Showing posts with label jawa. Show all posts
Showing posts with label jawa. Show all posts

Wednesday, December 24, 2025

Mumpung Padhang Rembulane

Almarhum Mbah Kakung saya sering menyanyikan tembang Jawa sebagai pengantar tidur.

Salah satu yang paling melekat adalah Lir Ilir, terutama bagian:

mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalanganane…

Saya kerap membayangkan Jawa pada masa tembang itu lahir: malam yang sunyi dan gelap, tanpa lampu, tanpa listrik. Namun ketika bulan purnama datang, gelap itu sedikit tersibak. Dunia menjadi cukup terang untuk berjalan, bekerja, berdoa—melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan saat malam sepenuhnya menelan segalanya.

Kelak saya belajar bahwa Lir Ilir konon digubah oleh Sunan Kalijaga, sebagai perumpamaan ajakan untuk beribadah, bahkan ketika keadaan sempit. Bahwa ada saat-saat tertentu di mana hidup memberi cahaya ekstra—dan kita diminta memanfaatkannya.

Jika ada satu hal yang paling saya syukuri tahun ini, itu adalah kelapangan.
Dan kelapangan ini, saya sadari, jauh melampaui sekadar kebebasan.

Sembilan bulan awal tahun ini saya merampungkan studi di London, membuat saya mengerti inti dari setahun ini:
keleluasaan untuk melakukan banyak hal—dan, yang lebih jarang, keleluasaan untuk berpikir.

Kalau dipikir-pikir, saya benar-benar “dibayar” oleh pemerintah Inggris untuk hidup dan berpikir. Sebuah keadaan yang, dalam dunia yang serba produktif dan terburu-buru, terasa hampir utopis. Stipend itu cukup untuk membuat bersyukur, namun tidak berlebih sampai lupa diri. Ada batas yang justru menjaga kewarasan. Hehe.

Kelapangan ternyata bukan hanya soal waktu dan sumber daya, tetapi juga support system. London membuka pintu ke perpustakaan, galeri, dan museum—ruang-ruang sunyi tempat saya belajar dengan ritme saya sendiri.

Ambisi untuk mengikuti konferensi internasional membawa saya ke Wina, sekaligus menghadirkan visa Schengen pertama. Dari sana saya tersadar: saya ternyata punya rumah-rumah kecil di berbagai sudut Eropa.

Esa di Wina.
Pingkan di Ghent.
Tika di Berlin.
Ollie di Manchester.

Dan juga teman-teman perjalanan yang membuat langkah-langkah itu lebih hangat dan bermakna: Rino, Nisa, Lina, Titis.

Dan tetap saja, di sela-sela semua itu, ada suara kecil yang sering muncul tanpa diundang.
Tentang usia. Tentang pencapaian. Tentang daftar kepemilikan yang terasa kosong.
Di umur segini, saya kadang masih merasa belum punya apa-apa yang bisa dipamerkan: rumah, tabungan mapan, atau penanda-penanda dewasa yang lazim dirayakan. Ada hari-hari ketika kelapangan ini terasa seperti jeda yang terlalu panjang, bukan kemajuan.

Apa yang dulu saya kira sebagai kekurangan—uang yang pas-pasan, hidup yang sederhana, rencana karir yang tak selalu pasti—ternyata justru adalah kelapangan.
Ruang untuk bergerak.
Ruang untuk menjelajah dunia.
Dan pada akhirnya, ruang untuk berjalan pulang ke dalam diri.

mumpung padhang rembulane.

Friday, October 2, 2020

Kenapa Mbah Kakung Tidak Solat?

 Kenapa Mbah Kakung Tidak Solat?

Pertanyaan itu saya ajukan, kepada setiap penghuni rumah dan Mbah Kakung sendiri. Tidak pernah ada jawaban memuaskan. Kakak saya pernah berbohong "Mbah Kakung solat kalau malam saja" atau jawaban malas Mama "Mbah Kakung sudah solat, kamu gak liat".

Lama baru saya paham, Mbah Kakung tidak solat karena beliau tidak menganut agama Islam. Ia percaya pada ajaran, aliran, sinkretisme (apapun lah namanya) Kejawen. Mbah Kakung 'beribadah' dengan caranya sendiri, bukan dengan solat. Saya gak terlalu peduli, karena Mbah Kakung adalah salah satu orang paling baik yang saya kenal. Yang mengantar saya ke sekolah dan diam-diam memberi saya uang saku lebih. Yang menemani saya bermain pasar-pasaran. Yang sering membantu saya mengerjakan PR Kesenian dan Bahasa Jawa.

Ya, tapi Mbah Kakung tidak solat.

Pernah sih, saat Idul Fitri atau Idul Adha, untuk menyenangkan hati Mbah Putri, supaya 'patut' dilhat tetangga, Mbah Kakung ikut solat di masjid.

Ah betapa Jawa.

Suatu hari di tahun 2007, saya dan Mama hendak pergi ke Jogja menengok kakak tertua yang masih kuliah di sana. Mbah Kakung bahkan menyetrika baju akan saya pakai. Dia memang necis dan selalu menuntut saya tampil rapi.

Kami sampai di Jogja malam hari, dini hari ada telepon, kabar Mbah Kakung meninggal dunia. Kami buru-buru kembali ke rumah.

Saya terdiam melihat jenazah Mbah Kakung dikafani, kemudian disolati. Ya, Mbah Kakung yang jarang solat sekarang disolati, kemudian dikebumikan dengan cara Islam. Di KTP Mbah Kakung beragama Islam, ya karena tidak ada pilihan lain mungkin, nasib sama oleh sekian penghayat kepercayaan yang 'agama'nya tidak diakui negara.

Jam demi jam pelajaran agama saya lalui, semua bilang sama orang kafir akan disiksa di kubur dan neraka. 

Saya berpikir, masa sih Allah tega menghukum Mbah Kakung yang sangat baik?

Kerap saya berdoa, kalau ingat "Ya Allah sayangi Mbah Kakung seperti ia menyayangi saya" karena tentu bilangannya tak terkira.

Hingga saya bertemu seorang mentor yang juga dosen di fakultas saya. "Bagaimana 'nasib' Mbah Kakung?"

Ia menjelaskan panjang lebar dengan hati-hati.

Lalu kesimpulan saya: kita tidak tahu, kita tidak pernah tau.

Kita bisa tahu syariat Allah dan konsekuensinya, tapi kita tidak bisa menyimpulkan nasib orang lain berdasarkannya.

Yang kita tahu setetes air, yang tidak kita tahu seluas lautan