Showing posts with label syukur. Show all posts
Showing posts with label syukur. Show all posts

Saturday, January 1, 2022

Bye 2021 (Part 1)

Tahun lalu bukanlah tahun yang mudah untuk saya. Hilightnya adalah, ya Bapak saya berpulang 15 Juni 2021, hanya beberapa hari sebelum saya berulang tahun yang ke 27. Sesusah-susahnya saya berusaha menemukan 'silver lining', toh hidup ini harus terus berjalan buat saya. Dengan demikian, saat memutuskan untuk ikut challenge KLIP lagi tahun ini, saya mencoba mengorek-korek lagi ke dalam otak saya, hal-hal apa yang saya syukuri tahun ini, supaya saya bisa baca lagi sewaktu-waktu. Sebagai pengingat bahwa tahun ini tidak berlalu begitu saja. Btw listnya ngasal seingetnya saya aja (not in any particular order), hehe

1. Jaksel Lyfe

Akhir tahun 2020 saya pindah kosan dari BSD ke Radio Dalam, karena saat itu ngantor di daerah Kebayoran Baru. Sebelumnya, kantor dan area pergaulan saya seputaran Jakarta Pusat saja, sebetulnya Jaksel ini lebih menarik karena lebih berasa neighborhood nya instead of business complex (nah loh kan bahasanya aja udah Jaksel banget, wkwk). Hmm kayaknya menarik ya kapan-kapan nulis soal code-switching bahasa ini.

Oke lanjut fokus, Radio Dalam ini nyaman karena kemana-mana deket. Sangat deket dari PIM (haha) jalan kaki ke Gandaria City juga bisa, ke Kemang atau Cipete juga masih bisa dijangkau dengan motor, Barito, Blok M juga dekat, kalau mau agak jauh bisa naik MRT. Pantes banyak yang suka tinggal di Jaksel ya, banyak cafe buat ngopi-ngopi cantik juga (walau Giyanti yang di Jakpus masih the best menurut saya).

2. Explore parfum lokal

Kayaknya Topik ini juga cukup seru kalau dibikin satu blog post sendiri (mulai insecure kehabisan topik buat KLIP, haha). Biasanya tiap tahun saya sisihin budget buat beli satu discovery kit parfum brand impian (yang mana harganya lumayan ya). Nah tahun ini budget itu gue alihkan untuk explore (masih dicovery kit parfum lokal.

perfume is the way my olfactory senses take a peek of how upper class life feels like

Beberapa brand parfum lokal yang gue suka adalah: Oullu, Mine, House of Medici, dan Fetch. Gue lumayan bangga dengan perkembangan pesat industri ini di Indonesia. Karena banyak bahan baku parfum tuh diekspor dari negara kita, semoga makin keren yah skena ini. Gue juga pengen banget belajar perfumery, one day, di Grasse #aamiin #manifesting.



Berlanjut ke part 2 ya, hehe



Thursday, February 6, 2020

January Was A Free Trial Month

Januari kemarin banyak banget kejadian gak mengenakan yaa...

- Coronavirus
- Qassem Soleimani killed - Brexit - Iran shoots down Ukrainian plane - Kobe Bryant dies - Natural disasters: Australia, Brazil, Indonesia, Turkey, India, Pakistan - Trump impeachment trial - Middle East peace plan - Libya and Syria conflicts


sumber: Spectator Index

Image

Sampai ada yang bikin ilustrasinya kayak gini :(

Makanya banyak yang bilang kalau bulan Januari 2020 ini kayak free trial aja, semoga tahun 'beneran'nya baru dimulai di bulan Februari. Buat gue kayaknya ini ada benernya juga.

Tanggal 4 Februari kemaren gue dapet email yang begitu membahagiakan. Hahaha, alhamdulillah. Pertama, email dari Basic Income Bootcamp yang menyatakan gue lolos sebagai peserta. Udah lama ngepoin Basic Income Lab nya UI, yang ternyata penggagasnya adalah Dr. Sonny Mumbunan- orang keren yang cukup banyak gagasan expertisenya di ranah 'creative public financing'. Makanya lah, excited banget gue ikutan bootcamp ini. Pertama tahu konsep universal basic income itu setelah baca Utopia for Realist nya Rutger Bregman. Bootcamp ini gue ibaratkan kayak coachella nya UBI, haha. Okedeh really looking forward to join this bootcamp. Semoga ekspektasi gue gak ketinggian.

Image

Selang beberapa jam, iya, really, beberapa jam. Ada email lagi dong, dari Whiteboard Journal yang menyatakan esai submisi gue lolos seleksi dan akan masuk buku cetak ke-dua mereka. DICETAK MEEN! hahaha maaf lebay. Sebenernya gue bahkan udah lupa pernah submit tulisan ke mereka, karena udah bulan November yang lalu, submitnya pun mepet deadline. Tulisan ini pernah gue submit ke media lain, tapi gak lolos. Ternyata dengan kurator Aan Mansyur dan Baskara Putra (Hindia) tulisan gue malah lolos.

There is always first time for everything kan?!. Semoga validasi dari Whiteboard Journal ini makin membuat tulisan gue 'bagus' dan bisa dibaca banyak orang, aamiin. Jangan lupa beli bukunya ya nanti kalau udah cetak!

HAHAHA


Image

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan bahwa: I am doing okay sometimes :)

Again, alhamdulillah
xoxo


Friday, June 28, 2019

Why We Have to Check Our Privilege


priv·i·lege

/ˈpriv(ə)lij/

noun

1. a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.

"education is a right, not a privilege"

synonyms:advantage, right, benefit, prerogative, entitlement, birthright, due; More

verb

FORMAL

1. grant a privilege or privileges to.

"English inheritance law privileged the eldest son"


Judulnya bahasa Inggris tapi kontennya Bahasa Indonesia, haha

Belakangan, setelah Maudy Ayunda keterima di Harvard DAN Stanford, netizen ramai membicarakan tentang privilege. Banyak yang berpendapat, Maudy gak akan mendapatkan itu jika ia tidak memiliki sekumpulan keistimewaan khusus yang membantunya meraih pencapaian yang cukup luar biasa itu.

Privilege- belum ada satu padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang benar-benar cocok menggambarkannya. Terjemahan umumnya adalah: hak istimewa, hak ini bisa saja kita dapatkan secara cuma-cuma, sesimpel karena kita terlahir dalam keluarga Bakrie misalnya (hahaha) atau memang kita raih karena pencapaian tertentu, contoh: diskon gym karena kita karyawan perusahaan X (yes, that kind of things does exist)

Melihat privilege orang lain mungkin memang lebih gampang dibanding mengecek privilege pada diri sendiri. Serupa peribahasa "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak". Walau privilege ini bukanlah sebuah 'keburukan' namun terus-terusan menghilight privilege orang lain dan lupa mengecek privilege diri sendiri, lama-lama bisa menjadi toxic. Comparison is the thief of joy, katanya.

Kita melihat teman kita sukses kemudian bilang: "Ya lo sih enak, lahir di keluarga kaya, di kota besar, kuliah di universitas terkenal, gampang lah mau sukses" heyyy, sebelum kita begitu teliti dengan keadaan orang lain, coba ambil cermin dan cek keadaan kita.

Mengecek privilege akan memudahkan kita mensyukuri hal-hal yang mungkin selama ini kita take for granted: punya badan yang sehat dan lengkap, tinggal di negara yang relatif aman dan tanpa perang, menguasai bahasa kedua dan masih banyak lagi.


Dengan menyadari bahwa ternyata kita memiliki 'kelebihan' dibanding orang lain. Kita akan lebih mudah berempati, bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Konon, semua orang memulai dari garis start yang sama, adalah mitos kapitalisme (haha apa apa salah kapitalisme). Maka kita tidak akan secepat itu nge judge "ah dia miskin karena males aja kali", "ya udah sih, tinggal belajar lewat google apa susahnya".

So, everytime you want to give any judgement, Check your privilege first!




Friday, February 1, 2019

January Recap

Tidak terasa bulan Januari sudah berakhir, dua jam lebih cepat di sini, membuat saya berpikir apakah waktu hanyalah ilusi.

Kemudian di tahun yang baru ini saya bepikir, tidak ada salahnya untuk membuat refleksi bulanan, karena sepertinya untuk membuat jurnal harian masih terlalu 'berat'.

Di awal tahun saya seperti orang-orang kebanyakan, mecoba membuat 'resolusi'. Sebetulnya tak ubahnya momentum yang tepat saja untuk memulai hal-hal baru.

Pertama, saya sukses uninstall instagram, haha. Suatu hal yang saya kira sebelumnya cukup mustahil untuk dilakukan. Efeknya? mungkin saya jadi less FOMO dan lebih tidak peduli dengan detil kehidupan orang lain- yang sebenarnya gak penting-penting amat untuk saya ketahui. Apakah akan dilanjutkan? tentu saja, toh saya bisa akses lewat web sewaktu-waktu.

Uninstall instagram ini berujung pada suatu resolusi lain yaitu berhenti belanja lipstik dan skincare~ karena persediaan yang saya punya sudah seabrek dan saya berniat untuk menghabiskannya sebelum beli yang baru, yang lipstik sudah saya mulai sejak Desember 2018. Namun definisi skincare masih kabur nih, karena kemarin saya beli masker kaki Holika Holika dan bath bomb The Body Shop. Dan sepertinya persediaan pun makin menumpuk karena beberapa teman juga memberikan skincare ke saya #huft #suchaproblem.

Dan bulan ini ditutup dengan dua acara besar di dua kota di Papua, yang alhamdulillah bisa saya persiapkan dengan cukup baik karena waktu persiapannya cukup lama (hal yang jarang terjadi di kantor saya, haha)

Owow, here I come February

Thursday, November 8, 2018

Syukur

Malam itu, di suatu hari pada bulan Februari 2015. Saya dan Alisha sekali lagi berkunjung ke Pasar Khan El Khalili. Alisha mau membelikan oleh-oleh piring hias karena mamanya mengoleksi.

Hujan badai (yang konon cuma terjadi beberapa kali setahun di Mesir) tidak menyurutkan langkah kami untuk pergi naik bus ke pusat kota.

Kamipun langsung menuju toko langganan, toko Jordi- yang letaknya agak tersembunyi di lantai 2. Kami suka belanja di sini karena harganya sudah fix tertempel di label setiap barang, jadi tidak ada acara drama tawar menawar seperti di toko lain.

Namun rupanya tidak ada piring yang cukup bagus di Jordi, Alisha pun pergi ke toko lainnya tidak jauh dari situ. Kami menemukan piring logam dengan ukiran kaligrafi dalam bahasa Arab. Kami pun menanyakan arti dari tulisan tersebut.

Dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata Bapak penjual menjelaskan:

"la`in syakartum la`aziidannakum"

"it's from Qur'an you know, if you are grateful, Allah will gave you more"

sejak saat itu potongan ayat ketujuh Surat Ibrahim itu menempel di memori saya, dan coba mengamalkannya walau sulit.

Terimakasih Bapak penjual piring :)

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
wa iz ta`azzana robbukum la`in syakartum la`aziidannakum wa la`ing kafartum inna 'azaabii lasyadiid

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Sunday, August 13, 2017

Taken For Granted

Kemarin malam, pilek yang sudah dua hari saya derita makin menjadi-jadi. Saya pun sudah dua hari gak masuk kantor. Akhirnya, mau tidak mau, saya harus ke dokter.

Saya punya asuransi Cigna dari kantor. Saya lihat di websitenya bahwa asuransi ini bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Jakarta, salah satunya Rumah Sakit Medistra. Saya pun menelepon untuk memastikan bahwa keperluan medis saya benar-benar bisa ditanggung, sekaligus reservasi dokter umum.
Di bagian pendaftaran, ternyata kartu saya ditolak, karena kartu saya terdaftar di Cigna Global, bukan Cigna Indonesia. Walhasil saya harus mendaftar dan membayar dengan biaya sendiri. Nantinya memang bisa direimburse, tapi kan ribet ya. Haha
Setelah cek dengan dokter, diberi resep, sampailah saya ke kasir. Ternyata tagihan cek dokter umum dan obat sekaligus administrasi tadi sampai 862.500 rupiah! Waduh! mahal gilak. Untung saya masih punya orangtua untuk bayarin ongkos berobat itu.

taken for granted, belakangan frasa tersebut menjadi favorit saya. Entah apa padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia, saya belum menemukannya.

Karena belakangan, saya sadar bahwa banyak sekali hal-hal dalam hidup ini yang saya take for granted. Kasus berobat tadi misalnya, waktu kecil biaya kesehatan saya sekeluarga ditanggung perusahaan tempat Bapak saya bekerja, kalau sakit tinggal ke dokter, ambil obat di apotek, pulang! gak mikir blas!.

Saya lulus pendidikan sarjana atas biaya orangtua, memiliki tempat tinggal dengan akses listrik, air dan pendingin ruangan yang layak, dan lain sebagainya. Semua itu saya anggap normal-normal saja saya terima.

Padahal, bisa jadi saya adalah sekian kecil persen warga dunia yang menikmati privilese ini.

Belakangan ini, saya takut, atas segala nikmat yang saya peroleh dalam hidup ini. Saya takut menjadi ignoran.

Kemudian ketus pada para gelandangan, ya mereka gak mau kerja sih!

Jauhkanlah hamba dari sikap demikian, ya Tuhan