Showing posts with label self development. Show all posts
Showing posts with label self development. Show all posts

Tuesday, July 12, 2022

Tiga Lingkaran Kehidupan

Beberapa waktu lalu, saya mendapat proyek untuk membuat sejumlah modul untuk sebuah perusahaan. Salah satu modulnya adalah tentang sikap proaktif. Karena brief dari rekan saya cukup jelas, bahwa modul harus dibuat dengan bahasa yang mudah dipahami dan populer. Saya mengambil satu literatur populer yang ada di ‘top of mind’ saya. Stephen R. Covey dalam bukunya, 7 Habits of Highly Effective People (sebuah cult classic dan pionir dalam genre self help) memuat sikap proaktif sebagai habits pertama untuk diamalkan oleh manusia jika ingin ‘highly effective’. Dalam sub-bab proaktif ini, Covey mengemukakan sebuah konsep yang menurut saya sangat powerful, yaitu circle of concern.



Ilustrasi yang paling mudah dibuat oleh Mas Sabrang dalam menjelaskan 3 lingkaran di atas, circle of control adalah ketika kita mengendarai motor, jalannya motor sepenuhnya ada dalam kendali kita. Circle of influence adalah ketika kita membonceng motor, kita tidak bisa mengendalikan motor, namun kita bisa memberitahu pengemudi arah yang benar, saran rute yang lebih baik, kapan mau berhenti, dan lain sebagainya. Circle of concern terjadi kita papasan dengan motor lain, atau hanya melihatnya dari pinggir jalan, kita bisa saja khawatir motor itu jalannya oleng atau hampir menabrak sesuatu, tapi kita tentu tidak bisa melakukan banyak hal.


Mengenal framework ini cukup membantu saya dalam mengelola pikiran yang selama ini kerap dilabeli ‘overthinking’. Saya sering baper saat memikirkan hal-hal yang ‘jauh’ dari saya. Misalnya saya pernah sangat sedih hingga mengalami emotional breakdown ketika mendengar kabar seorang aktivis ditangkap oleh polisi atas protesnya pada pemerintah, atau hati saya yang selalu merasa teriris saat melihat tuna wisma di jalanan Jakarta. Kenal juga tidak, ngapain sepeduli itu? Lebay ah.


Simpati saya yang mungkin berlebihan tadi tidak selamanya buruk, hal-hal itulah yang kemudian menjadi drive saya dalam bertindak, memilih pekerjaan, dan keputusan untuk belajar lebih lanjut tentang kebijakan publik misalnya, namun saya masih sering ‘terlalu baper’ dalam perjalanannya.


Pada banyak contoh yang beredar, circle of concern diumpamakan sebagai hal yang benar-benar di luar kontrol kita. Keputusan pemerintah sering ditempatkan pada lingkaran ini, kemacetan, mahalnya biaya kesehatan, dan ekonomi yang memburuk seolah-olah hanya bisa masuk pada lingkaran kepedulian kita.


Menarik atau merelakan


Lantas apa? Kita harus ingat bahwa esensi sikap proaktif menurut Covey adalah memperbesar circle of influence kita. Apa yang dapat kita lakukan sebagai warga negara ketika melihat ‘ketidaknyamanan’ yang mengusik circle of control kita? Diam saja, atau menariknya ke circle of influence kita?. Hingga kini saya masih mencoba menavigasi dua strategi ini, memutuskan secara sadar untuk berbuat sesuatu atasnya, atau merelakan. Tapi masa sih sekadar merelakan? Sesusah itu ya bestie legowo :’)


Kemudian saya teringat salah satu hadits arbain yang cukup populer, bahkan pernah dikutip oleh Joe Biden ketika kampanye sebagai calon presiden Amerika Serikat. 


‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49]


Maka ijinkan saya meredefinisi konsep circle of concern a la Stephen Covey menjadi:


Circle of Concern : Lingkaran doa

Circle of Influence : Lingkaran dakwah

Circle of control : Lingkaran amal


maaf ya gambarnya jelek wkwk


Jika belum mampu untuk beramal atau bahkan ‘berdakwah’ atas sesuatu yang kita pedulikan, maka semoga kita senantiasa dimampukan untuk mendoakannya.


Aamiin.


Thursday, January 6, 2022

Am I There Yet?

Tadi pagi ada seorang teman saya yang di tengah-tengah chat menanyakan "lo masih grieving?". Saya bingung harus menjawab apa. Kalau yang dimaksud adalah menangis tersedu-sedu setiap malam, syukurnya sudah tidak. Tapi saya masih selalu ingat Bapak, ketika menyemprotkan parfum yang biasa beliau pakai atau terlintas hal-hal yang... wah gue pengen obrolin ini sama Bapak- tapi sudah tidak bisa.

Saya menemukan ilustrasi menarik tentang grieving, bahkan sebelum Bapak saya meninggal, saya sering melihatnya di internet:





Saya mencoba untuk meyakininya, bahwa karena saya masih melanjutkan hidup, saya terus bertumbuh, menjadi lebih besar dari grief yang ada dalam diri ini- walaupun ia akan terus menjadi bagian dalam diri saya.

Oke deh, saya mau bahas buku lain yang saya baca tahun lalu- yang sedikit banyak turut menemani perjalanan bertumbuh saya.

- Am I There Yet? by Mari Andrew




Saya udah lama pengen baca buku ini karena follow Mari Andrew di instagram, konten-kontennya selalu sederhana tapi menarik. Buku pertama Mari, dengan ilustrasinya yang khas saya kira 'hanya' membahas perjalanan tentang anak muda mencapai impian, atau semacam itu. Ketika akhirnya saya mulai membaca di kindle, saya 'kaget' ternyata Mari juga menulis buku ini setelah kehilangan ayahnya (lagi-lagi timing yang pas).

Ada part yang exactly menggambarkan bagaimana perasaan saya setelah ditinggal Bapak:

“I once heard an interview with an artist whose father died at the height of his creative success. He was really close with his dad, and spent the next few years in a tense combination of obligatory gratitude and overwhelming sadness.

When asked to describe loss, this guy said that it was like having the casino cashier gone. He compared everything that happened to him—any happiness, any difficulty, any mundanity—to a poker chip, saying his father would validate those experiences like a cashier, making them worth something. His father turned every one of the man’s moments into something meaningful just by listening to his stories.
After his father died, the man said he was sitting among piles and piles of worthless poker chips. He was dwelling in loss, running his fingers through it. ”- Mari Andrew.

Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang proses Mari Andrew menjadi dewasa baik dari topik percintaan, karir, dan pemaknaan hidup secara general. Ia menuturkannya dengan manis, lengkap dengan ilustrasinya yang membuat kita tersenyum sambil bilang "relate banget bestie"




Sunday, January 2, 2022

Buku-Buku yang Menemani Saya Grieving

Tadinya tulisan ini mau saya jadikan part 3 kelanjutan dari 2 tulisan saya kemarin. Tapi kayaknya daftar buku-buku dalam list ini lebih dari yang bisa saya muat dalam post ini, haha. Jadi saya putuskan part ini adalah bagian tersendiri, yang mungkin nanti ada part 2 nya juga. Haha lieur.

Kuliah psikologi membuat saya mengenal istilah grieving, ini berbeda dengan mourning atau berduka, ya memang kadang-kadang saya merasa Bahasa Indonesia masih kekurangan kosakata. Kalau baca dari sini sih, mourning adalah ekspresi dari grief. Jadi grief tuh gak selalu 'kasat mata' seperti menangis atau marah.  Emosi manusia memang kompleks, tidak terkecuali grieving. Di sini saya gak akan bahas 5 tahap-nya Kubler-Ross yang terkenal itu, hehe. Karena percayalah saya juga gak tahu saya sedang ada di tahap mana.

Saya bersyukur punya support system yang baik selepas Bapak saya berpulang. Keluarga inti, teman-teman, kolega, semuanya mendukung saya dengan berbagai cara. Namun ada kalanya saya sendiri, berkontemplasi dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Beberapa cara saya lakukan agar tenggelam dalam perasaan sedih yang berlebih, salah satunya baca buku. Saya juga berada di lingkungan yang gemar membaca buku, tapi ada yang 'lucu', saya sering merasa orang-orang di sekitar saya meng-underestimate buku-buku yang berlabel self help. Mungkin karena sebagian besar teman saya juga memiliki latar belakang psikologi, sehingga menganggap buku semacam ini adalah pseudoscience dan terlalu pop. Duh apakah teman-teman saya terlalu fafifu wasweswos 😂

Namun, semakin dewasa saya semakin berani untuk 'bodo amat' dengan standar orang-orang. Toh, ini hidup saya, jika saya menikmati dan merasa terbantu dengan buku-buku 'receh' ini, gapapa dong, you do you, hidup aing kumaha aing, Lol

So, let's unapologetically reading self help books

Berikut buku-buku yang saya baca tahun 2021 dan saya suka kontennya, serta sedikit banyak membantu proses saya grieving.

- How to Stay Sane by Phillipa Perry




Hari itu Mama menelepon dan mengabari Bapak masuk rumah sakit tiba-tiba. Saya dan kedua kakak saya pun sepakat pulang ke rumah. Karena buru-buru, saya packing seadanya. Tahu perjalanan ke rumah dengan kereta api akan lumayan lama, saya sekenanya mengambil buku yang baru saya beli dengan niat menemani perjalanan saya pulang.

Ternyata saya menamatkan buku ini selama perjalanan itu, sudah lama saya tidak membaca satu buku sekali duduk. Seperti layaknya terbitan The School of Life yang lain, buku ini sangat 'ringan' untuk dibaca dengan bahasa yang mudah dipahami. Phillipa Perry- yang juga seorang psikoterapis menulis buku ini dengan praktikal, ada beberapa 'latihan' yang bisa kita coba untuk menjadi tetap waras- sebagaimana judulnya.

Ada empat bab dalam buku ini, salah satunya adalah Stress, lah gimana, mau waras kok malah disuruh stres.

"no stress at all means that the brain does not get any exercise. A brain is not unlike a muscle, in that the cliche 'use it or lose it' applies." -Phillipa Perry

Game apapun menjadi seru karena memiliki tingkat kesulitan tertentu, begitu pula hidup- akan makin exciting dengan kesulitan tantangannya, dan semoga kita terus semangat naik level. Dunia seperti tahu, saya menamatkan buku ini tepat 5 hari sebelum Bapak berpulang, seolah seperti menyiapkan saya menjalani 'level' baru.

- What I Know For Sure by Oprah Winfrey




Saya menghadiahi diri sendiri kindle ketika berulang tahun, karena sudah lama ngidam dan akhirnya tahun lalu ada budgetnya, salah satu benda duniawi yang saya kira dapat menjadi penawar kesedihan. Namun ternyata ada 'tugas' yang pasti harus saya selesaikan setelah beli kindle: beneran dipake buat baca buku 😂. Buku ini adalah buku pertama yang saya tamatkan di kindle.

Semua orang kayaknya tahu siapa Oprah Winfrey, beberapa mungkin tahu juga dia punya masa lalu yang kelam. Tidak mudah menjadi perempuan kulit hitam di ranah televisi AS saat itu. Buku ini memuat- seperti judulnya, hal-hal yang Oprah yakini selama ia hidup. Kalau lihat reviewnya di goodreads, ada yang kritik semacam "ya iya lah ngomong mah gampang, elu populer dan kaya raya". Mungkin ada benarnya, tapi saya sangat salut dengan approach Oprah di buku ini, alih-alih 'menyuruh' pembaca sukses sepertinya, dengan cara dia, Oprah seperti mempuk-puk punggung kita seraya bilang "gak papa kok kalau hidup kamu sekarang sulit".

Dari delapan bab yang ada, saya paling suka bab Resilience. Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Seperti saya, mungkin Anda juga perlu membaca kutipan Oprah di bab ini:

“I have always prided myself on my independence, my integrity, my support of others. But there’s a thin line between pride and ego. And I’ve learned that sometimes you have to step out of your ego to recognize the truth. So when life gets difficult, I’ve found that the best thing to do is ask myself a simple question: What is this here to teach me?” -Oprah Winfrey





Wednesday, July 22, 2020

Suka Duka Jualan

Karena diri ini masih menyandang status pengangguran terselubung. Satu bulan lalu tercetuslah ide untuk jualan keripik pisang buatan Mbah Uti (kemudian kita sebut sriping ya). Mbah Uti tuh emang kalau masak apa aja enak, dulu beliau juga membesarkan anak-anaknya dengan jualan jajanan, keren banget lah pokoknya.


Nah akhirnya ngide jualan ini karena memang Mbah Uti suka nyetok buat camilan di rumah gitu. Berkat keisengan mengemas sriping ini ke plastik dan memfotonya, aku mulai tawarin lah ke twitter, ke instagram dan tentunya whatsapp.


Apa rasanya ketika mulai jualan?


Jujur, malu 


Hahaha


Padahal jualan tuh halal ya, dan ditolak itu wajar. Nah sekarang juga ‘ditolak’ nya paling dikacangin di whatsapp atau cuma dibalas makasih. Bayangkan beberapa puluh tahun lalu mungkin gue harus mengetuk pintu satu per satu untuk jualan keripik ini. Terus kepanasan dan kehujanan. Hwah drama!


Silver linings dari jualan ini mungkin gue jadi ‘mudah bersyukur’. Setiap ada orderan, hati gue seperti meletup-letup merayakannya. Huahaha. Se happy itu pas ada senior yang order 6 bungkus, senior gue ini orang respected nan terkenal yg sering muncul di tipi karena jabatannya (eyak, biarkan netizen menerka2). Kok ya dia ngewaro dagangan gue di grup whatsapp dan beli, huhu, dan akhirnya repeat order juga, double huhu.


Beberapa orang juga gue yakin beli karena ‘enggak enak’ karena tahu gue sekarang pengangguran. Tapi toh gue ga minta sumbangan atau apa, hehe. They buy my products and they like it. And that’s made me happy :”


Tentunya gue juga seneng kalau ada yang mengkritik dagangan gue, potongannya kurang tipis atau bumbunya kurang rata. Wkwk. Review ‘jujur’ ini membuat tim produksi (woelah, maksudnya orang-orang di rumah yang ngegoreng ini keripik) senantiasa menjaga kualitas keripik inih. Hahaha


Gue juga jadi apa ya, berlatih membangun hubungan bisnis yang sehat dengan mama. Semua dagangan gue catat rapi di google sheets. Kami menyepakati margin buat gue berapa, dan bagi hasil buat mama gue transfer setiap pekan. Lumayan banget since gue belum bisa support seperti dulu pas gue masih kerja kantoran (background musik tali kasih) (apasih).


Mungkin dengan belajar jualan ini juga gue belajar melawan ketakutan-ketakutan gue. Kayak tadi gue bilang, biasanya gue udah overthink duluan sebelum nawarin dagangan ke orang. Gue udah asumsi duluan respon mereka bakal “aduh kasihan banget Binar nganggur sampe segitunya jualan-jualan” wakaka drama banget kan emang otak gue.


Okedah segitu aja intro nya lu pada beli dagangan gue dong (anjir copywriting macam apa inih)


Beli di https://www.tokopedia.com/sripingmbahuti atau langsung WA gue yak yg tau nomer WA gue


Hahaha salam cuan barokah


Friday, December 20, 2019

Mengenal Diri Sendiri, Sekali Lagi

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya memutuskan bergabung dengan KLIP, kepanjangannya adalah Kelas Literasi Ibu Profesional. Jadi triggered ya ada term 'Ibu'. Walaupun mayoritas membernya memang mereka yang sudah punya anak, yang belum kayak saya juga ada kok (bukan saya doang gituuh). KLIP ini kalau gak salah adalah sub-kegiatan Institut Ibu Profesional-nya Ibu Septi Peni.

Lalu, kenapa saya memutuskan untuk gabung dengan KLIP ini. Awalnya terinspirasi dari Kak Dea Adhicita. Kak Dea adalah mentor liqo saya yang paling uwu (apa pula uwu itu yak?). Saya perhatikan Kak Dea setiap hari menulis di laman facebook atau blognya. Setelah ditelisik, ternyata Kak Dea mengikuti KLIP ini, jadi jebe lah saya.

KLIP ini mengharuskan membernya (kalau bisa) untuk setor satu tulisan setiap harinya. Hal ini menantang saya untuk menjadi 'produktif'. Bahwa cukup menyenangkan merayakan keberhasilan kecil setiap hari, misalnya setor tulisan ke KLIP. Haha. Lalu apakah saya berhasil? tentu tidak, Hahaha. Tapi saya tidak sedang bersaing dengan siapapun, saya sedang bersaing dengan diri saya sendiri di masa lampau. Jadi target saya tahun ini memang: menulis sebisanya, agar semua bisa terdokumentasikan dan tidak menguap begitu saja. Saya cukup bangga sama diri sendiri. Di blog ini, misalnya, tahun ini saya menulis lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya (wow *tepuk tangan sendiri*).



Tema tulisan saya di blog ini memang cukup random, kalau ada panutan yang saya ikuti dalam nge-blog yaitu adalah Pandji, iya Pandji timsesnya Anies Baswedan itu, haha. Walau tahun ini bahkan Pandji udah gak ngeblog lagi, kalau gak salah, dia pernah nulis-atau bilang- bahwa blognya adalah rekaman pikirannya sejak bertahun-tahun lalu, secupu apapun itu. Nah saya ingin memperlakukan blog saya demikian. Ini karena pikiran saya sering sekali berisik dengan banyak hal, dan gak setiap saat ada orang yang available untuk diajak ngobrol. Maka, blog ini adalah 'tantangan' bagi saya apakah saya bisa cukup mengartikulasikan keberisikan dalam otak saya.

Dengan demikian perjalanan menulis tahun ini ya sangatlah egois, untuk mengenal diri sendiri. Hehe. Maka dari itu seharusnya saya biasa aja dengan traffic blog ini yang 'menyedihkan'. Loh kenapa harus sedih? kan memang menulis untuk diri sendiri.

Selain di blog, tulisan yang saya setor ke KLIP juga ada pada instagram, bahkan google documents!. Instagram jadi dopamin banget sih kalau pengen immediate feedback dari followers. Biasanya kalau di instagram memang nulis sesuatu yang pendek, ringan, dan cukup 'aman' untuk dishare ke publik. Artinya saya gak perlu terlalu malu atau cemas dengan persepsi orang saat membaca tulisan saya. Blog ini resikonya intermediate (udah kayak produk investasi aja ada profil resikonya, wkwk). Kadang saya nulis sesuatu yang pengen saya share, tapi gak terlalu pengen dikomentarin. Aneh dah emang aing. Dan saya bahagia banget sih KLIP mengakomodir Google Docs, selama ini Gdocs cuma saya pakai untuk hal-hal terkait pembelajaran dan pekerjaan, tapi asyik juga ya nulis di gdocs, isi otak tertumpahkan namun tidak perlu membanjiri rumah orang lain, asik. Tulisan-tulisan di gdocs murni untuk konsumsi saya sendiri atau terbatas pada member KLIP saja.

Lalu bagaimana tahun depan?

Saya masih akan ikut KLIP, semoga saya makin konsisten merekam buah pikiran saya dalam tulisan-tulisan. Mulai berani beranjak dari zona nyaman, mungkin. Mencoba peruntungan lebih berani menulis di media?.

Saya excited menyambut diri saya sendiri di tahun depan. Satu bab yang pasti akan dibuka: paruh kedua tahun ini saya akan mulai S2 (wuhuu), insya Allah. Semoga saya juga bisa merekam ilmu-ilmu yang saya dapat di bangku kuliah dalam tulisan yang berkualitas, wuhu ambi ya kak.

Bagaimana dengan kuantitas? KLIP me-reward para membernya tiap bulan dengan badge outstanding (30 tulisan), excellent (20 tulisan) dan good (10 tulisan). Saya selalu dapet badge good, karena paling saya cuma menulis 10 tulisan. But, I'm good enough with good. Semoga setiap bulan saya dapet badge minimal good.

Salah satu achievement lain buat saya tahun ini adalah saya berhasil menulis dua cerpen Alexandria dan Abesien. "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara" seperti kata Seno Gumira Ajidarma. Walaupun bukan jurnalis, saya kepingin menjajal kemampuan sastrawi saya, hihihi. Semoga tahun depan sempat melanjutkan perjalanan saya meramu tulisan fiksi.

Menulis adalah skill, maka dari itu saya juga ingin memoles keahlian saya ini dengan belajar berbagai teknik kepada orang lain. Semoga ada kesempatan, dan uang. Haha

Terakhir, tahun depan saya ingin ngobrol dengan lebih banyak orang. Terinspirasi dari 30 Days of Lunch nya Ruby dan Ario. Tapi saya masih belum tahu bagaimana nanti akan mengintisarikan pertemuan-pertemuan itu. Semoga bisa dalam bentuk tulisan.

Wabillahi taufiq wal hidayah

"Segalanya menjadi mudah dengan mudah-mudahan" -Joko Pinurbo

Tuesday, September 10, 2019

"Saya Nggak Bisa Bahasa Inggris"

Di sebuah grup whatsapp, seseorang meminta informasi lowongan pekerjaan. Karena kantor saya kebetulan sedang membuka banyak lowongan, saya teruskan informasi tersebut.

Lalu ia berkomentar "ada lowongan buat posisi X gak mba? lokasi kantornya dimana?", saya jawab pendek "bisa dibaca pada link yang saya kasih mba😊". Dia menjawab lagi "saya nggak bisa Bahasa Inggris mba, gak ngerti".

Jawaban seperti itu sering saya terima, dari orang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. Ketika saya membagikan artikel atau berita dalam Bahasa Inggris. Keluhan yang datang pun sama.

Saya sadar kesempatan untuk belajar dan menguasai bahasa kedua adalah privilege. Tapi bukan lantas hal ini membuat kita tak acuh dan malas belajar bahasa asing. Tidak sedikit juga yang 'bersembunyi' di balik alasan nasionalisme, padahal pemerintah pun berulang kali menyuarakan: "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing".

Menguasai Bahasa Inggris sendiri sangat mendasar dan penting dalam konteks karir. Bayangkan berapa buku yang belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia yang bisa Anda baca dan berapa orang yang bisa Anda ajak ngobrol jika Anda menguasai bahasa yang sama.

Semoga kita semua semangat mengembangkan kompetensi diri, terutama keahlian bahasa.

Sukses selalu