Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Tuesday, February 17, 2026

Dari Menumpuk ke Mengalir: Menadaburi Makna “Kekayaan” dalam Islam di Zaman Overkonsumsi

Aku sampai pada titik ini bukan karena miskin, justru karena cukup. Cukup untuk menyadari bahwa sebagian besar kecemasanku tentang uang ternyata bukan lahir dari kekurangan, melainkan dari kelebihan yang tidak pernah benar-benar kupahami cara mengelolanya. Ada fase dalam hidup ketika kita tidak lagi dikejar kebutuhan dasar, tetapi justru mulai dikejar oleh rasa ingin yang tak ada ujungnya. Di situlah aku berdiri—di antara rasa aman yang relatif stabil dan kegelisahan yang anehnya tetap tinggal.

Overconsumption tidak selalu hadir dalam bentuk hidup glamor atau lemari penuh barang bermerek. Ia sering tampil lebih sopan, lebih rasional. Ia bersembunyi di balik istilah self-reward, healing, atau narasi bahwa kerja keras memang pantas diberi hadiah. Ia tidak berisik. Ia terasa pantas. Namun pelan-pelan aku sadar, ada sesuatu yang sedang kuhibur dengan cara yang keliru. Aku membeli terlalu banyak hal untuk menenangkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa disembuhkan dengan barang. Ada kekosongan yang kubungkus dengan paket-paket kecil kebahagiaan instan.

Di titik itu, ide “tobat” dari overconsumption muncul. Bukan sebagai penolakan terhadap dunia, bukan sebagai romantisasi kemiskinan, melainkan sebagai usaha merebut kembali ketenangan yang diam-diam terkikis. Tobat ini bukan soal berhenti menikmati hidup, tetapi tentang berhenti menggunakan konsumsi sebagai anestesi emosional.

Die with Zero dan Kegelisahan yang Lega

Beberapa waktu kemudian, aku membaca Die With Zero. Buku ini sering disalahpahami sebagai manifesto foya-foya, seolah-olah ia sedang mendorong orang untuk menghabiskan uang tanpa pikir panjang. Padahal yang ia ajukan jauh lebih subtil dan justru lebih mengganggu: kapan uang itu paling bernilai untuk hidupmu?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi efeknya seperti membuka jendela di ruangan yang pengap. Selama ini kita terbiasa berpikir tentang uang dalam logika akumulasi—semakin banyak semakin baik, semakin lama disimpan semakin aman. Namun buku ini menggeser fokus dari “berapa banyak” menjadi “kapan” dan “untuk apa”.

Dalam bahasa finansial, ia mengajak kita memandang uang bukan hanya sebagai angka di rekening, tetapi sebagai instrumen yang memiliki NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return)—bukan hanya secara finansial, tetapi secara eksistensial. Rp 200.000 di usia 20 dan Rp 200.000 di usia 60 memang identik secara nominal, tetapi nilainya bagi pengalaman hidup tidak pernah benar-benar sama. Bukan semata karena inflasi, melainkan karena tubuh, energi, waktu, dan daya reseptif manusia berubah.

Nilai pengalaman terdiskonto oleh usia. Ada pengalaman yang IRR-nya tinggi di usia muda—belajar, merantau, mencoba, gagal, jatuh cinta, membangun jejaring. Ada pula pengalaman yang lebih bermakna di usia matang—memberi, membimbing, memperlambat ritme, merawat. Jika diterjemahkan lebih personal, NPV hidup mungkin adalah total makna yang kita kumpulkan sepanjang hayat, sementara IRR hidup adalah seberapa cepat makna itu benar-benar terasa dan mengubah kita.

Banyak orang, tanpa sadar, menjalani strategi hidup dengan ROI uang maksimal tetapi IRR hidup minimal. Tabungan bertambah, aset menggunung, tetapi pengalaman yang menghidupkan jiwa justru ditunda atas nama rasa aman yang tak pernah benar-benar cukup. Menariknya, Islam tidak pernah mendorong strategi seperti itu.

Abdurrahman bin Auf dan Kekayaan yang Tidak Takut Mengalir

Ketika memikirkan relasi antara kekayaan dan makna dalam Islam, aku sering teringat pada sosok Abdurrahman bin Auf. Ia adalah paradoks yang kerap disederhanakan: seorang sahabat Nabi yang sangat kaya, tetapi namanya tidak melekat pada kemewahan, melainkan pada kelapangan tangan. Kekayaannya tidak menjadikannya simbol penumpukan, melainkan simbol pergerakan.

Ia tidak alergi pada pasar. Ia memahami mekanisme jual-beli, reputasi, kepercayaan, dan arus kas. Dalam bahasa hari ini, ia mungkin akan dianggap piawai membaca peluang dan menjaga likuiditas. Namun yang membedakannya bukan sekadar kemampuan menghasilkan, melainkan keberanian untuk mengalirkan. Ada kesadaran bahwa harta yang berhenti terlalu lama di satu tangan berpotensi menjadi beban spiritual.

Jika ia hidup hari ini, mungkin ia tidak akan bertanya, “Berapa asetmu?” Pertanyaannya bisa jadi lebih sunyi dan lebih tajam: “Berapa banyak hidup yang telah kau bebaskan—hidupmu sendiri dan hidup orang lain?” Dalam kerangka itu, kaya tidak pernah menjadi masalah. Yang berbahaya adalah menumpuk tanpa fungsi, menyimpan tanpa arah, dan menjadikan akumulasi sebagai identitas.

Kelimpahan vs Ketenangan: Salah Paham Zaman Modern

Surga dalam Islam sering digambarkan dengan citra kelimpahan: kebun-kebun yang dialiri sungai, buah yang tidak pernah habis, pakaian indah, dan rasa aman yang abadi. Namun ada konteks historis yang sering luput kita sadari. Al-Qur’an turun di masyarakat yang hidup dalam scarcity—di tanah yang keras, dengan akses air terbatas, dan ancaman sosial yang nyata.

Bagi mereka, air adalah kemewahan. Makanan stabil adalah keajaiban. Rasa aman adalah nikmat tertinggi. Maka kelimpahan dalam teks suci bukanlah glorifikasi konsumsi, melainkan bahasa pedagogis tentang hilangnya kekurangan. Ia berbicara dalam idiom yang bisa dipahami oleh masyarakat yang akrab dengan keterbatasan.

Namun Al-Qur’an juga berulang kali menekankan aspek yang lebih subtil: ketenangan batin. “Wahai jiwa yang tenang…” (QS. Al-Fajr 89:27). “Tidak ada rasa takut dan tidak bersedih.” (QS. Yunus 10:62). “Tidak terdengar kesia-siaan, kecuali salam.” (QS. Maryam 19:62). Gambaran surga bukan sekadar ruang dengan fasilitas melimpah, melainkan ruang tanpa kecemasan.

Ironisnya, di zaman overproduksi seperti hari ini, kelimpahan benda justru sering melahirkan kelaparan makna. Kita hidup di tengah surplus pilihan, tetapi kekurangan arah. Kita memiliki akses ke hampir semua hal, tetapi jarang merasa cukup. Di titik ini, mungkin makna “nikmat” memang perlu ditafsir ulang—bukan sebagai lebih banyak, melainkan sebagai cukup dan tenang.

Tobat dari Overconsumption Bukan Anti-Nikmat

Tobat dari overconsumption bukan berarti hidup asketik yang kering dan menolak dunia. Ia justru mengajak pada bentuk kenikmatan yang lebih sadar. Menggunakan uang di waktu yang tepat, untuk hal-hal yang meningkatkan kapasitas hidup, tanpa menunda makna demi rasa aman yang semu. Ia tidak anti-dunia; ia anti-penumpukan tanpa kesadaran.

Dalam perspektif ini, gagasan Die With Zero terasa lebih dekat dengan etika Islam daripada banyak nasihat finansial modern yang tanpa sadar menjadikan akumulasi sebagai ibadah terselubung. Islam tidak menyuruh mati miskin. Ia juga tidak memuliakan kekayaan sebagai tujuan akhir. Ia mengajarkan tanggung jawab, distribusi, dan kelapangan.

Mungkin pada akhirnya kekayaan bukan soal saldo akhir, tetapi soal apakah hidup kita pernah benar-benar dipakai. Mungkin “die with zero” dalam konteks spiritual bukan berarti nol harta, melainkan nol penyesalan—dan nol harta yang gagal menjadi makna. Dan mungkin, di zaman ini, hidup yang tidak mewah tetapi penuh justru lebih dekat ke gambaran surga daripada hidup yang berlimpah namun gelisah.

Monday, June 30, 2025

Tiga Puluh Satu

Hari ini, mungkin ketika tulisan ini di’terbit’kan di blog, saya sudah berusia 31 tahun.


Tiga puluh satu.


Tua banget anjir


Setidaknya mungkin dulu itu yang saya bayangkan, 31 adalah usia dimana mama melahirkan saya, anak ketiganya.


Entah apa yang saya bayangkan dulu ketika saya berusia 31, sudah menikah dan punya anak mungkin, tapi ya jangan tiga juga. hehe


Apa yang saya lakukan di usia ini adalah satu titik nan jauh di kutub seberang settling down.


Bulan ini, saya keluar dari flat saya di London dan memutuskan keliling… Eropa, well saya tidak mau menyebutnya keliling dunia.


Mari kita mundur sedikit, 18 Juni 2024, sembilan hari sebelum saya berusia 30. Saya mendapat email itu, pengumuman lolos Chevening. Sebuah hal (saya tidak mau menyebutnya sekadar beasiswa) yang entah bagaimana hati saya tergerak untuk mencoba. Saat itu saya bilang ke semua orang ‘cuma iseng’, karena memang… ya saya tidak tahu kenapa saya HARUS coba.


Mungkin memang sudah meant to be.

Saya lolos


Kadang saya merasa tidak adil karena saya tahu ada banyak orang yang lebih menginginkan beasiswa ini.


What did I do to deserve this?


Kemudian saya mengingat tahun-tahun sebelumnya. 15 Juni 2021


Tepat 12 hari sebelum berusia dua tujuh, Ayah saya meninggal ‘mendadak’, tidak sampai tiga hari setelah masuk rumah sakit.


Saya bingung—jujur, rasanya tidak ada kata yang lebih mampu mewakili perasaan (atau proses) grieving yang saya alami.


Tapi saya tetap hidup, entah bagaimana caranya, menyelesaikan gelar master kebijakan publik di SGPP, tetap bekerja (walaupun akhirnya resign).


Saya mencoba untuk tetap hidup, menjadi volunteer untuk Habitat for Humanity mengecat rumah warga di Gunung Kidul. Seminggu dua minggu numpang di kosan saudara di Jogja. Menjadi fasilitator seorang peneliti dari New York yang meneliti tentang sejarah PKI di Cilacap! 


sungguh random


Hingga akhirnya Agustus 2022 saya bekerja lagi, di Kemendikbud! bersama Hilmar Farid! Haha.


Agak delusional rasanya menyebut itu pekerjaan impian karena saya juga tidak menyangka pekerjaan itu ada in the first place.


Pekerjaan itu sulit, sangat sulit.


Tapi seperti apa kata Sapardi, mencintai cakrawala harus menebas jarak.


Pekerjaan itu (yang deskripsinya saya ulang ribuan kali: membangun institusi yang mengelola museum dan cagar budaya di Indonesia) lah yang akhirnya mengantarkan saya ke London.


Ke SOAS


dengan Chevening


Yang kemudian-kemudian berlalu seperti mimpi yang terlalu indah.


Saya bisa melihat lukisan-lukisan yang dulu cuma bisa saya tebak di freerice.com


Mengunjungi rumah Sylvia Plath di dekat Primrose Hill


Selain London dan UK, akhirnya paspor saya juga ditempel visa schengen, yang jika tidak karena sebuah konferensi di Wina tentang Gender mungkin juga saya tidak akan bother to apply.


Saya mengunjungi pedesaan Eropa yang maha indah: Salzburg, Hallstatt, Ghent


dan Paris, Berlin, Roma yang sibuk


bersama dan bertemu orang-orang baik yang sayangi.


pretending that I am the main character of chicklit Sitta Karina never even dare to write.


Anak kecil yang pulang sekolah harus ngasih makan ayam petelur peliharaan ibunya yang jumlahnya ratusan itu mungkin tidak pernah bermimpi se-muluk ini.


Tapi kemudian saya sadar, bahwa hidup memang selalu baik sama saya.


Kalau kata teman saya Esa “regression to the means” everything will be alright.


Memori-memori baik selama setahun ke belakang akan saya simpan baik-baik di lobus frontalis saya (bener ga sih).


Bersyukur di hidup yang cuma sekali, atau setidaknya di versi semesta yang ini (hehe)


Allah telah memberikan sangaaaat banyaaak nikmatNya, bahkan ke hambaNya yang ngeyelan dan banyak dosa ini :”


Mari bersulang untuk hal-hal seru lain di dekade ini.


Cheers






Thursday, August 15, 2024

Meneroka

Ada istilah dalam bahasa inggris dan bahasa jawa yang dulu saya kira tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Trailblaze atau mbabat alas, sebuah aktivitas membuka lahan (yang mana biasanya berupa hutan) untuk dijadikan ladang pertanian dan atau pemukiman.

Sebenernya mau ngomong banyak tentang teori pembangunan ekonomi a la Rostow tapi gak usah lah ya.

Jadi intinya adik-adik, semua hal itu pasti ada mulanya, tidak ‘mak jegagig’ tiba tiba ada. Sawah di deket sekolah kakak saya itu jelas dulunya hutan, kawasan SCBD itu dulu tempat jin buang anak.

Oke, balik ke mbabat alas, ternyata ada kata yang definisinya hampir sama di kamus besar bahasa Indonesia, yaitu teroka

Meneroka, mungkin akhirnya itu jadi highlight hidup saya beberapa tahun ke belakang. 

Walkisah, setelah lulus S1 saya bekerja di sebuah organisasi yang sangaaat besar, namanya Perserikatan Bangsa Bangsa. Memang ‘cuma’ di kantor urusan pembangunan nya di Indonesia. Tapi saat itu saya menjadi sekrup kecil dari sebuah sistem yang sangat besar.

Hari hari saya jengah dengan mematuhi aturan yang seabrek abrek. Mau aturan apa aja dari ukuran amplop hingga tarif bayar pemuka agama? ada.

Little did I know, pengalaman saya yang penuh kejengahan itu sedikit banyak saya ‘bawa’ ke perjalanan karir saya berikutnya.

Di sebuah malam yang random, Agi ngajakin (atau mungkin lebih tepatnya nyuruh) saya bikin Think Policy jadi ✨social enterprise✨.

Singkat cerita, di sebuah sore yang random saya juga diajak Pras bikin ✨Badan Layanan Umum✨ yang mengurusi Museum dan Cagar Budaya, kelak lembaga ini punya nama beken yaitu Indonesian Heritage Agency.

Dan kesamaan dari dua lembaga tersebut, yang kira2 mengambil hampir seluruh waktu late 20s saya, haha. Setelah jadi saya tinggalin.

Lol, sebenernya saya sudah cukup lama mencari padanan yang bisa membantu saya meromantisasi pengalaman tersebut. Hmm kayaknya seperti doula yang membantu ibu bersalin (karena ide berdirinya institusi tadi tidak berasal dari saya), atau arsitek juga tidak menempati rumah yang ia rancang. Gaudi mati tidak pernah melihat Sagrada Familia selesai dibangun.

Halaaakh

Kemudian, hari ini saya menemukan kata itu, peneroka. Saya membayangkan leluhur saya, Demang Candrajaya I datang ke Banyumas untuk membuka lahan di sana. Gak mudah pasti, tapi akhirnya keturunannya kawin mawin dan lahir di situ.

Sebenarnya mungkin begitulah nature-nya manusia.

Memulai 

(Ya kadang jadi eksplotasi juga sih, LOL)

Di ulang tahun saya yang ke-30 tahun kemarin saya bersyukur. Begitu banyak hal yang saya mulai. Dulu gadis kabupaten ini sendirian pergi ke Jakarta buat kuliah di UI. Saya masih ingat betapa deg2an nya naik KRL ke Stasiun Palmerah, untuk kemudian jalan kaki ke kantor Kompas mendaftar magang (yang akhirnya gak diterima).

Dan berkat pekerjaan juga saya bisa ke Sabang sampai Papua (sayang Merauke belum). Bertemu begitu banyak orang dengan cerita-cerita yang luar biasa.

Gila yah seru banget hidup tu 🥰

Mungkin nanti suatu saat saya akan menetap di suatu tempat seperti manusia modern paska agrikultur (jiakh).

Hingga saat itu tiba, mungkin saya akan terus meneroka,

Mbabat alas

(Lah mengko alase entek gae IKN)

wkwkwk

Tuesday, July 2, 2024

30 Lessons I Learned Before Turned 30

 

  1. Know the world: learn debate and buy stocks.

  2. Love people, but most importantly yourself

  3. Get a pet

  4. Be reflective, ask people and yourself

  5. Solo travel, you will see kindness around the world

  6. Learn other language

  7. Boundaries

  8. Put your ideas out there, you may find your like-minded people

  9. Learn to let go

  10. Know mundane things that made you happy

  11. Be assertive, communicate your disappointment

  12. Your life grows around decisions that you made

  13. Love people, use stuff, not vice versa

  14. Take a rest

  15. Humans, you and other people are complex, have enough empathy for them

  16. Forgive your parents

  17. Archive your achievements

  18. Menghalalkan cara yang halal, know your value and stay true to them

  19. Embrace imperfections, excellence consists of some failure and its lessons learned

  20. Find your flow, sholat is mainly a 'structure' of your life

  21. Love your body, and only love can hurt like gym

  22. Make yourself your own reference point

  23. Comparison is the thief of joy, but reference is good

  24. ASK FOR IT, if you want it

  25. A job may last a year or two, but a career is long-term, you are forever

  26. Take care of yourself

  27. Learn that grief is humane

  28. Learn to give and receive appreciation genuinely

  29. Discipline had many forms (including nocturnal)

  30. Your work is not you, but part of you


I know this is a redundant and non-MECE list, I was also planning to write a post about each point, god knows when

But this post alone is better than nothing, hopefully

Tuesday, August 2, 2022

Refleksi Tujuh Bulan Terakhir

Berikut adalah nasihat yang saya ambil dari berbagai sumber, saya tulis di sini untuk saya baca lagi sewaktu-waktu. Bagi pembaca silakan ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk atau tidak cocok buat Anda.


Hang in there, terus menjalani hidup seberat apapun, karena Allah akan selalu pelihara kamu (manusia) selama kamu hidup.

Keimanan manusia kepada Allah adalah karunia, biasanya hubungan dua pihak adalah mutual. Kita dekat dengan Allah karena Allah juga 'mau' dekat sama kita. Tapi jangan sombong, karena kedekatan ini suatu waktu juga bisa ditinggalkan oleh Allah 😟

Barangsiapa mengenali diri, maka ia mengenal Rabb-nya. “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,”

Maka dari itu, terus berusaha mengenali diri, tapi jangan lupa mengenali situasi, kata Sunan Kalijaga "anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli, atau Menyesuaikan mengalirnya air, tapi jangan terbawa arus"

Coba kurangi melakukan sesuatu hanya untuk validasi dari orang lain, belajar memiliki motivasi internal.

Put yourself first, yang artinya juga termasuk merawat diri, agar lebih sehat dan nyaman, sebagai bentuk rasa syukur atas jasad yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Tidak perlu terlalu banyak mempedulikan orang lain lebih dari diri kita. Di akhirat kita akan dimintai pertanggungjawaban atas diri kita, bukan orang lain. Ingat lagi tiga lingkaran kehidupan, tidak semua hal ada dalam kontrol kita. 

Ikhlas adalah berusaha sekuat tenaga dan berharap hanya kepada Allah. Jangan ngotot tentang 'hasil akhir' yang ada pada ranah kekuasaan Allah.

Mengelola emosi, jangan buru-buru memberikan label atas perasaan yang sedang dialami dan melampiaskan emosi tersebut. Pelan-pelan pergi ke balkon (keluar dari diri) untuk mengamati emosi yang dirasakan. Rasakan emosi sepenuhnya dengan kesadaran.

Memperbanyak istighfar dan dzikir ketika emosi sedang menggebu-gebu, mengatur nafas dan memperlambat waktu.

Menghargai waktu dan menggunakannya untuk hal yang bermakna. Mengurangi hawa nafsu akan benda-benda, dan lebih banyak menghabiskan uang serta waktu untuk pengalaman yang bermakna. Pengalaman akan membuat kita lebih bahagia dibanding benda-benda.

Tidak tergiur dengan instant gratification dan mengorbankannya untuk delayed gratification yang lebih bermakna.

Selesaikan apa yang telah dimulai, jangan ragu untuk meminta bantuan ketika mengalami kesulitan (ini adalah bagian dari usaha), jangan buru-buru kecewa ketika ditolak, gagal, atau merasa buntu.

Selalu berbaik sangka kepada Allah.

Terus cultivate my love for learning. Belajar, membaca, mencatat, mengorganisir ingatan, mendiskusikan, mengamalkan, dan cari kesempatan untuk mengajarkannya ke orang lain, termasuk dengan menulis.

Dunia ini adalah senda gurau, tidak salah untuk menghibur diri, orang lain, dengan tertawa.

Belajar memaafkan dengan meminta maaf.

Terus melatih diri agar bisa menyampaikan ketidaksetujuan, kekecewaan, dan lain pendapat dengan artikulatif dan asertif.




Saturday, June 11, 2022

Bekal Perjalanan

Aku lagi di kosan Arin dan tiba-tiba listrik mati setelah petir besar menyambar di tengah hujan deras.

Artinya aku gak bisa menyelesaikan tugas yang sebentar lagi deadline karena sinyal HP juga jadi H doang, gak bisa buat internetan.


Kemarin waktu aku packing buat ke Jogja ini, seperti biasa aku cenderung over-packing, membawa baju-baju yang mungkin gak akan terpakai dan barang-barang lain yang kebanyakan. Sudah begitu, ada saja barang yang terasa penting buat dibawa eh malah ketinggalan.


Untungnya karena cukup sering berpergian, aku menemukan formula yang cukup praktis dalam packing, satu koper, satu ransel, dan satu tas selempang. Semuanya cukup aku bawa sendiri tanpa merasa repot.


Tentang bekal perjalanan di dunia (literally) belakangan aku juga terkesima dengan sebuah channel YouTube: thruhikers yang menceritakan sepasang suami istri yang melakukan perjalanan hiking lintas negara, dari Meksiko, Amerika Serikat, hingga Kanada! Berjalan kaki! Tentu kondisi hiking membuat thruhikers tidak bisa membawa bekal yang banyak. Sehingga mereka merencanakan bekal dengan sangat cermat. Misalnya untuk urusan logistik makanan, mereka mendehidrasi atau mengeringkan beberapa bahan makanan agar lebih awet, kemudian mengirimkan bahan makanan tersebut secara bertahap ke kantor pos di kota-kota yang akan mereka singgahi.


Sungguh sangat strategis dan cermat. 


Mengenai perbekalan ini saya juga excited mengikuti YouTube series yang dibuat oleh Ryan Trahan, kali ini ia memiliki misi mengantarkan koin satu sen ke YouTuber lain, Mr. Beast, dari California ke New York, atau bisa dibilang dari ujung ke ujung Amerika Serikat. Menariknya, Ryan Trahan juga cuma membawa bekal 1 sen, yang harus dia kembangkan berkali-kali lipat agar bisa sampai ke New York.


Di awal, Ryan mencari orang yang mau menjual sebuah pulpen dengan harga satu sen kepadanya, kemudian Ryan menjualnya dengan harga 1 dolar (100 kali lipat). Saya berpikir, transaksi pertama ini ya hanya karena orang kasihan saja. Namun kemudian Ryan sangat persisten dengan misinya, menjual permen, air minum, menawarkan jasa, hingga mengantar makanan dengan aplikasi online, walau hanya berjalan, bersepeda, hingga di hari ke sekian dia mampu menyewa mobil.


Konten yang sangat 'unik'. Oh ya, saya lupa menyebutkan bahwa Ryan juga melakukan penggalangan dana sembari ia melakukan misi ini. Sungguh mulia sekaligus menyenangkan.


Insight lain yang saya ambil, karena ia terus bergerak dari satu kota ke kota lain, Ryan juga sangat efisien dengan bawaannya. Ia membeli sepeda di satu kota untuk membuatnya bisa mengantar makanan, namun kemudian menjualnya lagi ke orang lain ketika ia meninggalkan kota tersebut.


Baik Ryan Trahan maupun truhikers memperjelas bahwa hidup ini adalah rangkaian perjalanan.


Setiap perjalanan, agar lancar harus dipersiapkan dengan baik dan dengan bekal yang cukup serta efisien.


Dan setiap perjalanan tentu harus memiliki tujuan.


Sungguh pun, air mata ini belum kering setiap menyimak tragedi meninggalnya Emmeril Kahn. Satu opini netizen yang menggelitik hati saya, amalan apa yang dimiliki Eril hingga begitu banyak orang yang mendoakannya, bahkan yang tidak pernah kenal seperti saya pun turut merasakan kehilangan yang dalam.


Kemudian @quranreview mengulas sebuah ayat Al Qur'an dan hadits yang sangat indah 


Maryam 96

96. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).

 

Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril, “Wahai JIbril, sesungguhnya aku mencintai si fulan” Kemudian Jibril pun mencintainya, lalu ia pun menyeru penduduk langit, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si fulan” Maka serempak penduduk langit pun mencintainya, lalu rasa cinta tersebut kemudian diberikan kepada penduduk bumi.

 

HR Imam Ahmad (2/514) dan HR Bukhari 6040, Muslim 2637.

 

Maka semoga kepergian Eril meneladani kita semua, bahwa waktu kita di dunia adalah mengumpulkan bekal, untuk perjalanan sejati menuju JannahNya, aamiin.


Monday, August 9, 2021

Bag Lady Syndrome

Duh, ini draft ngendon lama banget, haha

Jadi selama ini gue memiliki ketakutan yang agak tidak rasional, yaitu bahwa suatu hari gue akan kehilangan semua resources yang gue miliki (bukan cuma harta benda tapi support sosial dari teman-teman dan keluarga).

Sebenernya ketakutan tersebut terpatahkan ketika gue di-PHK tahun lalu (tadinya mau cerita soal ini di blog tapi keburu lelah, wkwk). Saat itu banyak banget teman yang baik yang menolong gue hingga akhirnya sedikit demi sedikit ketakutan gue menipis.

However, ternyata ketakutan gue tadi ada namanya: Bag Lady Syndrome

Pertama menemukan term ini di youtube nya Prepper Princess. I love her channel, kalau biasanya youtuber sangat giat memamerkan harta benda, Prepper Princess justru ngajak kita buat ngirit dan hacks lain agar hidup sederhana.


Kalo kata Forbes, “Bag Lady Syndrome,” first coined in the 1970s, is the term given to describe the feeling some middle-aged women have that they’ll wind up homeless and carrying around their possessions in shopping bags.

Ternyata ketakutan ini kolektif. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah 1. penghasilan perempuan lebih sedikit 2. angka harapan hidup perempuan lebih lama.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Combat those fear with actions.

Untuk segi finansial tentunya... menabung, investasi, you name it!

Wah sebenernya blogpost ini bisa banget kalo disponsori produk keuangan ya (sayangnya enggak) LOL.

Saat ini tabungan/investasi gue ada 3 tempat:

1. Tabungan cash di rekening

2. Reksadana: cukup mudah untuk diambil, tapi sebaiknya tidak usah, dan ada return-nya

3. Saham USD: yang gak akan gue ambil sampe usia pensiun nanti, haha


Then invest in your relations with other: ini kayaknya lebih susah daripada investasi uang. Katanya, in friendship, take as much as you give. Tapi kan pertemanan bukan cuma tentang transaksional.

1. check on your friends, tanya apa kabar? dll

2. know their love language, suruh ikut tesnya kalo perlu (ini kalo temennya otoriter kayak gue, haha) and manifest it, kalau mereka suka dikirimi hadiah, then do that, kalau sukanya diajak ngobrol, then spare your time.

3. set your boundaries, just like you had to spend your money wisely, same principles goes with your time and energy. Let's be brutally honest, not everyone worth your time and energy. Set boundaries while you can


hmm apa lagi yahh kira2 kiat2 mengurangi Bag Lady Syndrome?




Tuesday, July 13, 2021

What Each Year of My Career Teach Me (Part 1)

Tulisan ini gue buat di awal tahun 2021. Tidak sadar 'ngendon' terlalu lama di notes hape. Daripada mubazir, mari kita post, haha.

Dengan berakhirnya tahun 2020, tepat kurang lebih gue 5 tahun bekerja. Mungkin bisa disebut juga berkarir walaupun tidak linear. Haha. Setelah direnungi di bilik kakus ternyata setiap tahun ada temanya (atau ya sengaja gue bikin-bikin, hehe). Tema-tema ini benar-benar shaping me as an individual. Apa aja tema-tema tersebut? Cekidot

2016: Human Rights as a Basis

Gue diwisuda Februari 2016, setelah 4,5 tahun kuliah dan diopname pasca sidang skripsi.

Setelah itu jujur lumayan blank mau kerja jadi apa. Puluhan lamaran gue kirim ke sana kemari. Salah satunya saat itu KontraS sedang membuka program magang. Sebelumnya gue sudah pernah magang di dua NGO berbeda saat kuliah: Yayasan Pulih dan Egyptian Feminist Union. Tema dua NGO tadi mirip-mirip, yaitu pemberdayaan perempuan, walau dari angle yang lumayan berbeda. Nah saat gue magang di Pulih, gue pernah membantu supervisor gue mengisi acara di SeHAMA nya KontraS. Jadi lumayan penasaran deh sama KontraS.

Gue apply di divisi riset, dan kemudian diterima. Saat interview, ditanya sebuah pernyataan kunci: "kamu setuju hukuman mati gak?". Gue jawab "enggak, karena takut salah tuduh eh udah mati terdakwanya".

Hahahaha. Mungkin karena itu gue lolos. (yakali)

Di KontraS awalnya gue bingung, ini semua 'penjahat' kok dibelain, dari mulai pelaku terorisme hingga pengedar narkoba. Gue baru paham bahwa sejahat-jahatnya manusia, mereka masih punya hak dasar yaitu hak asasi manusia yang gak boleh dirampas siapapun termasuk negara. Perspektif ini sangat mengubah pola pikir gue. Termasuk saat rame-rame FPI dibubarkan. Oops


2017: The Year of Mohon Ijin 🙏

Gue kelar magang dan jadi relawan di KontraS bulan Agustus 2016, kemudian di bulan berikutnya gue magang lagi di UNDP. Benar-benar bocah privileged ya gue, magang mulu. 

UNDP coy! Salah satu organisasi PBB, entitas yang dulu cuma bisa gue lihat di buku pelajaran IPS dan PPKn. Gue masih ingat hari pertama gue masuk magang naik KRL kemudian Transjakarta dari Depok ke Thamrin. Penuh dengan kegumunan.

Gue magang di HR unit 3 bulan kemudian dihire untuk bekerja fulltime di DGRPU (Democratic Governance and Poverty Reduction Unit) panjang gak tuh nama unitnya? haha. Yeay akhirnya Binar bekerja fulltime dan bergaji 😂, punya asuransi kesehatan sendiri, wkwk.

Jadi apa? Saat itu deskripsi gue: you know like Andrea Sachs, but in UN instead of Vogue.

Kurang lebih peran gue adalah personal assistant untuk sang Head Unit. (Hi Pak, if you're read this, you're a loootttt better than Miranda Priestly kok 😌). Selain itu gue juga mengerjakan pekerjaan administrasi general untuk seluruh unit. Keeping absen orang-orang, beliin mereka tiket kalau mau dinas keluar, daaan berhubungan dengan klien utama kami: pemerintah Indonesia, baik secara formal lewat surat menyurat maupun lewat WhatsApp disertai dengan mohon ijin 🙏.

Jujur di tahap ini gue kerap merasa 'post power syndrome'. Hello pas kuliah tuh gue udah jadi pejabat kampus, masa di kantor kerjanya cuma fotokopi, nempel bon, dan pesen snack rapat. Tapi perasaan ini bakal healed di tahun-tahun kemudian.

Pada tahap ini gue belajar bahwa pengambilan keputusan di pemerintahan itu sangat kompleks. Who doing what, how and why. Mumet Lah.

Saat itu, di sela-sela menyiapkan kopi dan eclair serta memastikan bapak ibu Bappenas tanda tangan daftar hadir rapat, gue menguping percakapan-percakapan penting tentang arah pembangunan Indonesia. Wedeh. Yang mana makin membuat gue mencintai dunia kebijakan publik- with all the messies. 

Gue juga belajar bahwa gue punya skill yang selama ini I took for granted: basic Javanese decency. Unggah ungguh yang biasa diajarkan ibu dan nenek gue ternyata bring me this far. Bukan menjilat atau bermuka dua, but respect and put persons at their 'positions', hehe ya begitulah perks nya orang Jawa sebagai mayoritas <evil laugh>.

FYI, bahkan meeting high level di pemerintah Indonesia masih kerap memakai kosakata seperti "Monggo, matur, sampun, nuwunsewu, inggih" dan sebagainya. Dan tentu tidak lupa: mohon ijin🙏.

Di tahun ini pula gue sadar betapa banyak anggaran pemerintah 'dibuang-dibuang'.

*bersambung (kalo sempet, wkwk)

Monday, July 6, 2020

Kemungkinan Terburuk dalam Hidup

Beberapa bulan lalu saya di-PHK (wehehe akhirnya nulis juga tentang ini). Tabungan menipis, hidup penuh ketidakpastian, dan lain sebagainya. Tapi di masa ini saya justru malah berlatih banget bersyukur. Karena masih ada keluarga dan rumah orang tua untuk 'pulang'. Ada teman-teman yang dekat maupun tidak, sangat banyak membantu saya. Kadang kita (saya) seperti 'harus' membandingkan penderitaan kita dengan orang lain, untuk merasa: "duh hidupku tidak seburuk dia". Sebenarnya, saya rasa ini agak tidak sehat, tapi apalah, perbandingan memang sering kali tidak terhindarkan.

Belakangan saya seperti 'digugah' dua kisah yang saya temukan di sosial media.

Kisah pertama tentang Mas Kris. Seorang warganet pengguna twitter bernama Mbak Lulu mengungkapkan bahwa ia sering berbagi dengan seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di sebuah tanah kosong di Jogjakarta. ODGJ tersebut juga hidup bersama anak-anak kucing yang telantar. Atas kekuatan internet. Seorang kawan lama ODGJ tersebut mengontak Mbak Lulu. Ternyata, ODGJ tersebut bernama Mas Kris, ia berasal dari Sumatera Utara dan kemudian merantau untuk bekerja di Jogjakarta. Nahas, Mas Kris kerap dibully di pekerjaannya hingga akhirnya ia juga kehilangan dokumen-dokumen pribadinya. Kemudian dia 'hilang' tanpa kabar. Setelah ketemu setahun kemudian ternyata Mas Kris ini menggelandang dan tinggal di sebuah pekarangan kosong bersama kucing-kucing liar. Beruntung ia dibantu Mbak Lulu dan akhirnya kisahnya viral. Mas Kris pun 'ditemukan' dan akhirnya dirawat teman lamanya. Power of internet.

Sayang sekali pas saya nulis ini thread viralnya sudah dihapus sama Mba Lulu.

Kisah kedua adalah cuplikan video BBC tentang seorang pembersih rumah di Korea Selatan. Ia spesial karena sering membersihkan rumah yang baru 'ditinggalkan' penghuninya selama-lamanya. Alias, penghuni rumah tersebut meninggal dunia. Yang bikin sedih, kebanyakan penghuni rumah tersebut bunuh diri, dan kebanyakan tinggal sendirian. Kita semua tahu bahwa bunuh diri adalah 'tahap akhir' dari terganggunya kesehatan mental. Mungkin orang tersebut benar-benar sudah tidak tahu hendak minta tolong pada siapa.



Kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran memang 'berat'. Bahkan kata skala stres Holmes dan Rahe, hal ini termasuk stressor nomer delapan, masuk sepuluh besar lah. Lalu apa yang saya rasakan? kecewa iya, tapi balik lagi saya masih memiliki 'safety net': tabungan, orang tua, dan teman-teman.

Saya kemudian memetakan kemungkinan-kemungkinan dalam hidup.
Kapan tabungan saya akan habis?
Siapa yang bisa saya hubungi untuk meminta referensi pekerjaan?
Usaha sampingan apa yang bisa saya lakukan?
Hal-hal apa yang selama ini ingin saya lakukan tapi tidak bisa karena sibuk bekerja?
dan lain sebagainya

Semua hal di atas datang dengan spektrum paling mujur hingga paling apes.

Dengan memetakan semuanya, saya harap dengan demikian, saya tahu apa yang harus saya lakukan dan jangan sampe berakhir seperti dua kisah di atas. AMIT-AMIT, huhu *ketok meja 3 kali*, hahaha.

Doain saya ya netizen!


Sunday, February 16, 2020

Freedom to Fail

"the great succes comes from freedom to fail"

Katanya Mark Zuckerberg di pidato wisuda Harvard beberapa tahun lalu. Belakangan, gue punya life hacks buat diri sendiri, yaitu: aim to fail. Hahaha. 

Aneh emang, but it works for me.

Ketika nyobain sesuatu, do it for the sake of trying it. Pull down my expectations to 0.

Mungkin di sini 'kesungguhan' gue diuji. Bukan cuma berorientasi ke hasil tapi memang usahanya itu sendiri. 

And I know it's a lot of privilege when I can fail freely. Gue masih punya pijakan yang nyaman ketika harus gagal.

Ayo gagal sebanyak-banyaknya 😂

Thursday, December 26, 2019

Mencoba Menjadi Stoik

Kalian tahu apa itu stoicism?

sto·i·cism
/ˈstōəˌsizəm/
noun
  1. 1.
    the endurance of pain or hardship without the display of feelings and without complaint.


Belakangan kayaknya istilah ini mulai agak populer di Indonesia karena Henry Manampiring bikin buku Filosofi Teras. Gue belum baca sih. Haha. Tapi pernah belajar stoicism ini dulu di kampus.

Intinya, kalau sepemahaman gue, stoic itu gak bereaksi berlebihan terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita, walaupun itu 'menyakitkan'. Kalau kata orang Jawa (baca: bapakku) ora usah getun. Gak usah kecewa berlebihan. Gak usah marah, sedih berlebihan.

Belakangan gue 'kehilangan' dua hal yang cukup signifikan: pertama, saat otw balik ke Cilacap, gue lupa bawa charger, powerbank dan earphone. Waduh, beberapa menit pertama pas baru nyadar, cukup panik. Tapi yaudahlah mau gimana lagi (kayaknya kalimat ini kunci stoicism). Akhirnya yang gue lakukan adalah whatsapp mama, ngabarin kalau misalnya nanti gak bisa dihubungin gak usah panik, karena batre gue lowbatt atau mati. Karena gak bisa dengerin spotify, sepanjang perjalanan gue malah banyak merenung dan akhirnya tidur cukup nyenyak.

Sampai di rumah, masih agak mati gaya juga karena gak ada earphone. Tapi ternyata, karena gak ada konsumsi audio, gue malah bisa menyelesaikan baca dua buku.

Kemalangan (walah lebay) gue gak berhenti sampai di situ. Gue accidentally menghapus semua pesan whatsapp di hape gue termasuk whatsapp dari bang Fay.  Sebelumnya sejak punya hape ini, gue gak pernah hapus pesan di whatsapp, mungkin sudah hampir dua tahun lebih. Again, tapi yaudahlah mau gimana lagi. Karena semua pesan itu terhapus, gue jadi punya free memory untuk menginstall game kesukaan gue, hahaha. 

Intinya, mungkin gue sedang dilatih untuk menjadi stoic, untuk letting go obstacle-obstacle kecil dalam hidup biar bisa terus 'maju'. Dan mengalihkan energi gue untuk hal lain yang lebih penting.

Aja kakehan getun.

Saturday, December 7, 2019

Spaghetti Marshmallow Challenge

Pada waktu onboarding Think Policy Society beberapa waktu lalu, kami bermain Spaghetti Marshmallow Challenge untuk ice breaking atau mengakrabkan diri satu sama lain.

Detail game atau tantangan ini bisa dilihat di sini hahaha dasar penulis malas

Intinya kami sebagai tim disuruh membuat menara dengan spaghetti, selotip dan benang setinggi mungkin dengan marshmallow berada di pucuknya, menara yang paling tinggi yang menang. Waktu pembagian kelompok, kebetulan gue sekelompok sama Afu dan dia langsung bilang "ayo kita fokus menang" hahaha kurang lebih gitu deh. Karena takut tangan gue yang clumsy akan mengacaukan pembangunan menara kami, gue memilih tugas remeh-temeh yaitu: nyobekin selotip. Tapi ternyata dengan demikian pembangunan menara berjalan dengan efektif dan efisien karena stok selotip selalu aman dan tersedia. Duileh serius amat. Dan tibalah masa pengukuran menara masing-masing kelompok daaan, yeaay kelompok kami menang!.
Menara kami yang akhirnya menang! yeay!

Anggota kelompok yang happy karena menang


Setelah game selesai, saatnya wrap-up. Hana, sang instruktur memberi kami tebak-tebakan kira-kira kelompok apa yang paling banyak berhasil dan paling banyak gagal dalam game ini?. Ternyata jawabannya: yang paling sering berhasil: anak TK, yang paling sering gagal: mahsiswa/i MBA. Hahaha. Kenapa begitu? salah satu faktornya adaalah: anak-anak MBA ini terlalu banyak bacot, pake teori dan gak langsung nyobain, ga ada yang mau ngalah.

Ternyata dibahas bahwa peran apapun penting. Exactly keputusan saya untuk guntingin selotip doang adalah sangat tepat. Kalau kata YSEALI, "no act is too small" *kalogaksalah yaa. Haha.

Kalau direfleksikan ke dunia nyata, saya kerap dan sering mengeluh karena yang saya kerjakan terlalu 'remeh-temeh'. Sama seperti pekerjaan guntingin selotip tadi. Tapi toh itulah yang membuat menara berhasil berdiri.

So, remember

No act is too small.


Sunday, November 10, 2019

Low Hanging Fruit

Low Hanging Fruit

"ya kita low hanging fruit aja lah" belakangan saya sering banget mendengar frasa itu. Apa sih maksudnya low hanging fruit?.

What Is Low-Hanging Fruit?

The term "low-hanging fruit" is a commonly used metaphor for doing the simplest or easiest work first, or for a quick fix that produces ripe, delectable results. In sales, it means a target that is easy to achieve, a product or service that is easy to sell, or a prospective client who seems very likely to buy the product, especially compared with other, more reluctant prospects.

dari investopedia.com

Tadi pagi saya baru saja mengerjakan soal SIMAK UI. Seperti kebanyakan soal, ada instruksi "kerjakan yang paling mudah terlebih dahulu".

Low Hanging Fruit, petik buah yang paling rendah, paling dekat, paling mudah untuk diraih.

Sebenarnya hal ini bisa jadi dalam kalau dimaknai, bahwa dalam hidup juga demikian. Kita kadang putus asa karena merasa beban terlalu banyak, sukses terlalu jauh. Kita juga bisa "low hanging fruit", kerjakan yang paling mudah dulu, nyetrika baju misalnya.

Hahahaa

semangat memetik buah yang paling mudah

Thursday, August 22, 2019

Transaksi Kita Dengan Tuhan

Satu adegan dalam film Ayat-Ayat Cinta yang membuat saya menangis adalah ketika Fahri solat di dalam penjara, Fahri menangis karena masalah yang menimpanya begitu berat. Ia ditertawakan pria yang satu sel dengannya: "Jangan-jangan kamu solat hanya kalau ada masalah?".

Adegan itu membuat saya ikut menangis. Bukan karena turut larut dalam emosi fiksi tokoh Fahri. Namun kata-kata laki2 teman satu sel Fahri itu sungguh menohok.

Saya tiba-tiba ingat adegan itu tadi siang. Ketika entah kenapa ada rasa ingiiin banget kuliah S2. Kemudian sempat membuka-buka website universitas dan jurusan yang saya inginkan. Jiper duluan, hahaha. Susah, ribet, berat, males, MAHAL!

Kemudian ngademin hati sendiri: "berdoa aja, pasti bisa".

Lah, kok, apa aku cuma berdoa saat butuh ya. Kembali ke Allah saat sedih dan banyak masalah. Lalu dimana aku saat senang-senang, saat berlimpah nikmatNya?

Tuhan bukan dokter yang hanya kita temui saat raga sakit berat. Lalu lupa atas saran-saranNya untuk hidup 'sehat'.

Tuhan bukan produsen dan kita bukan konsumen, doa juga bukan mata uang.

Selamat memaknai kembali relasi (bukan transaksi) mu dengan Tuhan, Binar.