Sunday, February 23, 2020

Money Can Buy Happiness

Iya gak salah tulis

Kemarin aku dengerin podcast favorit 30 days of lunch. Edisi kali ini bintang tamunya Prita Ghozie, salah satu financial planner terkenal. Di akhir sesi, Mbak Prita membahas riset terbaru dari Harvard Business Review, premisnya sama seperti judul: uang bisa membeli kebahagian! Hah? Gimana caranya?

1. Uang membuat kita bisa membeli 'waktu'

Mbak Prita mencontohkan, dia gak suka grocery shopping, karena punya uang, dia bisa nyuruh orang lain untuk melakukannya. Demikian juga dengan tutor anak. Biar gak marah-marah sama anaknya, yaudah belajar sama tutor aja, meminmalisir konflik. Hehe

tapi tentu kita harus tahu mana 'waktu' yang mau kita 'beli'. Supaya bahagianya optimal cenah.

2. Uang membuat kita bisa berbagi

Bener banget. Anekdotnya, gak ada orang jatuh miskin karena suka zakat. Hehehe

Kalau ini sih saya mengamini banget. Berbagi, sekecil apapun, membuat kita bahagia banget.

Walau kadang, kalau kasus saya sih, jadi overthink, Haha

So, mau beli kebahagiaan yang mana?


Sunday, February 16, 2020

Freedom to Fail

"the great succes comes from freedom to fail"

Katanya Mark Zuckerberg di pidato wisuda Harvard beberapa tahun lalu. Belakangan, gue punya life hacks buat diri sendiri, yaitu: aim to fail. Hahaha. 

Aneh emang, but it works for me.

Ketika nyobain sesuatu, do it for the sake of trying it. Pull down my expectations to 0.

Mungkin di sini 'kesungguhan' gue diuji. Bukan cuma berorientasi ke hasil tapi memang usahanya itu sendiri. 

And I know it's a lot of privilege when I can fail freely. Gue masih punya pijakan yang nyaman ketika harus gagal.

Ayo gagal sebanyak-banyaknya 😂

Thursday, February 6, 2020

January Was A Free Trial Month

Januari kemarin banyak banget kejadian gak mengenakan yaa...

- Coronavirus
- Qassem Soleimani killed - Brexit - Iran shoots down Ukrainian plane - Kobe Bryant dies - Natural disasters: Australia, Brazil, Indonesia, Turkey, India, Pakistan - Trump impeachment trial - Middle East peace plan - Libya and Syria conflicts


sumber: Spectator Index

Image

Sampai ada yang bikin ilustrasinya kayak gini :(

Makanya banyak yang bilang kalau bulan Januari 2020 ini kayak free trial aja, semoga tahun 'beneran'nya baru dimulai di bulan Februari. Buat gue kayaknya ini ada benernya juga.

Tanggal 4 Februari kemaren gue dapet email yang begitu membahagiakan. Hahaha, alhamdulillah. Pertama, email dari Basic Income Bootcamp yang menyatakan gue lolos sebagai peserta. Udah lama ngepoin Basic Income Lab nya UI, yang ternyata penggagasnya adalah Dr. Sonny Mumbunan- orang keren yang cukup banyak gagasan expertisenya di ranah 'creative public financing'. Makanya lah, excited banget gue ikutan bootcamp ini. Pertama tahu konsep universal basic income itu setelah baca Utopia for Realist nya Rutger Bregman. Bootcamp ini gue ibaratkan kayak coachella nya UBI, haha. Okedeh really looking forward to join this bootcamp. Semoga ekspektasi gue gak ketinggian.

Image

Selang beberapa jam, iya, really, beberapa jam. Ada email lagi dong, dari Whiteboard Journal yang menyatakan esai submisi gue lolos seleksi dan akan masuk buku cetak ke-dua mereka. DICETAK MEEN! hahaha maaf lebay. Sebenernya gue bahkan udah lupa pernah submit tulisan ke mereka, karena udah bulan November yang lalu, submitnya pun mepet deadline. Tulisan ini pernah gue submit ke media lain, tapi gak lolos. Ternyata dengan kurator Aan Mansyur dan Baskara Putra (Hindia) tulisan gue malah lolos.

There is always first time for everything kan?!. Semoga validasi dari Whiteboard Journal ini makin membuat tulisan gue 'bagus' dan bisa dibaca banyak orang, aamiin. Jangan lupa beli bukunya ya nanti kalau udah cetak!

HAHAHA


Image

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan bahwa: I am doing okay sometimes :)

Again, alhamdulillah
xoxo


Thursday, January 16, 2020

Benarkah Orang Indonesia Tidak Produktif?

"ah orang Indonesia mah kebanyakan males-malesan"

Tukas ayah saya ketika menceritakan sebuah proyek pembangunan pabrik di Banten yang menggunakan TKA (Tenaga Kerja Asing) ilegal dari Cina. Kenapa ya narasi seperti itu jamak terdengar di kalangan masyarakat Indonesia?.

Apakah ini adalah self-fulfiling propechy dari narasi yang digaungkan oleh kolonial pada masa itu?

Lalu jika orang Skandinavia punya Hygge dan Lagom, orang Jepang punya Ikigai. Orang Indonesia punya apa?

aduh, bingung


[aww mlu bgt]

Thursday, December 26, 2019

Mencoba Menjadi Stoik

Kalian tahu apa itu stoicism?

sto·i·cism
/ˈstōəˌsizəm/
noun
  1. 1.
    the endurance of pain or hardship without the display of feelings and without complaint.


Belakangan kayaknya istilah ini mulai agak populer di Indonesia karena Henry Manampiring bikin buku Filosofi Teras. Gue belum baca sih. Haha. Tapi pernah belajar stoicism ini dulu di kampus.

Intinya, kalau sepemahaman gue, stoic itu gak bereaksi berlebihan terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita, walaupun itu 'menyakitkan'. Kalau kata orang Jawa (baca: bapakku) ora usah getun. Gak usah kecewa berlebihan. Gak usah marah, sedih berlebihan.

Belakangan gue 'kehilangan' dua hal yang cukup signifikan: pertama, saat otw balik ke Cilacap, gue lupa bawa charger, powerbank dan earphone. Waduh, beberapa menit pertama pas baru nyadar, cukup panik. Tapi yaudahlah mau gimana lagi (kayaknya kalimat ini kunci stoicism). Akhirnya yang gue lakukan adalah whatsapp mama, ngabarin kalau misalnya nanti gak bisa dihubungin gak usah panik, karena batre gue lowbatt atau mati. Karena gak bisa dengerin spotify, sepanjang perjalanan gue malah banyak merenung dan akhirnya tidur cukup nyenyak.

Sampai di rumah, masih agak mati gaya juga karena gak ada earphone. Tapi ternyata, karena gak ada konsumsi audio, gue malah bisa menyelesaikan baca dua buku.

Kemalangan (walah lebay) gue gak berhenti sampai di situ. Gue accidentally menghapus semua pesan whatsapp di hape gue termasuk whatsapp dari bang Fay.  Sebelumnya sejak punya hape ini, gue gak pernah hapus pesan di whatsapp, mungkin sudah hampir dua tahun lebih. Again, tapi yaudahlah mau gimana lagi. Karena semua pesan itu terhapus, gue jadi punya free memory untuk menginstall game kesukaan gue, hahaha. 

Intinya, mungkin gue sedang dilatih untuk menjadi stoic, untuk letting go obstacle-obstacle kecil dalam hidup biar bisa terus 'maju'. Dan mengalihkan energi gue untuk hal lain yang lebih penting.

Aja kakehan getun.

Friday, December 20, 2019

Mengenal Diri Sendiri, Sekali Lagi

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya memutuskan bergabung dengan KLIP, kepanjangannya adalah Kelas Literasi Ibu Profesional. Jadi triggered ya ada term 'Ibu'. Walaupun mayoritas membernya memang mereka yang sudah punya anak, yang belum kayak saya juga ada kok (bukan saya doang gituuh). KLIP ini kalau gak salah adalah sub-kegiatan Institut Ibu Profesional-nya Ibu Septi Peni.

Lalu, kenapa saya memutuskan untuk gabung dengan KLIP ini. Awalnya terinspirasi dari Kak Dea Adhicita. Kak Dea adalah mentor liqo saya yang paling uwu (apa pula uwu itu yak?). Saya perhatikan Kak Dea setiap hari menulis di laman facebook atau blognya. Setelah ditelisik, ternyata Kak Dea mengikuti KLIP ini, jadi jebe lah saya.

KLIP ini mengharuskan membernya (kalau bisa) untuk setor satu tulisan setiap harinya. Hal ini menantang saya untuk menjadi 'produktif'. Bahwa cukup menyenangkan merayakan keberhasilan kecil setiap hari, misalnya setor tulisan ke KLIP. Haha. Lalu apakah saya berhasil? tentu tidak, Hahaha. Tapi saya tidak sedang bersaing dengan siapapun, saya sedang bersaing dengan diri saya sendiri di masa lampau. Jadi target saya tahun ini memang: menulis sebisanya, agar semua bisa terdokumentasikan dan tidak menguap begitu saja. Saya cukup bangga sama diri sendiri. Di blog ini, misalnya, tahun ini saya menulis lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya (wow *tepuk tangan sendiri*).



Tema tulisan saya di blog ini memang cukup random, kalau ada panutan yang saya ikuti dalam nge-blog yaitu adalah Pandji, iya Pandji timsesnya Anies Baswedan itu, haha. Walau tahun ini bahkan Pandji udah gak ngeblog lagi, kalau gak salah, dia pernah nulis-atau bilang- bahwa blognya adalah rekaman pikirannya sejak bertahun-tahun lalu, secupu apapun itu. Nah saya ingin memperlakukan blog saya demikian. Ini karena pikiran saya sering sekali berisik dengan banyak hal, dan gak setiap saat ada orang yang available untuk diajak ngobrol. Maka, blog ini adalah 'tantangan' bagi saya apakah saya bisa cukup mengartikulasikan keberisikan dalam otak saya.

Dengan demikian perjalanan menulis tahun ini ya sangatlah egois, untuk mengenal diri sendiri. Hehe. Maka dari itu seharusnya saya biasa aja dengan traffic blog ini yang 'menyedihkan'. Loh kenapa harus sedih? kan memang menulis untuk diri sendiri.

Selain di blog, tulisan yang saya setor ke KLIP juga ada pada instagram, bahkan google documents!. Instagram jadi dopamin banget sih kalau pengen immediate feedback dari followers. Biasanya kalau di instagram memang nulis sesuatu yang pendek, ringan, dan cukup 'aman' untuk dishare ke publik. Artinya saya gak perlu terlalu malu atau cemas dengan persepsi orang saat membaca tulisan saya. Blog ini resikonya intermediate (udah kayak produk investasi aja ada profil resikonya, wkwk). Kadang saya nulis sesuatu yang pengen saya share, tapi gak terlalu pengen dikomentarin. Aneh dah emang aing. Dan saya bahagia banget sih KLIP mengakomodir Google Docs, selama ini Gdocs cuma saya pakai untuk hal-hal terkait pembelajaran dan pekerjaan, tapi asyik juga ya nulis di gdocs, isi otak tertumpahkan namun tidak perlu membanjiri rumah orang lain, asik. Tulisan-tulisan di gdocs murni untuk konsumsi saya sendiri atau terbatas pada member KLIP saja.

Lalu bagaimana tahun depan?

Saya masih akan ikut KLIP, semoga saya makin konsisten merekam buah pikiran saya dalam tulisan-tulisan. Mulai berani beranjak dari zona nyaman, mungkin. Mencoba peruntungan lebih berani menulis di media?.

Saya excited menyambut diri saya sendiri di tahun depan. Satu bab yang pasti akan dibuka: paruh kedua tahun ini saya akan mulai S2 (wuhuu), insya Allah. Semoga saya juga bisa merekam ilmu-ilmu yang saya dapat di bangku kuliah dalam tulisan yang berkualitas, wuhu ambi ya kak.

Bagaimana dengan kuantitas? KLIP me-reward para membernya tiap bulan dengan badge outstanding (30 tulisan), excellent (20 tulisan) dan good (10 tulisan). Saya selalu dapet badge good, karena paling saya cuma menulis 10 tulisan. But, I'm good enough with good. Semoga setiap bulan saya dapet badge minimal good.

Salah satu achievement lain buat saya tahun ini adalah saya berhasil menulis dua cerpen Alexandria dan Abesien. "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara" seperti kata Seno Gumira Ajidarma. Walaupun bukan jurnalis, saya kepingin menjajal kemampuan sastrawi saya, hihihi. Semoga tahun depan sempat melanjutkan perjalanan saya meramu tulisan fiksi.

Menulis adalah skill, maka dari itu saya juga ingin memoles keahlian saya ini dengan belajar berbagai teknik kepada orang lain. Semoga ada kesempatan, dan uang. Haha

Terakhir, tahun depan saya ingin ngobrol dengan lebih banyak orang. Terinspirasi dari 30 Days of Lunch nya Ruby dan Ario. Tapi saya masih belum tahu bagaimana nanti akan mengintisarikan pertemuan-pertemuan itu. Semoga bisa dalam bentuk tulisan.

Wabillahi taufiq wal hidayah

"Segalanya menjadi mudah dengan mudah-mudahan" -Joko Pinurbo

Thursday, December 19, 2019

Mundane Things

Medio 2013, saya dipercaya menjadi penanggungjawab materi untuk OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) UI. Artinya saya bertugas untuk menyusun kurikulum dan tugas yang diberikan untuk para mahasiswa baru se-Universitas Indonesia.

Saya tidak akan bicara banyak tentang tugas dan program OKK yang saya susun bersama tim, karena tentu masih jauh dari sempurna. Jika kebetulan Anda adalah peserta saat itu, saya minta maaf.

Justru saya selalu mengingat betapa OKK mengubah saya sebagai individu, yang saat itu bukanlah peserta, melainkan panitia.

Mahasiwa/i UI tiap tahunnya ada sekitar 8000 orang, dan saya harus memeriksa SEMUA tugas yang sudah mereka buat. Walaupun sudah dibagi dengan tim, tugas ini rasanya sangat menyiksa. Saya sangat membenci tugas klerikal yang repetitif.

Pada saat itu saya berdoa, atau lebih tepatnya berkata kepada diri sendiri, "kalau saya bisa melewati semua ini, saya akan menjadi lebih baik di hari kemudian".

Benar saja, penderitaan itu berakhir. This too shall pass. 

Beberapa pekerjaan saya berikutnya (yang profesional dan dibayar) juga sering menuntut saya melakukan hal yang klerikal dan repetitif. Dan, saya baik-baik saja. Saya sudah pernah melewati yang jauh lebih buruk.

What doesn't kill you hurts you so damn bad makes you stronger!