Thursday, March 12, 2026

Aku Ingin Jadi Marbot Masjid

Salah satu cita-cita gue adalah jadi marbot masjid, karena mungkin itulah bentuk asketisme terdekat dalam Islam.

Bukan karena gue sangat saleh—atau setidaknya bukan itu alasan utamanya. Lebih karena ada sesuatu yang terasa sangat masuk akal dari hidup yang ritmenya sederhana: membuka pintu masjid sebelum subuh, menyapu halaman, mengganti air wudhu, mendengar gema azan lima kali sehari. Hidup yang tidak terlalu banyak distraksi, tidak terlalu banyak ambisi duniawi. Hidup yang dekat dengan sesuatu yang sakral.

Kadang gue iri pada tradisi lain yang punya institusi asketisme yang jelas: biksu, biarawan, monastery. Ada ruang sosial yang memang didedikasikan untuk orang-orang yang ingin mengambil jarak dari dunia. Seolah masyarakat berkata: baiklah, sebagian dari kita boleh mengabdikan hidup sepenuhnya pada kontemplasi.

Sementara dalam Islam, konsep seperti itu hampir tidak ada. Bahkan secara eksplisit ditolak. Ada hadis yang cukup terkenal: la rahbaniyyata fil Islam—tidak ada monastisisme dalam Islam.

Ini selalu membuat gue penasaran. Kenapa?

Kalau kita percaya bahwa tujuan akhir hidup ini adalah keselamatan di akhirat—atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, masuk surga—kenapa Islam justru tidak menyediakan jalur untuk sepenuhnya menarik diri dari kehidupan dunia yang mundane? Kenapa umatnya tetap didorong untuk bekerja, menikah, berkeluarga, berbisnis, berpolitik, dan terlibat dalam semua kompleksitas sosial yang sering kali terasa melelahkan?

Dari satu sisi, jawabannya teologis. Dalam banyak tradisi Islam, dunia tidak dipandang sebagai gangguan spiritual, tetapi sebagai arena ujian. Ibadah tidak hanya terjadi di ruang ritual, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari: mencari nafkah, memberi makan keluarga, membantu orang lain, bahkan sekadar tersenyum kepada sesama.

Dengan kata lain, Islam tidak memisahkan kehidupan spiritual dan kehidupan sosial. Justru yang mundane itu sendiri disakralkan.

Tapi semakin gue pikirkan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang menarik secara desain sosial di baliknya. Hampir seperti ada unsur game theory.

Bayangkan kalau monastisisme dilembagakan secara luas. Kalau banyak orang memutuskan untuk keluar dari kehidupan ekonomi dan sosial demi fokus pada keselamatan spiritual pribadi. Siapa yang akan tetap menjalankan masyarakat? Siapa yang akan bertani, berdagang, membangun kota, membesarkan anak, mempertahankan komunitas?

Dalam bahasa game theory, ini bisa menjadi masalah public goods. Kalau terlalu banyak orang memilih jalan kontemplatif, sistem sosial bisa kehilangan pemain yang menjaga keberlanjutannya.

Di titik ini, larangan monastisisme dalam Islam mulai terlihat seperti sebuah aturan yang logis: semua orang harus tetap berada di dalam arena sosial. Tidak ada kelas spiritual yang sepenuhnya keluar dari dunia. Semua orang tetap harus bekerja, berinteraksi, dan berkontribusi pada masyarakat.

Namun menariknya, insentif spiritual tidak dihilangkan. Ia hanya dipindahkan.

Bekerja bisa menjadi ibadah.

Memberi nafkah keluarga bisa menjadi ibadah.

Menolong orang lain bisa menjadi ibadah.

Alih-alih memberi pahala pada penarikan diri dari dunia, sistem ini justru memberi pahala pada keterlibatan di dalamnya.

Dari sudut pandang desain sosial, ini cukup elegan. Ia menyelaraskan tujuan individu: keselamatan spiritual dengan kebutuhan kolektif yang berujung keberlangsungan masyarakat.

Tapi di sinilah muncul keganjilan kecil dalam imajinasi gue tentang menjadi marbot.

Gue hampir belum pernah melihat marbot masjid perempuan.

Masjid—yang secara teori adalah rumah ibadah bagi semua umat—dalam praktiknya sering terasa seperti ruang yang lebih maskulin. Yang membuka pintu, menyapu lantai, menyiapkan karpet, biasanya laki-laki. Peran perempuan dalam memakmurkan masjid kadang masih tidak jauh dari perdapuran juga, memasak dan menyediakan takjil saat bulan Ramadan.

Padahal kalau dipikir-pikir, posisi marbot itu justru menarik: ia berada dekat dengan ruang sakral, tetapi tidak berada di pusat otoritas formal seperti imam atau ulama. Ia lebih seperti penjaga ritme spiritual sehari-hari.

Dan di situ muncul pertanyaan lain.

Kalau asketisme dalam Islam tidak dilembagakan seperti biara, lalu di mana tempat perempuan dalam imajinasi spiritual itu?

Sering kali, perempuan dalam Islam justru diglorifikasi melalui institusi pernikahan. Ibu disebut sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Surga dikatakan berada di bawah telapak kaki ibu. Perempuan dimuliakan sebagai penjaga rumah tangga.

Semua itu terdengar sangat indah.

Namun di balik retorika kemuliaan itu, ada struktur sosial yang cukup jelas: perempuan sering diposisikan terutama sebagai pusat reproduksi keluarga dan komunitas.

Yang ironis, logika ini tidak sepenuhnya berbeda dengan logika kapitalisme modern.

Dalam kapitalisme, tubuh perempuan juga sering ditempatkan dalam fungsi reproduktif—tidak selalu secara eksplisit, tetapi secara struktural. Rahim perempuan menjadi bagian dari siklus produksi sosial: menghasilkan generasi pekerja berikutnya, batch of labor yang akan menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Di satu sisi, institusi keluarga menjaga keberlanjutan masyarakat. Di sisi lain, ia juga menjadi mekanisme yang memastikan bahwa sistem sosial—baik religius maupun ekonomi—terus memiliki pemain baru.

Dan di titik ini, pertanyaan tentang asketisme kembali muncul dengan cara yang sedikit berbeda.

Kalau laki-laki kadang masih memiliki imajinasi untuk menjadi imam, ulama, sufi, atau bahkan marbot—figur yang setidaknya memiliki jarak tertentu dari permainan dunia—perempuan sering kali bahkan tidak diberi ruang imajinatif untuk menarik diri dari peran reproduktif itu.

Mungkin karena itu, keinginan sederhana untuk menjadi marbot terasa agak subversif dalam kepala gue sendiri.

Bukan karena itu adalah posisi yang tinggi atau prestisius. Justru sebaliknya: karena ia sederhana, sunyi, dan tidak terlalu dibebani ekspektasi sosial yang besar.

Seseorang yang menyapu lantai masjid sebelum subuh mungkin tidak sedang mengubah dunia. Seperti Diogenes yang hidup di dalam gentongnya dan hanya ingin berkat dari sinar matahari.

Untuk beberapa saat, setidaknya, ia berada cukup dekat dengan sesuatu yang lebih tenang daripada dunia yang terus berputar di luar sana.


Tuesday, February 17, 2026

Dari Menumpuk ke Mengalir: Menadaburi Makna “Kekayaan” dalam Islam di Zaman Overkonsumsi

Aku sampai pada titik ini bukan karena miskin, justru karena cukup. Cukup untuk menyadari bahwa sebagian besar kecemasanku tentang uang ternyata bukan lahir dari kekurangan, melainkan dari kelebihan yang tidak pernah benar-benar kupahami cara mengelolanya. Ada fase dalam hidup ketika kita tidak lagi dikejar kebutuhan dasar, tetapi justru mulai dikejar oleh rasa ingin yang tak ada ujungnya. Di situlah aku berdiri—di antara rasa aman yang relatif stabil dan kegelisahan yang anehnya tetap tinggal.

Overconsumption tidak selalu hadir dalam bentuk hidup glamor atau lemari penuh barang bermerek. Ia sering tampil lebih sopan, lebih rasional. Ia bersembunyi di balik istilah self-reward, healing, atau narasi bahwa kerja keras memang pantas diberi hadiah. Ia tidak berisik. Ia terasa pantas. Namun pelan-pelan aku sadar, ada sesuatu yang sedang kuhibur dengan cara yang keliru. Aku membeli terlalu banyak hal untuk menenangkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa disembuhkan dengan barang. Ada kekosongan yang kubungkus dengan paket-paket kecil kebahagiaan instan.

Di titik itu, ide “tobat” dari overconsumption muncul. Bukan sebagai penolakan terhadap dunia, bukan sebagai romantisasi kemiskinan, melainkan sebagai usaha merebut kembali ketenangan yang diam-diam terkikis. Tobat ini bukan soal berhenti menikmati hidup, tetapi tentang berhenti menggunakan konsumsi sebagai anestesi emosional.

Die with Zero dan Kegelisahan yang Lega

Beberapa waktu kemudian, aku membaca Die With Zero. Buku ini sering disalahpahami sebagai manifesto foya-foya, seolah-olah ia sedang mendorong orang untuk menghabiskan uang tanpa pikir panjang. Padahal yang ia ajukan jauh lebih subtil dan justru lebih mengganggu: kapan uang itu paling bernilai untuk hidupmu?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi efeknya seperti membuka jendela di ruangan yang pengap. Selama ini kita terbiasa berpikir tentang uang dalam logika akumulasi—semakin banyak semakin baik, semakin lama disimpan semakin aman. Namun buku ini menggeser fokus dari “berapa banyak” menjadi “kapan” dan “untuk apa”.

Dalam bahasa finansial, ia mengajak kita memandang uang bukan hanya sebagai angka di rekening, tetapi sebagai instrumen yang memiliki NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return)—bukan hanya secara finansial, tetapi secara eksistensial. Rp 200.000 di usia 20 dan Rp 200.000 di usia 60 memang identik secara nominal, tetapi nilainya bagi pengalaman hidup tidak pernah benar-benar sama. Bukan semata karena inflasi, melainkan karena tubuh, energi, waktu, dan daya reseptif manusia berubah.

Nilai pengalaman terdiskonto oleh usia. Ada pengalaman yang IRR-nya tinggi di usia muda—belajar, merantau, mencoba, gagal, jatuh cinta, membangun jejaring. Ada pula pengalaman yang lebih bermakna di usia matang—memberi, membimbing, memperlambat ritme, merawat. Jika diterjemahkan lebih personal, NPV hidup mungkin adalah total makna yang kita kumpulkan sepanjang hayat, sementara IRR hidup adalah seberapa cepat makna itu benar-benar terasa dan mengubah kita.

Banyak orang, tanpa sadar, menjalani strategi hidup dengan ROI uang maksimal tetapi IRR hidup minimal. Tabungan bertambah, aset menggunung, tetapi pengalaman yang menghidupkan jiwa justru ditunda atas nama rasa aman yang tak pernah benar-benar cukup. Menariknya, Islam tidak pernah mendorong strategi seperti itu.

Abdurrahman bin Auf dan Kekayaan yang Tidak Takut Mengalir

Ketika memikirkan relasi antara kekayaan dan makna dalam Islam, aku sering teringat pada sosok Abdurrahman bin Auf. Ia adalah paradoks yang kerap disederhanakan: seorang sahabat Nabi yang sangat kaya, tetapi namanya tidak melekat pada kemewahan, melainkan pada kelapangan tangan. Kekayaannya tidak menjadikannya simbol penumpukan, melainkan simbol pergerakan.

Ia tidak alergi pada pasar. Ia memahami mekanisme jual-beli, reputasi, kepercayaan, dan arus kas. Dalam bahasa hari ini, ia mungkin akan dianggap piawai membaca peluang dan menjaga likuiditas. Namun yang membedakannya bukan sekadar kemampuan menghasilkan, melainkan keberanian untuk mengalirkan. Ada kesadaran bahwa harta yang berhenti terlalu lama di satu tangan berpotensi menjadi beban spiritual.

Jika ia hidup hari ini, mungkin ia tidak akan bertanya, “Berapa asetmu?” Pertanyaannya bisa jadi lebih sunyi dan lebih tajam: “Berapa banyak hidup yang telah kau bebaskan—hidupmu sendiri dan hidup orang lain?” Dalam kerangka itu, kaya tidak pernah menjadi masalah. Yang berbahaya adalah menumpuk tanpa fungsi, menyimpan tanpa arah, dan menjadikan akumulasi sebagai identitas.

Kelimpahan vs Ketenangan: Salah Paham Zaman Modern

Surga dalam Islam sering digambarkan dengan citra kelimpahan: kebun-kebun yang dialiri sungai, buah yang tidak pernah habis, pakaian indah, dan rasa aman yang abadi. Namun ada konteks historis yang sering luput kita sadari. Al-Qur’an turun di masyarakat yang hidup dalam scarcity—di tanah yang keras, dengan akses air terbatas, dan ancaman sosial yang nyata.

Bagi mereka, air adalah kemewahan. Makanan stabil adalah keajaiban. Rasa aman adalah nikmat tertinggi. Maka kelimpahan dalam teks suci bukanlah glorifikasi konsumsi, melainkan bahasa pedagogis tentang hilangnya kekurangan. Ia berbicara dalam idiom yang bisa dipahami oleh masyarakat yang akrab dengan keterbatasan.

Namun Al-Qur’an juga berulang kali menekankan aspek yang lebih subtil: ketenangan batin. “Wahai jiwa yang tenang…” (QS. Al-Fajr 89:27). “Tidak ada rasa takut dan tidak bersedih.” (QS. Yunus 10:62). “Tidak terdengar kesia-siaan, kecuali salam.” (QS. Maryam 19:62). Gambaran surga bukan sekadar ruang dengan fasilitas melimpah, melainkan ruang tanpa kecemasan.

Ironisnya, di zaman overproduksi seperti hari ini, kelimpahan benda justru sering melahirkan kelaparan makna. Kita hidup di tengah surplus pilihan, tetapi kekurangan arah. Kita memiliki akses ke hampir semua hal, tetapi jarang merasa cukup. Di titik ini, mungkin makna “nikmat” memang perlu ditafsir ulang—bukan sebagai lebih banyak, melainkan sebagai cukup dan tenang.

Tobat dari Overconsumption Bukan Anti-Nikmat

Tobat dari overconsumption bukan berarti hidup asketik yang kering dan menolak dunia. Ia justru mengajak pada bentuk kenikmatan yang lebih sadar. Menggunakan uang di waktu yang tepat, untuk hal-hal yang meningkatkan kapasitas hidup, tanpa menunda makna demi rasa aman yang semu. Ia tidak anti-dunia; ia anti-penumpukan tanpa kesadaran.

Dalam perspektif ini, gagasan Die With Zero terasa lebih dekat dengan etika Islam daripada banyak nasihat finansial modern yang tanpa sadar menjadikan akumulasi sebagai ibadah terselubung. Islam tidak menyuruh mati miskin. Ia juga tidak memuliakan kekayaan sebagai tujuan akhir. Ia mengajarkan tanggung jawab, distribusi, dan kelapangan.

Mungkin pada akhirnya kekayaan bukan soal saldo akhir, tetapi soal apakah hidup kita pernah benar-benar dipakai. Mungkin “die with zero” dalam konteks spiritual bukan berarti nol harta, melainkan nol penyesalan—dan nol harta yang gagal menjadi makna. Dan mungkin, di zaman ini, hidup yang tidak mewah tetapi penuh justru lebih dekat ke gambaran surga daripada hidup yang berlimpah namun gelisah.

Saturday, February 14, 2026

My Biggest Heartbreak Thus Far

For as long as I can remember, my ambition was clear:

to work in government, or at least to shape public policy in a meaningful way.


Not through the civil service track, but through donor institutions, policy consultancies, and NGOs—spaces that felt adjacent to power yet anchored in expertise. Indonesia, after all, is still a developing country. These pathways made sense.


I pursued that career for almost a decade.


Like many people who take this path, I carried a quiet, almost embarrassing hope:

that if I became competent enough—exceptionally competent—one day I might be invited inside government itself. Perhaps as a minister, a director general, or a presidential adviser.


I grew up watching technocrats I deeply admired—figures who embodied rigor, integrity, and seriousness. I even had the chance to meet some of them, to see that principled people could exist within the state.


That belief sustained me for years.


Then I turned thirty.


Gibran, the president’s son, became a vice-presidential candidate by bending Constitutional Court rules.

I woke up one morning in a small rented room in Whitechapel to the news that Prabowo and Gibran had been inaugurated as president and vice president.


It felt less like political disappointment, and more like personal heartbreak.


Since then, it has been difficult to look away:


  • tens of trillions of rupiah in public funds poured into a free lunch program, food left uneaten, children falling ill;
  • young people pushed into precarious gig work, one of them killed after being run over by police during a protest;
  • disasters in Aceh and Sumatra met with indifference, with no serious recovery effort in sight;
  • and countless other moments I no longer try to catalogue, because remembering them feels physically exhausting.



The dream I had chased for so long—

collapsed.


Not because it was unrealistic.

But because the rules changed while pretending they never had.


Beyond good faith. Beyond repair.


And with that realization came a quieter, more dangerous question:

why bother trying at all?




I am still working in NGOs. I still do policy consulting, hoping—perhaps stubbornly—that the work still matters.


But increasingly, my attention has turned inward.

Toward repairing what I can in my own life.


Because who will save us, if not ourselves?


I am reminded of a conversation with my mother about Jakarta’s sidewalks. She once told me she would pray that I could afford a car, so I would not have to walk on unsafe pavements.


I asked her to revise the prayer.


This was never about me.

It was about millions of people who deserve to walk safely in the city they inhabit.


Maybe that was naïve.


Or maybe it was simply what it meant to believe—once—that the state could be something more than a mechanism for preserving power.




Today, I feel untethered.

I no longer know what my north star is.


But perhaps this confusion is not a personal failure.

Perhaps it is the natural aftermath of heartbreak.


When something you believed in turns out to be structurally uninterested in you—

in your competence, your integrity, your patience.


What remains is not clarity, but reckoning.


And for now, I am still sitting with it.


Wednesday, December 24, 2025

Mumpung Padhang Rembulane

Almarhum Mbah Kakung saya sering menyanyikan tembang Jawa sebagai pengantar tidur.

Salah satu yang paling melekat adalah Lir Ilir, terutama bagian:

mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalanganane…

Saya kerap membayangkan Jawa pada masa tembang itu lahir: malam yang sunyi dan gelap, tanpa lampu, tanpa listrik. Namun ketika bulan purnama datang, gelap itu sedikit tersibak. Dunia menjadi cukup terang untuk berjalan, bekerja, berdoa—melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan saat malam sepenuhnya menelan segalanya.

Kelak saya belajar bahwa Lir Ilir konon digubah oleh Sunan Kalijaga, sebagai perumpamaan ajakan untuk beribadah, bahkan ketika keadaan sempit. Bahwa ada saat-saat tertentu di mana hidup memberi cahaya ekstra—dan kita diminta memanfaatkannya.

Jika ada satu hal yang paling saya syukuri tahun ini, itu adalah kelapangan.
Dan kelapangan ini, saya sadari, jauh melampaui sekadar kebebasan.

Sembilan bulan awal tahun ini saya merampungkan studi di London, membuat saya mengerti inti dari setahun ini:
keleluasaan untuk melakukan banyak hal—dan, yang lebih jarang, keleluasaan untuk berpikir.

Kalau dipikir-pikir, saya benar-benar “dibayar” oleh pemerintah Inggris untuk hidup dan berpikir. Sebuah keadaan yang, dalam dunia yang serba produktif dan terburu-buru, terasa hampir utopis. Stipend itu cukup untuk membuat bersyukur, namun tidak berlebih sampai lupa diri. Ada batas yang justru menjaga kewarasan. Hehe.

Kelapangan ternyata bukan hanya soal waktu dan sumber daya, tetapi juga support system. London membuka pintu ke perpustakaan, galeri, dan museum—ruang-ruang sunyi tempat saya belajar dengan ritme saya sendiri.

Ambisi untuk mengikuti konferensi internasional membawa saya ke Wina, sekaligus menghadirkan visa Schengen pertama. Dari sana saya tersadar: saya ternyata punya rumah-rumah kecil di berbagai sudut Eropa.

Esa di Wina.
Pingkan di Ghent.
Tika di Berlin.
Ollie di Manchester.

Dan juga teman-teman perjalanan yang membuat langkah-langkah itu lebih hangat dan bermakna: Rino, Nisa, Lina, Titis.

Dan tetap saja, di sela-sela semua itu, ada suara kecil yang sering muncul tanpa diundang.
Tentang usia. Tentang pencapaian. Tentang daftar kepemilikan yang terasa kosong.
Di umur segini, saya kadang masih merasa belum punya apa-apa yang bisa dipamerkan: rumah, tabungan mapan, atau penanda-penanda dewasa yang lazim dirayakan. Ada hari-hari ketika kelapangan ini terasa seperti jeda yang terlalu panjang, bukan kemajuan.

Apa yang dulu saya kira sebagai kekurangan—uang yang pas-pasan, hidup yang sederhana, rencana karir yang tak selalu pasti—ternyata justru adalah kelapangan.
Ruang untuk bergerak.
Ruang untuk menjelajah dunia.
Dan pada akhirnya, ruang untuk berjalan pulang ke dalam diri.

mumpung padhang rembulane.

Monday, June 30, 2025

Tiga Puluh Satu

Hari ini, mungkin ketika tulisan ini di’terbit’kan di blog, saya sudah berusia 31 tahun.


Tiga puluh satu.


Tua banget anjir


Setidaknya mungkin dulu itu yang saya bayangkan, 31 adalah usia dimana mama melahirkan saya, anak ketiganya.


Entah apa yang saya bayangkan dulu ketika saya berusia 31, sudah menikah dan punya anak mungkin, tapi ya jangan tiga juga. hehe


Apa yang saya lakukan di usia ini adalah satu titik nan jauh di kutub seberang settling down.


Bulan ini, saya keluar dari flat saya di London dan memutuskan keliling… Eropa, well saya tidak mau menyebutnya keliling dunia.


Mari kita mundur sedikit, 18 Juni 2024, sembilan hari sebelum saya berusia 30. Saya mendapat email itu, pengumuman lolos Chevening. Sebuah hal (saya tidak mau menyebutnya sekadar beasiswa) yang entah bagaimana hati saya tergerak untuk mencoba. Saat itu saya bilang ke semua orang ‘cuma iseng’, karena memang… ya saya tidak tahu kenapa saya HARUS coba.


Mungkin memang sudah meant to be.

Saya lolos


Kadang saya merasa tidak adil karena saya tahu ada banyak orang yang lebih menginginkan beasiswa ini.


What did I do to deserve this?


Kemudian saya mengingat tahun-tahun sebelumnya. 15 Juni 2021


Tepat 12 hari sebelum berusia dua tujuh, Ayah saya meninggal ‘mendadak’, tidak sampai tiga hari setelah masuk rumah sakit.


Saya bingung—jujur, rasanya tidak ada kata yang lebih mampu mewakili perasaan (atau proses) grieving yang saya alami.


Tapi saya tetap hidup, entah bagaimana caranya, menyelesaikan gelar master kebijakan publik di SGPP, tetap bekerja (walaupun akhirnya resign).


Saya mencoba untuk tetap hidup, menjadi volunteer untuk Habitat for Humanity mengecat rumah warga di Gunung Kidul. Seminggu dua minggu numpang di kosan saudara di Jogja. Menjadi fasilitator seorang peneliti dari New York yang meneliti tentang sejarah PKI di Cilacap! 


sungguh random


Hingga akhirnya Agustus 2022 saya bekerja lagi, di Kemendikbud! bersama Hilmar Farid! Haha.


Agak delusional rasanya menyebut itu pekerjaan impian karena saya juga tidak menyangka pekerjaan itu ada in the first place.


Pekerjaan itu sulit, sangat sulit.


Tapi seperti apa kata Sapardi, mencintai cakrawala harus menebas jarak.


Pekerjaan itu (yang deskripsinya saya ulang ribuan kali: membangun institusi yang mengelola museum dan cagar budaya di Indonesia) lah yang akhirnya mengantarkan saya ke London.


Ke SOAS


dengan Chevening


Yang kemudian-kemudian berlalu seperti mimpi yang terlalu indah.


Saya bisa melihat lukisan-lukisan yang dulu cuma bisa saya tebak di freerice.com


Mengunjungi rumah Sylvia Plath di dekat Primrose Hill


Selain London dan UK, akhirnya paspor saya juga ditempel visa schengen, yang jika tidak karena sebuah konferensi di Wina tentang Gender mungkin juga saya tidak akan bother to apply.


Saya mengunjungi pedesaan Eropa yang maha indah: Salzburg, Hallstatt, Ghent


dan Paris, Berlin, Roma yang sibuk


bersama dan bertemu orang-orang baik yang sayangi.


pretending that I am the main character of chicklit Sitta Karina never even dare to write.


Anak kecil yang pulang sekolah harus ngasih makan ayam petelur peliharaan ibunya yang jumlahnya ratusan itu mungkin tidak pernah bermimpi se-muluk ini.


Tapi kemudian saya sadar, bahwa hidup memang selalu baik sama saya.


Kalau kata teman saya Esa “regression to the means” everything will be alright.


Memori-memori baik selama setahun ke belakang akan saya simpan baik-baik di lobus frontalis saya (bener ga sih).


Bersyukur di hidup yang cuma sekali, atau setidaknya di versi semesta yang ini (hehe)


Allah telah memberikan sangaaaat banyaaak nikmatNya, bahkan ke hambaNya yang ngeyelan dan banyak dosa ini :”


Mari bersulang untuk hal-hal seru lain di dekade ini.


Cheers