Tuesday, February 17, 2026

Dari Menumpuk ke Mengalir: Menadaburi Makna “Kekayaan” dalam Islam di Zaman Overkonsumsi

Aku sampai pada titik ini bukan karena miskin, justru karena cukup. Cukup untuk menyadari bahwa sebagian besar kecemasanku tentang uang ternyata bukan lahir dari kekurangan, melainkan dari kelebihan yang tidak pernah benar-benar kupahami cara mengelolanya. Ada fase dalam hidup ketika kita tidak lagi dikejar kebutuhan dasar, tetapi justru mulai dikejar oleh rasa ingin yang tak ada ujungnya. Di situlah aku berdiri—di antara rasa aman yang relatif stabil dan kegelisahan yang anehnya tetap tinggal.

Overconsumption tidak selalu hadir dalam bentuk hidup glamor atau lemari penuh barang bermerek. Ia sering tampil lebih sopan, lebih rasional. Ia bersembunyi di balik istilah self-reward, healing, atau narasi bahwa kerja keras memang pantas diberi hadiah. Ia tidak berisik. Ia terasa pantas. Namun pelan-pelan aku sadar, ada sesuatu yang sedang kuhibur dengan cara yang keliru. Aku membeli terlalu banyak hal untuk menenangkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa disembuhkan dengan barang. Ada kekosongan yang kubungkus dengan paket-paket kecil kebahagiaan instan.

Di titik itu, ide “tobat” dari overconsumption muncul. Bukan sebagai penolakan terhadap dunia, bukan sebagai romantisasi kemiskinan, melainkan sebagai usaha merebut kembali ketenangan yang diam-diam terkikis. Tobat ini bukan soal berhenti menikmati hidup, tetapi tentang berhenti menggunakan konsumsi sebagai anestesi emosional.

Die with Zero dan Kegelisahan yang Lega

Beberapa waktu kemudian, aku membaca Die With Zero. Buku ini sering disalahpahami sebagai manifesto foya-foya, seolah-olah ia sedang mendorong orang untuk menghabiskan uang tanpa pikir panjang. Padahal yang ia ajukan jauh lebih subtil dan justru lebih mengganggu: kapan uang itu paling bernilai untuk hidupmu?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi efeknya seperti membuka jendela di ruangan yang pengap. Selama ini kita terbiasa berpikir tentang uang dalam logika akumulasi—semakin banyak semakin baik, semakin lama disimpan semakin aman. Namun buku ini menggeser fokus dari “berapa banyak” menjadi “kapan” dan “untuk apa”.

Dalam bahasa finansial, ia mengajak kita memandang uang bukan hanya sebagai angka di rekening, tetapi sebagai instrumen yang memiliki NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return)—bukan hanya secara finansial, tetapi secara eksistensial. Rp 200.000 di usia 20 dan Rp 200.000 di usia 60 memang identik secara nominal, tetapi nilainya bagi pengalaman hidup tidak pernah benar-benar sama. Bukan semata karena inflasi, melainkan karena tubuh, energi, waktu, dan daya reseptif manusia berubah.

Nilai pengalaman terdiskonto oleh usia. Ada pengalaman yang IRR-nya tinggi di usia muda—belajar, merantau, mencoba, gagal, jatuh cinta, membangun jejaring. Ada pula pengalaman yang lebih bermakna di usia matang—memberi, membimbing, memperlambat ritme, merawat. Jika diterjemahkan lebih personal, NPV hidup mungkin adalah total makna yang kita kumpulkan sepanjang hayat, sementara IRR hidup adalah seberapa cepat makna itu benar-benar terasa dan mengubah kita.

Banyak orang, tanpa sadar, menjalani strategi hidup dengan ROI uang maksimal tetapi IRR hidup minimal. Tabungan bertambah, aset menggunung, tetapi pengalaman yang menghidupkan jiwa justru ditunda atas nama rasa aman yang tak pernah benar-benar cukup. Menariknya, Islam tidak pernah mendorong strategi seperti itu.

Abdurrahman bin Auf dan Kekayaan yang Tidak Takut Mengalir

Ketika memikirkan relasi antara kekayaan dan makna dalam Islam, aku sering teringat pada sosok Abdurrahman bin Auf. Ia adalah paradoks yang kerap disederhanakan: seorang sahabat Nabi yang sangat kaya, tetapi namanya tidak melekat pada kemewahan, melainkan pada kelapangan tangan. Kekayaannya tidak menjadikannya simbol penumpukan, melainkan simbol pergerakan.

Ia tidak alergi pada pasar. Ia memahami mekanisme jual-beli, reputasi, kepercayaan, dan arus kas. Dalam bahasa hari ini, ia mungkin akan dianggap piawai membaca peluang dan menjaga likuiditas. Namun yang membedakannya bukan sekadar kemampuan menghasilkan, melainkan keberanian untuk mengalirkan. Ada kesadaran bahwa harta yang berhenti terlalu lama di satu tangan berpotensi menjadi beban spiritual.

Jika ia hidup hari ini, mungkin ia tidak akan bertanya, “Berapa asetmu?” Pertanyaannya bisa jadi lebih sunyi dan lebih tajam: “Berapa banyak hidup yang telah kau bebaskan—hidupmu sendiri dan hidup orang lain?” Dalam kerangka itu, kaya tidak pernah menjadi masalah. Yang berbahaya adalah menumpuk tanpa fungsi, menyimpan tanpa arah, dan menjadikan akumulasi sebagai identitas.

Kelimpahan vs Ketenangan: Salah Paham Zaman Modern

Surga dalam Islam sering digambarkan dengan citra kelimpahan: kebun-kebun yang dialiri sungai, buah yang tidak pernah habis, pakaian indah, dan rasa aman yang abadi. Namun ada konteks historis yang sering luput kita sadari. Al-Qur’an turun di masyarakat yang hidup dalam scarcity—di tanah yang keras, dengan akses air terbatas, dan ancaman sosial yang nyata.

Bagi mereka, air adalah kemewahan. Makanan stabil adalah keajaiban. Rasa aman adalah nikmat tertinggi. Maka kelimpahan dalam teks suci bukanlah glorifikasi konsumsi, melainkan bahasa pedagogis tentang hilangnya kekurangan. Ia berbicara dalam idiom yang bisa dipahami oleh masyarakat yang akrab dengan keterbatasan.

Namun Al-Qur’an juga berulang kali menekankan aspek yang lebih subtil: ketenangan batin. “Wahai jiwa yang tenang…” (QS. Al-Fajr 89:27). “Tidak ada rasa takut dan tidak bersedih.” (QS. Yunus 10:62). “Tidak terdengar kesia-siaan, kecuali salam.” (QS. Maryam 19:62). Gambaran surga bukan sekadar ruang dengan fasilitas melimpah, melainkan ruang tanpa kecemasan.

Ironisnya, di zaman overproduksi seperti hari ini, kelimpahan benda justru sering melahirkan kelaparan makna. Kita hidup di tengah surplus pilihan, tetapi kekurangan arah. Kita memiliki akses ke hampir semua hal, tetapi jarang merasa cukup. Di titik ini, mungkin makna “nikmat” memang perlu ditafsir ulang—bukan sebagai lebih banyak, melainkan sebagai cukup dan tenang.

Tobat dari Overconsumption Bukan Anti-Nikmat

Tobat dari overconsumption bukan berarti hidup asketik yang kering dan menolak dunia. Ia justru mengajak pada bentuk kenikmatan yang lebih sadar. Menggunakan uang di waktu yang tepat, untuk hal-hal yang meningkatkan kapasitas hidup, tanpa menunda makna demi rasa aman yang semu. Ia tidak anti-dunia; ia anti-penumpukan tanpa kesadaran.

Dalam perspektif ini, gagasan Die With Zero terasa lebih dekat dengan etika Islam daripada banyak nasihat finansial modern yang tanpa sadar menjadikan akumulasi sebagai ibadah terselubung. Islam tidak menyuruh mati miskin. Ia juga tidak memuliakan kekayaan sebagai tujuan akhir. Ia mengajarkan tanggung jawab, distribusi, dan kelapangan.

Mungkin pada akhirnya kekayaan bukan soal saldo akhir, tetapi soal apakah hidup kita pernah benar-benar dipakai. Mungkin “die with zero” dalam konteks spiritual bukan berarti nol harta, melainkan nol penyesalan—dan nol harta yang gagal menjadi makna. Dan mungkin, di zaman ini, hidup yang tidak mewah tetapi penuh justru lebih dekat ke gambaran surga daripada hidup yang berlimpah namun gelisah.

No comments:

Post a Comment