Thursday, January 6, 2022

Am I There Yet?

Tadi pagi ada seorang teman saya yang di tengah-tengah chat menanyakan "lo masih grieving?". Saya bingung harus menjawab apa. Kalau yang dimaksud adalah menangis tersedu-sedu setiap malam, syukurnya sudah tidak. Tapi saya masih selalu ingat Bapak, ketika menyemprotkan parfum yang biasa beliau pakai atau terlintas hal-hal yang... wah gue pengen obrolin ini sama Bapak- tapi sudah tidak bisa.

Saya menemukan ilustrasi menarik tentang grieving, bahkan sebelum Bapak saya meninggal, saya sering melihatnya di internet:





Saya mencoba untuk meyakininya, bahwa karena saya masih melanjutkan hidup, saya terus bertumbuh, menjadi lebih besar dari grief yang ada dalam diri ini- walaupun ia akan terus menjadi bagian dalam diri saya.

Oke deh, saya mau bahas buku lain yang saya baca tahun lalu- yang sedikit banyak turut menemani perjalanan bertumbuh saya.

- Am I There Yet? by Mari Andrew




Saya udah lama pengen baca buku ini karena follow Mari Andrew di instagram, konten-kontennya selalu sederhana tapi menarik. Buku pertama Mari, dengan ilustrasinya yang khas saya kira 'hanya' membahas perjalanan tentang anak muda mencapai impian, atau semacam itu. Ketika akhirnya saya mulai membaca di kindle, saya 'kaget' ternyata Mari juga menulis buku ini setelah kehilangan ayahnya (lagi-lagi timing yang pas).

Ada part yang exactly menggambarkan bagaimana perasaan saya setelah ditinggal Bapak:

“I once heard an interview with an artist whose father died at the height of his creative success. He was really close with his dad, and spent the next few years in a tense combination of obligatory gratitude and overwhelming sadness.

When asked to describe loss, this guy said that it was like having the casino cashier gone. He compared everything that happened to him—any happiness, any difficulty, any mundanity—to a poker chip, saying his father would validate those experiences like a cashier, making them worth something. His father turned every one of the man’s moments into something meaningful just by listening to his stories.
After his father died, the man said he was sitting among piles and piles of worthless poker chips. He was dwelling in loss, running his fingers through it. ”- Mari Andrew.

Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang proses Mari Andrew menjadi dewasa baik dari topik percintaan, karir, dan pemaknaan hidup secara general. Ia menuturkannya dengan manis, lengkap dengan ilustrasinya yang membuat kita tersenyum sambil bilang "relate banget bestie"




Sunday, January 2, 2022

Buku-Buku yang Menemani Saya Grieving

Tadinya tulisan ini mau saya jadikan part 3 kelanjutan dari 2 tulisan saya kemarin. Tapi kayaknya daftar buku-buku dalam list ini lebih dari yang bisa saya muat dalam post ini, haha. Jadi saya putuskan part ini adalah bagian tersendiri, yang mungkin nanti ada part 2 nya juga. Haha lieur.

Kuliah psikologi membuat saya mengenal istilah grieving, ini berbeda dengan mourning atau berduka, ya memang kadang-kadang saya merasa Bahasa Indonesia masih kekurangan kosakata. Kalau baca dari sini sih, mourning adalah ekspresi dari grief. Jadi grief tuh gak selalu 'kasat mata' seperti menangis atau marah.  Emosi manusia memang kompleks, tidak terkecuali grieving. Di sini saya gak akan bahas 5 tahap-nya Kubler-Ross yang terkenal itu, hehe. Karena percayalah saya juga gak tahu saya sedang ada di tahap mana.

Saya bersyukur punya support system yang baik selepas Bapak saya berpulang. Keluarga inti, teman-teman, kolega, semuanya mendukung saya dengan berbagai cara. Namun ada kalanya saya sendiri, berkontemplasi dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Beberapa cara saya lakukan agar tenggelam dalam perasaan sedih yang berlebih, salah satunya baca buku. Saya juga berada di lingkungan yang gemar membaca buku, tapi ada yang 'lucu', saya sering merasa orang-orang di sekitar saya meng-underestimate buku-buku yang berlabel self help. Mungkin karena sebagian besar teman saya juga memiliki latar belakang psikologi, sehingga menganggap buku semacam ini adalah pseudoscience dan terlalu pop. Duh apakah teman-teman saya terlalu fafifu wasweswos πŸ˜‚

Namun, semakin dewasa saya semakin berani untuk 'bodo amat' dengan standar orang-orang. Toh, ini hidup saya, jika saya menikmati dan merasa terbantu dengan buku-buku 'receh' ini, gapapa dong, you do you, hidup aing kumaha aing, Lol

So, let's unapologetically reading self help books

Berikut buku-buku yang saya baca tahun 2021 dan saya suka kontennya, serta sedikit banyak membantu proses saya grieving.

- How to Stay Sane by Phillipa Perry




Hari itu Mama menelepon dan mengabari Bapak masuk rumah sakit tiba-tiba. Saya dan kedua kakak saya pun sepakat pulang ke rumah. Karena buru-buru, saya packing seadanya. Tahu perjalanan ke rumah dengan kereta api akan lumayan lama, saya sekenanya mengambil buku yang baru saya beli dengan niat menemani perjalanan saya pulang.

Ternyata saya menamatkan buku ini selama perjalanan itu, sudah lama saya tidak membaca satu buku sekali duduk. Seperti layaknya terbitan The School of Life yang lain, buku ini sangat 'ringan' untuk dibaca dengan bahasa yang mudah dipahami. Phillipa Perry- yang juga seorang psikoterapis menulis buku ini dengan praktikal, ada beberapa 'latihan' yang bisa kita coba untuk menjadi tetap waras- sebagaimana judulnya.

Ada empat bab dalam buku ini, salah satunya adalah Stress, lah gimana, mau waras kok malah disuruh stres.

"no stress at all means that the brain does not get any exercise. A brain is not unlike a muscle, in that the cliche 'use it or lose it' applies." -Phillipa Perry

Game apapun menjadi seru karena memiliki tingkat kesulitan tertentu, begitu pula hidup- akan makin exciting dengan kesulitan tantangannya, dan semoga kita terus semangat naik level. Dunia seperti tahu, saya menamatkan buku ini tepat 5 hari sebelum Bapak berpulang, seolah seperti menyiapkan saya menjalani 'level' baru.

- What I Know For Sure by Oprah Winfrey




Saya menghadiahi diri sendiri kindle ketika berulang tahun, karena sudah lama ngidam dan akhirnya tahun lalu ada budgetnya, salah satu benda duniawi yang saya kira dapat menjadi penawar kesedihan. Namun ternyata ada 'tugas' yang pasti harus saya selesaikan setelah beli kindle: beneran dipake buat baca buku πŸ˜‚. Buku ini adalah buku pertama yang saya tamatkan di kindle.

Semua orang kayaknya tahu siapa Oprah Winfrey, beberapa mungkin tahu juga dia punya masa lalu yang kelam. Tidak mudah menjadi perempuan kulit hitam di ranah televisi AS saat itu. Buku ini memuat- seperti judulnya, hal-hal yang Oprah yakini selama ia hidup. Kalau lihat reviewnya di goodreads, ada yang kritik semacam "ya iya lah ngomong mah gampang, elu populer dan kaya raya". Mungkin ada benarnya, tapi saya sangat salut dengan approach Oprah di buku ini, alih-alih 'menyuruh' pembaca sukses sepertinya, dengan cara dia, Oprah seperti mempuk-puk punggung kita seraya bilang "gak papa kok kalau hidup kamu sekarang sulit".

Dari delapan bab yang ada, saya paling suka bab Resilience. Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Seperti saya, mungkin Anda juga perlu membaca kutipan Oprah di bab ini:

“I have always prided myself on my independence, my integrity, my support of others. But there’s a thin line between pride and ego. And I’ve learned that sometimes you have to step out of your ego to recognize the truth. So when life gets difficult, I’ve found that the best thing to do is ask myself a simple question: What is this here to teach me?” -Oprah Winfrey





Saturday, January 1, 2022

Bye 2021 (Part 2): Journaling Lagi

Ini adalah gratitude list lanjutan dari Part 1

Beberapa hal dari list ini mungkin terkesan sangat mundane, but who cares, right? 

Life is always interesting if you appreciate the small things

3. Journaling (lagi)

Jujur, dulu kalo liat konten di sosial media tetang journaling atau bullet journal pasti membuat saya jiper. Karena kok kayaknya niat banget, artsy banget, rapih banget- sesuatu yang bukan saya banget. Namun akhirnya saya tergerak untuk journaling lagi saat awal pandemi Maret 2020, dan sejak saat itu rutin journaling.

contoh journal yang bikin saya jiper

Isinya apa? terserah saya! ini hal paling menarik dari journaling a la saya, satu-satunya aturan adalah gak ada aturan. Gak juga deng, secara garis besar saya mengikuti prinsip bullet journal nya Ryder Caroll, tapi gak semua. 


Hal yang terpenting adalah index dan nomor halaman, karena journal atau buku yang saya gunakan adalah buku biasa, saya memberi nomor halaman secara manual- hal ini biasa saya lakukan kalo lagi boring dan butuh sesuatu yang repetitif, jadi gak harus selesai memberi nomor halaman sebelum digunakan. Kalau ada yg gak sengaja kelewat, tinggal saya beri huruf di belakang nomor halaman yang kelewat, haha, Bagi saya ini penting karena index membuat saya cepat mencari lagi topik atau (minimal) bulan.

Lalu apa isi jurnal saya? beneran terserah, kadang to do list, atau saya gunakan sebagai diary, kalau sedang travelling, saya akan menempel kertas-kertas tentang perjalanan saya, misalnya tiket, stiker kemasan jajanan yang saya beli, bahkan struk restoran enak. Kalau sedang niat (yang mana jarang terjadi) saya akan menghias halaman jurnal dengan stiker, doodling atau washi tape.

Mencoba beberapa buku tulis, saya juga jadi menemukan jurnal ideal saya: blank pages, hard cover, ukuran A5 atau B6, kertas cukup tebal agar gak berbayang saat saya nulis, jilid jahit benang (pokoknya bukan spiral), serta ada pita pembatas (siapa tahu ada yang mau ngasih saya kado jurnal tahun ini, Lol PD amat).

Kapan menulis jurnalnya? Idealnya setiap hari (tapi again, saya adalah manusia yang jauh dari kata ideal) jadi yaaa kapan saja. Ada kalanya sehari saya bisa menulis berhalaman-halaman, kadang satu kalimat saja, kadang tidak sama sekali, gak masalah! saya selalu bisa kembali kapan saja.

Manfaat apa yang saya rasakan? yang paling jelas, saya jadi punya wadah untuk menampung isi pikiran-pikiran saya. Mungkin bisa diibaratkan jika overthinking itu seperti ember yang luber, saya jadi punya ember-ember cadangan untuk menampung isi pikiran saya, dan mengorganisirnya. Proses menggores pulpen di kertas juga jadi momen reflektif yang menyenangkan, kadang kita bertanya dan menemukan sendiri jawabannya, namun selama ini tidak ketemu karena belum cukup terorganisir. 

Yang paling 'lucu' adalah membaca tulisan-tulisan saya di masa lampau, kadang malu kadang sedih kadang juga bangga saya pernah bisa melewati masa-masa sulit, sering juga bersyukur banyak momen bahagia yang saya abadikan di jurnal.

Yuk 2022 mulai (atau ngejurnal) :)

Lanjut ke part 3 gak ya...


Bye 2021 (Part 1)

Tahun lalu bukanlah tahun yang mudah untuk saya. Hilightnya adalah, ya Bapak saya berpulang 15 Juni 2021, hanya beberapa hari sebelum saya berulang tahun yang ke 27. Sesusah-susahnya saya berusaha menemukan 'silver lining', toh hidup ini harus terus berjalan buat saya. Dengan demikian, saat memutuskan untuk ikut challenge KLIP lagi tahun ini, saya mencoba mengorek-korek lagi ke dalam otak saya, hal-hal apa yang saya syukuri tahun ini, supaya saya bisa baca lagi sewaktu-waktu. Sebagai pengingat bahwa tahun ini tidak berlalu begitu saja. Btw listnya ngasal seingetnya saya aja (not in any particular order), hehe

1. Jaksel Lyfe

Akhir tahun 2020 saya pindah kosan dari BSD ke Radio Dalam, karena saat itu ngantor di daerah Kebayoran Baru. Sebelumnya, kantor dan area pergaulan saya seputaran Jakarta Pusat saja, sebetulnya Jaksel ini lebih menarik karena lebih berasa neighborhood nya instead of business complex (nah loh kan bahasanya aja udah Jaksel banget, wkwk). Hmm kayaknya menarik ya kapan-kapan nulis soal code-switching bahasa ini.

Oke lanjut fokus, Radio Dalam ini nyaman karena kemana-mana deket. Sangat deket dari PIM (haha) jalan kaki ke Gandaria City juga bisa, ke Kemang atau Cipete juga masih bisa dijangkau dengan motor, Barito, Blok M juga dekat, kalau mau agak jauh bisa naik MRT. Pantes banyak yang suka tinggal di Jaksel ya, banyak cafe buat ngopi-ngopi cantik juga (walau Giyanti yang di Jakpus masih the best menurut saya).

2. Explore parfum lokal

Kayaknya Topik ini juga cukup seru kalau dibikin satu blog post sendiri (mulai insecure kehabisan topik buat KLIP, haha). Biasanya tiap tahun saya sisihin budget buat beli satu discovery kit parfum brand impian (yang mana harganya lumayan ya). Nah tahun ini budget itu gue alihkan untuk explore (masih dicovery kit parfum lokal.

perfume is the way my olfactory senses take a peek of how upper class life feels like

Beberapa brand parfum lokal yang gue suka adalah: Oullu, Mine, House of Medici, dan Fetch. Gue lumayan bangga dengan perkembangan pesat industri ini di Indonesia. Karena banyak bahan baku parfum tuh diekspor dari negara kita, semoga makin keren yah skena ini. Gue juga pengen banget belajar perfumery, one day, di Grasse #aamiin #manifesting.



Berlanjut ke part 2 ya, hehe



Monday, August 9, 2021

Bag Lady Syndrome

Duh, ini draft ngendon lama banget, haha

Jadi selama ini gue memiliki ketakutan yang agak tidak rasional, yaitu bahwa suatu hari gue akan kehilangan semua resources yang gue miliki (bukan cuma harta benda tapi support sosial dari teman-teman dan keluarga).

Sebenernya ketakutan tersebut terpatahkan ketika gue di-PHK tahun lalu (tadinya mau cerita soal ini di blog tapi keburu lelah, wkwk). Saat itu banyak banget teman yang baik yang menolong gue hingga akhirnya sedikit demi sedikit ketakutan gue menipis.

However, ternyata ketakutan gue tadi ada namanya: Bag Lady Syndrome

Pertama menemukan term ini di youtube nya Prepper Princess. I love her channel, kalau biasanya youtuber sangat giat memamerkan harta benda, Prepper Princess justru ngajak kita buat ngirit dan hacks lain agar hidup sederhana.


Kalo kata ForbesBag Lady Syndrome,” first coined in the 1970s, is the term given to describe the feeling some middle-aged women have that they’ll wind up homeless and carrying around their possessions in shopping bags.

Ternyata ketakutan ini kolektif. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah 1. penghasilan perempuan lebih sedikit 2. angka harapan hidup perempuan lebih lama.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Combat those fear with actions.

Untuk segi finansial tentunya... menabung, investasi, you name it!

Wah sebenernya blogpost ini bisa banget kalo disponsori produk keuangan ya (sayangnya enggak) LOL.

Saat ini tabungan/investasi gue ada 3 tempat:

1. Tabungan cash di rekening

2. Reksadana: cukup mudah untuk diambil, tapi sebaiknya tidak usah, dan ada return-nya

3. Saham USD: yang gak akan gue ambil sampe usia pensiun nanti, haha


Then invest in your relations with other: ini kayaknya lebih susah daripada investasi uang. Katanya, in friendship, take as much as you give. Tapi kan pertemanan bukan cuma tentang transaksional.

1. check on your friends, tanya apa kabar? dll

2. know their love language, suruh ikut tesnya kalo perlu (ini kalo temennya otoriter kayak gue, haha) and manifest it, kalau mereka suka dikirimi hadiah, then do that, kalau sukanya diajak ngobrol, then spare your time.

3. set your boundaries, just like you had to spend your money wisely, same principles goes with your time and energy. Let's be brutally honest, not everyone worth your time and energy. Set boundaries while you can


hmm apa lagi yahh kira2 kiat2 mengurangi Bag Lady Syndrome?




Tuesday, July 13, 2021

What Each Year of My Career Teach Me (Part 1)

Tulisan ini gue buat di awal tahun 2021. Tidak sadar 'ngendon' terlalu lama di notes hape. Daripada mubazir, mari kita post, haha.

Dengan berakhirnya tahun 2020, tepat kurang lebih gue 5 tahun bekerja. Mungkin bisa disebut juga berkarir walaupun tidak linear. Haha. Setelah direnungi di bilik kakus ternyata setiap tahun ada temanya (atau ya sengaja gue bikin-bikin, hehe). Tema-tema ini benar-benar shaping me as an individual. Apa aja tema-tema tersebut? Cekidot

2016: Human Rights as a Basis

Gue diwisuda Februari 2016, setelah 4,5 tahun kuliah dan diopname pasca sidang skripsi.

Setelah itu jujur lumayan blank mau kerja jadi apa. Puluhan lamaran gue kirim ke sana kemari. Salah satunya saat itu KontraS sedang membuka program magang. Sebelumnya gue sudah pernah magang di dua NGO berbeda saat kuliah: Yayasan Pulih dan Egyptian Feminist Union. Tema dua NGO tadi mirip-mirip, yaitu pemberdayaan perempuan, walau dari angle yang lumayan berbeda. Nah saat gue magang di Pulih, gue pernah membantu supervisor gue mengisi acara di SeHAMA nya KontraS. Jadi lumayan penasaran deh sama KontraS.

Gue apply di divisi riset, dan kemudian diterima. Saat interview, ditanya sebuah pernyataan kunci: "kamu setuju hukuman mati gak?". Gue jawab "enggak, karena takut salah tuduh eh udah mati terdakwanya".

Hahahaha. Mungkin karena itu gue lolos. (yakali)

Di KontraS awalnya gue bingung, ini semua 'penjahat' kok dibelain, dari mulai pelaku terorisme hingga pengedar narkoba. Gue baru paham bahwa sejahat-jahatnya manusia, mereka masih punya hak dasar yaitu hak asasi manusia yang gak boleh dirampas siapapun termasuk negara. Perspektif ini sangat mengubah pola pikir gue. Termasuk saat rame-rame FPI dibubarkan. Oops


2017: The Year of Mohon Ijin πŸ™

Gue kelar magang dan jadi relawan di KontraS bulan Agustus 2016, kemudian di bulan berikutnya gue magang lagi di UNDP. Benar-benar bocah privileged ya gue, magang mulu. 

UNDP coy! Salah satu organisasi PBB, entitas yang dulu cuma bisa gue lihat di buku pelajaran IPS dan PPKn. Gue masih ingat hari pertama gue masuk magang naik KRL kemudian Transjakarta dari Depok ke Thamrin. Penuh dengan kegumunan.

Gue magang di HR unit 3 bulan kemudian dihire untuk bekerja fulltime di DGRPU (Democratic Governance and Poverty Reduction Unit) panjang gak tuh nama unitnya? haha. Yeay akhirnya Binar bekerja fulltime dan bergaji πŸ˜‚, punya asuransi kesehatan sendiri, wkwk.

Jadi apa? Saat itu deskripsi gue: you know like Andrea Sachs, but in UN instead of Vogue.

Kurang lebih peran gue adalah personal assistant untuk sang Head Unit. (Hi Pak, if you're read this, you're a loootttt better than Miranda Priestly kok 😌). Selain itu gue juga mengerjakan pekerjaan administrasi general untuk seluruh unit. Keeping absen orang-orang, beliin mereka tiket kalau mau dinas keluar, daaan berhubungan dengan klien utama kami: pemerintah Indonesia, baik secara formal lewat surat menyurat maupun lewat WhatsApp disertai dengan mohon ijin πŸ™.

Jujur di tahap ini gue kerap merasa 'post power syndrome'. Hello pas kuliah tuh gue udah jadi pejabat kampus, masa di kantor kerjanya cuma fotokopi, nempel bon, dan pesen snack rapat. Tapi perasaan ini bakal healed di tahun-tahun kemudian.

Pada tahap ini gue belajar bahwa pengambilan keputusan di pemerintahan itu sangat kompleks. Who doing what, how and why. Mumet Lah.

Saat itu, di sela-sela menyiapkan kopi dan eclair serta memastikan bapak ibu Bappenas tanda tangan daftar hadir rapat, gue menguping percakapan-percakapan penting tentang arah pembangunan Indonesia. Wedeh. Yang mana makin membuat gue mencintai dunia kebijakan publik- with all the messies. 

Gue juga belajar bahwa gue punya skill yang selama ini I took for granted: basic Javanese decency. Unggah ungguh yang biasa diajarkan ibu dan nenek gue ternyata bring me this far. Bukan menjilat atau bermuka dua, but respect and put persons at their 'positions', hehe ya begitulah perks nya orang Jawa sebagai mayoritas <evil laugh>.

FYI, bahkan meeting high level di pemerintah Indonesia masih kerap memakai kosakata seperti "Monggo, matur, sampun, nuwunsewu, inggih" dan sebagainya. Dan tentu tidak lupa: mohon ijinπŸ™.

Di tahun ini pula gue sadar betapa banyak anggaran pemerintah 'dibuang-dibuang'.

*bersambung (kalo sempet, wkwk)

Friday, October 2, 2020

Kenapa Mbah Kakung Tidak Solat?

 Kenapa Mbah Kakung Tidak Solat?

Pertanyaan itu saya ajukan, kepada setiap penghuni rumah dan Mbah Kakung sendiri. Tidak pernah ada jawaban memuaskan. Kakak saya pernah berbohong "Mbah Kakung solat kalau malam saja" atau jawaban malas Mama "Mbah Kakung sudah solat, kamu gak liat".

Lama baru saya paham, Mbah Kakung tidak solat karena beliau tidak menganut agama Islam. Ia percaya pada ajaran, aliran, sinkretisme (apapun lah namanya) Kejawen. Mbah Kakung 'beribadah' dengan caranya sendiri, bukan dengan solat. Saya gak terlalu peduli, karena Mbah Kakung adalah salah satu orang paling baik yang saya kenal. Yang mengantar saya ke sekolah dan diam-diam memberi saya uang saku lebih. Yang menemani saya bermain pasar-pasaran. Yang sering membantu saya mengerjakan PR Kesenian dan Bahasa Jawa.

Ya, tapi Mbah Kakung tidak solat.

Pernah sih, saat Idul Fitri atau Idul Adha, untuk menyenangkan hati Mbah Putri, supaya 'patut' dilhat tetangga, Mbah Kakung ikut solat di masjid.

Ah betapa Jawa.

Suatu hari di tahun 2007, saya dan Mama hendak pergi ke Jogja menengok kakak tertua yang masih kuliah di sana. Mbah Kakung bahkan menyetrika baju akan saya pakai. Dia memang necis dan selalu menuntut saya tampil rapi.

Kami sampai di Jogja malam hari, dini hari ada telepon, kabar Mbah Kakung meninggal dunia. Kami buru-buru kembali ke rumah.

Saya terdiam melihat jenazah Mbah Kakung dikafani, kemudian disolati. Ya, Mbah Kakung yang jarang solat sekarang disolati, kemudian dikebumikan dengan cara Islam. Di KTP Mbah Kakung beragama Islam, ya karena tidak ada pilihan lain mungkin, nasib sama oleh sekian penghayat kepercayaan yang 'agama'nya tidak diakui negara.

Jam demi jam pelajaran agama saya lalui, semua bilang sama orang kafir akan disiksa di kubur dan neraka. 

Saya berpikir, masa sih Allah tega menghukum Mbah Kakung yang sangat baik?

Kerap saya berdoa, kalau ingat "Ya Allah sayangi Mbah Kakung seperti ia menyayangi saya" karena tentu bilangannya tak terkira.

Hingga saya bertemu seorang mentor yang juga dosen di fakultas saya. "Bagaimana 'nasib' Mbah Kakung?"

Ia menjelaskan panjang lebar dengan hati-hati.

Lalu kesimpulan saya: kita tidak tahu, kita tidak pernah tau.

Kita bisa tahu syariat Allah dan konsekuensinya, tapi kita tidak bisa menyimpulkan nasib orang lain berdasarkannya.

Yang kita tahu setetes air, yang tidak kita tahu seluas lautan