Showing posts with label refleksi diri. Show all posts
Showing posts with label refleksi diri. Show all posts

Thursday, March 12, 2026

Aku Ingin Jadi Marbot Masjid

Salah satu cita-cita gue adalah jadi marbot masjid, karena mungkin itulah bentuk asketisme terdekat dalam Islam.

Bukan karena gue sangat saleh—atau setidaknya bukan itu alasan utamanya. Lebih karena ada sesuatu yang terasa sangat masuk akal dari hidup yang ritmenya sederhana: membuka pintu masjid sebelum subuh, menyapu halaman, mengganti air wudhu, mendengar gema azan lima kali sehari. Hidup yang tidak terlalu banyak distraksi, tidak terlalu banyak ambisi duniawi. Hidup yang dekat dengan sesuatu yang sakral.

Kadang gue iri pada tradisi lain yang punya institusi asketisme yang jelas: biksu, biarawan, monastery. Ada ruang sosial yang memang didedikasikan untuk orang-orang yang ingin mengambil jarak dari dunia. Seolah masyarakat berkata: baiklah, sebagian dari kita boleh mengabdikan hidup sepenuhnya pada kontemplasi.

Sementara dalam Islam, konsep seperti itu hampir tidak ada. Bahkan secara eksplisit ditolak. Ada hadis yang cukup terkenal: la rahbaniyyata fil Islam—tidak ada monastisisme dalam Islam.

Ini selalu membuat gue penasaran. Kenapa?

Kalau kita percaya bahwa tujuan akhir hidup ini adalah keselamatan di akhirat—atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, masuk surga—kenapa Islam justru tidak menyediakan jalur untuk sepenuhnya menarik diri dari kehidupan dunia yang mundane? Kenapa umatnya tetap didorong untuk bekerja, menikah, berkeluarga, berbisnis, berpolitik, dan terlibat dalam semua kompleksitas sosial yang sering kali terasa melelahkan?

Dari satu sisi, jawabannya teologis. Dalam banyak tradisi Islam, dunia tidak dipandang sebagai gangguan spiritual, tetapi sebagai arena ujian. Ibadah tidak hanya terjadi di ruang ritual, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari: mencari nafkah, memberi makan keluarga, membantu orang lain, bahkan sekadar tersenyum kepada sesama.

Dengan kata lain, Islam tidak memisahkan kehidupan spiritual dan kehidupan sosial. Justru yang mundane itu sendiri disakralkan.

Tapi semakin gue pikirkan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang menarik secara desain sosial di baliknya. Hampir seperti ada unsur game theory.

Bayangkan kalau monastisisme dilembagakan secara luas. Kalau banyak orang memutuskan untuk keluar dari kehidupan ekonomi dan sosial demi fokus pada keselamatan spiritual pribadi. Siapa yang akan tetap menjalankan masyarakat? Siapa yang akan bertani, berdagang, membangun kota, membesarkan anak, mempertahankan komunitas?

Dalam bahasa game theory, ini bisa menjadi masalah public goods. Kalau terlalu banyak orang memilih jalan kontemplatif, sistem sosial bisa kehilangan pemain yang menjaga keberlanjutannya.

Di titik ini, larangan monastisisme dalam Islam mulai terlihat seperti sebuah aturan yang logis: semua orang harus tetap berada di dalam arena sosial. Tidak ada kelas spiritual yang sepenuhnya keluar dari dunia. Semua orang tetap harus bekerja, berinteraksi, dan berkontribusi pada masyarakat.

Namun menariknya, insentif spiritual tidak dihilangkan. Ia hanya dipindahkan.

Bekerja bisa menjadi ibadah.

Memberi nafkah keluarga bisa menjadi ibadah.

Menolong orang lain bisa menjadi ibadah.

Alih-alih memberi pahala pada penarikan diri dari dunia, sistem ini justru memberi pahala pada keterlibatan di dalamnya.

Dari sudut pandang desain sosial, ini cukup elegan. Ia menyelaraskan tujuan individu: keselamatan spiritual dengan kebutuhan kolektif yang berujung keberlangsungan masyarakat.

Tapi di sinilah muncul keganjilan kecil dalam imajinasi gue tentang menjadi marbot.

Gue hampir belum pernah melihat marbot masjid perempuan.

Masjid—yang secara teori adalah rumah ibadah bagi semua umat—dalam praktiknya sering terasa seperti ruang yang lebih maskulin. Yang membuka pintu, menyapu lantai, menyiapkan karpet, biasanya laki-laki. Peran perempuan dalam memakmurkan masjid kadang masih tidak jauh dari perdapuran juga, memasak dan menyediakan takjil saat bulan Ramadan.

Padahal kalau dipikir-pikir, posisi marbot itu justru menarik: ia berada dekat dengan ruang sakral, tetapi tidak berada di pusat otoritas formal seperti imam atau ulama. Ia lebih seperti penjaga ritme spiritual sehari-hari.

Dan di situ muncul pertanyaan lain.

Kalau asketisme dalam Islam tidak dilembagakan seperti biara, lalu di mana tempat perempuan dalam imajinasi spiritual itu?

Sering kali, perempuan dalam Islam justru diglorifikasi melalui institusi pernikahan. Ibu disebut sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Surga dikatakan berada di bawah telapak kaki ibu. Perempuan dimuliakan sebagai penjaga rumah tangga.

Semua itu terdengar sangat indah.

Namun di balik retorika kemuliaan itu, ada struktur sosial yang cukup jelas: perempuan sering diposisikan terutama sebagai pusat reproduksi keluarga dan komunitas.

Yang ironis, logika ini tidak sepenuhnya berbeda dengan logika kapitalisme modern.

Dalam kapitalisme, tubuh perempuan juga sering ditempatkan dalam fungsi reproduktif—tidak selalu secara eksplisit, tetapi secara struktural. Rahim perempuan menjadi bagian dari siklus produksi sosial: menghasilkan generasi pekerja berikutnya, batch of labor yang akan menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Di satu sisi, institusi keluarga menjaga keberlanjutan masyarakat. Di sisi lain, ia juga menjadi mekanisme yang memastikan bahwa sistem sosial—baik religius maupun ekonomi—terus memiliki pemain baru.

Dan di titik ini, pertanyaan tentang asketisme kembali muncul dengan cara yang sedikit berbeda.

Kalau laki-laki kadang masih memiliki imajinasi untuk menjadi imam, ulama, sufi, atau bahkan marbot—figur yang setidaknya memiliki jarak tertentu dari permainan dunia—perempuan sering kali bahkan tidak diberi ruang imajinatif untuk menarik diri dari peran reproduktif itu.

Mungkin karena itu, keinginan sederhana untuk menjadi marbot terasa agak subversif dalam kepala gue sendiri.

Bukan karena itu adalah posisi yang tinggi atau prestisius. Justru sebaliknya: karena ia sederhana, sunyi, dan tidak terlalu dibebani ekspektasi sosial yang besar.

Seseorang yang menyapu lantai masjid sebelum subuh mungkin tidak sedang mengubah dunia. Seperti Diogenes yang hidup di dalam gentongnya dan hanya ingin berkat dari sinar matahari.

Untuk beberapa saat, setidaknya, ia berada cukup dekat dengan sesuatu yang lebih tenang daripada dunia yang terus berputar di luar sana.


Wednesday, December 24, 2025

Mumpung Padhang Rembulane

Almarhum Mbah Kakung saya sering menyanyikan tembang Jawa sebagai pengantar tidur.

Salah satu yang paling melekat adalah Lir Ilir, terutama bagian:

mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalanganane…

Saya kerap membayangkan Jawa pada masa tembang itu lahir: malam yang sunyi dan gelap, tanpa lampu, tanpa listrik. Namun ketika bulan purnama datang, gelap itu sedikit tersibak. Dunia menjadi cukup terang untuk berjalan, bekerja, berdoa—melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan saat malam sepenuhnya menelan segalanya.

Kelak saya belajar bahwa Lir Ilir konon digubah oleh Sunan Kalijaga, sebagai perumpamaan ajakan untuk beribadah, bahkan ketika keadaan sempit. Bahwa ada saat-saat tertentu di mana hidup memberi cahaya ekstra—dan kita diminta memanfaatkannya.

Jika ada satu hal yang paling saya syukuri tahun ini, itu adalah kelapangan.
Dan kelapangan ini, saya sadari, jauh melampaui sekadar kebebasan.

Sembilan bulan awal tahun ini saya merampungkan studi di London, membuat saya mengerti inti dari setahun ini:
keleluasaan untuk melakukan banyak hal—dan, yang lebih jarang, keleluasaan untuk berpikir.

Kalau dipikir-pikir, saya benar-benar “dibayar” oleh pemerintah Inggris untuk hidup dan berpikir. Sebuah keadaan yang, dalam dunia yang serba produktif dan terburu-buru, terasa hampir utopis. Stipend itu cukup untuk membuat bersyukur, namun tidak berlebih sampai lupa diri. Ada batas yang justru menjaga kewarasan. Hehe.

Kelapangan ternyata bukan hanya soal waktu dan sumber daya, tetapi juga support system. London membuka pintu ke perpustakaan, galeri, dan museum—ruang-ruang sunyi tempat saya belajar dengan ritme saya sendiri.

Ambisi untuk mengikuti konferensi internasional membawa saya ke Wina, sekaligus menghadirkan visa Schengen pertama. Dari sana saya tersadar: saya ternyata punya rumah-rumah kecil di berbagai sudut Eropa.

Esa di Wina.
Pingkan di Ghent.
Tika di Berlin.
Ollie di Manchester.

Dan juga teman-teman perjalanan yang membuat langkah-langkah itu lebih hangat dan bermakna: Rino, Nisa, Lina, Titis.

Dan tetap saja, di sela-sela semua itu, ada suara kecil yang sering muncul tanpa diundang.
Tentang usia. Tentang pencapaian. Tentang daftar kepemilikan yang terasa kosong.
Di umur segini, saya kadang masih merasa belum punya apa-apa yang bisa dipamerkan: rumah, tabungan mapan, atau penanda-penanda dewasa yang lazim dirayakan. Ada hari-hari ketika kelapangan ini terasa seperti jeda yang terlalu panjang, bukan kemajuan.

Apa yang dulu saya kira sebagai kekurangan—uang yang pas-pasan, hidup yang sederhana, rencana karir yang tak selalu pasti—ternyata justru adalah kelapangan.
Ruang untuk bergerak.
Ruang untuk menjelajah dunia.
Dan pada akhirnya, ruang untuk berjalan pulang ke dalam diri.

mumpung padhang rembulane.

Monday, June 30, 2025

Tiga Puluh Satu

Hari ini, mungkin ketika tulisan ini di’terbit’kan di blog, saya sudah berusia 31 tahun.


Tiga puluh satu.


Tua banget anjir


Setidaknya mungkin dulu itu yang saya bayangkan, 31 adalah usia dimana mama melahirkan saya, anak ketiganya.


Entah apa yang saya bayangkan dulu ketika saya berusia 31, sudah menikah dan punya anak mungkin, tapi ya jangan tiga juga. hehe


Apa yang saya lakukan di usia ini adalah satu titik nan jauh di kutub seberang settling down.


Bulan ini, saya keluar dari flat saya di London dan memutuskan keliling… Eropa, well saya tidak mau menyebutnya keliling dunia.


Mari kita mundur sedikit, 18 Juni 2024, sembilan hari sebelum saya berusia 30. Saya mendapat email itu, pengumuman lolos Chevening. Sebuah hal (saya tidak mau menyebutnya sekadar beasiswa) yang entah bagaimana hati saya tergerak untuk mencoba. Saat itu saya bilang ke semua orang ‘cuma iseng’, karena memang… ya saya tidak tahu kenapa saya HARUS coba.


Mungkin memang sudah meant to be.

Saya lolos


Kadang saya merasa tidak adil karena saya tahu ada banyak orang yang lebih menginginkan beasiswa ini.


What did I do to deserve this?


Kemudian saya mengingat tahun-tahun sebelumnya. 15 Juni 2021


Tepat 12 hari sebelum berusia dua tujuh, Ayah saya meninggal ‘mendadak’, tidak sampai tiga hari setelah masuk rumah sakit.


Saya bingung—jujur, rasanya tidak ada kata yang lebih mampu mewakili perasaan (atau proses) grieving yang saya alami.


Tapi saya tetap hidup, entah bagaimana caranya, menyelesaikan gelar master kebijakan publik di SGPP, tetap bekerja (walaupun akhirnya resign).


Saya mencoba untuk tetap hidup, menjadi volunteer untuk Habitat for Humanity mengecat rumah warga di Gunung Kidul. Seminggu dua minggu numpang di kosan saudara di Jogja. Menjadi fasilitator seorang peneliti dari New York yang meneliti tentang sejarah PKI di Cilacap! 


sungguh random


Hingga akhirnya Agustus 2022 saya bekerja lagi, di Kemendikbud! bersama Hilmar Farid! Haha.


Agak delusional rasanya menyebut itu pekerjaan impian karena saya juga tidak menyangka pekerjaan itu ada in the first place.


Pekerjaan itu sulit, sangat sulit.


Tapi seperti apa kata Sapardi, mencintai cakrawala harus menebas jarak.


Pekerjaan itu (yang deskripsinya saya ulang ribuan kali: membangun institusi yang mengelola museum dan cagar budaya di Indonesia) lah yang akhirnya mengantarkan saya ke London.


Ke SOAS


dengan Chevening


Yang kemudian-kemudian berlalu seperti mimpi yang terlalu indah.


Saya bisa melihat lukisan-lukisan yang dulu cuma bisa saya tebak di freerice.com


Mengunjungi rumah Sylvia Plath di dekat Primrose Hill


Selain London dan UK, akhirnya paspor saya juga ditempel visa schengen, yang jika tidak karena sebuah konferensi di Wina tentang Gender mungkin juga saya tidak akan bother to apply.


Saya mengunjungi pedesaan Eropa yang maha indah: Salzburg, Hallstatt, Ghent


dan Paris, Berlin, Roma yang sibuk


bersama dan bertemu orang-orang baik yang sayangi.


pretending that I am the main character of chicklit Sitta Karina never even dare to write.


Anak kecil yang pulang sekolah harus ngasih makan ayam petelur peliharaan ibunya yang jumlahnya ratusan itu mungkin tidak pernah bermimpi se-muluk ini.


Tapi kemudian saya sadar, bahwa hidup memang selalu baik sama saya.


Kalau kata teman saya Esa “regression to the means” everything will be alright.


Memori-memori baik selama setahun ke belakang akan saya simpan baik-baik di lobus frontalis saya (bener ga sih).


Bersyukur di hidup yang cuma sekali, atau setidaknya di versi semesta yang ini (hehe)


Allah telah memberikan sangaaaat banyaaak nikmatNya, bahkan ke hambaNya yang ngeyelan dan banyak dosa ini :”


Mari bersulang untuk hal-hal seru lain di dekade ini.


Cheers






Tuesday, August 2, 2022

Refleksi Tujuh Bulan Terakhir

Berikut adalah nasihat yang saya ambil dari berbagai sumber, saya tulis di sini untuk saya baca lagi sewaktu-waktu. Bagi pembaca silakan ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk atau tidak cocok buat Anda.


Hang in there, terus menjalani hidup seberat apapun, karena Allah akan selalu pelihara kamu (manusia) selama kamu hidup.

Keimanan manusia kepada Allah adalah karunia, biasanya hubungan dua pihak adalah mutual. Kita dekat dengan Allah karena Allah juga 'mau' dekat sama kita. Tapi jangan sombong, karena kedekatan ini suatu waktu juga bisa ditinggalkan oleh Allah 😟

Barangsiapa mengenali diri, maka ia mengenal Rabb-nya. “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,”

Maka dari itu, terus berusaha mengenali diri, tapi jangan lupa mengenali situasi, kata Sunan Kalijaga "anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli, atau Menyesuaikan mengalirnya air, tapi jangan terbawa arus"

Coba kurangi melakukan sesuatu hanya untuk validasi dari orang lain, belajar memiliki motivasi internal.

Put yourself first, yang artinya juga termasuk merawat diri, agar lebih sehat dan nyaman, sebagai bentuk rasa syukur atas jasad yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Tidak perlu terlalu banyak mempedulikan orang lain lebih dari diri kita. Di akhirat kita akan dimintai pertanggungjawaban atas diri kita, bukan orang lain. Ingat lagi tiga lingkaran kehidupan, tidak semua hal ada dalam kontrol kita. 

Ikhlas adalah berusaha sekuat tenaga dan berharap hanya kepada Allah. Jangan ngotot tentang 'hasil akhir' yang ada pada ranah kekuasaan Allah.

Mengelola emosi, jangan buru-buru memberikan label atas perasaan yang sedang dialami dan melampiaskan emosi tersebut. Pelan-pelan pergi ke balkon (keluar dari diri) untuk mengamati emosi yang dirasakan. Rasakan emosi sepenuhnya dengan kesadaran.

Memperbanyak istighfar dan dzikir ketika emosi sedang menggebu-gebu, mengatur nafas dan memperlambat waktu.

Menghargai waktu dan menggunakannya untuk hal yang bermakna. Mengurangi hawa nafsu akan benda-benda, dan lebih banyak menghabiskan uang serta waktu untuk pengalaman yang bermakna. Pengalaman akan membuat kita lebih bahagia dibanding benda-benda.

Tidak tergiur dengan instant gratification dan mengorbankannya untuk delayed gratification yang lebih bermakna.

Selesaikan apa yang telah dimulai, jangan ragu untuk meminta bantuan ketika mengalami kesulitan (ini adalah bagian dari usaha), jangan buru-buru kecewa ketika ditolak, gagal, atau merasa buntu.

Selalu berbaik sangka kepada Allah.

Terus cultivate my love for learning. Belajar, membaca, mencatat, mengorganisir ingatan, mendiskusikan, mengamalkan, dan cari kesempatan untuk mengajarkannya ke orang lain, termasuk dengan menulis.

Dunia ini adalah senda gurau, tidak salah untuk menghibur diri, orang lain, dengan tertawa.

Belajar memaafkan dengan meminta maaf.

Terus melatih diri agar bisa menyampaikan ketidaksetujuan, kekecewaan, dan lain pendapat dengan artikulatif dan asertif.




Monday, July 6, 2020

Kemungkinan Terburuk dalam Hidup

Beberapa bulan lalu saya di-PHK (wehehe akhirnya nulis juga tentang ini). Tabungan menipis, hidup penuh ketidakpastian, dan lain sebagainya. Tapi di masa ini saya justru malah berlatih banget bersyukur. Karena masih ada keluarga dan rumah orang tua untuk 'pulang'. Ada teman-teman yang dekat maupun tidak, sangat banyak membantu saya. Kadang kita (saya) seperti 'harus' membandingkan penderitaan kita dengan orang lain, untuk merasa: "duh hidupku tidak seburuk dia". Sebenarnya, saya rasa ini agak tidak sehat, tapi apalah, perbandingan memang sering kali tidak terhindarkan.

Belakangan saya seperti 'digugah' dua kisah yang saya temukan di sosial media.

Kisah pertama tentang Mas Kris. Seorang warganet pengguna twitter bernama Mbak Lulu mengungkapkan bahwa ia sering berbagi dengan seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di sebuah tanah kosong di Jogjakarta. ODGJ tersebut juga hidup bersama anak-anak kucing yang telantar. Atas kekuatan internet. Seorang kawan lama ODGJ tersebut mengontak Mbak Lulu. Ternyata, ODGJ tersebut bernama Mas Kris, ia berasal dari Sumatera Utara dan kemudian merantau untuk bekerja di Jogjakarta. Nahas, Mas Kris kerap dibully di pekerjaannya hingga akhirnya ia juga kehilangan dokumen-dokumen pribadinya. Kemudian dia 'hilang' tanpa kabar. Setelah ketemu setahun kemudian ternyata Mas Kris ini menggelandang dan tinggal di sebuah pekarangan kosong bersama kucing-kucing liar. Beruntung ia dibantu Mbak Lulu dan akhirnya kisahnya viral. Mas Kris pun 'ditemukan' dan akhirnya dirawat teman lamanya. Power of internet.

Sayang sekali pas saya nulis ini thread viralnya sudah dihapus sama Mba Lulu.

Kisah kedua adalah cuplikan video BBC tentang seorang pembersih rumah di Korea Selatan. Ia spesial karena sering membersihkan rumah yang baru 'ditinggalkan' penghuninya selama-lamanya. Alias, penghuni rumah tersebut meninggal dunia. Yang bikin sedih, kebanyakan penghuni rumah tersebut bunuh diri, dan kebanyakan tinggal sendirian. Kita semua tahu bahwa bunuh diri adalah 'tahap akhir' dari terganggunya kesehatan mental. Mungkin orang tersebut benar-benar sudah tidak tahu hendak minta tolong pada siapa.



Kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran memang 'berat'. Bahkan kata skala stres Holmes dan Rahe, hal ini termasuk stressor nomer delapan, masuk sepuluh besar lah. Lalu apa yang saya rasakan? kecewa iya, tapi balik lagi saya masih memiliki 'safety net': tabungan, orang tua, dan teman-teman.

Saya kemudian memetakan kemungkinan-kemungkinan dalam hidup.
Kapan tabungan saya akan habis?
Siapa yang bisa saya hubungi untuk meminta referensi pekerjaan?
Usaha sampingan apa yang bisa saya lakukan?
Hal-hal apa yang selama ini ingin saya lakukan tapi tidak bisa karena sibuk bekerja?
dan lain sebagainya

Semua hal di atas datang dengan spektrum paling mujur hingga paling apes.

Dengan memetakan semuanya, saya harap dengan demikian, saya tahu apa yang harus saya lakukan dan jangan sampe berakhir seperti dua kisah di atas. AMIT-AMIT, huhu *ketok meja 3 kali*, hahaha.

Doain saya ya netizen!


Sunday, September 8, 2019

How to Adult

Menurutku, salah satu fase terberat dalam hidup manusia adalah memasuki usia dewasa. Kita berpindah begitu cepatnya dari era main-main tiba-tiba tanggung jawab yang begitu berat kita emban sendirian. Tiba-tiba kita harus punya tujuan hidup yang jelas, tentang pendidikan, karir dan hubungan interpersonal.


Memasuki usia dewasa, kadang kita (atau setidaknya saya) kebingungan akan pertanyaan: "siapa saya?". Kita mungkin akan mencoba mengasosiasikan diri kita dengan berbagai afiliasi, entah pekerjaan, hobi, latar belakang pendidikan, agama, suku dan lain-lain. Waktu kecil, saya menonton potongan film Anger Management di atas dan merasa lucu. Sekarang, saya sama bingungnya dengan tokoh Dave dalam film itu.

Minggu lalu, beberapa teman kuliah S1 saya sudah wisuda S2. Wah waktu cepat sekali berlalu ya, dan kadang terbersit penyakit hati: iri.

Bukan cuma iri pada pencapaian teman-teman, tapi lebih kepada 'ketangguhan' mereka. Ada teman yang S2 sambil bekerja penuh waktu, ada juga yang sambil memulai perannya sebagai seorang Ibu. 

Kadang saya berpikir "why I don't push myself harder" dan kemudian muncul rasa bersalah dan rendah diri. 

Lalu saya curhat sama Afina. Kata dia, "ya kamu mungkin bisa, tapi apakah kamu ingin?".

Kemudian diri ini mengevaluasi lagi apa tujuan hidup ini?. Ikut-ikutan orang lain?, validasi orang lain, atau apa?

Ndilalah, mata ini tertumbuk pada Kegan's stage of development. Yang ternyata menjawab kegalauan di atas, mungkin saya baru sampai tahap socialized mind. Berusaha menambal sulam identitas diri dengan berbagai label dalam masyarakat.

Semoga segera mencapai tahapan perkembangan diri yang berikutnya!



Thursday, August 22, 2019

Transaksi Kita Dengan Tuhan

Satu adegan dalam film Ayat-Ayat Cinta yang membuat saya menangis adalah ketika Fahri solat di dalam penjara, Fahri menangis karena masalah yang menimpanya begitu berat. Ia ditertawakan pria yang satu sel dengannya: "Jangan-jangan kamu solat hanya kalau ada masalah?".

Adegan itu membuat saya ikut menangis. Bukan karena turut larut dalam emosi fiksi tokoh Fahri. Namun kata-kata laki2 teman satu sel Fahri itu sungguh menohok.

Saya tiba-tiba ingat adegan itu tadi siang. Ketika entah kenapa ada rasa ingiiin banget kuliah S2. Kemudian sempat membuka-buka website universitas dan jurusan yang saya inginkan. Jiper duluan, hahaha. Susah, ribet, berat, males, MAHAL!

Kemudian ngademin hati sendiri: "berdoa aja, pasti bisa".

Lah, kok, apa aku cuma berdoa saat butuh ya. Kembali ke Allah saat sedih dan banyak masalah. Lalu dimana aku saat senang-senang, saat berlimpah nikmatNya?

Tuhan bukan dokter yang hanya kita temui saat raga sakit berat. Lalu lupa atas saran-saranNya untuk hidup 'sehat'.

Tuhan bukan produsen dan kita bukan konsumen, doa juga bukan mata uang.

Selamat memaknai kembali relasi (bukan transaksi) mu dengan Tuhan, Binar.

Sunday, August 18, 2019

Sambi

Tadi saya menyelesaikan cucian di mesin cuci, biasanya karena menunggu cucian dibilas dan dikeringkan butuh waktu, walau cuma 5 menit atau 3 menit, saya biasanya bawa HP.

Tapi tadi karena HP saya baterainya sedang lemah. Saya memutuskan untuk tidak bawa HP ke ruang cuci yang letaknya di lantai 2 sedangkan kamar saya ada di lantai 1.

Pada waktu nganggur yang cuma 5 menit itu saya pakai buat merenung. Iya juga ya, sebenarnya kadang-kadang smartphone itu cuma dipakai untuk menyibukkan diri kita ketika menunggu. Tapi seringnya malah menjadi distraksi atas pekerjaan utama kita.

Pikiran saya mengawang.

Begitu pula hidup di dunia yang cuma sementara ini, sejatinya cuma menunggu. Tapi kadang-kadang kita terdistraksi hingga lupa tujuan aslinya apa.

Semoga kita tidak sering-sering lupa.

aamiin

Friday, February 1, 2019

January Recap

Tidak terasa bulan Januari sudah berakhir, dua jam lebih cepat di sini, membuat saya berpikir apakah waktu hanyalah ilusi.

Kemudian di tahun yang baru ini saya bepikir, tidak ada salahnya untuk membuat refleksi bulanan, karena sepertinya untuk membuat jurnal harian masih terlalu 'berat'.

Di awal tahun saya seperti orang-orang kebanyakan, mecoba membuat 'resolusi'. Sebetulnya tak ubahnya momentum yang tepat saja untuk memulai hal-hal baru.

Pertama, saya sukses uninstall instagram, haha. Suatu hal yang saya kira sebelumnya cukup mustahil untuk dilakukan. Efeknya? mungkin saya jadi less FOMO dan lebih tidak peduli dengan detil kehidupan orang lain- yang sebenarnya gak penting-penting amat untuk saya ketahui. Apakah akan dilanjutkan? tentu saja, toh saya bisa akses lewat web sewaktu-waktu.

Uninstall instagram ini berujung pada suatu resolusi lain yaitu berhenti belanja lipstik dan skincare~ karena persediaan yang saya punya sudah seabrek dan saya berniat untuk menghabiskannya sebelum beli yang baru, yang lipstik sudah saya mulai sejak Desember 2018. Namun definisi skincare masih kabur nih, karena kemarin saya beli masker kaki Holika Holika dan bath bomb The Body Shop. Dan sepertinya persediaan pun makin menumpuk karena beberapa teman juga memberikan skincare ke saya #huft #suchaproblem.

Dan bulan ini ditutup dengan dua acara besar di dua kota di Papua, yang alhamdulillah bisa saya persiapkan dengan cukup baik karena waktu persiapannya cukup lama (hal yang jarang terjadi di kantor saya, haha)

Owow, here I come February

Sunday, April 2, 2017

Belajar dari Sullivan

"I need scarers who are confident, tenacious, tough, intimidating. I need scarers like... like... James P. Sullivan."
-Henry J. Waternoose


Apa yang dapat kita pelajari dari Sullivan, salah satu monster di film Monster Inc. ?
Well kita mendapati bahwa Sullivan adalah salah satu pekerja yang jujur, passionate dan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

Tapi mari kita melihat ke masa lalunya yang diceritakan dalam film prekuel Monster University. Dari film itu kita tahu bahwa Sully ternyata drop out dari MU, tapi di akhir cerita ia tetap masuk ke Monster Inc. lewat jalur 'lain' yaitu menapaki tangga karir dari level pengantar surat.

Kisah Sullivan ternyata juga terjadi di dunia nyata manusia (Haha). Dari sebuah training, saya mengetahui Houtman Zainal Arifin sosok yang menapaki jenjang karir dari seorang Office Boy hingga Vice President di Citibank. [cerita pak Houtman]

Tidak seperti Sully, saya berhasil lulus dari universitas impian saya (walau dengan babak belur). Dan beberapa saat setelah menyanyikan Gaudeamus Igitur di Balairung (read: wisuda) saya begitu bingung 'shit, what's hella next?'. Masuk UI telah menjadi impian ultimate saya hingga seolah-olah setelah itu tidak ada yang perlu dicapai lagi. Konyol memang. Baca post saya yang ini

Kemudian saya menghabiskan waktu setahun setelah lulus dengan magang di KontraS dan UNDP. Sebuah pilihan yang sungguh antimainstream di kalangan teman-teman saya. Karena, alasan sesungguhnya adalah: I don't know what hella to do with my life, but at least I should keep my muscles and mind busy.

Saya juga sibuk kerja freelance (ngasong, kalo istilah anak Psikologi) dan melamar pekerjaaan di berbagsi company. Karena, ya saya butuh uang buat beli lipstik dan minum kopi, hehe. Ini karena kebutuhan pokok saya masih ditopanh oleh Ayah dan kakak-kakak saya. Maka hal tersebut juga privilese buat saya untuk tidak terburu-buru nyari uang.

Dan betul lah apa kata Francois Lelord. Perbandingan akan mendisrupsi kebahagiaan kita. Ih enak ya dia udah kerja di BUMN, Ih enak ya anu kerja di konsultan, Ih keren ya dapet lpdp bisa S2 di luar. Saya kerap melihat teman-teman saya yang jauh lebih 'sukses' dibandingkan saya.

Hingga saya mendarat di salah satu wawancara dengan perusahaan swasta. Interviewer bilang "saya lihat CV kamu, kalau kamu mau membangun karir di NGO, you are on the right track. Kenapa tiba-tiba daftar ke perusahaan ini?" Makjleb! Kalimat tersebut terasa seperti pujian sekaligus penolakan. Haruskah saya menjawab jujur, "saya butuh uang Pak!" Hahaha.

Hingga kini, saya masih menganggap passion itu mitos. Namun pekerjaan akan menjadi sangat melelahkan jika orientasinya hanya uang dan kita tidak happy melakukannya.

Saya juga meraba-raba ada sebuah sindrom millennial yang terlalu 'sombong' untuk mengerjakan pekerjaan remeh temeh, seperti pekerjaan Sullivan yang mengantar surat di kantor Monster Inc. Haha. Setelah lulus dari kampus, mungkin kita merasa sudah pro segalanya. Tapi yakinlah ketika masuk ke belantara pasar tenaga kerja, kita mulai semuanya dari dasar terendah rantai makanan. Hahaha

We're all get our perks and twerks. To all jobseekers, fresh graduates, millennials out there please stay tough, keep searching. Semoga kalian bisa seperti Sullivan atau seperti apapun yang kalian inginkan.

XO,

Kampung Bali
3 April 2017

Saturday, April 1, 2017

Om, telat om

Bukan kok bukan telat datang bulan

Tapi... Ini kebiasaan buruk saya dari dulu. Sering sekali telat datang di suatu acara. Terutama jika acara tersebut di PAGI HARI. Karenanya ya, saya susah bangun pagi :'( saya pun malu banget ketika ditegur salah seorang dosen (yang saya tau beliau bukan muslim) "trus kamu solat subuhnya gimana dong kalau bangun siang?"

Iya Pak saya sering telat (bahkan terlewat) solat subuh. Atau bahkan begadang sampai solat subuh dulu baru tidur :(

Bangun pagi memang erat dikaitkan dengan produktivitas dan kesuksesan seseorang. Iya gak sih?. Jadi saya low grade banget dong sebagai manusia. Nanti kalau pas taaruf jangan-jangan bakal ditolak karena suka bangun siang #hah #apasih

Bolehlah saya berargumen kenapa saya tidak suka bangun pagi. Pertama, ini kebiasaan sejak kecil, menurut Mama, daripada saya ngerepotin sejak pagi saya dibiarin tidur aja sampe siang. Haha, ujung2nya nyalahin pola asuh.

Nah kebiasaan ini semakin menjadi-jadi saat saya kuliah dan sering begadang...

Nah kalau untuk masalah telat dateng ke suatu acara itu karena saya males nunggu #eak. Jadi kalau bukan panitia, saya prefer dateng mepet biar pas dateng acaranya udah mulai. Walaupun sering berakibat gak dapet tempat duduk atau kelewat coffee break. Haha.

Padahal saya tau kebiasaan ini banyak mudhorotnya buat saya. Banyak banget lah kerugian yang saya alami karena suka bangun siang dan suka telat.

Hufth

Ini shitposting setelah merasa bersalah telat dateng untuk presentasi pitching.

Jadi, ada yang punya tips biar saya bangun pagi dan gak suka telat?

Thursday, May 12, 2016

Go Big or Go Home?

Last week, I go home. I feel weird, a bit strange. My parents just did a major renovation that change many parts of it. I lost my dirty ugly green sofas, I lost corner between my bed and my desk, place where I used to write my diaries, crying to trashy love songs, and god only knows what else. But I can't complain. That house aged as old as my oldest brother and never have any refinement since then. It NEED to be fixed. And yes, I can not complain. I'm not feel that bad about that renovation. Now my home have nicer tile and wall, better roof that not leaked when it's rain, et cetera. And I'm not a little girl anymore. Don't be too sentimental. It's my parents' home, not mine. Maybe

Go big or go home. I often heard that words. Roughly translated into: be success, or yeah stay at your nest, do nothing.

Beside all that strange feelings towards my 'new' home. I just realized that I have certain distance with my neighboorhood. I went to high school uptown that quite far from my home, and then I go miles away to pursue my degree. I feel like a stranger in my own village. And too bad, I just realized that now.

I just graduated from my university. Now I'm on my 'liberty crisis' or yeah -unemployed- well I might said that I'm not totally legit to be called that. I am volunteering at an NGO as a researcher. My friends called it cool, my parents does not say so. There is a lot of better things, kid. Yeah. But I feel lost, not because I don't have map, but sadly, I pretty confused where is my direction.

So, go big or go home?

Maybe I should done this first:
Define what is 'big'?
And finding where is 'home'?

Wish me luck

Tuesday, August 4, 2015

Sayur Tanpa Garam


Pasti kalian juga bosen bin sebel kan ditanyain sodara- sodara kapan lulus? Kapan kawin? Yang kemaren mana? #eh. Dan untuk saya ada satu kalimat yang rasanya wajib saya terima dari handao taulan ini: "tambah gede ya?" dan sejenisnya, haha. Dulu sih pasti sakit hati banget kalo denger gitu. Sekarang cuma dijawab "Alhamdulillah" sambil senyum aja mereka diem :) and I feel win haha. Lucu juga karena di hari Lebaran ada kawan yang mengeluh karena dibilang kurus oleh sodara- sodaranya. Hmm namanya juga manusia.

Ternyata tidak sesimpel itu, kenapa sih berat badan jadi hal yang sangat sensitif di dunia ini?. Berat badan adalah ukuran termudah dan paling tampak untuk mengukur kesehatan seseorang. Kurang lebih seperti itu kutipan dari reality show "The Men That Made Us Thin". Memang benar, untuk mengukur gula darah, kolesterol, atau tekanan darah pastinya lebih ribet dan sulit. Jadilah berat badan yang dijadikan ukuran paling umum untuk 'kesehatan'. Masuk akal juga menurut saya.

Kemudian Ibu saya membujuk saya untuk melakukan diet mayo yang sedang ngetren banget itu. Ibu saya memang berada di garda terdepan untuk masalah kurus kurusan, haha. Oke, karena Ibu mau menyediakan masakan yang harus saya konsumsi selama 13 hari, saya pun mengiyakan.

Inti dari diet mayo adalah tidak mengonsumsi garam sama sekali. Membatasi asupan karbohidrat, protein dan vitamin dengan seimbang serta mengurangi gorengan, nasi dan gula. Dan hari ini 4/7/15 saya menyelesaikan diet 13 hari saya. Menurut penggagasnya, Dr. Moyes garam mengikat air dalam tubuh sehingga membuat badan lebih besar, dan diet ini berfungsi untuk mengurangi kadar garam dalam tubuh.

Gimana hasilnya? Turun berapa kilo? Hmm saya gak nimbang before after sih, hehe. Cuma waktu seminggu diet berjalan saya ke apotik dan nimbang ternyata turun 5 kilo. Itu bonus sih, karena dari awal saya berkomitmen untuk diet tujuannya adalah supaya lebih sehat, anggap aja seperti terapi gitu.

Yakin gak cheating? Sebenernya program ini paling gak menyika sih buat saya. Menu makanannya lebih enak malah dibanding makan saya sehari hari, tiap hari ada menu daging sapi atau ayam atau ikan, walaupun hanya boleh dibakar dan dikukus. Yucks sih rasanya, tapi lama lama terbiasa. Kalau masih lapar saya makan roti gandum tawar dan minum susu low fat walau gak ada di menu, serta makan buah dan minum air putih sebanyak- banyaknya. Jeleknya juga saya masih kurang banget olahraga sih

Sebenernya diet ini mengingatkan saya pada tradisi masyarakat Jawa, terutama mereka yang masih menganut kepercayaan kejawen yaitu mutih atau ngadem. Mutih adalah hanya mengonsumsi nasi putih dan air sedangkan ngadem adalah mengonsumsi makanan tanpa rasa *cmiiw.

Saya menemui insight baru, mengapa beberapa keyakinan spiritual biasanya juga mengatur pola makan penganutnya, seperti Buddha yang vegetarian, Hindu yang tidak makan daging sapi, Islam yang melarang minuman beralkohol dan daging sapi, berpuasa serta beberapa diet lain yang mungkin tidak saya ketahui.

Semua itu adalah tentang self control, teman- teman. Selama ini saya menjadikan makanan sebagai 'hiburan' bukan kebutuhan. Menahan diri untuk tidak memasukan sesuatu ke mulut adalah hal yang sulit. Yang seharusnya manusia pahami sebagai latihan untuk mengontrol diri pada hal- hal yang lain. Ya, seperti Neraka Juu yang berhasil menaklukan si hawa nafsu :D

Toh saya masih hidup kok walau tidak makan nasi, indomie, gorengan, dan coca cola. Memang baru 13 hari sih. Tapi semoga sebagai awalan untuk hidup sehat. Karena, okelah standar kecantikan ada sangat banyak tapi kayaknya standar sehat cuma ada satu (sehat fisik ya, hehe). Mumpung masih diberi kesehatan, jagalah kesehatan itu :)

Semoga kita semua senantiasa sehat ya

Saturday, March 14, 2015

Feminis Bingung

Kalau ada satu mata kuliah yang saya ingat sampai sekarang dan bisa dikatakan mengubah hidup saya, itulah Paradigma Feminis, mata kuliah lintas fakultas yang 'cuma' 2 sks namun sebegitu signifikan dalam hidup saya. Kenapa? feminisme memberikan saya perspektif baru tentang kehidupan, tentang dunia, mengajak saya melihat dunia ini dari sudut pandang baru. Tugas Akhir mata kuliah tersebut yang saya post di blog ini pun kemudian diakses teman- teman saya yang mengambil mata kuliah tersebut di semester selanjutnya, haha.

Sebegitu signifikan hingga kemudian saya menaruh minat yang besar dalam topik- topik tentang perempuan. Membicarakan tentang ini dengan beberapa teman- teman saya, membaca Jurnal Perempuan dan buku- buku para pemikir feminis,hingga menjadi social climber di acara yang diadakan media tersebut. Hingga akhirnya saya memilih untuk magang di Yayasan Pulih yang fokus pada pemulihan penyintas kekerasan terhadap perempuan. Bahkan, saya jauh jauh ke benua Afrika untuk magang lagi Egyptian Feminist Union.

Kadang saya merenung dan juga bingung, kenapa saya sebegitu tergerak untuk menekuni bidang ini, walau saya sering mengaku "ah saya tertarik ke banyak hal kok". Melihat latar belakang, saya juga cukup beruntung sebagai perempuan. Saya anak perempuan satu- satunya, paling muda lagi, namun orangtua saya, terutama ayah saya mendukung saya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Ya, pendidikan, adalah hal yang kemudian saya yakini bisa membebaskan seorang manusia sebenar- benarnya. Bayangkan berapa kemungkinan yang muncul ketika seorang manusia yang tadinya buta huruf jadi bisa membaca, berapa banyak lagi kemungkinan ketika seorang bisa menguasai bahasa Inggris misalnya. Pendidikan sesungguhnya menyadarkan saya bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang tidak terbatas. Kata Ayah saya, kurang lebih begini "kita bukan apa- apa, bapak cuma buruh, dan yang nantinya bisa meningkatkan derajat kalian cuma pendidikan, cuma itu yang bisa bapak wariskan"

Saya juga beruntung, saya adalah warga negara Indonesia. Tidak berlebihan, saya harus mengakui bahwa negara ini cukup 'ramah' pada perempuan. Tentu saja masih terdapat kekurangan di mana mana, namun ketika saya memiliki kesempatan untuk melongok beberapa data tentang kekerasan terhadap perempuan di region MENA (Middle East and North Africa) keadannya jauh, jauh lebih parah daripada di negara ini. Praktek genital mutilation masih umum dilakukan, banyak perempuan tidak memiliki hak dalam politik, dan masih banyak dari para orangtua tidak mau menyekolahkan anak- anak perempuannya. Tahu kan, bahwa negara adidaya seperti Amerika Serikat pun baru memberikan hak pilih pada warga negaranya yang berjenis kelamin perempuan pada amandemen konstitusi yang ke 17.

Keberuntungan selanjutnya yang harus saya akui adalah karena saya beragama Islam. Tunggu dulu, anda pasti sering mendengar bahwa Islam berpaham opresif terhadap perempuan. Ada hal lucu yang ingin saya ceritakan, hal ini ketika kakak saya membuka Adobe reader di ponsel saya dan menemukan buku- buku tentang feminisme. Ia bertanya
"jadi feminis kamu sekarang?"
"masih belajar"
"hati- hati lho"
Hal ini menggelitik saya, bahkan kakak saya yang paling dekat dengan saya sekaligus sangat terbuka pemikirannya menyampaikan hal itu, hati hati kamu akan jadi feminis!. Belakangan saya berkesimpulan, kita terlalu terkekang dengan segala stereotip yang ada pada label- label tertentu, dan memang kecenderungan manusia mungkin untuk melabeli segala hal untuk mempermudah proses kognitifnya. Label 'feminis' yang dipahami kakak saya kala itu mungkin sama dengan label 'Islam' yang dipahami kebanyakan warga Eropa atau AS atau label 'seniman' yang dipahami kebanyakan orang di Indonesia. Hal ini saya jadikan penjelasan kepadanya karena notabene ia adalah seniman, tentu penghayatan seorang seniman tentang seniman begitu mendalam dibandingkan prasangka orang kebanyakan tentangnya. Kita cenderung membenci hal- hal yang tidak (belum) bisa kita pahami.

Oke, mengapa saya bilang saya beruntung sebagai perempuan- Islam. Salah satu contoh mudanya adalah, cara kami berpakaian. Ya, jilbab yang lagi- lagi mungkin banyak dianggap sebagai simbol opresi terhadap perempuan. Jadi begini, kita sudah mahfum bahwa banyak perempuan di dunia kini menjadi 'budak' kapitalisme industri kecantikan. Dari mulai fashion, kosmetik, operasi plastik, dan sebagainya. Perempuan yang sibuk mengurusi tubuh dan kecantikkannya sampai sampai lupa bahwa masih banyak hal lain di dunia ini. Lupa untuk belajar, lupa untuk mengupgrade kemampuan diri, lupa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya. Penghayatan saya adalah, sesungguhnya Islam melindungi perempuan dari hal ini. Tata cara berpakaian muslimah mengedepankan kesederhanaan, jadi idealnya perempuan tidak lagi dipandang dari rupa atau bentuk tubuhnya, tapi dinilai dari pemikirannya, perilakunya terhadap orang lain. Dengan demikian, kualitas diri yang intangible seharusnya lebih nampak dari penampilan tubuh yang fana. Kalau begitu, mengapa sekarang tren hijaber malah marak di kalangan muslimah. Bukan kapasitas saya untuk menilai, tapi semoga kita semua adalah orang- orang yang berproses menjadi baik. Suatu ketika saya ditanyai oleh teman saya yang orang Eropa dan atheis
"mengapa kamu berjilbab?"
"karena agama saya memerintahkan demikian"
"apakah kamu merasa terpaksa memakainya?"
"I'd rather be slave of my Allah, than slave of fashion industry"
Dia pun tersenyum dan mengangguk- angguk.

Tapi, pengetahuan saya tentang Islam masih cetek banget sih dan saya yakin semua pengalaman spiritual sifatnya sangat subjektif. Jika anda berpendapat lain, mohon tinggalkan komentar :)
Hingga akhirnya saya berpikir, sampai kapan saya akan 'ngulik' topik ini. Apakah saya akan istiqomah dengan perjuangan ini. Cielah perjuangan, padahal saya belum melakukan apa- apa. Saya juga kadang sangsi, apakah hal ini benar atau jalan ini akhirnya membuat saya tersesat. Yang jelas, jauh pada diri saya sesungguhnya hal ini membuat saya memiliki semangat baru dalam hidup. Walaupun mungkin terdengar berlebihan. I had to be powerful to empower others.

Saya pun sering terharu ketika banyak laki- laki, minimal di sekitar saya yang mendukung tentang 'gerakan' feminisme. Walaupun masih banyak juga yang skeptis. Seperti, "mengapa ada hari perempuan internasional, tapi tidak ada hari laki- laki internasional". Begini teman- teman, mungkin banyak kelakuan para pejuang hak perempuan yang akhirnya disalah artikan dan akhirnya membentuk stigma negatif. Tapi kita tidak boleh menutup mata, bahwa diskriminasi perempuan masih terjadi di mana mana. Memang bukan hanya perempuan satu satunya 'kaum' yang mengalami hal ini di dunia. Perjuangan para LGBT misalnya, atau ras- ras tertentu yang didiskriminasi. Kurang lebih sama semangat yang mendasarinya. Walaupun sejauh ini saya masih yakin kesetaraan yang mutlak mustahil untuk terjadi.

Jadi, gimana?

Monday, November 11, 2013

Tanggung Jawab

setahun yang lalu, saat saya turut serta dalam sebuah acara orientasi kampus, salah satu dari kami melakukan kesalahan. pada akhir acara, saat evaluasi kami semua-- yang sudah kelelahan hampir saling menyalahkan satu sama lain. lalu ada seseorang yang saat itu melakukan kekeliruan ditanya oleh panitia yang lebih senior..

"mas angkatan berapa?"
*si mas ini menyebutkan angkatannya*
"oh kalo gitu kesalahan yang lo lakukan hari ini, salah gue juga, karena gue yang dulu ngospekin elu"

.....

beberapa hari gue kesel sama si senior ini, tapi setelah dia memberikan pernyataan ini, gue langsung berpikir dia cooool abeees maaaan, hahaha

berapa kali dalam sehari kita mengacungkan jari ke orang lain, menunjuk padanya, semua gara2 elu, salah elu, ini salah si a, b, c, d.... tapi pernah gak sih sekali kita diem sebentar merenungi, jangan- jangan semua kesalahan, keancuran, kegakjelasan di dunia ini gara- gara diri kita sendiri.... hmm...