Showing posts with label In my mind. Show all posts
Showing posts with label In my mind. Show all posts

Friday, June 28, 2019

Why We Have to Check Our Privilege


priv·i·lege

/ˈpriv(ə)lij/

noun

1. a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.

"education is a right, not a privilege"

synonyms:advantage, right, benefit, prerogative, entitlement, birthright, due; More

verb

FORMAL

1. grant a privilege or privileges to.

"English inheritance law privileged the eldest son"


Judulnya bahasa Inggris tapi kontennya Bahasa Indonesia, haha

Belakangan, setelah Maudy Ayunda keterima di Harvard DAN Stanford, netizen ramai membicarakan tentang privilege. Banyak yang berpendapat, Maudy gak akan mendapatkan itu jika ia tidak memiliki sekumpulan keistimewaan khusus yang membantunya meraih pencapaian yang cukup luar biasa itu.

Privilege- belum ada satu padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang benar-benar cocok menggambarkannya. Terjemahan umumnya adalah: hak istimewa, hak ini bisa saja kita dapatkan secara cuma-cuma, sesimpel karena kita terlahir dalam keluarga Bakrie misalnya (hahaha) atau memang kita raih karena pencapaian tertentu, contoh: diskon gym karena kita karyawan perusahaan X (yes, that kind of things does exist)

Melihat privilege orang lain mungkin memang lebih gampang dibanding mengecek privilege pada diri sendiri. Serupa peribahasa "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak". Walau privilege ini bukanlah sebuah 'keburukan' namun terus-terusan menghilight privilege orang lain dan lupa mengecek privilege diri sendiri, lama-lama bisa menjadi toxic. Comparison is the thief of joy, katanya.

Kita melihat teman kita sukses kemudian bilang: "Ya lo sih enak, lahir di keluarga kaya, di kota besar, kuliah di universitas terkenal, gampang lah mau sukses" heyyy, sebelum kita begitu teliti dengan keadaan orang lain, coba ambil cermin dan cek keadaan kita.

Mengecek privilege akan memudahkan kita mensyukuri hal-hal yang mungkin selama ini kita take for granted: punya badan yang sehat dan lengkap, tinggal di negara yang relatif aman dan tanpa perang, menguasai bahasa kedua dan masih banyak lagi.


Dengan menyadari bahwa ternyata kita memiliki 'kelebihan' dibanding orang lain. Kita akan lebih mudah berempati, bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Konon, semua orang memulai dari garis start yang sama, adalah mitos kapitalisme (haha apa apa salah kapitalisme). Maka kita tidak akan secepat itu nge judge "ah dia miskin karena males aja kali", "ya udah sih, tinggal belajar lewat google apa susahnya".

So, everytime you want to give any judgement, Check your privilege first!




Sunday, February 25, 2018

Curhat: Tentang Belajar Islam

Jadi gini,

Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk ikut sebuah 'program' belajar tentang Islam. Singkat cerita, dua pekan (yang artinya dua kelas) saya ikut program tersebut, saya memutuskan untuk keluar, karena gak cocok. Haha

*sebetulnya saya ingin cerita lebih detil, tapi ndak usahlah

Jadi gini,

Kalau boleh dibilang, saya berasal dari keluarga yang gak religius-religius amat. Saya baru memutuskan belajar dan mendalami Islam ketika saya memutuskan untuk memakai jilbab, pada tahun 2012. Itu semua atas kemauan saya sendiri, karena saya suka!. (Dan kalau boleh sok-sok an) saya merasa it's my calling. Wedeh.

Di blog ini saya bahkan nulis beberapa tulisan dengan tags: Islam.

Waktu kuliah saya bergabung ke kelompok liqo. Mentor saya baik banget, namanya Kak Ana. I miss her and my group. Hehe.

Oke, kelompok saya ini memang terafiliasi pada salah satu aliran. Tapi sekitar 4 tahun saya bersamanya, saya merasa kami sangat open minded.

Waktu berlalu,

Hampir semua pengajian udah saya cicipin. Dan beberapa waktu yang lalau itu. Saya merasa, kok gini sih. Susah dijelaskan dengan kata-kata. Seperti, saya kehilangan 'rumah'.

Saya gak cocok dengan satupun pengajian yang saya cicipi. Ada suatu kecenderungan yang saya endus: satu kelompok pasti akan menganggap dirinya yang paling baik, dengan demikian, ia akan menganggap kelompok lain tidak sebaik dirinya.

Kemudian saya kecewa. Tapi kecewa sama siapa?

Hingga detik ini saya percaya, Islam baik, tapi Muslim (orangnya) belum tentu demikian.

Saya capek denger 'saudara-saudara' saya berantem. Semoga saya gak jadi ignoran dan menjauh.

Kalau kamu yang baca ini kenal saya dan merasa saya butuh 'disembuhkan' please call me. Kalau enggak, ya cukup doakan saya.

Hmm
Makasih

Sunday, November 20, 2016

Menjadi Orang Baik

Kenapa sih Bin, milih kerja di NGO mulu?

Sebuah pertanyaan, saya ajukan kepada diri sendiri. Kemudian saya menuju suatu jawaban. Mungkin, karena saya kepingin jadi orang baik, jadi bermanfaat bagi orang lain.

Ah Bin naif banget sih. Jadi orang baik kan banyak cara. Jadi anak yang baik misalnya. Orangtua mu toh gak butuh kamu menyelamatkan dunia. Berhenti minta duit, hidup mapan dan punya pekerjaan yang bisa dipamerkan saat arisan keluarga, tentu, mungkin lebih membanggakan.

Lebih berpahala

Lalu kemudian arus informasi dewasa ini terlalu kejam. Setiap hari ada saja masalah yang kita ketahui.
Kemiskinan
Kerusakan lingkungan
Diskriminasi
Kekerasan berbasis gender
Genosida
Pelanggaran HAM

you.name.it

Saya bukan pahlawan, saya orang biasa yang kepingin makan enak, beli lipstik matte dan hijab lucu, dan kemewahan lain yang tentunya butuh duit.

Nah, apakah nyari duit dan jadi bermanfaat harus dipertentangkan?

Hmm... harusnya sih enggak ya

Dan apakah bekerja di enjio (NGO) otomatis membuat kamu jadi orang baik dan satu satunya cara menjadi orang baik adalah kerja di enjio? Bhihihihik. Ya enggaklah. Bahkan nanti ada komplikasinya tersendiri yang kalau dijelaskan bakalan bikin saya pusing sendiri.

Jadi tujuan post ini apa Bro?

Seperti biasa, media curhat ketika 'kesedihan' melanda di tengah malam

**mohon maaf atas segala ketidakjelasan yang ada**

Karangtalun, 3.02 AM

Thursday, May 12, 2016

Go Big or Go Home?

Last week, I go home. I feel weird, a bit strange. My parents just did a major renovation that change many parts of it. I lost my dirty ugly green sofas, I lost corner between my bed and my desk, place where I used to write my diaries, crying to trashy love songs, and god only knows what else. But I can't complain. That house aged as old as my oldest brother and never have any refinement since then. It NEED to be fixed. And yes, I can not complain. I'm not feel that bad about that renovation. Now my home have nicer tile and wall, better roof that not leaked when it's rain, et cetera. And I'm not a little girl anymore. Don't be too sentimental. It's my parents' home, not mine. Maybe

Go big or go home. I often heard that words. Roughly translated into: be success, or yeah stay at your nest, do nothing.

Beside all that strange feelings towards my 'new' home. I just realized that I have certain distance with my neighboorhood. I went to high school uptown that quite far from my home, and then I go miles away to pursue my degree. I feel like a stranger in my own village. And too bad, I just realized that now.

I just graduated from my university. Now I'm on my 'liberty crisis' or yeah -unemployed- well I might said that I'm not totally legit to be called that. I am volunteering at an NGO as a researcher. My friends called it cool, my parents does not say so. There is a lot of better things, kid. Yeah. But I feel lost, not because I don't have map, but sadly, I pretty confused where is my direction.

So, go big or go home?

Maybe I should done this first:
Define what is 'big'?
And finding where is 'home'?

Wish me luck

Tuesday, March 1, 2016

Sosial Media dan Kemunduran Berinternet

Lima tahun yang lalu, saat saya duduk di bangku kelas 12 SMA dan bersiap untuk kuliah, fungsi internet yang paling bermanfaat bagi saya adalah google. Memang saat itu sudah ada facebook, namun sosial media belum sepopuler sekarang karena –mungkin ponsel pintar belum dapat diakses oleh semua orang. Kala itu, istilah populer di internet adalah blogwalking, rasanya penting bagi setiap insan untuk memiliki blog, baik itu blogspot, wordpress maupun tumblr. Mungkin juga itu alasan mengapa saya mulai menulis di laman ini, hehe- saya tidak ingat persis.

Tahun- tahun berlalu dan entah bagaimana... oh iya, mungkin saat instagram diakuisisi oleh Facebook sehingga dapat diakses pada semua ponsel android, mungkin juga karena itulah banyak toko daring yang memanfaatkan sosial media ini “cek ig kita sis”. Sebelumnya kita juga mengingat twitter yang sempat primadona di seluruh penjuru negeri. Ingat bagaimana berbagai pihak dari mulai selebriti, aktivis sosial, ilmuwan, ustadz hingga politisi mencuitkan berbagai idenya dalam sarana per 140 karakter ini.

Saya jadi ingat kalimat Max dari serial 2 Broke Girls yang bilang
twitter is stupid and instagram is twitter for people who cannot read”
Benarkah?

Tentu kini kita juga mengenal satu lagi platform yang demikian populer di kalangan anak muda, khususnya di Indonesia, yap Path –yang konon sebagian sahamnya dimiliki Bakrie Group, hehehe. Mengapa saya memaparkan ‘sejarah’ singkat sosial media ini? Hmm, sebenarnya ini berawal dari kegelisahan saya karena kita mulai sepi membicarakan ide.

Beberapa waktu lalu, karena saya kesepian ‘ditinggal’ lulus oleh teman- teman (loh kok jadi curhat). Salah satu cara untuk ‘catch up’ dengan mereka adalah dengan aktif kembali di Path, alias bisa ngepoin mereka, haha. Path dirancang agar kita dapat berbagi momen- momen kita dengan lingkaran terdekat. Dan ternyata, mayoritas isi Path adalah hal- hal pribadi seperti kita makan di mana, dengan siapa, dll. Oke mungkin saya terdengar sangat sinis tentang hal ini. Tapi kembali lagi, saya hanya merindukan diskusi ide di internet dan bukan ‘hanya’ lo ngapain aja hari ini. Hehe
Jadi yuk kita mulai kembali membagi ide- ide kita?

Ingat kalimat bijak dari Ibu Kita Eleanor Roosevelt



#note #to #my #self

*ditulis oleh pengangguran yang kesepian

Wednesday, January 21, 2015

Berpikir dengan Berani dan Hati- Hati


Tulisan ini merupakan after affect kompre (ujian komprehensif) mata kuliah Pelatihan II. Tugas akhir mata kuliah ini adalah membuat rancangan pelatihan dan kemudian diuji secara lisan. Unfortunately, kelompok saya memang kurang siap, mendapat giliran ujian awal, dan penguji kami adalah dosen senior yang merupakan pakar di bidang pelatihan J (not to mention her J).
Insight dari kompre tadi adalah sangat mendalam. Seperti judul artikel ini, kita harus berpikir dengan hati- hati, apalagi dalam konteks sebagai akademisi. Setiap frasa dan kalimat harus dapat divalidasi, siapa yang mengucapkan, kapan, tercantum di mana, dan seterusnya. Bagaimana kaitan antar argumen dan sebagainya dan seterusnya. Pusing ya?
Iya, tapi kemudian saya mikir, kalau kita, kaum akademisi nan tercerahkan dan budiman  yang sudah tahu kalau berpikir itu harus sistematis, logis dan rasional (halah) malah mager dan menyerah. Nanti bisa bisa dikalahkan oleh para kaum modal screenshot itu (wkwk, mungkin Cuma saya yang mengerti). Apalagi lahan kami, psikologi, yang sangat rawan untuk diambil alih common sense.
Sedih memang kalau alur berpikir kita yang pemula ini dikomentari pedas pedas oleh dosen. Tapi lebih sedih lagi jika kemudian apa yang ‘benar’ dan akademis hanya dapat dinikmati sebagian kecil kalangan. Sedangkan khalayak malah menikmati wacana wacana yang tak jelas sumbernya.

Mungkin benar apa kata pak menteri pendidikan, mendidik adalah kewajiban setiap terdidik. Jika ada memiliki ilmu, bagilah kepada sekitar, maka ilmu itu akan bertambah *walah so bijak banget* Semoga teman saya yang pintar- pintar kelak tidak membangun pagar dengan dunia luar. Semoga semua yang berilmu bisa membagi ilmunya dengan siapa saja.
semoga kita semua sadar bahwa berpikir itu memang tidak mudah, maka kita harus berani dan hati- hati

Thursday, July 18, 2013

Industrial

Saya akan memulai cerita ini dengan potongan kisah dari film Man of Steel.

Planet Krypton sudah sedemikian maju dan penghuninya (yang mirip manusia) telah melakukan berbagai penemuan bagi bangsanya. Kemudian (mungkin untuk efisiensi) setiap bayi di Krypton lahir melalui proses seperti kloning (gue gatau namanya apa, haha) dari sebuah Codex (DNA- DNA pilihan warga Krypton sebelumnya). Jadi setiap bayi yang lahir sudah disiapkan untuk menjadi pemimpin, militer, pekerja, ilmuwan, dan lain- lain karena struktur biologis mereka memang sudah disiapkan sedemikian rupa untuk itu. Ratusan tahun sistem kelahiran bayi ini diterapkan di Krypton hingga seorang ilmuwan bernama Jor-El memutuskan bahwa ada yang absen dari sistem ini yakni kesempatan... pilihan...

Kemudian Jor-El dan istrinya memutuskan untuk memiliki anak secara alamiah tapi sedemikian sehingga juga dimasukkin Codex tadi (tapi semuanya!) Bayi itu kemudian dinamai Kal-El. Tapi karena tahu bahwa planet Krypton akan segera hancur. Jor-El mengirim Kal-El ke planet biru yang mengitari bintang kuning hingga akhirnya jatuh di sebuah ladang gandum di Texas dan dinamai Clark Kent.

Ehek, udah ya ceritanya. Dapet poinnya gak? Pasti enggak. Haha

Tenang tenaaang. Saya bukannya mau nyeritain Henry Cavill yang hawt itu kok. Hahaha

Jadi gini, beberapa hari yang lalu saya dapet tugas buat riset majalah SUMA tentang World Class University (WCU) yang lagi gencar-gencarnya di UI era Gumilar.
Jadilah saya nanya- nanya ke Ridha Intifadha yang notabene anak BK MWA UI UM. Haha. Tapi yaudah jadinya ngalor ngidul, hahaha.
Terus kata dia, sebelum abad ke 17 gak ada tuh yang namanya sistem pendidikan, belajar itu ya murni sendiri dan gak tergantung sama institusi.
Baru setelah ada revolusi industri. Universitas seolah menjadi tempat manusia untuk ditempa sebelum jadi 'kapital'. Iya, sering banget kan ada pertanyaan 'kuliah apa? Oh nanti kerjanya apa?'. Nah iya, sekolah dan kuliah semata mata mempersiapkan kita jadi pekerja. Kita kuliah untuk kemudian kerja di multinational company dan tiap hari ngomong  inglish (?) Karena ya masyarakat dunia saat ini adalah masyarakat industri. Pendidikan yang (mungkin) sejatinya adalah sarana untuk manusia mempelajari suatu ilmu pengetahuan menjadi salah arah.

Trus, apa nyambungnya sama film Superman, Bin?

Bukan tidak mungkin manusia bumi makin mirip penduduk Krypton. Tapi masalahnya sering banget terjadi mismatch antara manusia dan 'ilmu' yang ia pelajari. Apa jadinya kalau Andy Warhol kuliah kedokteran dan Obama kuliah teknik? Mungkin kita gak bakal denger nama mereka.
Sedihnya masih banyak orangtua melarang anaknya kuliah jurusan yang 'aneh'. Heuheu

Belajar bisa dalam bentuk apapun. Sistem pendidikan adalah salah satu sarana. Mungkin semua ini bakal jadi pepesan kosong karena saya pun belum melaksanan hal  ini dengan baik : "Belajar"

Well I just want to tell you what's poppin' in my brain. Thanks for reading :)

Sunday, July 7, 2013

Kelompok Manusia

Saya selalu terheran- heran kenapa ada orang yang hidup dengan begitu cool-nya. Kegiatan mereka selalu dinamis dan penuh warna.

Ada juga mereka hidupnya sangat biasa. Menghabiskan waktu dibalik meja dan selalu menanti akhir pekan agar mereka bisa tidur seharian.

Lalu saya berpikir, termasuk bagian manakah saya?

Atau jangan- jangan ada irisan di antara kedua kelompok itu. Atau ada kelompok lain diluar kedua mereka.

Ah, tapi bukankah kecenderungan saya untuk selalu mendikotomikan segala sesuatu.

Jadi, saya termasuk yang mana?

Monday, October 22, 2012

Semoga Belum Kiamat


2011 : hidup adalah pilihan, pilihlah yang terbaik
2012 : hidup adalah pilihan, memilihlah untuk bahagia

Duaribuduabelas tinggal beberapa bulan lagi. Saya patut waspada karena dulu percaya kalau kiamat datang pada 21 Desember 2012, sedangkan saya masih jomblo, gkgkgk. Tapi kita harus optimis, buktinya anak FE masih jualan agenda 2013 (?)

Tahun ini memang penuh warna : kuning, merah, hijau, hitam, coklat, abu- abu, shocking pink dan tentunya biru muda.

Tahun ini diawali dengan penolakan besar. Lebay ? mungkin. Tapi begitulah bagi saya. saya jadi belajar banyak dari hal ini, bahwa saya tidak akan selalu mendapatkan yang saya inginkan. Dan membuat mata saya lebih terbuka. Saya punya kata bijak baru : “segelap apapun, pastikan matamu tetap terbuka.” Dan biarkan inderamu yang lain tetap ‘awas’ bahkan lebih ‘awas’.

Tentu kemudian saya menjadi tidak sebegitu naif seperti dulu, haha. Dan saya menjadi begitu mencurigai banyak hal, ya begitulah. 

Saya banyak mengalami hal baru. Meskipun itu sesimpel nonton Endah n Rhesa di Pacific Place, jadi fasilitator di We Care, atau semakin kecanduan postcrossing, haha. Benar kata mereka, bahagia itu sederhana. Kebahagiaan memang intangible and even unmeasurable, tapi toh kita selalu tahu (atau biasanya tahu, atau seharusnya tahu) apa yang membuat kita bahagia dan apa yang tidak.
Saya bertemu banyaaak orang- orang keren dan pintar dan ganteng/ cantik (in their own ‘way’) dan inspiring dan lainlain. Saya jadi lega jikalau dunia ini memang tidak-segera-akan kiamat, mereka mungkin bisa jadi penyelamat bagi saya dan orang- orang lain yang lemah ini, hiks.

Belakangan ini memang saya agak ‘terpuruk’. Emm, gak gitu juga sih. Tapi sepertinya saya memang agak lebih butuh motivasi eksternal :3

Syahdan, kalaupun kiamat akan daatang 21 Desember nanti. Saya pernah menulis ini, dan semoga kamu membacanya. Saya pernah memili untuk bahagia, semoga anda juga :D

Minggu, 14 Oktober 2012
2:30 AM
Kukusan

Sunday, September 23, 2012

TENTANG MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA


Kemarin saya menonton film berjudul Everybody’s Fine, hasil ngopy dari laptop si Pede. Ceritanya begini [spoiler alert !]. seorang ayah yang telah ditinggal mati istrinya- Frank Goode kini hidup sendiri di Elmira, New York. Pada suatu liburan, ia mengundang keempat anaknya yang telah dewasa dan sukses untuk pesta barbeque di rumahnya. Namun sayang, keempat anaknya tadi membatalkan janji pada menit- menit terakhir. Akhirnya Frank Goode pergi ke seluruh penjuru Amerika Serikat untuk memberi kejutan dengan mengunjungi keempat anaknya.
Yang pertama ia kunjungi ialah David, yang kini telah menjadi pelukis di NYC, namun Frank mendapati apartemennya sepi dan, yah mungkin David sudah pindah ke suatu tempat atau apalah. Kemudian Frank pergi ke Chicago untuk mengunjungi Amy, yang bekerja sebagai agen periklanan yang sukses. Amy tinggal bersama suami dan satu anak laki- lakinya di rumah modern- minimalis yang megah. Setelah mengunjungi Amy, Frank pergi ke Denver untuk mengunjungi Robert, yang Frank kira telah menjadi seorang conductor, pada saat melihat latihan Robert untuk suatu konser, ternyata ia ‘hanya’ penjadi pemain drum. Terakhir, Frank pergi ke Las Vegas untuk mengunjungi Rosie, putrinya yang kini menjadi penari di salah satu hotel di Vegas, Rosie juga terlihat sukses di apartemen yang mewah.
Manis bukan ? seorang ayah yang pada usia senja nya mendapati anak- anaknya sukses dan bahagia. Namun di akhir film, semua kebohongan terungkap, ternyata Amy dan suaminya telah lama berpisah. Robet yang memang berbohong karena sesungguhnya ia bukan seorang conductor. Rosie, ternyata apartemen mewah di Vegas itu bukan miliknya, ia bukan seorang penari melainkan ‘hanya’ pelayan restoran dan memiliki anak diluar nikah. Dan yang paling mengejutkan ialah ternyata David telah meninggal !.
Dari film ini saya belajar. Jika ditanya tentang tujuan hidup, sebagian besar orang- terutama di budaya timur kita ini- akan menjawab : “membahagiakan orang tua” yang kemudian dideskripsikan sebagai sekolah yang rajin dan dapat nilai bagus supaya bisa masuk universitas bagus supaya bisa bekerja dengan gaji yang bagus, kemudian menikah dengan orang yang tepat dan hidup bahagia selamanya.
Tentunya, orangtua selalu ingin yang terbaik bagi anaknya, dan anak selalu ingin menbahagiakan orangtuanya. Orangtua selalu ingin yang terbaik bagi anaknya, dan selalu ingin anak- anaknya mendapat kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Mungkin karena hal ini, masing- masing dari mereka tidak punya cukup waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Kebetulan, saya belum pernah menjadi orangtua dan tidak tahu bagaimana rasanya memiliki harapan yang sebegitunya pada anak- anak. Mungkin saja, karena saya tidak bisa berenang, saya akan memaksa anak saya kelak untuk les renang hingga ia bisa berenang dengan seribu satu macam gaya.
Mungkin karena rasa memiliki yang teramat sangat dari orangtua pada anaknya sehingga ia lupa bahwa mereka berdua dua mahluk berbeda yang seharusnya sama- sama merdeka.
Bahwa Frank Goode tidak mau David bercita- cita menjadi tukang cat tembok dan mengharapkan putranya menjadi seorang pelukis yang sukses.
Lalu, apa definisi sukses itu ? membahagiakan orang tua ? menjadikan anak lebih sukses dari diri kita sendiri ?
Entahlah

Friday, August 31, 2012

Surname

Saya sebel deh dengan sistem/ cara penamaan manusia di Indonesia, hahaha. Kenapa ? karena orang Indonesia, setiap bayi yang lahir yang lahir di Indonesia dinamai terserah seenak orangtuanya.
“yaiyalah anak- anak gue, ya terserah gue mau dikasih nama apa”
“trus, gue harus bilang wow ! gitu ?”
“ciyus ? miapah ?”
*abaikan*

Nama keluarga pertama kali digunakan di Cina pada jaman dinasti Han (semasa dengan Kristus). Di Inggris mulai abad ke- 14. Di Jepang awalanya hanya penguasa yang memakai nama keluarga, hingga 1875 Dekrit Kabinet mewajibkan rakyat jelata memakai nama belakang.[1]

Entah mengapa dan bagaimana cara ini tidak sampai di Indonesia. Memang ada beberapa suku di Indonesia yang menggunakan sistem penamaan dengan marga atau nama belakang, suku Batak misalnya. 

Padahal, menurut saya nama belakang adalah bagian yang cukup penting dari identitas seorang manusia. Dengan nama belakang atau nama keluarga, ia akan dapat menelusuri leluhurnya. Lucu juga kan, kalau lagi silaturahmi keluarga misalnya, ada ratusan orang dengan nama belakang yang sama.

Bagi seorang wanita, akan ada perubahan Identitas jika ia sudah menikah  (unyu banget kan, fufufu) misalnya Ms. Binar Lestari jadi Mrs. Binar *siapakekgitu* atau kalau di Perancis dari Mademoiselle menjadi Madame. Lucu lagi kalau kayak Jacquelinne Kennedy- Onassis yang menaruh nama suami- suami nya berderetan di belakan namanya, hahaha.

Ya sudahlah, saya tahu tulisan ini absurd. Tapi emang saya sebel, kenapa saya gak pake nama belakang ? hahh kenapaaa ??? aaaaa. Yang jelas saya juga belum ganti nama belakang, #eh #kode. Wakakak.

[1]Avise, John. (2007) The Genetic Gods. Jakarta : PT  Serambi Ilmu Semesta

Sunday, July 15, 2012

18 Wishes

udah hampir sebulan saya ulang tahun. yap, 27 Juni 2012 lalu, saya genap 18 tahun. daaan hari ini pengen nge post #18wish gituuu biar kayak anak muda #apasih. yaudahlayaaa, voila, c'est la my dream, hahaha

1.OKK UI 2012 lancar
2. PSAF/ Kamaba Psikologi UI 2012 lancar
*berasa maba*
3. IPK naik.... aminnn
4. Loose 10 kgs
5. Bikin paspor ! segera !
6. Send and receive 500 postcards :p
7. Buy mom (and whole family) something pretty :*
8. Segera ketemu tulang rusuk, nomnomnom
9. Devote to Allah :)
10. Read the last Sidney Sheldon novel :'(
11. Kepo seperlunya #apadeh
12. Beli rak buku, huhu
13. sering- sering naik sepeda & jalan kaki
14. Lebih banyak 'berbagi'
15. latihan jadi lacto- ovo vegetarian
16. read more (non- fiction)  books
17. Be nicest for my dearest
18. mewujudkan semuanyaaaaaa

Tuesday, July 10, 2012

Democracy = Voting ?

Bukan cuma Jakarta, tahun ini kota tempat tinggal saya, Cilacap juga mengadakan apa yang mereka sebut pesta demokrasi, pfft. Ya, pilkada. Ah saya sih males nulis panjang Lebar tentang begituan, haha. Tapi kemarin di textbook mata kuliah Individu, Kebudayaan, dan Masyarakat saya nemu potongan pembicaraan antara Bapak dan anaknya, begini :

"Son, in a dictatorship the people vote but they don't have a choice"
"Oh, I see... and in a democracy the people have a choice but they don't vote"

*Dikutip dari "Sociology, A Brief Introduction" by Richard T. Schaefer

Sunday, March 25, 2012

Udah Masuk UI, terus... ?

Judul diatas adalah pertanyaan yang selama hampir setahun kuliah disini selalu crossing in my mind. Dari kecil, saya lupa sejak kapan, mungkin sejak saya ditanya orang, "besok mau kuliah dimana, dek?". Saya selalu jawab "UI", setiap berdoa saya selalu meyelipkan impian ini agar dikabulkan Tuhan, meskipun saya belum mengerti tentang konsep kuliah, dan tidak UI itu wujudnya seperti apa. Hingga waktu ikut tes SNMPTN, saya tetap mempertahankan impian- yang menurut saya sedikit silly itu.
Entah karena keberuntungan atau sedikit kebaikan hati Tuhan, saya diterima.
Ssssh, enough, serita diatas mungkin memang terlihat sangat payah.
Yang jadi masalah adalah. Selama ini saya menganggap bahwa impian itu adalah impian yang amat besar, seolah- olah impian yang hampir final. Sehingga, mungkin, saya tidak sempat memikirkan rencana- rencana lainnya.
Ketika masih euforia atau lagi norak- noraknya, lagi seneng- senengnya punya jaket kuning dan lain- lain. Saya mendapat berbagai pengetahuan bahwa mahasiswa ituh, harus berkontribusi, mahasiswa ituh agen perubahan, mahasiswa ituh lalala, lilili.
Saya sadar, bahwa saya amat sangat clumsy. Makanya saya bingung, walaupun UKM di UI seabrek, tapi saya bingung mau ikutan yang mana. Pada saat itu kegiatan ospek pun sangat menyita waktu. Saya.... bingung.
Saya bersyukur, disini saya menemukan orang- orang hebat, dan dapat berteman dengan sebagian dari mereka, terinspirasi oleh sebagian lainnya. Mereka adalah orang- orang yang amat pintar, cerdas, dan passionate. Saya mungkin bukan, eh belum menjadi bagian dari mereka. Tapi, saya harap, suatu saat saya bisa menjadi seperti mereka.
Setiap bangun pagi, seperti ada setan yang selalu membisiki telinga saya "do something !". Saya sadar bahwa sekarang bukan waktunya mengeluh dan mengutuki keadaan. Saya telah menjadi bagian dari sesuatu yang hebat, saya pun harus menjadi demikian, semoga, Amin.sumber gambar

Friday, January 27, 2012

Apple oh Apple

Mom, I want an Apple
not that apple
not also this....
But I want the Big one, yaaay

Tuesday, November 22, 2011

Mari Menulis :)

Kadang- kadang saya suka iri dengan orang- orang yang rutin memperbaharui blog-nya. Ada yang mingguan, beberapa hari sekali, bahkan ada yang tiap hari (WoW)
Dari beberapa orang itu ada yang tulisannya benar- benar menginspirasi- bukan cuma tulisan sih, those artsy people even just posting pics, and I'm sooo inspired, yah tapi ada juga sih yang cuma 'nyampah' (seperti blog ini, mungkin) :p hahaha
Dan saya sendiri ? yap, saya jaraaaang banget nulis di blog saya yang creepy ini. Begitu banyak ide yang berlarian di otak saya, tapi pas mau ditulis, aduh, nulis apa ya apa ya, bingung nih. hahaha
Yah, memang kemampuan orang berbeda- beda. Ada yang pintar merangkai kata- kata tapi gak pinter ngomong, ada yang sangat talkative tapi skill menulisnya cupu, dan mungkin saya termasuk yang kedua, ahahaha
Tapi saya sadar, jika kita hanya bisa ngomong, yang akan mendengarkan kita hanyalah orang yang ada di sekitar kita pada saat itu (ya kalau mereka mau dengerin, :p) tapiiii, jika anda menulisnya di blog, bukan tidak mungkin tulisan anda dibaca oleh beribu orang dari berbagai belahan dunia (lebay). Jadi, Mari Menulis !