Showing posts with label money. Show all posts
Showing posts with label money. Show all posts

Monday, August 9, 2021

Bag Lady Syndrome

Duh, ini draft ngendon lama banget, haha

Jadi selama ini gue memiliki ketakutan yang agak tidak rasional, yaitu bahwa suatu hari gue akan kehilangan semua resources yang gue miliki (bukan cuma harta benda tapi support sosial dari teman-teman dan keluarga).

Sebenernya ketakutan tersebut terpatahkan ketika gue di-PHK tahun lalu (tadinya mau cerita soal ini di blog tapi keburu lelah, wkwk). Saat itu banyak banget teman yang baik yang menolong gue hingga akhirnya sedikit demi sedikit ketakutan gue menipis.

However, ternyata ketakutan gue tadi ada namanya: Bag Lady Syndrome

Pertama menemukan term ini di youtube nya Prepper Princess. I love her channel, kalau biasanya youtuber sangat giat memamerkan harta benda, Prepper Princess justru ngajak kita buat ngirit dan hacks lain agar hidup sederhana.


Kalo kata ForbesBag Lady Syndrome,” first coined in the 1970s, is the term given to describe the feeling some middle-aged women have that they’ll wind up homeless and carrying around their possessions in shopping bags.

Ternyata ketakutan ini kolektif. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah 1. penghasilan perempuan lebih sedikit 2. angka harapan hidup perempuan lebih lama.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Combat those fear with actions.

Untuk segi finansial tentunya... menabung, investasi, you name it!

Wah sebenernya blogpost ini bisa banget kalo disponsori produk keuangan ya (sayangnya enggak) LOL.

Saat ini tabungan/investasi gue ada 3 tempat:

1. Tabungan cash di rekening

2. Reksadana: cukup mudah untuk diambil, tapi sebaiknya tidak usah, dan ada return-nya

3. Saham USD: yang gak akan gue ambil sampe usia pensiun nanti, haha


Then invest in your relations with other: ini kayaknya lebih susah daripada investasi uang. Katanya, in friendship, take as much as you give. Tapi kan pertemanan bukan cuma tentang transaksional.

1. check on your friends, tanya apa kabar? dll

2. know their love language, suruh ikut tesnya kalo perlu (ini kalo temennya otoriter kayak gue, haha) and manifest it, kalau mereka suka dikirimi hadiah, then do that, kalau sukanya diajak ngobrol, then spare your time.

3. set your boundaries, just like you had to spend your money wisely, same principles goes with your time and energy. Let's be brutally honest, not everyone worth your time and energy. Set boundaries while you can


hmm apa lagi yahh kira2 kiat2 mengurangi Bag Lady Syndrome?




Wednesday, July 22, 2020

Suka Duka Jualan

Karena diri ini masih menyandang status pengangguran terselubung. Satu bulan lalu tercetuslah ide untuk jualan keripik pisang buatan Mbah Uti (kemudian kita sebut sriping ya). Mbah Uti tuh emang kalau masak apa aja enak, dulu beliau juga membesarkan anak-anaknya dengan jualan jajanan, keren banget lah pokoknya.


Nah akhirnya ngide jualan ini karena memang Mbah Uti suka nyetok buat camilan di rumah gitu. Berkat keisengan mengemas sriping ini ke plastik dan memfotonya, aku mulai tawarin lah ke twitter, ke instagram dan tentunya whatsapp.


Apa rasanya ketika mulai jualan?


Jujur, malu 


Hahaha


Padahal jualan tuh halal ya, dan ditolak itu wajar. Nah sekarang juga ‘ditolak’ nya paling dikacangin di whatsapp atau cuma dibalas makasih. Bayangkan beberapa puluh tahun lalu mungkin gue harus mengetuk pintu satu per satu untuk jualan keripik ini. Terus kepanasan dan kehujanan. Hwah drama!


Silver linings dari jualan ini mungkin gue jadi ‘mudah bersyukur’. Setiap ada orderan, hati gue seperti meletup-letup merayakannya. Huahaha. Se happy itu pas ada senior yang order 6 bungkus, senior gue ini orang respected nan terkenal yg sering muncul di tipi karena jabatannya (eyak, biarkan netizen menerka2). Kok ya dia ngewaro dagangan gue di grup whatsapp dan beli, huhu, dan akhirnya repeat order juga, double huhu.


Beberapa orang juga gue yakin beli karena ‘enggak enak’ karena tahu gue sekarang pengangguran. Tapi toh gue ga minta sumbangan atau apa, hehe. They buy my products and they like it. And that’s made me happy :”


Tentunya gue juga seneng kalau ada yang mengkritik dagangan gue, potongannya kurang tipis atau bumbunya kurang rata. Wkwk. Review ‘jujur’ ini membuat tim produksi (woelah, maksudnya orang-orang di rumah yang ngegoreng ini keripik) senantiasa menjaga kualitas keripik inih. Hahaha


Gue juga jadi apa ya, berlatih membangun hubungan bisnis yang sehat dengan mama. Semua dagangan gue catat rapi di google sheets. Kami menyepakati margin buat gue berapa, dan bagi hasil buat mama gue transfer setiap pekan. Lumayan banget since gue belum bisa support seperti dulu pas gue masih kerja kantoran (background musik tali kasih) (apasih).


Mungkin dengan belajar jualan ini juga gue belajar melawan ketakutan-ketakutan gue. Kayak tadi gue bilang, biasanya gue udah overthink duluan sebelum nawarin dagangan ke orang. Gue udah asumsi duluan respon mereka bakal “aduh kasihan banget Binar nganggur sampe segitunya jualan-jualan” wakaka drama banget kan emang otak gue.


Okedah segitu aja intro nya lu pada beli dagangan gue dong (anjir copywriting macam apa inih)


Beli di https://www.tokopedia.com/sripingmbahuti atau langsung WA gue yak yg tau nomer WA gue


Hahaha salam cuan barokah


Sunday, February 23, 2020

Money Can Buy Happiness

Iya gak salah tulis

Kemarin aku dengerin podcast favorit 30 days of lunch. Edisi kali ini bintang tamunya Prita Ghozie, salah satu financial planner terkenal. Di akhir sesi, Mbak Prita membahas riset terbaru dari Harvard Business Review, premisnya sama seperti judul: uang bisa membeli kebahagian! Hah? Gimana caranya?

1. Uang membuat kita bisa membeli 'waktu'

Mbak Prita mencontohkan, dia gak suka grocery shopping, karena punya uang, dia bisa nyuruh orang lain untuk melakukannya. Demikian juga dengan tutor anak. Biar gak marah-marah sama anaknya, yaudah belajar sama tutor aja, meminmalisir konflik. Hehe

tapi tentu kita harus tahu mana 'waktu' yang mau kita 'beli'. Supaya bahagianya optimal cenah.

2. Uang membuat kita bisa berbagi

Bener banget. Anekdotnya, gak ada orang jatuh miskin karena suka zakat. Hehehe

Kalau ini sih saya mengamini banget. Berbagi, sekecil apapun, membuat kita bahagia banget.

Walau kadang, kalau kasus saya sih, jadi overthink, Haha

So, mau beli kebahagiaan yang mana?


Tuesday, June 4, 2019

Jangan Jadi Orang Culamit

Culamit: suka minta/meminta
Kalimat :
Jadi orang kagak boleh culamit, nanti nggak punya temen.
(Jadi orang tidak boleh suka meminta, nanti tidak punya teman.)
sumber: http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id/post/culamit

Mendekati Idul Fitri, saya selalu teringat pesan Mama saya, untuk anti minta-minta sangu (angpau, uang saku) ke kerabat. Walaupun sudah jadi tradisi, kalau dikasih ya diterima tapi kalau tidak ya tidak usah meminta.

Jangan jadi orang culamit.

Tumbuh besar, saya juga jadi sebal ke orang yang punya kebiasaan meminta-minta ini. Meski kadang terasa sepele seperti minta oleh-oleh ketika teman pergi liburan atau minta ditraktir.

Have some dignity, guys. Ketika kita mungkin niatnya bercanda tapi kalau dibiasakan jadi bikin ketergantungan sama orang lain lho. Mentalitas yang harus dihilangkan agar kita bisa selalu mandiri.
Permintaan kita ke orang lain bukan tidak mungkin membuat dia kepikiran dan bahkan kerepotan, walaupun lagi-lagi mungkin niat kita bercanda.

Lagian, sebagai Muslim, meminta-minta ini termasuk perbuatan tercela lho

Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i, dan selainnya).

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/8813-penjelasan-mengenai-larangan-meminta-minta.html

Yuk jangan jadi orang culamit!

Sunday, January 13, 2019

What is There Beyond Money?

Beberapa hari belakangan saya punya kuota gratisan untuk nonton youtube, jadilah saya berjam-jam mantengin dari satu video ke video lain. Hingga saya stumbled upon satu video ini, penny pinchers alias orang-orang yang super ngirit demi bisa pensiun dini. Kesan pertama yang gue pikirin adalah: "harus banget ya hidup kayak gitu?"

ini video yang gue maksud

Kemudian suggested video di youtube mengarahkan gue untuk menonton berbagai topik serupa mulai tentang homeless, biaya hidup di berbagai kota, frugal lifestyle hingga perencanaan pensiun. Semua konten itu membuat gue makin cemas tentang finansial. Hahaha.

Langkah pertama yang gue lakukan setelah kecemasan tadi adalah: membuat budget bulanan sedetil-detilnya, biasanya gue membuat budget tapi cuma estimasi kasar aja jadi sering miss dan bocor sana sini. jadi untuk budget versi terbaru ini gue bahkan menghitung pos untuk laundry dan beli kuota. haha, semoga gue disiplin yaa kali ini *fingercrossed*

Langkah kedua adalah STOP BELI LIPSTIK !!!. Bulan Desember kemaren gue berhasil gak beli lipstik sama sekali (tapi beli skincare dan baju dan jilbab, dodol emang). Intinya dengan budget tadi gue berusaha untuk mengurangi konsumerisme. Stok skincare, make up dan personal care kayak sabun dan shampoo yang gue punya saat ini kayaknya cukup buat 6 bulan hingga setahun ke depan. Astaghfirullah 333 kali

Langkah ketiga adalah mulai memikirkan beli rumah?. Kedengerannya halu banget ya, tapi justru ini lebih realistis daripada pikiran kekanak-kanakan gue bahwa suatu hari nanti gue bakal tinggal di rumah yang dibeliin suami gue atau menunggu warisan dari bokap cair, wkwkwk. Intinya abis nonton video tentang homelessness gue bahkan takut nanti pas tua gue bakal jadi homeless kalo gak nyicil rumah dari sekarang. Jk


salah satu video tentang homeless


Ohiya GUE JUGA UNINSTALL INSTAGRAM, hahaha. Karena setelah dipikir-pikir instagram adalah penyebab perilaku konsumtif gue secara langsung maupun tidak langsung. secara langsung tentunya karena ngabisin banyak banget kuota, secara tidak langsung adalah racun bertebaran dari mba2 influencer yang senantiasa menguras rekening sayah.

Kemudian setelah kecemasan tadi lewat gue berkontemplasi, kenapa ya manusia bisa sebegitu cemasnya soal uang, padahal uang hanyalah alat tukar bikinan manusia, kenapa selembar kertas atau angka dalam rekening kita sukses menjadi salah satu standar baku untuk mimpi dan tujuan sekian banyak manusia? wedeh, night time philosopher right here.

Mungkin judul dari post ini adalah pertanyaan yang akan gue ajukan kepada diri sendiri dan siapapun yang kebetulan baca tulisan ini.

And then yesterday I stumbled upon this verse
  1. قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَqul ing kāna ābā`ukum wa abnā`ukum wa ikhwānukum wa azwājukum wa 'asyīratukum wa amwāluniqtaraftumụhā wa tijāratun takhsyauna kasādahā wa masākinu tarḍaunahā aḥabba ilaikum minallāhi wa rasụlihī wa jihādin fī sabīlihī fa tarabbaṣụ ḥattā ya`tiyallāhu bi`amrih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīnKatakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah 24)
  2. Xoxo

Monday, November 26, 2018

Beli Apa? (1)

Berbekal sebuah keisengan saya berniat menanyai beberapa orang pertanyaan yang sama

Jika kamu punya uang banyaaak bangeeet, kamu mau beli apa?

1. "Mau beli rumah sakit,"

"Gak bikin aja?"

"Beli kayaknya lebih gampang, rumah sakit yang udah bangkrut gitu gue beli"

"Hmm, oke, apa lagi?"

"perpustakaan, beli server"

"woow, server! segede Sency ini ya?"

"kayaknya Google punya lebih gede"

Hmm yaa oke, oke

(A, 25)

2. "Hmmmm, beli apa aja yang gue mau"

"Ya, apa?"

diam, tidak menjawab, kembali bekerja

"emang sebanyak apa?"

"ya pokoknya banyak banget, cuma lo yang bisa bayangin"

"hmmm, surga bisa dibeli gak?"

(N, 29)

Tuesday, August 14, 2018

Skincare dan FOMO

Sore itu saya baru selesai menghadiri acara di Kebayoran. Karena males pulang ke kosan, saya memutuskan cari makanan di Gandaria City. Belum lapar, saya muter2 mall untuk window shopping. Kebetulan saya menemukan ternyata toko Nature Republic sudah buka di Gancit, saya mau masuk ke toko tapi dicegah oleh mbak SPG, ternyata saya harus antri dan ada sekitar 20 orang mengular di antrian yang areanya terpisah dari toko. Huah males banget, saya pun akhirnya mengurungkan niat sekadar liat-liat ke konter brand kosmetika asal Korea Selatan itu.

Skincare memang belakang menjadi hal yang saya hobi-i (is that even a word?). Pada dasarnya saya yakin semua orang butuh hobi. Ndilalah saya suka dengan hal berbau kecantikan dari saya remaja (tapi kok saya ndak cantik2? ya tuhan). Kenapa? ya karena enjoy aja dan saya merasa self esteem saya meningkat setelah merawat diri. Saya menyukai prosesnya, tidak melulu hasilnya.

Ngomong-ngomong soal self esteem. Hal itu gak muncul begitu saja dalam diri setiap orang, begitu pula pada saya. Kalau standar kecantikan ala industri saat ini bisa terukur misal 1 skor untuk kulit seputih Chelsea Islan, 1 poin lagi untuk rambut seindah Raissa, pastilah saya masuk tergolong pada kategori Tidak Cantik. But then, I decided to not buy those criteria. Akhirnya, kampanye industri kecantikan juga bergeser ke menghargai keberagaman.

Misalnya iklan Dove ini:



Atau iklan Fenty Beauty nya Rihanna yang ini


Terus, kalau jaman dulu iklan produk kecantikan banyaaak yang fokus dengan narasi 'cantik biar dapet cowok' things. kayak gini,


Sekarang mulai bergeser ke narasi kepercayaan diri, positive vibes dan lain-lain. But then ads is no longer a things.

Muncullah beauty blog, dimana orang-orang 'biasa' share tentang pengalamannya di internet. And then, muncul berbagai platform. Youtube, kemudian instagram. Dan disinilah saya mulai sering merasa FOMO (fear of missing out).

Mungkin sejak SMP saya suka follow beberapa blogger, selain fashion blogger ternyata ada juga spesies bernama beauty blogger. Karena ternyata saya lebih into ke skincare dan make up, jadilah saya lebih seneng mengikuti para byutiblojer ini hingga kini feeds instagram saya pun penuh dengan mbak2 yang 'mencoba' lipstik, pensil alis, masker, toner, serum berbagai merek. Makinlah FOMO menjadi-jadi.

Sebetulnya ada satu resep yang cukup ampuh menyembuhkan penyakit FOMO ini. Sadari bahwa influencer, memang bekerja untuk itu, mereka memakai dan mencoba kosmetik untuk dibayar. Memang tidak semuanya, tapi yakinlah ini komponen penting yang menyuburkan industri kecantikan, dan juga kita sebagai konsumen.

Jadi gimana?

Kalau saya balik ke niat bahwa skincare (dan make up) adalah bentuk self care, bentuk saya mencintai diri saya sendiri. Seperti, "here my skin, have a good things". No, you do not have to understand that. Karena mungkin kalian punya cara lain untuk mencintai diri kalian.

Itu saran idealisnya, kalau saran pragmatis ya: Tetapkan budget!. Realistis lah, kalau gaji kalian cuma 5 juta, masa mau beli serum La Prairie yang harganya tiga kali lipat gaji bulanan? sampe dibela-belain abisin limit credit card? Ooops. Misalnya kalian punya budget 500.000 per bulan untuk beli skincare dan pengen beli yang harganya lebih mahal dari itu, ya nabunglah sampe bulan depan, You won't die kok.

Dan wabilkhusus untuk skincare, it's much scientific that you think. Menjadi skincare geek yang belajar tentang berbagai kandungan dan zat aktif membuat saya lebih bijaksana dalam memilih dan menghabiskan uang untuk hal ini. Mempelajari step yang benar untuk menggunakan skincare juga lebih penting dibanding jor-joran menghabiskan uang untuk membelinya.

So,

Love yourself first and always

Xoxo

Tuesday, July 31, 2018

Latihan Jadi Orang Kaya

disclaimer: ini adalah tulisan orang awam, kalau ada yang keliru, mohon dibetulkan supaya saya tidak tersesat.

Waktu itu saya lagi jalan-jalan di Plaza Senayan bareng Hanap. Pas lewat TWG, saya nyeletuk, "Nap makan takjil di situ yuk, hahaha". "Iya biar kayak Nindy Harsono" kata Hanap.
Pas bulan puasa, kami betulan janjian buka bersama di kedai teh ala ala sosialita itu. Menunya ternyata gak mahal-mahal amat. Walau ya jelas lebih mahal daripada teh pucuk harum andalanque. Setelah itu pun saya puas "Oh gini toh rasanya jadi orang kaya".

Emang bener kata Robert T. Kiyosaki. "poor people buy luxury first while rich people buy luxury last". Yang saya lakukan ketika kebelet ngeteh di TWG adalah merasakan menjadi orang kaya as I seen it.
Begitu pula dengan mayoritas kita yang beli mobil, baju, perhiasan, bahkan travelling supaya *kelihatan kayak orang kaya*.
Gak ada yang salah memang, tapi kita telah meniru orang kaya dengan cara yang salah. Bukan tentang cara mereka menjadi kaya tapi hanya meniru 'kulit' mereka saja.

Kemarin saya baca Rich Dad Poor Dad (RDPD) , buku ini lumayan bikin kesel karena terang-terang an menjadi manual book menjadi orang kaya di era kapitalisme. Tapi, ada beberapa pencerahan yang saya rangkum dari buku ini.

Asset vs Liabilities
Salah satu pelajaran paling ngena dari Buku RDPD adalah pengetahuan tentang asset dan liabilities. Apa bedanya? pemahaman paling simpelnya adalah: aset menghasilkan uang, sedangkan liabilities, dari terjemahannya saja sudah kelihatan: kewajiban, yaitu menghabiskan uang kita.

Misal kita punya rumah, apakah itu termasuk asset atau liabilities?. Tergantung! kalau rumah itu kita sewakan dan menghasilkan uang ke kantong kita, maka rumah itu adalah asset, kalau rumah itu kita tinggali dan setiap harinya membuat kita wajib merawatnya dan kita mengeluarkan uang, maka rumah itu liabilities.

Saya tahu pernyataan tadi bikin kzl sebagian besar orang, terutama yang masih nyicil KPR hingga puluhan tahun yang akan datang. Hihi. Tapi kalau sudah bisa bedain, nasihat Kiyosaki: kumpulkan asset, bukan liabilities.

Kiyosaki memang seorang investor real estate, dan di RDPD dia banyak menceritakan tentang detil bisnisnya itu. Yang mana saya masih perlu banyak belajar. Tapi saya jadi merefleksikan 'perjalanan' investasi saya selama ini.

Kenapa investasi? simpel, karena saya GAK BISA NABUNG. Kalau nabung sedikit pasti gatel untuk ambil dan dipakai untuk konsumsi barang-barang yang gak penting. Setelah nyoba investasi saya jadi lumayan semangat ngatur duid. Maka izinkan hamba menutur sebuah cerita, tentang perduitan dunia ini.

1. Bitcoin
Saya kenal bitcoin Lebaran 2017, waktu itu harganya masih 40 jutaan per BTC. Saya iseng beli nol koma nol sekian, setelah itu ternyata BTC booming banget sampe pada akhir 2017 harganya naik hingga 200 jutaan. Kemudian perlahan turun seiring banyaknya bank sentral yang melarang penggunaan bitcoin. Sekarang harganya berkisar di 100 jutaan. Volatile banget kan?. Tapi keunggulan BTC yang saya rasakan ya liquid banget dan (almost) completely anonymous.
Kalau perihal teknis kayak blockchain dan sebagainya saya gak kuat lah ya jelasin di post ini. Hehe. Yang jelas, setelah nyoba invest BTC saya jadi makin kepo tentang ekonomi dan ekonomi makro, yang membuat saya makin sadar kalo investasi tuh penting. Saya juga bersyukur pernah rugi 'mainan' BTC ini. Biar gak kapok dan makin belajar produk investasi yang lain. Oia, saya pure pake BTC untuk investasi, bukan untuk transaksi, jadi gak melanggar hukum lah ya Bu Sri Mulyani~ hehehe~
Saya beli BTC di indodax.com (dulu bitcoin.co.id) walaupun liquid (bisa dicairkan kapan saja) di situ juga ada biaya admin tiap setor dan tarik. Sekarang makin banyak cryptocurrency lain kayak Ethereum, Stellar Lumens, Bitcoin Cash dan masih banyak lagi. Cuma saya belum tertarik lagi buat ngulik.

2. Peer to peer Lending (P2P)
Kalau bitcoin cukup bikin pusing. Saya juga kenal instrumen investasi yang logikanya cukup simpel. Saya kenal platform indves.com dari Afina. Singkatnya, indves menyediakan berbagai usaha level UMKM yang membutuhkan investor. Dijelaskan juga berapa dana yang dibutuhkan dan prospek bagi hasilnya serta jangka waktu imbal hasil (beragam dari 6 bulan hingga 1 tahun).

Saya coba invest di situ, untuk 3 bisnis berbeda dengan jumlah berbeda. Alhamdullilah semuanya melebihi prospek imbal hasil. Walau ya kelemahannya gak liquid tapi prosentasi bagi hasilnya lumayan, sekitar 5% kalau gak salah. Jadi cocok buat yang baru punya uang sedikit dan mau nyoba2 inves. Dan poin plusnya ya membantu UMKM.

Sayang, web indves sekarang sudah gak aktif, jadi investasi saya sudah selesai semua dan saya alihkan ke pos lain. Banyak platform P2P lending lain sih, kayak iGrow, Koinworks, Amartha finance dan masih banyak lagi. Tapi saya masih mager untuk nyoba. hehe

Penjelasan lengkap P2P Lending, bisa ditonton di video ini


3. Emas
Ini mungkin investasi favorit Ibu2 ya, pelajaran sederhana dari mama saya: emas untuk investasi ini lebih baik dalam bentuk batangan, bukan perhiasan.
Terus kepikiran dong, wagelaseh batangan trus kudu beli sekilo gitu? Haha. Padahal 1 gram nya aja 500ribu++. Nah terus saya baru tahu kalau tabungan emas itu bisa beli dicicil. Saya tahunya dulu di Pegadaian. Sempet pengen nabung emas di Pegadaian tapi mager yes harus ke cabang terdekat.
Kemudian saya tahu ada apps namanya Tamasia. Anak digital banget kan semuanya maunya serba apps. Di Tamasia, minimal pembelian emas kelipatan 10ribu rupiah aja dan bisa langsung cetak emas tanpa biaya tambahan.

Harga emas emang relatif stabil dibanding rupiah yang tiap tahun inflasi. Tapi kalau kata Jouska, sebenarnya harga emas dipengaruhi banget sama US dollar. Jadi ya gitu, "berdoa harga emas naik sama aja kayak berdoa dollar naik". Btw, anyway busway, harga emas internasional bisa dicek di kitco.com.

Oia, kalo mau beli emas di Tamasia pake referral code 9W5GC2R

4. Reksadana
Sebenernya sering baca kata ini, reksadana. Tapi ya mbuh gak tau itu barang apa. Ada video yang tuntas banget ngejelasin tentang reksadana, silakan ditonton yaa, karena saya mager jelasin. LOL
silakan tonton videonya di sini



Dan saya coba reksadana ini di Bukalapak- Bukareksa, simply karena waktu itu saya dateng seminarnya mereka. Hahaha, sungguh target pasar yang empuk akutu~.
Yang bikin reksadana seru ini adalah pertumbuhannya bisa dipantau tiap hari. Ada option syariah juga. Gak bisa bilang banyak sih, karena saya juga baru mulai. Sejauh ini kelebihannya ya 1. bisa mulai dari jumlah yang sedikit 2. cukup liquid 3. Gak pake mikir karena sudah ada manajer investasi. Kekurangannya ya tetep nilainya volatile. Tapi tiap naruh reksadana, kita harus baca prospektus, nah itu bikin kita kayak orang penting gitu lho~ hahaha apasih, padahal sharenya cuma gopek, ya mending lah daripada gak sama sekali.

Oia, kalian bisa pake referral code qu untuk belanja di BukaLapak BINAR_LESTARIAWWN

Kesimpulan:
Saya merasa kita harus mulai investasi sedini mungkin (wedeh udah kayak Harmoko eug). Kenapa? kalau kamu (saya) karyawan, kemungkinan besar kita gak punya waktu untuk menjalankan bisnis sendiri. Investasi jadi jalan duit kita muter tanpa kita perlu capek, ya capek mikir dikit sih.
Nah, pas mulai inves, saya jadi sok baca The Economist, Forbes, Bloomberg alih-alih Lambe Turah. Hahaha, karena duit saya sekarang lagi diputer sama dunia, ciegitu, maka saya juga harus update sama perkembangan dunia.

Gak lah, gue nabung aja gak mau ribet. Ya silakan. Oia prinsip investasi juga jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang, jadi menabung cold hard cash ya tetep perlu.
Kemudahan lain sekarang adalah semuanya bisa diakses di HAPE. On your fingertips ceunah. Gak perlu panas2an atau antri di bank, pake harus dandan biar mbak2 CS ramah ngeladenin kita. Great kan sobat magerqu?

Literasi finansial kita juga meningkat, udah banyak lah kisah om tante saya yang duitnya ilang ketipu investasi bodong. Start young, fail young, biar makin tua kita makin 'pinter' DAN MAKIN KAYA. Hahahaha aamiin.

Intinya jangan males sih. Selain jangan males kerja (nyari duit) ya jangan males belajar ngatur duit.
Kalau kata Rhoma Irama ya yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin~
kenapa? karena orang kaya inves dan orang miskin belanja.

Weh! poor shaming! Yasudahlah sobatqismin qu semoga ga qismin terus ampe tuwa, aamiin.