Sunday, November 10, 2019

Low Hanging Fruit

Low Hanging Fruit

"ya kita low hanging fruit aja lah" belakangan saya sering banget mendengar frasa itu. Apa sih maksudnya low hanging fruit?.

What Is Low-Hanging Fruit?

The term "low-hanging fruit" is a commonly used metaphor for doing the simplest or easiest work first, or for a quick fix that produces ripe, delectable results. In sales, it means a target that is easy to achieve, a product or service that is easy to sell, or a prospective client who seems very likely to buy the product, especially compared with other, more reluctant prospects.

dari investopedia.com

Tadi pagi saya baru saja mengerjakan soal SIMAK UI. Seperti kebanyakan soal, ada instruksi "kerjakan yang paling mudah terlebih dahulu".

Low Hanging Fruit, petik buah yang paling rendah, paling dekat, paling mudah untuk diraih.

Sebenarnya hal ini bisa jadi dalam kalau dimaknai, bahwa dalam hidup juga demikian. Kita kadang putus asa karena merasa beban terlalu banyak, sukses terlalu jauh. Kita juga bisa "low hanging fruit", kerjakan yang paling mudah dulu, nyetrika baju misalnya.

Hahahaa

semangat memetik buah yang paling mudah

Thursday, October 31, 2019

Jazakallah

"Jazakallah khairan katsir"

Agak terkejut dengan respon bapak penjual bakpao depan kosan saat saya membayar bakapo yang saya beli.

Walaupun secara gender, kalimat bapak barusan keliru, seharusnya Jazakillah bukan Jazakallah, karena ia mengucapkannya pada perempuan. Tapi saya tahu maksud bapak ini mendoakan, bukan sekadar mengucapkan 'terimakasih' tapi berarti: semoga Allah membalasmu dengan yang baik dan banyak. Sungguh doa yang jauh lebih manis daripada bakpao coklat yang ia jual.

Maka, sebetulnya beberapa orang bukan hanya 'sok arab'. Beberapa kalimat memang mengandung doa, yang mungkin akan 'wagu' kalau diterjemahkan.

Bukan berarti tidak cinta Bahasa Indonesia. Namun kita tahu bahwa sebagian besar bahasa Indonesia adalah kata serapan. Mencintai bahasa Indonesia adalah mungkin mengakui bahwa tidak ada yang benar-benar orisinil.

Terima kasih Bapak doanya, waiyyakum.

Saturday, October 19, 2019

Resensi Perempuan Tanah Jahanam

Kamis (17/10) kemarin saya 'tiba-tiba' diajak seorang teman nonton film terbaru Joko Anwar, Perempuan Tanah Jahanam.
Beberapa netizen menyebut film ini adalah karya Jokan (Joko Anwar) yang terbaik. Apa iya?
Film dibuka dengan sepasang sahabat Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) yang berjuang hidup di kota. Di tengah keputusasaan, Maya memutuskan mencari jejak kedua orangtuanya, Dini memutuskan untuk ikut.
Di desa terpencil bernama Harjosari inilah semua 'keabsurdan' terjadi.
Susah untuk mereview film tanpa membocorkan banyak spoiler.
Salah satu kehebatan Perempuan Tanah Jahanam adalah alur yang tidak bisa ditebak. Setiap adegan membuat kita bertanya-tanya, dia baik enggak ?, jadi bagaimana kelanjutannya?, jadi siapa yang salah?.
Kekuatan lain film ini adalah pada aktor-aktrisnya. Christine Hakim tidak diragukan lagi, sebagai Nyi Misni ia berhasil membuat penonton (baca: saya) stres sepanjang film.
Kehadiran tokoh utama perempuan lain membuat film ini menjadi satu dari sedikit yang lolos Bechdel test. Akting Ratih (Asmara Abigail) yang lugu namun berani membuat kita juga bertanya-tanya "dia ini maunya apa?!". Dan di akhir film lah pertanyaan kita baru terjawab, perempuan mana kah yang paling jahanam. Haha
Beberapa dialog di film ini seperti sengaja ditempelkan untuk menyindir masyarakat dewasa ini. Seperti "semuanya aja manusia diganti mesin, mau jadi apa negara ini" atau "lagian kenapa sih orang mati harus dikubur, ngabis abisin lahan aja".
Konflik film terkesan berakhir dengan adegan flashback yang menjawab semuanya. Hampir terasa agak deus ex machina.
Ada adegan yang tidak begitu 'penting' untuk alur cerita, tapi membuat saya kepikiran terus. Ketika Ratih dan Maya mengunjungi Tole di hutan, bayuli cacat yang 'dibiarkan' hidup dewasa dengan menderita.
Akhirul kalam, film ini sangat bagus. Lebih bagus dari Midsommar, dan tidak semenyeramkan Pengabdi Setan. Tapi cukup membuat saya keluar bioskop dengan perasaan terganggu.
Selamat menonton!

Tuesday, September 24, 2019

Mosi Tidak Percaya

Sedih. Itu mungkin yang merangkum perasaan saya atas keadaan negara hari ini.

Anggota legislatif yang kita pilih 5 tahun lalu tiba-tiba kepingin serangkaian Rancangan Undang-Undang bermasalah. Termasuk Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang mana beberapa poin di dalamnya amat sangat konyol.

Belum lagi, institusi yang kiranya menjadi terakhir dan satu-satunya, jika tidak satu dari sedikit yang masih dipercaya rakyat habis-habisan dikebiri.

Di tengah udara sesak di Sumatera dan Kalimantan yang dihirup bayi baru lahir hingga meninggal tanpa sempat diberi nama, presiden kita memilih pamer kemesraan dengan cucunya.

Marah.

Jika kita marah dengan pacar atau orangtua. Mungkin bisa saja kita ngambek. Pergi atau mengunci diri sebentar.

Bagaimana jika kita sedih, marah dan bahkan helpless kepada negara?

Dari dulu saya tidak pernah menganggap demo atau unjuk rasa sebagai sesuatu yang negatif. Ia adalah salah satu bentuk partisipasi politik. Agar penguasa tahu kita marah, agar semua orang tau ada masalah.

Tadi malam saya tidak bisa tidur, terus melihat linimasa twitter, amarah publik yang menjadi-jadi.

Padahal pagi hingga siang esoknya saya harus rapat di 3 tempat berbeda. Saya bangun dengan kalut. Rasanya ingin turut ambil bagian dalam Mosi Tidak Percaya ini, tapi ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Semua rapat saya selesai jam 5 lebih, ditambah macet saat harus kembali ke kantor. Saya lelah, merasa lemah. Tiba-tiba ada rasa hendaya, ketidakmampuan untuk bertindak.

Sesaat kemudian, teman dekat saya yang ikut aksi mengabari. Dia dikejar polisi dan terkena gas air mata. Beruntung berhasil selamatkan diri.

Sedih,

Tapi sekaligus bangga melihat adik-adik mahasiswa, yang bahkan mungkin baru lahir 1998. Mereka tidak kenal Soeharto. Mereka lahir dalam udara reformasi yang bersama-bersama kita rayakan. Maka mereka yang pertama maju ketika reformasi ini dikorupsi.

Panjang umur perjuangan,

dari kami yang tidak mampu berbuat banyak

Tuesday, September 10, 2019

"Saya Nggak Bisa Bahasa Inggris"

Di sebuah grup whatsapp, seseorang meminta informasi lowongan pekerjaan. Karena kantor saya kebetulan sedang membuka banyak lowongan, saya teruskan informasi tersebut.

Lalu ia berkomentar "ada lowongan buat posisi X gak mba? lokasi kantornya dimana?", saya jawab pendek "bisa dibaca pada link yang saya kasih mba😊". Dia menjawab lagi "saya nggak bisa Bahasa Inggris mba, gak ngerti".

Jawaban seperti itu sering saya terima, dari orang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. Ketika saya membagikan artikel atau berita dalam Bahasa Inggris. Keluhan yang datang pun sama.

Saya sadar kesempatan untuk belajar dan menguasai bahasa kedua adalah privilege. Tapi bukan lantas hal ini membuat kita tak acuh dan malas belajar bahasa asing. Tidak sedikit juga yang 'bersembunyi' di balik alasan nasionalisme, padahal pemerintah pun berulang kali menyuarakan: "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing".

Menguasai Bahasa Inggris sendiri sangat mendasar dan penting dalam konteks karir. Bayangkan berapa buku yang belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia yang bisa Anda baca dan berapa orang yang bisa Anda ajak ngobrol jika Anda menguasai bahasa yang sama.

Semoga kita semua semangat mengembangkan kompetensi diri, terutama keahlian bahasa.

Sukses selalu

Sunday, September 8, 2019

How to Adult

Menurutku, salah satu fase terberat dalam hidup manusia adalah memasuki usia dewasa. Kita berpindah begitu cepatnya dari era main-main tiba-tiba tanggung jawab yang begitu berat kita emban sendirian. Tiba-tiba kita harus punya tujuan hidup yang jelas, tentang pendidikan, karir dan hubungan interpersonal.


Memasuki usia dewasa, kadang kita (atau setidaknya saya) kebingungan akan pertanyaan: "siapa saya?". Kita mungkin akan mencoba mengasosiasikan diri kita dengan berbagai afiliasi, entah pekerjaan, hobi, latar belakang pendidikan, agama, suku dan lain-lain. Waktu kecil, saya menonton potongan film Anger Management di atas dan merasa lucu. Sekarang, saya sama bingungnya dengan tokoh Dave dalam film itu.

Minggu lalu, beberapa teman kuliah S1 saya sudah wisuda S2. Wah waktu cepat sekali berlalu ya, dan kadang terbersit penyakit hati: iri.

Bukan cuma iri pada pencapaian teman-teman, tapi lebih kepada 'ketangguhan' mereka. Ada teman yang S2 sambil bekerja penuh waktu, ada juga yang sambil memulai perannya sebagai seorang Ibu. 

Kadang saya berpikir "why I don't push myself harder" dan kemudian muncul rasa bersalah dan rendah diri. 

Lalu saya curhat sama Afina. Kata dia, "ya kamu mungkin bisa, tapi apakah kamu ingin?".

Kemudian diri ini mengevaluasi lagi apa tujuan hidup ini?. Ikut-ikutan orang lain?, validasi orang lain, atau apa?

Ndilalah, mata ini tertumbuk pada Kegan's stage of development. Yang ternyata menjawab kegalauan di atas, mungkin saya baru sampai tahap socialized mind. Berusaha menambal sulam identitas diri dengan berbagai label dalam masyarakat.

Semoga segera mencapai tahapan perkembangan diri yang berikutnya!



Monday, September 2, 2019

Unlearn

Dalam sebuah podcast, CEO Bukalapak Ahmad Zaky menuturkan bahwa manusia dewasa sebenarnya tidak susah untuk belajar (learn), yang susah adalah unlearn.

Unlearn dapat didefinisikan menjadi: menghapus informasi dari pikiran seseorang (yang telah dipelajari, misalnya kebiasaan buruk atau informasi yang salah atau usang).

Zaky mengibaratkan saat suatu perangkat elektronik, misalnya handphone akan susah di operasikan atau lemot ketika memorinya terlalu banyak. Hal ini menurutnya yang membuat golongan tua susah berkembang dengan pesat atau mengejar ketertinggalan.

Bahwa 'pura-pura bego' kadang memang perlu.

Tapi menurut saya, kapasitas maksimal otak manusia belum diketahui pasti. Unlearn bukan alasan untuk membiarkan otak kita kosong, namun menyisihkan ruang dalam otak (dan hati, eyak) agar selaku dapat menerima hal baru.

Selamat unlearn!