Showing posts with label Bapak. Show all posts
Showing posts with label Bapak. Show all posts

Thursday, January 6, 2022

Am I There Yet?

Tadi pagi ada seorang teman saya yang di tengah-tengah chat menanyakan "lo masih grieving?". Saya bingung harus menjawab apa. Kalau yang dimaksud adalah menangis tersedu-sedu setiap malam, syukurnya sudah tidak. Tapi saya masih selalu ingat Bapak, ketika menyemprotkan parfum yang biasa beliau pakai atau terlintas hal-hal yang... wah gue pengen obrolin ini sama Bapak- tapi sudah tidak bisa.

Saya menemukan ilustrasi menarik tentang grieving, bahkan sebelum Bapak saya meninggal, saya sering melihatnya di internet:





Saya mencoba untuk meyakininya, bahwa karena saya masih melanjutkan hidup, saya terus bertumbuh, menjadi lebih besar dari grief yang ada dalam diri ini- walaupun ia akan terus menjadi bagian dalam diri saya.

Oke deh, saya mau bahas buku lain yang saya baca tahun lalu- yang sedikit banyak turut menemani perjalanan bertumbuh saya.

- Am I There Yet? by Mari Andrew




Saya udah lama pengen baca buku ini karena follow Mari Andrew di instagram, konten-kontennya selalu sederhana tapi menarik. Buku pertama Mari, dengan ilustrasinya yang khas saya kira 'hanya' membahas perjalanan tentang anak muda mencapai impian, atau semacam itu. Ketika akhirnya saya mulai membaca di kindle, saya 'kaget' ternyata Mari juga menulis buku ini setelah kehilangan ayahnya (lagi-lagi timing yang pas).

Ada part yang exactly menggambarkan bagaimana perasaan saya setelah ditinggal Bapak:

“I once heard an interview with an artist whose father died at the height of his creative success. He was really close with his dad, and spent the next few years in a tense combination of obligatory gratitude and overwhelming sadness.

When asked to describe loss, this guy said that it was like having the casino cashier gone. He compared everything that happened to him—any happiness, any difficulty, any mundanity—to a poker chip, saying his father would validate those experiences like a cashier, making them worth something. His father turned every one of the man’s moments into something meaningful just by listening to his stories.
After his father died, the man said he was sitting among piles and piles of worthless poker chips. He was dwelling in loss, running his fingers through it. ”- Mari Andrew.

Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang proses Mari Andrew menjadi dewasa baik dari topik percintaan, karir, dan pemaknaan hidup secara general. Ia menuturkannya dengan manis, lengkap dengan ilustrasinya yang membuat kita tersenyum sambil bilang "relate banget bestie"




Saturday, January 1, 2022

Bye 2021 (Part 1)

Tahun lalu bukanlah tahun yang mudah untuk saya. Hilightnya adalah, ya Bapak saya berpulang 15 Juni 2021, hanya beberapa hari sebelum saya berulang tahun yang ke 27. Sesusah-susahnya saya berusaha menemukan 'silver lining', toh hidup ini harus terus berjalan buat saya. Dengan demikian, saat memutuskan untuk ikut challenge KLIP lagi tahun ini, saya mencoba mengorek-korek lagi ke dalam otak saya, hal-hal apa yang saya syukuri tahun ini, supaya saya bisa baca lagi sewaktu-waktu. Sebagai pengingat bahwa tahun ini tidak berlalu begitu saja. Btw listnya ngasal seingetnya saya aja (not in any particular order), hehe

1. Jaksel Lyfe

Akhir tahun 2020 saya pindah kosan dari BSD ke Radio Dalam, karena saat itu ngantor di daerah Kebayoran Baru. Sebelumnya, kantor dan area pergaulan saya seputaran Jakarta Pusat saja, sebetulnya Jaksel ini lebih menarik karena lebih berasa neighborhood nya instead of business complex (nah loh kan bahasanya aja udah Jaksel banget, wkwk). Hmm kayaknya menarik ya kapan-kapan nulis soal code-switching bahasa ini.

Oke lanjut fokus, Radio Dalam ini nyaman karena kemana-mana deket. Sangat deket dari PIM (haha) jalan kaki ke Gandaria City juga bisa, ke Kemang atau Cipete juga masih bisa dijangkau dengan motor, Barito, Blok M juga dekat, kalau mau agak jauh bisa naik MRT. Pantes banyak yang suka tinggal di Jaksel ya, banyak cafe buat ngopi-ngopi cantik juga (walau Giyanti yang di Jakpus masih the best menurut saya).

2. Explore parfum lokal

Kayaknya Topik ini juga cukup seru kalau dibikin satu blog post sendiri (mulai insecure kehabisan topik buat KLIP, haha). Biasanya tiap tahun saya sisihin budget buat beli satu discovery kit parfum brand impian (yang mana harganya lumayan ya). Nah tahun ini budget itu gue alihkan untuk explore (masih dicovery kit parfum lokal.

perfume is the way my olfactory senses take a peek of how upper class life feels like

Beberapa brand parfum lokal yang gue suka adalah: Oullu, Mine, House of Medici, dan Fetch. Gue lumayan bangga dengan perkembangan pesat industri ini di Indonesia. Karena banyak bahan baku parfum tuh diekspor dari negara kita, semoga makin keren yah skena ini. Gue juga pengen banget belajar perfumery, one day, di Grasse #aamiin #manifesting.



Berlanjut ke part 2 ya, hehe



Thursday, January 16, 2020

Benarkah Orang Indonesia Tidak Produktif?

"ah orang Indonesia mah kebanyakan males-malesan"

Tukas ayah saya ketika menceritakan sebuah proyek pembangunan pabrik di Banten yang menggunakan TKA (Tenaga Kerja Asing) ilegal dari Cina. Kenapa ya narasi seperti itu jamak terdengar di kalangan masyarakat Indonesia?.

Apakah ini adalah self-fulfiling propechy dari narasi yang digaungkan oleh kolonial pada masa itu?

Lalu jika orang Skandinavia punya Hygge dan Lagom, orang Jepang punya Ikigai. Orang Indonesia punya apa?

aduh, bingung


[aww mlu bgt]

Sunday, April 30, 2017

Bapak saya, seorang buruh pabrik semen.

Sejak awal usia 20an nya. Bapak saya mulai bekerja di Pabrik Semen di Cilacap. Pabrik ini telah sekian kali berganti kepemilikan, dari milik adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo setelah sebelumnya miliki Jepang hingga akhirnya dijual ke Perusahaan Swiss, Holcim.

Bapak selalu menyebut dirinya buruh. Walaupun hingga akhir karirnya, setelah lebih dari 30 tahun mengabdi di perusahaan yang sama dari menjadi operator mesin hingga level middle management. Ia tetap menyebut dirinya buruh.

Entah penghayatan apa yang ia miliki. Tapi saya mengenal Bapak sebagai orang yang selalu peduli dengan orang lain. Ia tetap aktif di Serikat Pekerja, berdebat dengan auditor-yang dibayar ratusan dollar per jam, menuntut upah yang 'layak' bagi kawan-kawannya. Bapak juga kerap lebih peduli pada 'orang lain' dibanding keluarganya sendiri, setidaknya Mama pernah protes begitu.

Status Bapak sebagai 'buruh' bukan lantas membuat kami menderita. Ketika rumah tetangga masih beralaskan tanah. saya bisa selonjoran di atas lantai keramik. Ketika kawan saya mandi dari sumur timba, keluarga kami sudah punya pompa listrik.

Tapi, Bapak tidak pernah menanamkan pada anak-anaknya bahwa kami orang 'kaya'. Semacam menolak kemapanan mungkin. Saya bersyukur dibesarkan di keluarga yang sederhana dan 'cukup'. Bapak membenci gaya hidup borjuasi. Ia kerap memberi contoh Pak ini atau Bu anu yang lebih mementingkan penampilan melebihi penghasilannya. Kelak, saya memperkenalkan filsafat Kierkegaard (atau Berdayev ya?, lupa hehe) tentang mahluk etika dan estetika kepada Bapak.

Bapak selalu menekankan substansi. Waktu itu, kalau tidak salah ingat, saya belum sekolah dan mungkin Mas Bondan masih SMP. Bapak memberikan tekanan bahwa kami bertiga saudara harus kuliah di perguruan terbaik di negara ini. Hanya dengan cara itu kita bisa meningkatkan derajat, katanya. Lebih baik tabungan Bapak dipakai untuk menyekolahkan kalian daripada membeli mobil Kijang terbaru.

Dari Bapak pun saya belajar integritas. Bapak sangat anti mengambil jalan pintas untuk cita-cita anaknya. Misalnya, praktek membayar lebih 'lewat jalur belakang' untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi sangat umum di lingkungan kami. Tapi Bapak tidak pernah melakukannya dan meyakinkan kami bahwa perilaku demikian haram di mata hukum, agama dan sosial. Begitu pula dengan pekerjaan, Bapak membebaskan anak-anaknya berjuang sendiri meraih apa yang diinginkan (dan kami masih berjalan menuju ke sana).

Bapak juga orang yang sangat open minded. Mas Bandu selalu bilang, bagaimana ceritanya di antara belukar dan asap di desa Karangtalun ada bocah yang kelak jadi seniman- kosakata yang bahkan tidak bisa dimasukkan di kolom 'pekerjaan' saat kakak saya membuat KTP di kelurahan. Ia membebaskan kami memiliki cita-cita dan pemikiran kami sendiri.

Syahdan, salah satu hal yang saya syukuri adalah Bapak dan kakak-kakak saya, yang laki-laki- namun selalu terbuka mengajak saya diskusi hingga larut malam, tentang agama, politik, sains, masalah sosial dan banyak hal lain di dunia ini. Yang mau mengajak saya, berpikir. Yang mungkin, membedakan saya dengan beberapa anak-anak perempuan lain di luar sana. Hingga saya meyakini, semua keluarga seharusnya seperti ini!.

Ini sedikit cerita tentang Bapak saya yang buruh. Yang taat bekerja mematuhi jam kerja sekaligus tetap kritis terhadap korporasi nya.

Selamat Hari Buruh, Bapak