Showing posts with label Bahagia. Show all posts
Showing posts with label Bahagia. Show all posts

Thursday, February 6, 2020

January Was A Free Trial Month

Januari kemarin banyak banget kejadian gak mengenakan yaa...

- Coronavirus
- Qassem Soleimani killed - Brexit - Iran shoots down Ukrainian plane - Kobe Bryant dies - Natural disasters: Australia, Brazil, Indonesia, Turkey, India, Pakistan - Trump impeachment trial - Middle East peace plan - Libya and Syria conflicts


sumber: Spectator Index

Image

Sampai ada yang bikin ilustrasinya kayak gini :(

Makanya banyak yang bilang kalau bulan Januari 2020 ini kayak free trial aja, semoga tahun 'beneran'nya baru dimulai di bulan Februari. Buat gue kayaknya ini ada benernya juga.

Tanggal 4 Februari kemaren gue dapet email yang begitu membahagiakan. Hahaha, alhamdulillah. Pertama, email dari Basic Income Bootcamp yang menyatakan gue lolos sebagai peserta. Udah lama ngepoin Basic Income Lab nya UI, yang ternyata penggagasnya adalah Dr. Sonny Mumbunan- orang keren yang cukup banyak gagasan expertisenya di ranah 'creative public financing'. Makanya lah, excited banget gue ikutan bootcamp ini. Pertama tahu konsep universal basic income itu setelah baca Utopia for Realist nya Rutger Bregman. Bootcamp ini gue ibaratkan kayak coachella nya UBI, haha. Okedeh really looking forward to join this bootcamp. Semoga ekspektasi gue gak ketinggian.

Image

Selang beberapa jam, iya, really, beberapa jam. Ada email lagi dong, dari Whiteboard Journal yang menyatakan esai submisi gue lolos seleksi dan akan masuk buku cetak ke-dua mereka. DICETAK MEEN! hahaha maaf lebay. Sebenernya gue bahkan udah lupa pernah submit tulisan ke mereka, karena udah bulan November yang lalu, submitnya pun mepet deadline. Tulisan ini pernah gue submit ke media lain, tapi gak lolos. Ternyata dengan kurator Aan Mansyur dan Baskara Putra (Hindia) tulisan gue malah lolos.

There is always first time for everything kan?!. Semoga validasi dari Whiteboard Journal ini makin membuat tulisan gue 'bagus' dan bisa dibaca banyak orang, aamiin. Jangan lupa beli bukunya ya nanti kalau udah cetak!

HAHAHA


Image

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan bahwa: I am doing okay sometimes :)

Again, alhamdulillah
xoxo


Tuesday, January 22, 2019

Don't Sweat the Small Things

Kemarin saya pulang naik kereta bersama teman saya. Ketika kami sedang membahas tentang moda transportasi apa yang paling ideal untuk pergi dan pulang ke kantor, teman saya ini mengeluh "Aku tuh males banget kalau nunggu taksi online lama, tapi kalau supirnya yang nunggu aku juga ga enak". Saya berpikir memang ada benarnya juga pendapat teman saya ini. Tapi... apa iya ya kita harus sebegitu memikirkan hal-hal kecil seperti itu sampai membuat kita stres.


Saya jadi ingat prinsip Marie Kondo dalam beres-beres atau tidying. Is this item sparks joy? Begitu pula untuk orang yang punya kecenderungan overthinking seperti saya. Belakangan saya memilih mengeliminasi pikiran-pikiran yang tidak terlalu penting. Karena tinggal dan bekerja di kota besar sudah membuat hidup saya memiliki banyak hassles. Hehe

Jadi apa saja hal-hal yang membuat hidupmu sparks joy?

Thursday, October 5, 2017

Psychological Cost

sumber gambar
Beberapa hari yang lalu, sebagian teman sekantor saya terlambat datang karena mereka berangkat ke kantor menggunakan KRL dan KRL pada hari itu anjlok di stasiun Manggarai. Praktis, hampir semua jalur KRL di Jabodetabek lumpuh total. Berbagai foto dan update berita disiarkan oleh teman-teman saya di berbagai platform sosial media.

Hari itu, saya tidak terkena dampak peristiwa di atas. Saya tinggal 5 menit jalan kaki jauhnya dari kantor. hal ini memberikan sederet kemewahan bagi saya, termasuk ngulet di kasur alih-alih dempet-dempetan di kereta.

Saya menyebutnya psychological cost

Saya belum riset sih kalau terminologi ini beneran ada atau enggak. Singkatnya gini, Biaya kos saya di Depok setengah biaya kos saya di Jakarta. Jika ditambah biaya transportasi pun masih lebih murah kalau saya milih ngekos di Depok. nah tapi dengan kasus tadi, tentu saya akan lebih capek kalau menjadi penglaju Depok-Jakarta. Biaya yang saya keluarkan untuk membuat saya less capek ini adalah psychological cost.

Sotoy benar ya

Nah, tapi less capek ini bukan berarti serta merta lebih sejahtera ya. karena ada banyak variabel lain seperti kualitas hunian saya yang lebih buruk saat ngekos di Jakarta, ruang publik yang kurang asri dan lain pelbagainya.

Intinya, psychological cost ini menjawab berbagai pertanyaan tentang, misalnya: "milih kerja gaji gede tapi gak seneng, atau gaji kecil tapi seneng" atau "milih nikah sama yang tajir tapi gak nyambung diajak ngobrol atau yang klop tapi proletar" haha. Psychological cost memberi perspektif baru dalam memilih dan tidak melulu mengutamakan benefit berbentuk uang.

Namun lagi-lagi masalahnya adalah, kesejahteraan terlalu sulit diukur secara mutlak dan terlalu banyak variabel lain. Dalam kasus milih pekerjaan misalnya, bagaimana jika pekerjaan gaji besar namun tidak kita suka itu justru lebih mengembangkan diri kita sedangkan pekerjaan yang kita suka malah membuat kita terjebak dalam zona nyaman.

Ah, memang sukar mengukur kebahagiaan, buat apa pula? Gimana menurut Kamu?


Bahagia mah bahagia aja keles,

Binski

*) ini artikel ngawur yang sama sekali ndak ilmiah, nggak usah serius serius lah :p

Monday, October 22, 2012

Semoga Belum Kiamat


2011 : hidup adalah pilihan, pilihlah yang terbaik
2012 : hidup adalah pilihan, memilihlah untuk bahagia

Duaribuduabelas tinggal beberapa bulan lagi. Saya patut waspada karena dulu percaya kalau kiamat datang pada 21 Desember 2012, sedangkan saya masih jomblo, gkgkgk. Tapi kita harus optimis, buktinya anak FE masih jualan agenda 2013 (?)

Tahun ini memang penuh warna : kuning, merah, hijau, hitam, coklat, abu- abu, shocking pink dan tentunya biru muda.

Tahun ini diawali dengan penolakan besar. Lebay ? mungkin. Tapi begitulah bagi saya. saya jadi belajar banyak dari hal ini, bahwa saya tidak akan selalu mendapatkan yang saya inginkan. Dan membuat mata saya lebih terbuka. Saya punya kata bijak baru : “segelap apapun, pastikan matamu tetap terbuka.” Dan biarkan inderamu yang lain tetap ‘awas’ bahkan lebih ‘awas’.

Tentu kemudian saya menjadi tidak sebegitu naif seperti dulu, haha. Dan saya menjadi begitu mencurigai banyak hal, ya begitulah. 

Saya banyak mengalami hal baru. Meskipun itu sesimpel nonton Endah n Rhesa di Pacific Place, jadi fasilitator di We Care, atau semakin kecanduan postcrossing, haha. Benar kata mereka, bahagia itu sederhana. Kebahagiaan memang intangible and even unmeasurable, tapi toh kita selalu tahu (atau biasanya tahu, atau seharusnya tahu) apa yang membuat kita bahagia dan apa yang tidak.
Saya bertemu banyaaak orang- orang keren dan pintar dan ganteng/ cantik (in their own ‘way’) dan inspiring dan lainlain. Saya jadi lega jikalau dunia ini memang tidak-segera-akan kiamat, mereka mungkin bisa jadi penyelamat bagi saya dan orang- orang lain yang lemah ini, hiks.

Belakangan ini memang saya agak ‘terpuruk’. Emm, gak gitu juga sih. Tapi sepertinya saya memang agak lebih butuh motivasi eksternal :3

Syahdan, kalaupun kiamat akan daatang 21 Desember nanti. Saya pernah menulis ini, dan semoga kamu membacanya. Saya pernah memili untuk bahagia, semoga anda juga :D

Minggu, 14 Oktober 2012
2:30 AM
Kukusan