Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Tuesday, March 15, 2022

Midnight Library


Akhirnya saya berhasil menyelesaikan buku pertama tahun ini!, dan buku fiksi pertama juga setelah sekian lama. Setelah menyelesaikan dua buku non fiksi karya Matt Haig tahun lalu, tahun ini saya tertarik untuk membaca salah satu karya fiksinya.

Midnight Library bercerita tentang Nora Reed, perempuan berusia 35 tahun yang sangat 'lelah' dengan hidupnya, merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk ia hidup di dunia ini, hingga akhirnya (trigger warning) memutuskan untuk bunuh diri.

Setelah memutuskan mengakhiri hidupnya, Nora 'terjebak' di Midnight Library, secara ajaib punya kesempatan kedua- ketiga, dan seterusnya untuk menjajal skenario lain yang mungkin terjadi dalam hidupnya. "what if" kalau saja... kalau saja Nora serius berlatih renang, kalau saja Nora terus ngeband, kalau saja Nora menikah dengan Dan, mantan pacarnya, atau Ash- dokter bedah yang bekerja di rumah sakit tempat ibunya dirawat.

Matt Haig menggambarkan kondisi depresi yang dialami Nora dengan cukup dekat (tadinya saya mau bilang akurat, namun sepertinya dekat lebih pas). Mungkin karena Matt sendiri (dalam memoarnya Reason to Stay Alive) menjelaskan bahwa ia pernah mengalami depresi.

Saya terkesan dengan kemampuan Matt Haig menggambarkan depresi dan kesedihan di buku ini. Ndilalah, saya juga membaca buku ini setelah kucing saya Momo mati, sama seperti Nora yang kehilangan kucingnya juga. Atau ketika bahkan Mr. Banerjee tetangga Nora yang lansia sudah tidak membutuhkannya lagi.

Saya hampir kesal karena saya kira di akhir cerita, hidup versi sempurna untuk Nora adalah menjadi istri Ash sang dokter bedah dan ibu satu anak yang menggemaskan, namun ternyata itupun bukan hidup sempurna versi Nora. Skenario lain juga setelah disadari lebih lanjut adalah mimpi orang-orang lain untuk Nora. Menjadi atlet kelas dunia adalah mimpi ayahnya, menjadi rockstar adalah mimpi kakaknya, bahkan menjadi glaciologist adalah mimpi yang muncul dari interaksinya dengan Ms. ELm, pustakawati yang nantinya ia 'temui' di Midnight Library. Lalu sebenarnya, apa yang Nora inginkan? bagaimana hidup yang ideal seharusnya untuknya?

Resolusi konflik atau akhir dari cerita di buku ini cukup 'melegakan'. Bukan happy ending yang penuh dengan pelangi atau sedih yang begitu nestapa. Akhirnya, pesan dari buku ini yang bisa saya ambil adalah, walaupun hidup dengan pilihan, kita tidak bisa mencurangi takdir. Setiap pilihan yang kita ambil ada konsekuensinya, dan tidak ada pilihan yang begitu sempurna.

Berikut ilustrasi yang saya rasa cukup menggambarkan bagaimana hidup kita, setelah memaknai cerita Nora di Midnight Library




Thursday, January 6, 2022

Am I There Yet?

Tadi pagi ada seorang teman saya yang di tengah-tengah chat menanyakan "lo masih grieving?". Saya bingung harus menjawab apa. Kalau yang dimaksud adalah menangis tersedu-sedu setiap malam, syukurnya sudah tidak. Tapi saya masih selalu ingat Bapak, ketika menyemprotkan parfum yang biasa beliau pakai atau terlintas hal-hal yang... wah gue pengen obrolin ini sama Bapak- tapi sudah tidak bisa.

Saya menemukan ilustrasi menarik tentang grieving, bahkan sebelum Bapak saya meninggal, saya sering melihatnya di internet:





Saya mencoba untuk meyakininya, bahwa karena saya masih melanjutkan hidup, saya terus bertumbuh, menjadi lebih besar dari grief yang ada dalam diri ini- walaupun ia akan terus menjadi bagian dalam diri saya.

Oke deh, saya mau bahas buku lain yang saya baca tahun lalu- yang sedikit banyak turut menemani perjalanan bertumbuh saya.

- Am I There Yet? by Mari Andrew




Saya udah lama pengen baca buku ini karena follow Mari Andrew di instagram, konten-kontennya selalu sederhana tapi menarik. Buku pertama Mari, dengan ilustrasinya yang khas saya kira 'hanya' membahas perjalanan tentang anak muda mencapai impian, atau semacam itu. Ketika akhirnya saya mulai membaca di kindle, saya 'kaget' ternyata Mari juga menulis buku ini setelah kehilangan ayahnya (lagi-lagi timing yang pas).

Ada part yang exactly menggambarkan bagaimana perasaan saya setelah ditinggal Bapak:

“I once heard an interview with an artist whose father died at the height of his creative success. He was really close with his dad, and spent the next few years in a tense combination of obligatory gratitude and overwhelming sadness.

When asked to describe loss, this guy said that it was like having the casino cashier gone. He compared everything that happened to him—any happiness, any difficulty, any mundanity—to a poker chip, saying his father would validate those experiences like a cashier, making them worth something. His father turned every one of the man’s moments into something meaningful just by listening to his stories.
After his father died, the man said he was sitting among piles and piles of worthless poker chips. He was dwelling in loss, running his fingers through it. ”- Mari Andrew.

Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang proses Mari Andrew menjadi dewasa baik dari topik percintaan, karir, dan pemaknaan hidup secara general. Ia menuturkannya dengan manis, lengkap dengan ilustrasinya yang membuat kita tersenyum sambil bilang "relate banget bestie"




Sunday, January 2, 2022

Buku-Buku yang Menemani Saya Grieving

Tadinya tulisan ini mau saya jadikan part 3 kelanjutan dari 2 tulisan saya kemarin. Tapi kayaknya daftar buku-buku dalam list ini lebih dari yang bisa saya muat dalam post ini, haha. Jadi saya putuskan part ini adalah bagian tersendiri, yang mungkin nanti ada part 2 nya juga. Haha lieur.

Kuliah psikologi membuat saya mengenal istilah grieving, ini berbeda dengan mourning atau berduka, ya memang kadang-kadang saya merasa Bahasa Indonesia masih kekurangan kosakata. Kalau baca dari sini sih, mourning adalah ekspresi dari grief. Jadi grief tuh gak selalu 'kasat mata' seperti menangis atau marah.  Emosi manusia memang kompleks, tidak terkecuali grieving. Di sini saya gak akan bahas 5 tahap-nya Kubler-Ross yang terkenal itu, hehe. Karena percayalah saya juga gak tahu saya sedang ada di tahap mana.

Saya bersyukur punya support system yang baik selepas Bapak saya berpulang. Keluarga inti, teman-teman, kolega, semuanya mendukung saya dengan berbagai cara. Namun ada kalanya saya sendiri, berkontemplasi dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Beberapa cara saya lakukan agar tenggelam dalam perasaan sedih yang berlebih, salah satunya baca buku. Saya juga berada di lingkungan yang gemar membaca buku, tapi ada yang 'lucu', saya sering merasa orang-orang di sekitar saya meng-underestimate buku-buku yang berlabel self help. Mungkin karena sebagian besar teman saya juga memiliki latar belakang psikologi, sehingga menganggap buku semacam ini adalah pseudoscience dan terlalu pop. Duh apakah teman-teman saya terlalu fafifu wasweswos 😂

Namun, semakin dewasa saya semakin berani untuk 'bodo amat' dengan standar orang-orang. Toh, ini hidup saya, jika saya menikmati dan merasa terbantu dengan buku-buku 'receh' ini, gapapa dong, you do you, hidup aing kumaha aing, Lol

So, let's unapologetically reading self help books

Berikut buku-buku yang saya baca tahun 2021 dan saya suka kontennya, serta sedikit banyak membantu proses saya grieving.

- How to Stay Sane by Phillipa Perry




Hari itu Mama menelepon dan mengabari Bapak masuk rumah sakit tiba-tiba. Saya dan kedua kakak saya pun sepakat pulang ke rumah. Karena buru-buru, saya packing seadanya. Tahu perjalanan ke rumah dengan kereta api akan lumayan lama, saya sekenanya mengambil buku yang baru saya beli dengan niat menemani perjalanan saya pulang.

Ternyata saya menamatkan buku ini selama perjalanan itu, sudah lama saya tidak membaca satu buku sekali duduk. Seperti layaknya terbitan The School of Life yang lain, buku ini sangat 'ringan' untuk dibaca dengan bahasa yang mudah dipahami. Phillipa Perry- yang juga seorang psikoterapis menulis buku ini dengan praktikal, ada beberapa 'latihan' yang bisa kita coba untuk menjadi tetap waras- sebagaimana judulnya.

Ada empat bab dalam buku ini, salah satunya adalah Stress, lah gimana, mau waras kok malah disuruh stres.

"no stress at all means that the brain does not get any exercise. A brain is not unlike a muscle, in that the cliche 'use it or lose it' applies." -Phillipa Perry

Game apapun menjadi seru karena memiliki tingkat kesulitan tertentu, begitu pula hidup- akan makin exciting dengan kesulitan tantangannya, dan semoga kita terus semangat naik level. Dunia seperti tahu, saya menamatkan buku ini tepat 5 hari sebelum Bapak berpulang, seolah seperti menyiapkan saya menjalani 'level' baru.

- What I Know For Sure by Oprah Winfrey




Saya menghadiahi diri sendiri kindle ketika berulang tahun, karena sudah lama ngidam dan akhirnya tahun lalu ada budgetnya, salah satu benda duniawi yang saya kira dapat menjadi penawar kesedihan. Namun ternyata ada 'tugas' yang pasti harus saya selesaikan setelah beli kindle: beneran dipake buat baca buku 😂. Buku ini adalah buku pertama yang saya tamatkan di kindle.

Semua orang kayaknya tahu siapa Oprah Winfrey, beberapa mungkin tahu juga dia punya masa lalu yang kelam. Tidak mudah menjadi perempuan kulit hitam di ranah televisi AS saat itu. Buku ini memuat- seperti judulnya, hal-hal yang Oprah yakini selama ia hidup. Kalau lihat reviewnya di goodreads, ada yang kritik semacam "ya iya lah ngomong mah gampang, elu populer dan kaya raya". Mungkin ada benarnya, tapi saya sangat salut dengan approach Oprah di buku ini, alih-alih 'menyuruh' pembaca sukses sepertinya, dengan cara dia, Oprah seperti mempuk-puk punggung kita seraya bilang "gak papa kok kalau hidup kamu sekarang sulit".

Dari delapan bab yang ada, saya paling suka bab Resilience. Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Seperti saya, mungkin Anda juga perlu membaca kutipan Oprah di bab ini:

“I have always prided myself on my independence, my integrity, my support of others. But there’s a thin line between pride and ego. And I’ve learned that sometimes you have to step out of your ego to recognize the truth. So when life gets difficult, I’ve found that the best thing to do is ask myself a simple question: What is this here to teach me?” -Oprah Winfrey





Sunday, February 18, 2018

Hidup Kita Setelah Internet

Tadinya, saya mau menulis ulasan dua buku yang saya baca di bulan Januari, yaitu Modern Romance oleh Aziz Ansari dan Show Your Work oleh Austin Kleon. Tapi kayaknya dua buku itu membahas sesuatu yang mirip: perubahan hidup kita setelah internet.

Modern Romance- yang ternyata saya baru tau kalo penulisnya adalah aktor slash stand up comedian, yang habis dituduh melakukan pelecehan seksual- membahas soal dating, pacaran, mencari jodoh you name it, wabilkhusus setelah ada internet dan tentunya beragam media online dating. Sebenernya pas gue remaja juga udah mulai merasakan mengamati fenomena ini. Kala itu, beberapa temen gue (nahloh tadi saya sekarang gue) kenalan sama cowok lewat nomer yang sms nyasar trus mereka pacaran lewat sms gitu, wtf. Pas udah ada sosmed, sodara gue juga ada yang ketemu jodohnya di internet, ketenmu pertama kali langsung lamaran dan kemudian menikah, sekarang mereka hidup bahagia bersama dua orang anak. Walaupun gak semua kisah cinta internet berakhir manis, fenomena ini juga banyak dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.


sekarang tokobagus jadi OLX yakan?

Insight utama dari buku ini, iya loh kita masih bahas buku kan. Internet expands pilihan kita tentang calon jodoh potensial. Dan seperti apapun yang banyak pilihannya, orang jadi semakin berlama-lama dan tambah picky memilih pilihan yang ada di depan matanya. Online dating bukanlah dating, ujar Ansari melainkan media perkenalan aja. Maka kopi darat adalah menjadi penting, wakakak. Ya teknologi mungkin belum mengijinkan kita ena-ena virtual, waks. Dan karena kita (jika beruntung) akan hidup dengan orang beneran, bukan dengan persona nya di sosial media.


"We have two selves: a real-world self and a phone self, and the nonsense our phone selves do can make our real-world selves look like idiots." (Aziz Ansari, Modern Romance)
Kamu bisa unduh buku Modern Romance di sini 

Buku kedua adalah "Show Your Work!, 10 Ways to Share Your Creativity and Get Discovered" by Austin Kleon. Panjang ya judulnya, buku ini adalah buku kedua yang saya beli di Google Play Book pake email kakak saya (tanpa sepengetahuan beliau) biar dapet diskon 90%, soalnya jatah akun saya udah buat beli buku Hygge.


Buku ini menerangkan bahwa social media is actually good, terutama untuk para (but not limited to) pekerja kreatif. Sebelumnya, saya selalu risih dengan orang-orang yang terlampau pede memamerkan dirinya di sosmed. Tapi setelah baca buku ini, sesuai dengan yang Kleon katakan: if your work isn’t online, it doesn’t exist.

Btw, penulis buku ini juga aktif menulis di austinkleon.com

Saya sendiri menyaksikan beberapa orang yang rising di jagad maya, misalnya Diana Rikasari atau Suhay Salim. Mereka konsisten dengan karya mereka sehingga bisa sampe kayak sekarang. And I? nontonin doang, wkwk.

Yang saya highlight dari buku ini adalah betapa kita harus menghargai proses. Jadi inget, dulu pas kecil saya sering kepengen menang lotre, tiba-tiba terkenal, tiba-tiba jadi dokter dan tiba-tiba yang lain. Kemudian saya sadar bahwa pendidikan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli hanya dengan uang. Belajar adalah tentang proses, dan tidak jarang memang pedih. Kita lihat selebgram sekarang bisa hidup foya-foya, tapi di balik itu pasti ada struggle yang gak mereka perlihatkan ke publik. Atau ada tagihan utang yang memnti dibayar tiap bulan, hehe #julid. We never knows

Selain dua buku tadi, saya juga baru menemukan tv series yang membuat umm... Pernah gak abis nonton atau baca sesuatu trus kita kayak mindf*cked gitu. Haha, diem, mikir, bingung.



Begitulah yang saya rasakan kalau habis nonton episode demi episode Black Mirror. 

Black Mirror adalah serial tv Inggris yang ditayangkan di Netflix sejak Desember 2011. Berbeda kayak tv series pada umumnya. Black Mirror lebih mirip antologi yang ceritanya gak nyambung tiap episodenya. Tapi ada tema besarnya: teknologi dan kehidupan manusia.

Saya gak mau spoiler ceritanya di sini. Tapi intinya, kalau kalian nonton dari season 1 episode 1. Siap-siap bereaksi "apaan sih inih?!" atau simply "what the f**k".

Kalau kalian butuh stimulasi buat berpikir tentang eksistensialisme, tonton satu aja episode Black Mirror, abis itu kalian akan mikir:
kenapa kita suka banget mempermalukan orang?
kenapa kita berbuat baik?
kita ngumpulin uang untuk apa sih?
apa kamu percaya orang yang kamu sayang gak bohong?
apa yang terjadi setelah kita mati?

dll dsb dst ampe mumet

Black Mirror menohok kita dengan sarkasme yang begitu dekat dengan kehidupan manusia. It's science fiction, but it doesn't seems like fiction at all.

At the end of the day, kita tau bahwa apa yang ada di internet itu tidak nyata

but

what is real, anyway?


Monday, January 1, 2018

Buku Terbaik pada Tahun 2017

Ijinkan saya membuka tahun baru ini dengan memamerkan beberapa buku bagus yang saya baca di tahun 2017. Karena bingung kalau harus mengurutkan, maka saya bagi saja sesuai potongan identitas saya, hingga kenapa saya bisa bilang buku-buku ini layak kalian baca.


1.      Sebagai orang Indonesia, Pulang oleh Leila S. Chudori


Saya membaca Pulang di awal tahun 2017 dan selesai dalam waktu kurang lebih seminggu- karena saat itu saya masih nganggur, hehe. Tapi novel ini benar-benar bagus, bahkan mungkin salah satu karya fiksi terbaik yang pernah saya baca. Walaupun fiksi, novel ini meng-capture momentum bersejarah di Indonesia. Diawali dengan cerita sekawanan teman pada tahun 1965 hingga mereka terpaksa menjadi eksil di Eropa hingga ‘reuni’ anak-anaknya pada konflik 1998. Dua tahun keramat bagi Indonesia, namun bagi sebagian besar anak-anak milenial, hal ini masih menjadi misteri. Drama keluarga yang dibalut kemelut situasi politik dituturkan dengan indah oleh Leila S. Chudori, membuat Pulang layak dibaca oleh setiap warga negara Indonesia atau mereka yang ingin belajar tentang Indonesia.

2.       Sebagai Muslim, Dalam Dekapan Ukhuwah oleh Salim A. Fillah


Buku ini mungkin menjadi satu-satunya ‘penyejuk’ dalam daftar buku terbaik Binar tahun ini. Hehe, becanda. Saya sudah membaca salah satu buku karya Salim A. Fillah yaitu Saksikan Bahwa Saya Seorang Muslim. Kemudian kembali dipertemukan dengan buku ini, yang boleh dibilang adalah sekuel dari bukunya terdahulu. Setelah memantapkan identitas sebagai seorang Muslim, kita perlu belajar dan menata interaksi kita dengan sesama Muslim yang lain, atau bahkan orang lain yang non-muslim.
Salim A. Fillah adalah salah satu ulama muda yang produktif menulis buku-buku berkualitas. Ia selalu dengan apik menyisipkan cerita Nabi dan sahabat-sahabatnya, sejarah hingga kutipan dari buku-buku self help modern untuk memberikan ilustrasi atas pesan yang ingin disampaikan.
Buku ini wajib dibaca bagi siapapun yang ingin menjadi Muslim yang baik, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk sesamanya.

3.       Sebagai Pekerja Sosial, Doing Good Better oleh William McAskill

Ulasan buku ini sudah ditulis di sini. Dengan jalur ‘karir’ yang saat ini saya pilih, saya selalu meragukan “apa yang saya perbuat sudah benar?”. Saya membaca buku ini, berharap menemukan jawaban, ternyata tidak, yang saya alami malah jadi makin skeptis. Buku ini cukup mengobrak-abrik nalar saya tentang berbuat baik. Intinya, perbuatan baik akan sangat mungkin berakhir menjadi egoisme jika tidak diperhitungkan dengan baik. Berbuat baik bukanlah “yang penting niatnya”. Hehe
Seperti judulnya, buku ini cocok untuk mereka yang ingin berbuat baik, dengan lebih baik.

4.       Sebagai Perempuan Bekerja, Lean In oleh Sheryl Sandberg.


Buku ini kayaknya udah menjadi feminis abad 21 starter pack ya, haha. Sudah lama banget pengen baca buku ini hingga akhirnya bisa download di archive.org. Buku ini menceritakan perjuangan Sandberg sebagai perempuan yang bekerja di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Waktu liat reviewnya di goodreads sih banyak yang kritik kalau Sandberg nulis memoar hidupnya dari sudut pandang elitisnya yang duduk di C level perusahaan (sandberg adalah COO, Chief Operating Officer di Facebook). Tapi sebenarnya kalau kita resapi (woelah) cerita Sandberg dalam buku ini, ia tidak mendapatkan posisinya sekarang dengan mudah dan ia selalu berani speak up untuk menyuarakan kebutuhan (atau unek-unek) nya sebagai perempuan di lingkungan kerja. Insight lain yang saya dapat dari buku ini adalah: sangat susah jadi Ibu yang sempurna, bahkan hampir tidak mungkin. Everyone got their own battle lah.

5.      Sebagai Twentysomething, The Defining Decade oleh Meg Jay






Pernah denger quarter life crisis? Rasa-rasanya setelah lulus kuliah dan akhirnya kerja ‘beneran’ di usia 23 ini, banyak banget perubahan dalam hidup ini. Kemudian saya berpikir, ada gak sih semacam manual book untuk melewati semua ini. Alhamdulillah saya direkomendasikan buku ini oleh Gina, makasih Gina.

Meg Jay berargumen kalau usia 20an ini adalah periode yang sangat krusial untuk perihal karir, percintaan dan kesehatan manusia. Buku ini kayak semacam membantah paham western yang mendikte YOLO (mumpung muda, gak usah serius-serius lah). Justru pada periode ini kita kudu kerja keras, harus belajar dewasa menghadapi segala cobaan hidup #waniperihsquad #uopo. Intinya kalau kalian remaja yang menghadapi kebingungan a la twentysomething kayak saya, buku ini patut dicoba lah. Hehe

6.      Sebagai Manusia, Sapiens oleh Yuval Noah Harari


Ini buku yang super mindblowing, dah gitu aja, haha. Pas niat membaca buku ini adalah karena lihat kak Afutami baca buku ini di akun goodreads nya. Dan kayaknya buku ini juga hype banget di sosmed, saya jadi nyadar kalau tren yang paling susah diikuti adalah tren baca buku. Effortnya paling susah bok.

Kalau dibilang buku ini ‘hanya’ buku antropologi kayaknya menyempitkan banget ya. Argumen dasar Harari adalah: homo sapiens itu ya hewan, tapi kok kita bisa jadi menguasai bumi ini? Dikupas lah segala sejarah dari revolusi agrikultur hingga hari ini, buku ini menjawab banyak banget pertanyaan yang mungkin ada di benak kita sejak kecil, kenapa begini kenapa begitu. Yang paling penting, Harari menuturkan segala kerumitan dunia dengan bahasa yang mudah dicerna awam kayak saya. Bab paling mindf*cking buat saya adalah tentang modern economy. Intinya kalian harus cepet-cepet baca buku ini kalau gak mau ketinggalan hype intelektual masa kini. Hahahah

Saya tidak menyelesaikan terlalu banyak buku tahun ini, hanya sekitar 11 judul kalau tidak salah. Yang menarik adalah, buku nomor 1 dan 2 adalah buku pinjaman, sedangkan yang lain adalah e book yang saya baca dari hp. Bersyukur sih dikenalkan dengan google playbook untuk membaca e book dengan format e pub. Pokoknya aktivitas membaca jadi lebih enak (am I sound like bad spokeperson?) haha. Dan tahun ini kayaknya saya juga lebih suka baca buku non fiksi. Dengan fitur read aloud di google playbook juga memudahkan saya untuk memahami buku yang berbahasa Inggris.


Semoga di 2018 kita makin semangat belajar ya, aamiin J

Wednesday, October 4, 2017

Perpustakaan Maya

Bukan, nama saya bukan Maya.

sumber gambar
Dari dulu, saya kepengen banget punya perpustakaan. Kenapa? mungkin karena sejak remaja saya suka banget baca tapi saya tinggal di daerah yang sangat minim akses untuk mendapatkan buku. Dan mungkin karena kelangkaan pilihan bacaan inilah saya juga jadi sangat menikmati membaca buku yang saya sukai.

Salah satu penulis yang membuat saya jadi hobi banget baca adalah Sidney Sheldon, saya pertama menemukan karya nya yang berjudul Doomsday Conspiracy, saya akhirnya kepo dan akhirnya menemukan fakta bahwa Mbah Sheldon saat itu sudah meninggal (tahun 2007). saya pun akhirnya terobsesi untuk membaca semua buku karyanya. Ini merupakan perjuangan panjang, karena tidak ada toko buku yang cukup decent di kota saya tercinta.

Akhirnya dengan berbagai cara, saya berusaha mencari semua novel Sidney Sheldon dengan cara meminjam di perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah, membeli online (10 tahun lalu saya sudah belanja online, wuouw) dan langsung ke toko buku kalau sedang berkunjung ke kota besar. saya bahkan sempat membuat bucket list novel Sidney Sheldo  di blog ini. Hingga saat ini saya udah kelar baca semuanya, kecuali 1 judul, yang Memories of Midnight kalo gak salah.

Hmm, kenapa malah jadi bahas Sidney sheldon ya...

Waktu berjalan, mimpi untuk membuat perpustakaan masih ada dalam benak saya, bahwa distribusi akses pada bacaan belum adil selalu mengusik saya pada kenyataan tingkat literasi di Indonesia yang demikian rendah. Saya salut banget sama temen saya Hastin, yang berhasil mendirikan perpustakaan di Kalimantan Utara. Oia, Hastin juga sedang menghimpun dana untuk programnya di sini. Sekarang, POS Indonesia juga menyediakan akses gratis untuk mengirim buku ke daerah setiap tanggal 17.

Saat kuliah, saya sadar bahwa buku kini hadir pada bentuk elektronik atau e book. Nah karena buku teks untuk kuliah saya dulu mahal- mahal, terkadang saya mengunduh buku elektronik secara ilegal.  Nah teman-teman di angkatan saya juga sering berbagi pakai buku ini lewat media google drive.

Syahdan, saya dan dua teman saya entah gimana ceritanya memutuskan untuk menyimpan buku-buku elektronik koleksi kita di google drive, supaya aman dari segala bencana duniawi. Trus, kalo cuma disimpen ya kurang berfaedah dong, akhirnya dengan kesaktian bit elye, saya membuat bit.ly/bukubukuabg sebagai perpustakaan maya kami. Sila diakses, gratis

Hidup sosialisme!,

Binski

Monday, May 1, 2017

Memaknai Ulang Keikhlasan


خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas)

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain"

Saya sering sekali mendengar kutipan di atas. Dan kurang lebih telah menjadi motto favorit ketika saya sedang sok alim, hehehe.

Sepertinya bukan hanya saya, saya tumbuh dan hingga kini beraktivitas di sekitar manusia- manusia yang ingin berfaedah bagi sesamanya. Siapa sih yang enggak?

Walaupun dulu saya percaya homo homini lupus, tapi kiranya saya sekarang saya sudah bertobat dan ingin menjadi lebih altruist. Cie.

Bahkan setidaknya, hingga kini saya masih istiqomah bekerja di sektor sosial, bukan privat. Namun kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, apakah yang saya lakukan ini benar? tepat? efektif?

Apakah keikhlasan menjadi faktor utama ketika kita ingin menolong orang lain?. Apakah memang tidak ada indikator yang lebih 'profan' dalam hal kebaikan?.

Saya jadi ingat anekdot keikhlasan. Yaitu seperti saat kita, maaf, BAB. Setelah itu tidak usah dilihat. Hal ini tentu menjadi bahaya ketika, misalnya, kita mendonasikan sejumlah uang kepada suatu lembaga dan kemudian karena lembaga tersebut tidak diaudit secara berkala, terjadi penyelewengan oleh pengurusnya. Ini contoh yang terlalu ekstrem memang.

Tapi ketika kita hanya melihat dengan kacamata duniawi. Tentu kita ingin perbuatan baik (dan uang yang kita sumbangkan) bermanfaat untuk sesama manusia dan lingkungan di bumi ini.
Hingga entah bagaimana semesta berkonspirasi (yaelah) menyuruh Bimo merekomendasikan sebuah buku kepada saya.

Judulnya adalah: Effective Altruism oleh William MacAskill. Saya langsung meminta (setengah memaksa) meminta kopi e-book nya dari Bimo.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna. Dari judulnya kita bisa menebak, bahwa buku ini mirip seperti manual book bagi orang-orang yang ingin berbuat baik, bukan sekadar berbuat baik, namun berbuat baik seefektif efektifnya. Haha

Ini cukup menyentak diri saya. Karena selama ini, ketika kita berbuat baik, kita lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika (iya gak sih?) kita akan cenderung empati dan menyumbang untuk korban bencana alam- yang MacAskill temukan dalam buku ini bahwa perbuatan tersebut kurang efektif dibanding berdonasi misalnya, untuk usaha pengurangan cacingan (deworming)- yang MacAskill paparkan dapat meningkatkan angka partisipasi sekolah.

Buku ini menyuguhkan data statistik empiris tentang usaha-usaha sosial di dunia, yang gagal dan yang berhasil. Supaya kita bisa belajar dan merencanakan aksi sosial secara lebih efektif.
Bahkan MacAskill mengenalkan alat ukur QALY untuk mempermudah kita mengukur efektivitas sebuah kegiatan sosial.

Oh iya, ada satu bab yang menarik dalam buku ini, yaitu advise tentang karir. MacAskill mengukur probabilita seorang kawannya yang alumni PPE ketika ia akan berkarir sebagai politisi di UK. Saya juga jadi mengenal istilah earning to give. Bahwa waktu dan skill kita mungkin akan lebih efektif jika kita bekerja di sektor privat dan mendonasikan penghasilan kita untuk kegiatan sosial, alih-alih menjadi pekerja sosial (habis ini siap-siap jadi kutu loncat, eh :p).

Buku ini memang 'hanya' membahas efektivitas altruisme secara kuantitatif dan makro. Dan faktor afektif dalam berbuat baik tidak mungkin terhindarkan.

Tapi tenyata, kita harus memaknai ulang keikhlasan. Yaitu dengan rasional menghitungnya :)

catatan: makna Ikhlas dalam Bahasa Arab adalah 'melakukan segala sesuatu semata-mata untuk Allah SWT'. namun 'ikhlas yang saya maksud di tulisan ini adalah yang secara umum dipahami masyarakat Indonesia, yang dalam bahasa Arab lebih tepat disebut 'ridha'




Saturday, November 7, 2015

Charles Simonyi

Jadi ceritanya hari itu saya sedang merapikan buku- buku saya untuk disumbangkan. Kemudian mata saya tertuju pada sebuah buku berjudul 'Sungai dari Firdaus'. Buku ini adalah karya Charles Dawkins dengan judul asli River Out Of Eden. Saya tertarik membaca halaman demi halaman dan sangat menikmatinya, tidak jarang terkekeh dengan humor- humor yang diselipkan Dawknis. Salah satunya mengigatkan bahwa semua orang di dunia ini adalah sepupu, entah sepupu yang keberapa. Jadi suatu hari jika seseorang menikah, berarti dia menikahi sepupunya! Haha. Oia, buat yang belum tahu Charles Dawkins adalah ilmuwan biologi yang cakap di bidang evolusi, buku ini pun membahas tentang evolusi.

Kemudian saya membaca halaman belakang di mana terdapat rangkuman isi buku dan profil penulis. Saya selalu suka membaca profil penulis pada sebuah buku, karena saya tertarik bagaimana penulis (atau mungkin editornya) mendeskripsikan dirinya dalam kolom yang sangat singkat. Dan dari deskripsi itu kemudian saya mengetahui bahwa Charles Dawkins adalah pemegang gelar keprofesoran Charles Simonyi untuk pemahaman publik atas ilmu pengetahuan. Tanpa kepo lebih lanjut, saya menyetujui bahwa Dawkins memang pantas menyadang gelar tersebut. Padahal Sungai Dari Firdaus juga buku karya Dawkins pertama dan baru satu- satunya yang saya baca.

Kepo selanjutnya mengantarkan saya pada pengetahuan bahwa Charles Simonyi adalah seorang saintis sekaligus filantropis ia menyumbangkan sejumlah kekayaannya beberapa proyek pengembangan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah bidang "Pemahaman publik atas ilmu pengetahuan" di Universitas Oxford ini.

Sekarang kita kembali ke Indonesia. Saya bukan tipe orang yang suka mengeluhkan keadaan tanah air karena menurut saya hal itu tidak menyelesaikan masalah bahkan mendorong kita untuk berpikir negatif terus menerus tentang negara kita. Tapi saat saya pergi ke toko buku - sebuah kemewahan yang tidak dapat saya nikmati di kampung halaman saya, karena di sana tidak ada toko buku yang bagus. Bagus dalam artian seperti Gramedia atau Toko Gunung Agung misalnya. Tak usah se muluk Kinokuniya atau Periplus. Oke selain keterbatasan akses pada buku yang saya alami ketika kecil, kini saya tinggal di kota dan dapat menikmati buku- buku populer. Ketika saya pergi ke rak psikologi misalnya, saya heran kok beda ya psikologi populer yang ada di toko buku dengan apa yang saya pelajari di kampus.

Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa memang ada gap antara para 'ilmuwan' dan masyarakat 'awam'. Sedihnya karena gap ini, membuat masyarakat awam gampang percaya pada berita hoax yang bertebaran di sosial media yang dengan mudah mereka akses. Para ilmuwan pun sudah kadung merasa tinggi dan berbeda kasta dengan si awam. Sang ilmuwan hanya membicarakan masalah sains dan apa yang ia pelajari dengan sesamanya. Opini saya ini sangat serampangan memang. Mungkin ada beberapa insan terpelajar yang tersinggung, hehe.

Tapi membicarakan ilmu pengetahuan dengan orang yang berbeda bidang dengan kita memang tidak mudah. Misalnya ketika saya coba menjelaskan topik skripsi saya pada kakak- kakak saya yang belajar Ekonomi dan Seni, tentu tak mudah bagi mereka memahami apakah memang ada hubungan antara kebahagiaan dan partisipasi politik, hingga topik ini pun tak menarik dan saya hanya bisa bilang "yah jurnalnya bilang gitu". Padahal ini tanda kalau mungkin saya sesungguhnya belum paham paham banget sama topik yang saya pelajari. Haha *ketawamiris*

Untuk apa kita terus terusan menerangi tempat yang sudah terang ya, bukankah lebih baik ketika menerangi tempat yang gelap. hihi
Selamat menerangi!

Thursday, January 16, 2014

Tukeran Buku, Yuk!

*bersihin blog dari debu debu bertrbangan* haha apasih
halo teman- teman, apakabar 2014?
duh saya makin jarang nulis di blog ya :(

di tahun 2014 ceritanya saya ingin lebih banyak berbuat baik dan lebih banyak membaca, hihihi. kemarin ketika pindah kosan, saya menyadari bahwa koleksi buku saya segitu banyaknya :/ padahal jika disimpan gak akan lebih berguna, nah saya punya ide untuk barter/ tukeran buku yang kita punya!

...ini daftar judul yang bisa kita tukerin :p
1. Nasional Is Me - Pandji Pragiwaksono
2. Berani Mengubah - Pandji Pragiwaksono
3. Supernova: Akar - Dee
4. Supernova: Partikel - Dee
5. Madre - Dee
6. Larung - Ayu Utami
7. Lalita - Ayu Utami
8. Cerita Cinta Enrico - Ayu Utami
9. Eat, Pray, Love - Elizabeth Gilbert
10. The Alchemist - Paulo Coelho
11. Edensor - Andrea Hirata
12. Ayat- Ayat Cinta - Habiburahman el Shirazy
13. Ketika Cinta Bertasbih 1 - Habiburahman el Shirazy
14. Kana di Negeri Kiwi - Rosemary Kesauly
15. Putri Hujan dan Ksatria Malam - Sitta Karina
16. Lola Rose - Jacqueline Wilson
17. New Moon - Stephanie Meyer*

*buku berbahasa Inggris

sementara, ini dulu ya bukunya. kamu boleh meminjam buku diatas dengan cara kamu meminjami saya buku juga-- apa saja, haha, simpel kan? hubungi saya di twitter ya @binbinbinar

oia, karena saya belum bisa teleport, mungkin tawaran ini hanya berlaku untuk teman- teman di Depok dan sekitarnya, sebarkan kabar baik ini ya!

~b