Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

Friday, January 5, 2024

Itinerary Solo Trip ke Viet Nam (Ha Noi, Ha Long Bay, dan Sa Pa)

Salah satu momen paling altering my brain chemistry tahun lalu adalah solo trip ke Viet Nam. Dan atas tingginya permintaan warga, maka saya buatlah itinerary seadanya ini. Mungkin nanti akan dilengkapi foto, mungkin juga tidak.

Itinerary ini dibuat berdasarkan agenda liburan shantay gue, sebenernya bisa lebih compact atau lebih banyak kegiatan, tapi asas hidupku adalah malas-malasan, so terima aja lah yagesya. Itinerary ini juga ga dilengkapi jam karena jujur udah lupa, wkwk. Dan agenda-agenda kurang penting kayak makan indomie di warung atau leyeh leyeh di airbnb temen juga tidak dimasukkan ygy. Tempat makan yang kurang berkesan juga gak gue masukan ke sini.


Day 1: 


Arrive at Ha Noi


Pas sampai bandara Ha Noi, bisa naik grab car ke hotel. Recommended buat nginep di daerah Old Quarter, kalau mau lebih sultan bisa di French Quarter. Hotel di Old Quarter banyak yg murah tapi kebanyakan kecil-kecil, tapi kamarnya gede kok (penting).


Gue nginep di Hanoi Serenity Hotel, Serenity Diamond Hotel*


Not really recommended but location wise sangat strategis, pilih hotel lain aja di Old Quarter


Strolling around Old Quarter 


Jalan kaki dari hotel ke tempat makan, seru sih di Old Quarter banyak kafe, souvenir shop dan resto yang beragam jenis.


Dinner at Pho 10 Ly Quoc Su

https://maps.app.goo.gl/o78TeGwAtsfGnDzd7


Beneran enak dan relatif murah, tapi lumayan ngantri dan cici-cicinya agak galak :’. Katanya ini dapet anuan Michelin Bib Gourmand.


Day 2:


Brunch di Don Duck

https://maps.app.goo.gl/jzoRZaxCeCgKPJ3PA


Ini juga masuk Michelin Guide, gue pesen Grill Duck on The Table, mayan begah buat 1 orang tapi enak, di google maps banyak yang komen overprice tapi menurut gue sih worth the price.


Ke Viet Nam Rail Cafe


Kalau mau ke tempat instagramable ini, harus atas persetujuan warlok ya. Jadi, pas dateng ikutin dah tu salah seorang warlok yang stand by di pinggir jalan, dan sebenernya by ‘cafe’ itu cuma nongkrong di samping rumah orang sih, dan kita juga harus order makan/minum kalo ga warloknya ngamok. Kalau mau pas banget ada kereta lewat, silakan cek jadwalnya.



Day 3:


Ke Ha Long Bay


Pesen trip yang di traveloka ini terus nurut aja sama abangnya, tripnya seru kok dan udah dapet makan siang di kapal (enak juga makan siangnya). Ada juga trip yang nginep di cruise, silakan dipilih. Destinasi dan tour guidenya semua seru. Kalau mau naik speed boat nambah bayar tapi gue lupa berapa. Agak scam di awal trip kita ‘dipaksa’ ke peternakan mutiara, tapi ga harus beli kok, dan di sini malah bisa istirahat, beli minum, dll.


Oh iya di Ha Long ga boleh bawa single use plastic ya, kalau ketahuan bakal disita petugas setempat. Disarankan ngasih tips ke tour guide, supir, dll sesuai kemurahan hati kalian.


Booking via

https://www.traveloka.com/en-id/activities/Vietnam/product/ha-long-bay-1-day-cruise-tour-5596295958911



Day 4:


Ke National Museum


Beli Tiket on the spot, lupa harganya berapa kayanya 50ribu VND. Gedung museum nya ada 2 yang berseberangan, satu gedung berisi sejarah klasik Viet Nam, satu gedung lagi tentang kejayaan komunisme di Viet Nam dan perang Viet Nam VS Amerika Serikat.


Strolling around French Quarter


Sembari nunggu kereta malam ke Sa Pa, bisa ziarah ke Mausoleum nya Uncle Ho Chi Minh atau sekadar jalan-jalan menikmati arsitektur peninggalan kolonial Perancis di tengah kota.


Naik Sleeper Train ke Sa Pa


Nah ini pengalaman paling seru sih sepanjang trip, naik kereta ke Sa Pa, booking via Klook nanti ada mas-mas nungguin gitu di luar stasiun buat ngasih tiketnya. Dikasih tempat duduknya ngacak tapi kalau beli bareng rombongan mungkin bisa request 1 kabin. Keretanya bersih dan oke, sepanjang perjalanan saya bisa tidur nyenyaq.


Booking via https://s.klook.com/c/l1PVe22jyV



Day 5: 


Sampai si Lao Cai Station, perjalanan sampai ke Sa Pa Town


Nah ini nih yang gak ada di tiktok, ternyata kalau naik kereta ke Sa Pa, itu sampainya di Lao Cai station, yang mana masih jauuuh dari Sa Pa seperti di tiktok tiktok, wkwk. Walaupun kurang prepare, si mas-mas Klook yang tadi ngasih tiket ternyata bisa provide taksi dari stasiun ke kota, harganya 500ribu VND yang mana agak lumayan ygy tapi emang jauh sih perjalanan dan opsi lainnya kayaknya naik bus, jadi yaudah naik taksi aja.


Check in Hotel


Karena sampai di Sa Pa pagi banget, udah siap-siap nitip koper aja di resepsionis hotel, ternyata boleh dong check in pagi banget, huhu rejeki anak solehah. Jadi bisa leyeh-leyeh sebentar di hotel.


Gue nginep di Freesia Hotel Freesia Hotel Sapa


Ke Sun World Fansipan


Atraksi utama di Sa Pa ya Sun World Fansipan ini cenah, btw dari hotel gue ke sini bisa jalan kaki walau agak jauh. Opsi lain kayanya bisa naik taksi (bisa minta tolong resepsionis hotel) atau nyetop di jalan.


Gimana ya jelasinnya, jadi si Sun World Fansipan ini semacam taman bermain kayak dufan gitu kali ya, untuk ke sana kita naik kereta wisata gitu. Nah abis dari taman bermain, kita naik cable car alias kereta gantung buat sampai ke bukit Fansipan yang mana konon titik tertinggi di Indochina. Seru sih sangat terkelola dengan baik the whole place. 


https://www.traveloka.com/en-id/activities/Vietnam/product/sun-world-fansipan-legend-cable-car-in-sapa-2000908873656


Btw ini pilihan tiketnya kan banyak banget, pilih yang paling mahal aja itu udah paling all in. Nanti pas masuk dikasih print out barcode sekali yg bisa dipake buat tiket terusan (atau bahkan pake barcode dari email gitu). Canggih deh ga ada pungli.


Notes about Sa Pa:


  • Cuaca di Sa Pa relatif lebih dingin dibanding Ha Noi, gunakan jaket dan sepatu yang memadai, apalagi kalau mau ‘manjat’ sampe Fansipan

  • Sinyal internet di Sa Pa ga ada, atau mungkin tergantung provider, tapi perbandingannya jauh dengan di Ha Noi yang stabil banget, tapi hampir setiap kafe atau tempat umum ada WiFi yang kenceng

  • Di Sa Pa belum ada gojek/grab seperti di Ha Noi

  • Sebenernya banyak atraksi lain yang menarik tapi gue belum sempet cobain karena di Bulan September itu hujan mulu.



Day 6:


Brunch di Gecko Cafe


Tadinya gue pesen bis pagi banget buat balik ke Ha Noi ternyata dipindah jadwalnya karena penuh, abis check out hotel, bisa brunch atau lunch di Gecko Cafe. Jujur menunya b aja (eh tiramisunya enak deng), tapi tempatnya lumayan nyaman. Tadinya gue mau ke Gecko Cafe yang di sini eh abang taksinya malah nyasar ke sini. Again, kalau mau pesen taksi bisa minta bantuan ke restoran. Orang sini mah baik baik banget deh, jadi komunis jahat itu cuma mitos ygy.


Naik Sleeper Bus Kembali ke Ha Noi


Opsi transportasi lain dari Sa Pa ke Ha Noi (atau sebaliknya) selain kereta adalah sleeper bus. Sempet panik karena di Klook dan Traveloka cuma bisa pesen H-24 jam. Ternyata di TripAdvisor bisa dadakan. Kelebihan sleeper bus lebih enak karena ga usah jauh-jauh ke Lao Cai station dan lebih murah. Kekurangannya lebih sempit, wkwk dan ga ada toilet nya huhu (harus tahan beser). Tapi tenang aja dia berhenti beberapa kali di rest area kok. Atau book sleeper bus yang lebih gede juga ada sih.


Booking Sleeper Bus di TripAdvisor


Last Check In di Ha Noi


Sebenernya bisa langsung pulang kalau mau, tapi aku gamau. Wkwk. Mau makan pho sekali lagi di Ha Noi sebelum nginep bentar dan pulang besok.


Gue nginep di Wecozy Nội Miếu seru deh ini contactless hostel gitu masuk gang tapi masih di daerah Old Quarter yang rame, dan kamarnya luaass. Sayang cuma semalem di sini.


Day 7:


Flight Back to Singapore- Jakarta


Bid farewell to tanah komunis, agak menyesal banyak yang belum dicoba tapi insya Allah one day balik lagii.


General note about Viet Nam (Ha Noi):

  • Sediakan cash walaupun contacless card bisa dipake di hampir semua toko. Kalo kehabisan cash bisa tarik tunai aja di ATM, seingetku sih fee nya ga terlalu gede

  • Apps gojek dan grab bisa dipake buat motor, mobil, dan delivery food, payment methodnya bisa cash atau connect ke CC di apps nya

  • Banyak yang belum bisa Bahasa Inggris, always sedia google translate



Kalau mau lihat gambaran budget bisa lihat di sini

Saturday, June 11, 2022

Bekal Perjalanan

Aku lagi di kosan Arin dan tiba-tiba listrik mati setelah petir besar menyambar di tengah hujan deras.

Artinya aku gak bisa menyelesaikan tugas yang sebentar lagi deadline karena sinyal HP juga jadi H doang, gak bisa buat internetan.


Kemarin waktu aku packing buat ke Jogja ini, seperti biasa aku cenderung over-packing, membawa baju-baju yang mungkin gak akan terpakai dan barang-barang lain yang kebanyakan. Sudah begitu, ada saja barang yang terasa penting buat dibawa eh malah ketinggalan.


Untungnya karena cukup sering berpergian, aku menemukan formula yang cukup praktis dalam packing, satu koper, satu ransel, dan satu tas selempang. Semuanya cukup aku bawa sendiri tanpa merasa repot.


Tentang bekal perjalanan di dunia (literally) belakangan aku juga terkesima dengan sebuah channel YouTube: thruhikers yang menceritakan sepasang suami istri yang melakukan perjalanan hiking lintas negara, dari Meksiko, Amerika Serikat, hingga Kanada! Berjalan kaki! Tentu kondisi hiking membuat thruhikers tidak bisa membawa bekal yang banyak. Sehingga mereka merencanakan bekal dengan sangat cermat. Misalnya untuk urusan logistik makanan, mereka mendehidrasi atau mengeringkan beberapa bahan makanan agar lebih awet, kemudian mengirimkan bahan makanan tersebut secara bertahap ke kantor pos di kota-kota yang akan mereka singgahi.


Sungguh sangat strategis dan cermat. 


Mengenai perbekalan ini saya juga excited mengikuti YouTube series yang dibuat oleh Ryan Trahan, kali ini ia memiliki misi mengantarkan koin satu sen ke YouTuber lain, Mr. Beast, dari California ke New York, atau bisa dibilang dari ujung ke ujung Amerika Serikat. Menariknya, Ryan Trahan juga cuma membawa bekal 1 sen, yang harus dia kembangkan berkali-kali lipat agar bisa sampai ke New York.


Di awal, Ryan mencari orang yang mau menjual sebuah pulpen dengan harga satu sen kepadanya, kemudian Ryan menjualnya dengan harga 1 dolar (100 kali lipat). Saya berpikir, transaksi pertama ini ya hanya karena orang kasihan saja. Namun kemudian Ryan sangat persisten dengan misinya, menjual permen, air minum, menawarkan jasa, hingga mengantar makanan dengan aplikasi online, walau hanya berjalan, bersepeda, hingga di hari ke sekian dia mampu menyewa mobil.


Konten yang sangat 'unik'. Oh ya, saya lupa menyebutkan bahwa Ryan juga melakukan penggalangan dana sembari ia melakukan misi ini. Sungguh mulia sekaligus menyenangkan.


Insight lain yang saya ambil, karena ia terus bergerak dari satu kota ke kota lain, Ryan juga sangat efisien dengan bawaannya. Ia membeli sepeda di satu kota untuk membuatnya bisa mengantar makanan, namun kemudian menjualnya lagi ke orang lain ketika ia meninggalkan kota tersebut.


Baik Ryan Trahan maupun truhikers memperjelas bahwa hidup ini adalah rangkaian perjalanan.


Setiap perjalanan, agar lancar harus dipersiapkan dengan baik dan dengan bekal yang cukup serta efisien.


Dan setiap perjalanan tentu harus memiliki tujuan.


Sungguh pun, air mata ini belum kering setiap menyimak tragedi meninggalnya Emmeril Kahn. Satu opini netizen yang menggelitik hati saya, amalan apa yang dimiliki Eril hingga begitu banyak orang yang mendoakannya, bahkan yang tidak pernah kenal seperti saya pun turut merasakan kehilangan yang dalam.


Kemudian @quranreview mengulas sebuah ayat Al Qur'an dan hadits yang sangat indah 


Maryam 96

96. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).

 

Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril, “Wahai JIbril, sesungguhnya aku mencintai si fulan” Kemudian Jibril pun mencintainya, lalu ia pun menyeru penduduk langit, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si fulan” Maka serempak penduduk langit pun mencintainya, lalu rasa cinta tersebut kemudian diberikan kepada penduduk bumi.

 

HR Imam Ahmad (2/514) dan HR Bukhari 6040, Muslim 2637.

 

Maka semoga kepergian Eril meneladani kita semua, bahwa waktu kita di dunia adalah mengumpulkan bekal, untuk perjalanan sejati menuju JannahNya, aamiin.


Sunday, February 13, 2022

Hidden Gems di Jogja


haha judulnya click bait banget, inti dari tulisan ini adalah: Binar kalau ke Jogja tuh kemana aja. Barangkali bisa jadi referensi yang (agak) anti mainstream. Atau bahkan mengingatkan saya sendiri kalau lagi mati gaya di Jogja dan bingung mau ngapain.

1. Restoran: Nanamia Pizzeria

Berkenalan dengan restoran ini di tahun 2019 waktu makan di sini sama Tika. Temanya resto yang menghidangkan makanan autentik Italia. Dan beneran kerasa autentiknya!, setidaknya saya bisa membedakan rasa dan tekstur pasta yang memang dibuat handmade dan pasta yang direbus dari pasaran (kayak la fonte dan teman-temanya, haha). Pizza di sini juga beda dengan pizza hut yang roti dan pinggirannya empuk, pizza di Nanamia tipe yang garing dan krispi serta gosong gosong gitu deh. 

Menu favorit aku kalau makan di sini adalah Tortellini al Tonno dan Panna Cotta raspberry sauce sebagai dessert (duh baru beberapa hari yang lalu makan, tapi jadi kebayang enaknya)


Jadi ini daging tuna di dalam gulungan tortellini dan diselimuti saus mozzarela yang melimpah *nyam





Panna Cotta vanilla yang creamy berpadu dengan saus raspberry yang segar *ngiler


Oh iya, Nanamia ini ada di dua lokasi, di Tirto dan Mozes. Silakan dipilih yang terdekat dari tempat kamu stay. Dua-duanya sama kok kualitasnya. Lokasi yang di Tirto lebih luas dan outdoor, sedangkan yang di Mozes lebih kecil dan indoor, juga di sebelahnya resto yang di Mozes ada minimarket bahan-bahan makanan impor. Selain makan di tempat, Nanamia juga ada di GoFood kok, jadi kalo mager ya tinggal GoFood ajah.

2. Belanja: Artlinx

Seperti saya bilang di post yang ini, belakangan saya semangat journaling lagi. Walaupun gak terobsesi buat punya jurnal super estetik, belanja stationaries seperti washi tape dan stiker selalu menyenangkan, hehehe. Udah tua bukan berarti gak boleh belanja gremet gremet ga penting kan, hehehe *pembenaran.

Nah selain banyak pilihan stationaries impor di banyak marketplace, di Jogja ada nih toko stationaries dan pernak-pernik yang featuring banyak kreator lokal, namanya Artlinx dan lokasinya di Condongcatur. Sebenernya Artlinx juga punya toko online di marketplace, tapi sensasi belanja langsung tentu lebih greget ya bestie. Heheh. Lokasinya memang lumayan jauh dari pusat keramaian gitu sih, jadi kalau ke sini kayak memang cuma ke sini aja gak bisa mampir belanja atau nongkrong2 di sekitarnya (apa gue aja yang kurang gaul kali yeah). 

Harga rata-rata stiker di sini memang relatif lebih mahal dibanding item serupa yang diimpor dari China dan bertebaran di marketplace, tapi kurasi Artlinx untuk kreator-kreator lokal ini justru unik banget loh menurutku.

stationaries haul dari Artlinx


3. Oleh-oleh: Wahyu Austin 

Kalau ke Jogja, bawa pulang oleh-oleh apa? Bakpia? Gudeg? mainstream banget sih bestiee. Haha. Beberapa tahun lalu saya mengenal alternatif oleh-oleh dari Jogja kalau kalian bosen dengan jajanan dan penganan yang itu-itu aja. Namanya cake roll Wahyu Austin.

Ini mungkin item yang sesuai judul post ini sih, beneran hidden gem banget. Karena 'toko' cake roll ini ada di garasi komplek perumahan biasa dan cuma buka sebentar, terakhir saya di Jogja kemaren, toko ini sudah tutup jam 2 siang, hiks.

pilihan varian rasa cake roll *diambil dari instagram Wahyu Austin

Harga satu gulung cake yang puanjang cuma 75.000 rupiah (sangat worth it sebanding dengan kualitasnya). Dari pilihan rasa yang ada, saya pernah nyobain rasa Opera, Chesse dan Blueberry. Paling enak menurutku yang Opera, fillingnya mirip opera cake nya The Harvest, tapi pas banget sama bolu luarnya jadi gak terlalu mahteh. Kalau yang chesse juga enak, tapi ini chesse yang Indonesia banget (atau Jogja banget, hehe) karena rasanya manis :' bukan kayak cream chesse yang gurih gitu, jadi agak miss aja untuk selerakuhh. Kalau yang blueberry ini cocok buat yang suka dessert seger karena selai blueberry di dalam filling buttercreamnya asli, ada butiran blueberry beneran yang kerasa, asam ketemu manis yang pas.

Kalau beli langsung di sana, bisa pesan lewat SMS dulu (yes, not even whatsapp, kurang hidden gem apa lagi coba, wkwk). Nanti pesanan kita akan dikemas lapis styrofoam agar aman dibawa travelling. Kalau pas beruntung dan ke sana cukup pagi, biasanya kita bisa dapat sekotak snack buat sarapan gratis!, huhu baik banget kan :'. Di tokonya, juga tersedia kue kering dan roti-rotian, tapi ya stoknya harus ngecek sedang ada apa hari itu. Gak nyesel deh nyobain ini, benerannn ini aku gak dibayar (ala selebgram ngendorse). Kalau gak sempat ke tokonya, bisa pesan lewat GoShop, walau agak tricky jelasin ke abang gojeknya, tapi kemarin saya berhasil pesan lewat GoShop dan aman sentausa.

Sebetulnya ada beberapa tempat lagi di Jogja yang cukup berkesan, tapi kali ini featuring 3 dulu ya. heheheh. Mari terus berdoa agar bisnis-bisnis tetep eksis walau keadaan saat pandemi ini sulit buat kita semua yah :)