Showing posts with label Career. Show all posts
Showing posts with label Career. Show all posts

Tuesday, July 13, 2021

What Each Year of My Career Teach Me (Part 1)

Tulisan ini gue buat di awal tahun 2021. Tidak sadar 'ngendon' terlalu lama di notes hape. Daripada mubazir, mari kita post, haha.

Dengan berakhirnya tahun 2020, tepat kurang lebih gue 5 tahun bekerja. Mungkin bisa disebut juga berkarir walaupun tidak linear. Haha. Setelah direnungi di bilik kakus ternyata setiap tahun ada temanya (atau ya sengaja gue bikin-bikin, hehe). Tema-tema ini benar-benar shaping me as an individual. Apa aja tema-tema tersebut? Cekidot

2016: Human Rights as a Basis

Gue diwisuda Februari 2016, setelah 4,5 tahun kuliah dan diopname pasca sidang skripsi.

Setelah itu jujur lumayan blank mau kerja jadi apa. Puluhan lamaran gue kirim ke sana kemari. Salah satunya saat itu KontraS sedang membuka program magang. Sebelumnya gue sudah pernah magang di dua NGO berbeda saat kuliah: Yayasan Pulih dan Egyptian Feminist Union. Tema dua NGO tadi mirip-mirip, yaitu pemberdayaan perempuan, walau dari angle yang lumayan berbeda. Nah saat gue magang di Pulih, gue pernah membantu supervisor gue mengisi acara di SeHAMA nya KontraS. Jadi lumayan penasaran deh sama KontraS.

Gue apply di divisi riset, dan kemudian diterima. Saat interview, ditanya sebuah pernyataan kunci: "kamu setuju hukuman mati gak?". Gue jawab "enggak, karena takut salah tuduh eh udah mati terdakwanya".

Hahahaha. Mungkin karena itu gue lolos. (yakali)

Di KontraS awalnya gue bingung, ini semua 'penjahat' kok dibelain, dari mulai pelaku terorisme hingga pengedar narkoba. Gue baru paham bahwa sejahat-jahatnya manusia, mereka masih punya hak dasar yaitu hak asasi manusia yang gak boleh dirampas siapapun termasuk negara. Perspektif ini sangat mengubah pola pikir gue. Termasuk saat rame-rame FPI dibubarkan. Oops


2017: The Year of Mohon Ijin πŸ™

Gue kelar magang dan jadi relawan di KontraS bulan Agustus 2016, kemudian di bulan berikutnya gue magang lagi di UNDP. Benar-benar bocah privileged ya gue, magang mulu. 

UNDP coy! Salah satu organisasi PBB, entitas yang dulu cuma bisa gue lihat di buku pelajaran IPS dan PPKn. Gue masih ingat hari pertama gue masuk magang naik KRL kemudian Transjakarta dari Depok ke Thamrin. Penuh dengan kegumunan.

Gue magang di HR unit 3 bulan kemudian dihire untuk bekerja fulltime di DGRPU (Democratic Governance and Poverty Reduction Unit) panjang gak tuh nama unitnya? haha. Yeay akhirnya Binar bekerja fulltime dan bergaji πŸ˜‚, punya asuransi kesehatan sendiri, wkwk.

Jadi apa? Saat itu deskripsi gue: you know like Andrea Sachs, but in UN instead of Vogue.

Kurang lebih peran gue adalah personal assistant untuk sang Head Unit. (Hi Pak, if you're read this, you're a loootttt better than Miranda Priestly kok 😌). Selain itu gue juga mengerjakan pekerjaan administrasi general untuk seluruh unit. Keeping absen orang-orang, beliin mereka tiket kalau mau dinas keluar, daaan berhubungan dengan klien utama kami: pemerintah Indonesia, baik secara formal lewat surat menyurat maupun lewat WhatsApp disertai dengan mohon ijin πŸ™.

Jujur di tahap ini gue kerap merasa 'post power syndrome'. Hello pas kuliah tuh gue udah jadi pejabat kampus, masa di kantor kerjanya cuma fotokopi, nempel bon, dan pesen snack rapat. Tapi perasaan ini bakal healed di tahun-tahun kemudian.

Pada tahap ini gue belajar bahwa pengambilan keputusan di pemerintahan itu sangat kompleks. Who doing what, how and why. Mumet Lah.

Saat itu, di sela-sela menyiapkan kopi dan eclair serta memastikan bapak ibu Bappenas tanda tangan daftar hadir rapat, gue menguping percakapan-percakapan penting tentang arah pembangunan Indonesia. Wedeh. Yang mana makin membuat gue mencintai dunia kebijakan publik- with all the messies. 

Gue juga belajar bahwa gue punya skill yang selama ini I took for granted: basic Javanese decency. Unggah ungguh yang biasa diajarkan ibu dan nenek gue ternyata bring me this far. Bukan menjilat atau bermuka dua, but respect and put persons at their 'positions', hehe ya begitulah perks nya orang Jawa sebagai mayoritas <evil laugh>.

FYI, bahkan meeting high level di pemerintah Indonesia masih kerap memakai kosakata seperti "Monggo, matur, sampun, nuwunsewu, inggih" dan sebagainya. Dan tentu tidak lupa: mohon ijinπŸ™.

Di tahun ini pula gue sadar betapa banyak anggaran pemerintah 'dibuang-dibuang'.

*bersambung (kalo sempet, wkwk)

Monday, July 6, 2020

Kemungkinan Terburuk dalam Hidup

Beberapa bulan lalu saya di-PHK (wehehe akhirnya nulis juga tentang ini). Tabungan menipis, hidup penuh ketidakpastian, dan lain sebagainya. Tapi di masa ini saya justru malah berlatih banget bersyukur. Karena masih ada keluarga dan rumah orang tua untuk 'pulang'. Ada teman-teman yang dekat maupun tidak, sangat banyak membantu saya. Kadang kita (saya) seperti 'harus' membandingkan penderitaan kita dengan orang lain, untuk merasa: "duh hidupku tidak seburuk dia". Sebenarnya, saya rasa ini agak tidak sehat, tapi apalah, perbandingan memang sering kali tidak terhindarkan.

Belakangan saya seperti 'digugah' dua kisah yang saya temukan di sosial media.

Kisah pertama tentang Mas Kris. Seorang warganet pengguna twitter bernama Mbak Lulu mengungkapkan bahwa ia sering berbagi dengan seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di sebuah tanah kosong di Jogjakarta. ODGJ tersebut juga hidup bersama anak-anak kucing yang telantar. Atas kekuatan internet. Seorang kawan lama ODGJ tersebut mengontak Mbak Lulu. Ternyata, ODGJ tersebut bernama Mas Kris, ia berasal dari Sumatera Utara dan kemudian merantau untuk bekerja di Jogjakarta. Nahas, Mas Kris kerap dibully di pekerjaannya hingga akhirnya ia juga kehilangan dokumen-dokumen pribadinya. Kemudian dia 'hilang' tanpa kabar. Setelah ketemu setahun kemudian ternyata Mas Kris ini menggelandang dan tinggal di sebuah pekarangan kosong bersama kucing-kucing liar. Beruntung ia dibantu Mbak Lulu dan akhirnya kisahnya viral. Mas Kris pun 'ditemukan' dan akhirnya dirawat teman lamanya. Power of internet.

Sayang sekali pas saya nulis ini thread viralnya sudah dihapus sama Mba Lulu.

Kisah kedua adalah cuplikan video BBC tentang seorang pembersih rumah di Korea Selatan. Ia spesial karena sering membersihkan rumah yang baru 'ditinggalkan' penghuninya selama-lamanya. Alias, penghuni rumah tersebut meninggal dunia. Yang bikin sedih, kebanyakan penghuni rumah tersebut bunuh diri, dan kebanyakan tinggal sendirian. Kita semua tahu bahwa bunuh diri adalah 'tahap akhir' dari terganggunya kesehatan mental. Mungkin orang tersebut benar-benar sudah tidak tahu hendak minta tolong pada siapa.



Kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran memang 'berat'. Bahkan kata skala stres Holmes dan Rahe, hal ini termasuk stressor nomer delapan, masuk sepuluh besar lah. Lalu apa yang saya rasakan? kecewa iya, tapi balik lagi saya masih memiliki 'safety net': tabungan, orang tua, dan teman-teman.

Saya kemudian memetakan kemungkinan-kemungkinan dalam hidup.
Kapan tabungan saya akan habis?
Siapa yang bisa saya hubungi untuk meminta referensi pekerjaan?
Usaha sampingan apa yang bisa saya lakukan?
Hal-hal apa yang selama ini ingin saya lakukan tapi tidak bisa karena sibuk bekerja?
dan lain sebagainya

Semua hal di atas datang dengan spektrum paling mujur hingga paling apes.

Dengan memetakan semuanya, saya harap dengan demikian, saya tahu apa yang harus saya lakukan dan jangan sampe berakhir seperti dua kisah di atas. AMIT-AMIT, huhu *ketok meja 3 kali*, hahaha.

Doain saya ya netizen!


Thursday, December 19, 2019

Mundane Things

Medio 2013, saya dipercaya menjadi penanggungjawab materi untuk OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) UI. Artinya saya bertugas untuk menyusun kurikulum dan tugas yang diberikan untuk para mahasiswa baru se-Universitas Indonesia.

Saya tidak akan bicara banyak tentang tugas dan program OKK yang saya susun bersama tim, karena tentu masih jauh dari sempurna. Jika kebetulan Anda adalah peserta saat itu, saya minta maaf.

Justru saya selalu mengingat betapa OKK mengubah saya sebagai individu, yang saat itu bukanlah peserta, melainkan panitia.

Mahasiwa/i UI tiap tahunnya ada sekitar 8000 orang, dan saya harus memeriksa SEMUA tugas yang sudah mereka buat. Walaupun sudah dibagi dengan tim, tugas ini rasanya sangat menyiksa. Saya sangat membenci tugas klerikal yang repetitif.

Pada saat itu saya berdoa, atau lebih tepatnya berkata kepada diri sendiri, "kalau saya bisa melewati semua ini, saya akan menjadi lebih baik di hari kemudian".

Benar saja, penderitaan itu berakhir. This too shall pass. 

Beberapa pekerjaan saya berikutnya (yang profesional dan dibayar) juga sering menuntut saya melakukan hal yang klerikal dan repetitif. Dan, saya baik-baik saja. Saya sudah pernah melewati yang jauh lebih buruk.

What doesn't kill you hurts you so damn bad makes you stronger!

Sunday, November 10, 2019

Low Hanging Fruit

Low Hanging Fruit

"ya kita low hanging fruit aja lah" belakangan saya sering banget mendengar frasa itu. Apa sih maksudnya low hanging fruit?.

What Is Low-Hanging Fruit?

The term "low-hanging fruit" is a commonly used metaphor for doing the simplest or easiest work first, or for a quick fix that produces ripe, delectable results. In sales, it means a target that is easy to achieve, a product or service that is easy to sell, or a prospective client who seems very likely to buy the product, especially compared with other, more reluctant prospects.

dari investopedia.com

Tadi pagi saya baru saja mengerjakan soal SIMAK UI. Seperti kebanyakan soal, ada instruksi "kerjakan yang paling mudah terlebih dahulu".

Low Hanging Fruit, petik buah yang paling rendah, paling dekat, paling mudah untuk diraih.

Sebenarnya hal ini bisa jadi dalam kalau dimaknai, bahwa dalam hidup juga demikian. Kita kadang putus asa karena merasa beban terlalu banyak, sukses terlalu jauh. Kita juga bisa "low hanging fruit", kerjakan yang paling mudah dulu, nyetrika baju misalnya.

Hahahaa

semangat memetik buah yang paling mudah

Monday, September 2, 2019

Unlearn

Dalam sebuah podcast, CEO Bukalapak Ahmad Zaky menuturkan bahwa manusia dewasa sebenarnya tidak susah untuk belajar (learn), yang susah adalah unlearn.

Unlearn dapat didefinisikan menjadi: menghapus informasi dari pikiran seseorang (yang telah dipelajari, misalnya kebiasaan buruk atau informasi yang salah atau usang).

Zaky mengibaratkan saat suatu perangkat elektronik, misalnya handphone akan susah di operasikan atau lemot ketika memorinya terlalu banyak. Hal ini menurutnya yang membuat golongan tua susah berkembang dengan pesat atau mengejar ketertinggalan.

Bahwa 'pura-pura bego' kadang memang perlu.

Tapi menurut saya, kapasitas maksimal otak manusia belum diketahui pasti. Unlearn bukan alasan untuk membiarkan otak kita kosong, namun menyisihkan ruang dalam otak (dan hati, eyak) agar selaku dapat menerima hal baru.

Selamat unlearn!

Sunday, April 2, 2017

Belajar dari Sullivan

"I need scarers who are confident, tenacious, tough, intimidating. I need scarers like... like... James P. Sullivan."
-Henry J. Waternoose


Apa yang dapat kita pelajari dari Sullivan, salah satu monster di film Monster Inc. ?
Well kita mendapati bahwa Sullivan adalah salah satu pekerja yang jujur, passionate dan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

Tapi mari kita melihat ke masa lalunya yang diceritakan dalam film prekuel Monster University. Dari film itu kita tahu bahwa Sully ternyata drop out dari MU, tapi di akhir cerita ia tetap masuk ke Monster Inc. lewat jalur 'lain' yaitu menapaki tangga karir dari level pengantar surat.

Kisah Sullivan ternyata juga terjadi di dunia nyata manusia (Haha). Dari sebuah training, saya mengetahui Houtman Zainal Arifin sosok yang menapaki jenjang karir dari seorang Office Boy hingga Vice President di Citibank. [cerita pak Houtman]

Tidak seperti Sully, saya berhasil lulus dari universitas impian saya (walau dengan babak belur). Dan beberapa saat setelah menyanyikan Gaudeamus Igitur di Balairung (read: wisuda) saya begitu bingung 'shit, what's hella next?'. Masuk UI telah menjadi impian ultimate saya hingga seolah-olah setelah itu tidak ada yang perlu dicapai lagi. Konyol memang. Baca post saya yang ini

Kemudian saya menghabiskan waktu setahun setelah lulus dengan magang di KontraS dan UNDP. Sebuah pilihan yang sungguh antimainstream di kalangan teman-teman saya. Karena, alasan sesungguhnya adalah: I don't know what hella to do with my life, but at least I should keep my muscles and mind busy.

Saya juga sibuk kerja freelance (ngasong, kalo istilah anak Psikologi) dan melamar pekerjaaan di berbagsi company. Karena, ya saya butuh uang buat beli lipstik dan minum kopi, hehe. Ini karena kebutuhan pokok saya masih ditopanh oleh Ayah dan kakak-kakak saya. Maka hal tersebut juga privilese buat saya untuk tidak terburu-buru nyari uang.

Dan betul lah apa kata Francois Lelord. Perbandingan akan mendisrupsi kebahagiaan kita. Ih enak ya dia udah kerja di BUMN, Ih enak ya anu kerja di konsultan, Ih keren ya dapet lpdp bisa S2 di luar. Saya kerap melihat teman-teman saya yang jauh lebih 'sukses' dibandingkan saya.

Hingga saya mendarat di salah satu wawancara dengan perusahaan swasta. Interviewer bilang "saya lihat CV kamu, kalau kamu mau membangun karir di NGO, you are on the right track. Kenapa tiba-tiba daftar ke perusahaan ini?" Makjleb! Kalimat tersebut terasa seperti pujian sekaligus penolakan. Haruskah saya menjawab jujur, "saya butuh uang Pak!" Hahaha.

Hingga kini, saya masih menganggap passion itu mitos. Namun pekerjaan akan menjadi sangat melelahkan jika orientasinya hanya uang dan kita tidak happy melakukannya.

Saya juga meraba-raba ada sebuah sindrom millennial yang terlalu 'sombong' untuk mengerjakan pekerjaan remeh temeh, seperti pekerjaan Sullivan yang mengantar surat di kantor Monster Inc. Haha. Setelah lulus dari kampus, mungkin kita merasa sudah pro segalanya. Tapi yakinlah ketika masuk ke belantara pasar tenaga kerja, kita mulai semuanya dari dasar terendah rantai makanan. Hahaha

We're all get our perks and twerks. To all jobseekers, fresh graduates, millennials out there please stay tough, keep searching. Semoga kalian bisa seperti Sullivan atau seperti apapun yang kalian inginkan.

XO,

Kampung Bali
3 April 2017