh polisi atas protesnya pada pemerintah, atau hati saya yang selalu merasa teriris saat melihat tuna wisma di jalanan Jakarta. Kenal juga tidak, ngapain sepeduli itu? Lebay ah.


Simpati saya yang mungkin berlebihan tadi tidak selamanya buruk, hal-hal itulah yang kemudian menjadi drive saya dalam bertindak, memilih pekerjaan, dan keputusan untuk belajar lebih lanjut tentang kebijakan publik misalnya, namun saya masih sering ‘terlalu baper’ dalam perjalanannya.


Pada banyak contoh yang beredar, circle of concern diumpamakan sebagai hal yang benar-benar di luar kontrol kita. Keputusan pemerintah sering ditempatkan pada lingkaran ini, kemacetan, mahalnya biaya kesehatan, dan ekonomi yang memburuk seolah-olah hanya bisa masuk pada lingkaran kepedulian kita.


Menarik atau merelakan


Lantas apa? Kita harus ingat bahwa esensi sikap proaktif menurut Covey adalah memperbesar circle of influence kita. Apa yang dapat kita lakukan sebagai warga negara ketika melihat ‘ketidaknyamanan’ yang mengusik circle of control kita? Diam saja, atau menariknya ke circle of influence kita?. Hingga kini saya masih mencoba menavigasi dua strategi ini, memutuskan secara sadar untuk berbuat sesuatu atasnya, atau merelakan. Tapi masa sih sekadar merelakan? Sesusah itu ya bestie legowo :’)


Kemudian saya teringat salah satu hadits arbain yang cukup populer, bahkan pernah dikutip oleh Joe Biden ketika kampanye sebagai calon presiden Amerika Serikat. 


‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49]


Maka ijinkan saya meredefinisi konsep circle of concern a la Stephen Covey menjadi:


Circle of Concern : Lingkaran doa

Circle of Influence : Lingkaran dakwah

Circle of control : Lingkaran amal


maaf ya gambarnya jelek wkwk


Jika belum mampu untuk beramal atau bahkan ‘berdakwah’ atas sesuatu yang kita pedulikan, maka semoga kita senantiasa dimampukan untuk mendoakannya.


Aamiin.


Saturday, June 11, 2022

Bekal Perjalanan

Aku lagi di kosan Arin dan tiba-tiba listrik mati setelah petir besar menyambar di tengah hujan deras.

Artinya aku gak bisa menyelesaikan tugas yang sebentar lagi deadline karena sinyal HP juga jadi H doang, gak bisa buat internetan.


Kemarin waktu aku packing buat ke Jogja ini, seperti biasa aku cenderung over-packing, membawa baju-baju yang mungkin gak akan terpakai dan barang-barang lain yang kebanyakan. Sudah begitu, ada saja barang yang terasa penting buat dibawa eh malah ketinggalan.


Untungnya karena cukup sering berpergian, aku menemukan formula yang cukup praktis dalam packing, satu koper, satu ransel, dan satu tas selempang. Semuanya cukup aku bawa sendiri tanpa merasa repot.


Tentang bekal perjalanan di dunia (literally) belakangan aku juga terkesima dengan sebuah channel YouTube: thruhikers yang menceritakan sepasang suami istri yang melakukan perjalanan hiking lintas negara, dari Meksiko, Amerika Serikat, hingga Kanada! Berjalan kaki! Tentu kondisi hiking membuat thruhikers tidak bisa membawa bekal yang banyak. Sehingga mereka merencanakan bekal dengan sangat cermat. Misalnya untuk urusan logistik makanan, mereka mendehidrasi atau mengeringkan beberapa bahan makanan agar lebih awet, kemudian mengirimkan bahan makanan tersebut secara bertahap ke kantor pos di kota-kota yang akan mereka singgahi.


Sungguh sangat strategis dan cermat. 


Mengenai perbekalan ini saya juga excited mengikuti YouTube series yang dibuat oleh Ryan Trahan, kali ini ia memiliki misi mengantarkan koin satu sen ke YouTuber lain, Mr. Beast, dari California ke New York, atau bisa dibilang dari ujung ke ujung Amerika Serikat. Menariknya, Ryan Trahan juga cuma membawa bekal 1 sen, yang harus dia kembangkan berkali-kali lipat agar bisa sampai ke New York.


Di awal, Ryan mencari orang yang mau menjual sebuah pulpen dengan harga satu sen kepadanya, kemudian Ryan menjualnya dengan harga 1 dolar (100 kali lipat). Saya berpikir, transaksi pertama ini ya hanya karena orang kasihan saja. Namun kemudian Ryan sangat persisten dengan misinya, menjual permen, air minum, menawarkan jasa, hingga mengantar makanan dengan aplikasi online, walau hanya berjalan, bersepeda, hingga di hari ke sekian dia mampu menyewa mobil.


Konten yang sangat 'unik'. Oh ya, saya lupa menyebutkan bahwa Ryan juga melakukan penggalangan dana sembari ia melakukan misi ini. Sungguh mulia sekaligus menyenangkan.


Insight lain yang saya ambil, karena ia terus bergerak dari satu kota ke kota lain, Ryan juga sangat efisien dengan bawaannya. Ia membeli sepeda di satu kota untuk membuatnya bisa mengantar makanan, namun kemudian menjualnya lagi ke orang lain ketika ia meninggalkan kota tersebut.


Baik Ryan Trahan maupun truhikers memperjelas bahwa hidup ini adalah rangkaian perjalanan.


Setiap perjalanan, agar lancar harus dipersiapkan dengan baik dan dengan bekal yang cukup serta efisien.


Dan setiap perjalanan tentu harus memiliki tujuan.


Sungguh pun, air mata ini belum kering setiap menyimak tragedi meninggalnya Emmeril Kahn. Satu opini netizen yang menggelitik hati saya, amalan apa yang dimiliki Eril hingga begitu banyak orang yang mendoakannya, bahkan yang tidak pernah kenal seperti saya pun turut merasakan kehilangan yang dalam.


Kemudian @quranreview mengulas sebuah ayat Al Qur'an dan hadits yang sangat indah 


Maryam 96

96. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).

 

Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril, “Wahai JIbril, sesungguhnya aku mencintai si fulan” Kemudian Jibril pun mencintainya, lalu ia pun menyeru penduduk langit, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si fulan” Maka serempak penduduk langit pun mencintainya, lalu rasa cinta tersebut kemudian diberikan kepada penduduk bumi.

 

HR Imam Ahmad (2/514) dan HR Bukhari 6040, Muslim 2637.

 

Maka semoga kepergian Eril meneladani kita semua, bahwa waktu kita di dunia adalah mengumpulkan bekal, untuk perjalanan sejati menuju JannahNya, aamiin.


Tuesday, March 15, 2022

Midnight Library


Akhirnya saya berhasil menyelesaikan buku pertama tahun ini!, dan buku fiksi pertama juga setelah sekian lama. Setelah menyelesaikan dua buku non fiksi karya Matt Haig tahun lalu, tahun ini saya tertarik untuk membaca salah satu karya fiksinya.

Midnight Library bercerita tentang Nora Reed, perempuan berusia 35 tahun yang sangat 'lelah' dengan hidupnya, merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk ia hidup di dunia ini, hingga akhirnya (trigger warning) memutuskan untuk bunuh diri.

Setelah memutuskan mengakhiri hidupnya, Nora 'terjebak' di Midnight Library, secara ajaib punya kesempatan kedua- ketiga, dan seterusnya untuk menjajal skenario lain yang mungkin terjadi dalam hidupnya. "what if" kalau saja... kalau saja Nora serius berlatih renang, kalau saja Nora terus ngeband, kalau saja Nora menikah dengan Dan, mantan pacarnya, atau Ash- dokter bedah yang bekerja di rumah sakit tempat ibunya dirawat.

Matt Haig menggambarkan kondisi depresi yang dialami Nora dengan cukup dekat (tadinya saya mau bilang akurat, namun sepertinya dekat lebih pas). Mungkin karena Matt sendiri (dalam memoarnya Reason to Stay Alive) menjelaskan bahwa ia pernah mengalami depresi.

Saya terkesan dengan kemampuan Matt Haig menggambarkan depresi dan kesedihan di buku ini. Ndilalah, saya juga membaca buku ini setelah kucing saya Momo mati, sama seperti Nora yang kehilangan kucingnya juga. Atau ketika bahkan Mr. Banerjee tetangga Nora yang lansia sudah tidak membutuhkannya lagi.

Saya hampir kesal karena saya kira di akhir cerita, hidup versi sempurna untuk Nora adalah menjadi istri Ash sang dokter bedah dan ibu satu anak yang menggemaskan, namun ternyata itupun bukan hidup sempurna versi Nora. Skenario lain juga setelah disadari lebih lanjut adalah mimpi orang-orang lain untuk Nora. Menjadi atlet kelas dunia adalah mimpi ayahnya, menjadi rockstar adalah mimpi kakaknya, bahkan menjadi glaciologist adalah mimpi yang muncul dari interaksinya dengan Ms. ELm, pustakawati yang nantinya ia 'temui' di Midnight Library. Lalu sebenarnya, apa yang Nora inginkan? bagaimana hidup yang ideal seharusnya untuknya?

Resolusi konflik atau akhir dari cerita di buku ini cukup 'melegakan'. Bukan happy ending yang penuh dengan pelangi atau sedih yang begitu nestapa. Akhirnya, pesan dari buku ini yang bisa saya ambil adalah, walaupun hidup dengan pilihan, kita tidak bisa mencurangi takdir. Setiap pilihan yang kita ambil ada konsekuensinya, dan tidak ada pilihan yang begitu sempurna.

Berikut ilustrasi yang saya rasa cukup menggambarkan bagaimana hidup kita, setelah memaknai cerita Nora di Midnight Library




Tuesday, March 8, 2022

Yang Belum Kita Rayakan Hari Ini

 Mumpung internasional women days belum berakhir. Gue pengen refleksi apa yg gue lakukan beberapa bulan terakhir. 


Setelah bokap berpulang, gue memutuskan untuk stay di rumah. Kemudian beberapa bulan kemudian ndilalah nenek gue sakit.


Sembari semua ini terjadi, kebetulan gue baca bukunya Katrine Marçal yang berjudul "Who Cook Adam Smith Dinner?". Mungkin dari judulnya, udah ada beberapa orang yang bisa nebak, isinya bahas tentang unpaid care work dalam ekonomi, dan beyond.


Gue melihat nyokap gue yang hampir seumur hidupnya menjadi caregiver, buat alm suaminya, anak-anaknya, dan juga orang tuanya. Dalam hati, gue mikir, kayaknya gue gak akan bisa kayak gitu.


Kemudian gue menggali lebih jauh, kenapa gue bisa sampai kepada pemikiran itu. Bener apa kata Marçal, caregiving hampir gak pernah 'diperhitungkan' di dunia- literally diperhitungkan di GDP dan dalam kehidupan sosial.


Caregiving gak bisa dipamerin di CV dan LinkedIn. Ketika cerita-ceritanya mengemuka  pun, sangat potensial untuk hanya dianggap sebagai gerutuan belaka.


Di IWD, hari Kartini, atau hari-hari lain yang merayakan kehebatan perempuan. Biasanya yang ditonjolkan adalah kiprah mereka di luar rumah (wow apakah gue menjadi tradisionalis, wkwk). Bagaimana jika kemudian gue bilang kalau, peran yang dirayakan adalah peran dalam... industri?.


Itu sangat bagus dan gue tidak sedikitpun menentang. Sudah lama perempuan menerima peran caregiving as it is. Sehingga ketika tiba masa kita bisa memiliki peran-peran lain di luar itu dan sangat berhasil, tentu memang patut dirayakan.


Yang sedih adalah ketika kemudian kita mendiskreditkan peran-peran lain yang tidak dirayakan. Sedih juga ya wak ketika apa yang dianggap keren hanyalah apa yang berkontribusi pada GDP. hahaha


Kemudian akan ada sedikit slogan, jadi ibu rumah tangga JUGA keren kok. Padahal yang caregiving juga bukan cuma ibu rumah tangga.


Lalu siapakah yang take care of each other? Apakah akhirnya semua peran caregiving akhirnya akan dikomodifikasi? ngurus anak= masukin di day care, orang tua sudah jompo= masuk assisted care. Ngurus suami juga nanti akan ada suami care? Haha. Apakah solusi unpaid care work adalah dengan menjadikannya paid? Hehe


Sekali lagi tulisan ini tidak dibuat dengan intensi menyalakan pihak. Alih-alih, ini adalah refleksi bahwa ternyata perspektif kita secara kolektif (atau mungkin gue aja, tapi saya yakin bukan cuma gue aja) lol. Bahwa belum lama kita hidup di masyarakat industri, tapi self concept kita sangat terpatri dengan berbagai kerangkanya. Kerangka yang menjadi kerangkeng.


Dengan demikian, mari kita rayakan dengan mengapresiasi peran-peran yang tidak dirayakan oleh ekonomi. Yang dilakukan oleh ibu, bapak, nenek, kakek, kakak, adik, tetangga, ayang atau diri kita sendiri


Take care


Hati-hati di jalan 😌

Sunday, February 13, 2022

Hidden Gems di Jogja


haha judulnya click bait banget, inti dari tulisan ini adalah: Binar kalau ke Jogja tuh kemana aja. Barangkali bisa jadi referensi yang (agak) anti mainstream. Atau bahkan mengingatkan saya sendiri kalau lagi mati gaya di Jogja dan bingung mau ngapain.

1. Restoran: Nanamia Pizzeria

Berkenalan dengan restoran ini di tahun 2019 waktu makan di sini sama Tika. Temanya resto yang menghidangkan makanan autentik Italia. Dan beneran kerasa autentiknya!, setidaknya saya bisa membedakan rasa dan tekstur pasta yang memang dibuat handmade dan pasta yang direbus dari pasaran (kayak la fonte dan teman-temanya, haha). Pizza di sini juga beda dengan pizza hut yang roti dan pinggirannya empuk, pizza di Nanamia tipe yang garing dan krispi serta gosong gosong gitu deh. 

Menu favorit aku kalau makan di sini adalah Tortellini al Tonno dan Panna Cotta raspberry sauce sebagai dessert (duh baru beberapa hari yang lalu makan, tapi jadi kebayang enaknya)


Jadi ini daging tuna di dalam gulungan tortellini dan diselimuti saus mozzarela yang melimpah *nyam





Panna Cotta vanilla yang creamy berpadu dengan saus raspberry yang segar *ngiler


Oh iya, Nanamia ini ada di dua lokasi, di Tirto dan Mozes. Silakan dipilih yang terdekat dari tempat kamu stay. Dua-duanya sama kok kualitasnya. Lokasi yang di Tirto lebih luas dan outdoor, sedangkan yang di Mozes lebih kecil dan indoor, juga di sebelahnya resto yang di Mozes ada minimarket bahan-bahan makanan impor. Selain makan di tempat, Nanamia juga ada di GoFood kok, jadi kalo mager ya tinggal GoFood ajah.

2. Belanja: Artlinx

Seperti saya bilang di post yang ini, belakangan saya semangat journaling lagi. Walaupun gak terobsesi buat punya jurnal super estetik, belanja stationaries seperti washi tape dan stiker selalu menyenangkan, hehehe. Udah tua bukan berarti gak boleh belanja gremet gremet ga penting kan, hehehe *pembenaran.

Nah selain banyak pilihan stationaries impor di banyak marketplace, di Jogja ada nih toko stationaries dan pernak-pernik yang featuring banyak kreator lokal, namanya Artlinx dan lokasinya di Condongcatur. Sebenernya Artlinx juga punya toko online di marketplace, tapi sensasi belanja langsung tentu lebih greget ya bestie. Heheh. Lokasinya memang lumayan jauh dari pusat keramaian gitu sih, jadi kalau ke sini kayak memang cuma ke sini aja gak bisa mampir belanja atau nongkrong2 di sekitarnya (apa gue aja yang kurang gaul kali yeah). 

Harga rata-rata stiker di sini memang relatif lebih mahal dibanding item serupa yang diimpor dari China dan bertebaran di marketplace, tapi kurasi Artlinx untuk kreator-kreator lokal ini justru unik banget loh menurutku.

stationaries haul dari Artlinx


3. Oleh-oleh: Wahyu Austin 

Kalau ke Jogja, bawa pulang oleh-oleh apa? Bakpia? Gudeg? mainstream banget sih bestiee. Haha. Beberapa tahun lalu saya mengenal alternatif oleh-oleh dari Jogja kalau kalian bosen dengan jajanan dan penganan yang itu-itu aja. Namanya cake roll Wahyu Austin.

Ini mungkin item yang sesuai judul post ini sih, beneran hidden gem banget. Karena 'toko' cake roll ini ada di garasi komplek perumahan biasa dan cuma buka sebentar, terakhir saya di Jogja kemaren, toko ini sudah tutup jam 2 siang, hiks.

pilihan varian rasa cake roll *diambil dari instagram Wahyu Austin

Harga satu gulung cake yang puanjang cuma 75.000 rupiah (sangat worth it sebanding dengan kualitasnya). Dari pilihan rasa yang ada, saya pernah nyobain rasa Opera, Chesse dan Blueberry. Paling enak menurutku yang Opera, fillingnya mirip opera cake nya The Harvest, tapi pas banget sama bolu luarnya jadi gak terlalu mahteh. Kalau yang chesse juga enak, tapi ini chesse yang Indonesia banget (atau Jogja banget, hehe) karena rasanya manis :' bukan kayak cream chesse yang gurih gitu, jadi agak miss aja untuk selerakuhh. Kalau yang blueberry ini cocok buat yang suka dessert seger karena selai blueberry di dalam filling buttercreamnya asli, ada butiran blueberry beneran yang kerasa, asam ketemu manis yang pas.

Kalau beli langsung di sana, bisa pesan lewat SMS dulu (yes, not even whatsapp, kurang hidden gem apa lagi coba, wkwk). Nanti pesanan kita akan dikemas lapis styrofoam agar aman dibawa travelling. Kalau pas beruntung dan ke sana cukup pagi, biasanya kita bisa dapat sekotak snack buat sarapan gratis!, huhu baik banget kan :'. Di tokonya, juga tersedia kue kering dan roti-rotian, tapi ya stoknya harus ngecek sedang ada apa hari itu. Gak nyesel deh nyobain ini, benerannn ini aku gak dibayar (ala selebgram ngendorse). Kalau gak sempat ke tokonya, bisa pesan lewat GoShop, walau agak tricky jelasin ke abang gojeknya, tapi kemarin saya berhasil pesan lewat GoShop dan aman sentausa.

Sebetulnya ada beberapa tempat lagi di Jogja yang cukup berkesan, tapi kali ini featuring 3 dulu ya. heheheh. Mari terus berdoa agar bisnis-bisnis tetep eksis walau keadaan saat pandemi ini sulit buat kita semua yah :)