Wednesday, April 1, 2020
Kenapa Negara Baik sama Pengusaha?
Jika seorang pedagang misalnya, jatuh sakit dan tidak bisa berdagang seperti biasanya, maka penghasilannya menurun- atau bahkan tidak berpenghasilan sama sekali. Maka pedagang tersebut harus membobol celengannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu bahkan mungkin berhutang ke orang lain karena pengeluarannya pun bertambah untuk berobat.
Nah wabah pada level negara ini pun memiliki efek yang kurang lebih sama. Setiap negara punya kebijakan berbeda-beda untuk 'menangani' pelemahan ekonomi. Beberapa memilih memberikan basic income (ini mungkin bakal saya bahas besok, kalau mood, wkwk). Nah Indonesia agak 'unik'.
Kata Sri Mulyani, kita ngeluarin 405,1 triliyun rupiah buat nanganin Covid19 ini (itu kalau dalam bentuk duit 100 ribuan kita bisa berenang kali ya di antara duit-duit, wkwk). 75 T buat belanja alat kesehatan dan insentif tenaga kesehatan, 110 T buat jaringan pengaman sosial (kayak bansos gitu deh), 70,1 T buat dukungan indsutri, 150 T buat pemulihan ekonomi nasional (gatau deh maksudnya apaan, belum baca, wkwk).
Nah, caranya gimana?!. Di tulisan kali ini gue bakal bahas yang dukungan industri. Nah, instead ngasih duit ke ruckyut kecil (walaupun udah diakomodir di jaring pengaman sosial sih). Pemerintah juga berbaik hati nih ngasih berbagai keringanan ke pengusaha. Di antaranya pengurangan pajak penghasilan (Pph 21 karyawan dan PPh 22 impor, serta pembebasan bea masuk impor).
Kenapa sihhh negara baek banget ama pengusaha? ini gue (nah kan tadi saya sekarang jadi gue) baru paham juga setelah denger langsung dari Bu Ani di acara World Bank (wedeh, akrab #highprofile). "Harapannya kalau uang itu stay di perusahaan, akan lebih bermanfaat buat masyarakat, misalnya untuk pelatihan, riset, instead uang itu disetor ke pemerintah".
Gini guys: kata kuncinya adalah HARAPAN. wkwkw. Pemerintah gak bisa betul-betul ngontrol duit itu bakal diapain sama pengusaha. Memang bisa misalnya dengan super deduction riset atau vokasi, atau dalam kasus Covid19 ini, Pph21 nya dibalikin ke karyawan, tapi selebihnya kalau duit tadi balik ke shareholder dan buat liburan ke Bahama atau beli tas Hermes. who knows?
Inilah yang namanya: TRICKLE DOWN ECONOMY
Makanya kalo di Amrik, banyak pengusaha prefer politisi Republican karena terkenal dengan kebijakan ini. hehe. Asumsinya kalau pengusaha dibaikin, tax rate nya rendah, pengusaha bakal baik juga ke buruh-buruhnya.
wwkwkkwk, becanda deh kamu negara.
Tuesday, September 24, 2019
Mosi Tidak Percaya
Sedih. Itu mungkin yang merangkum perasaan saya atas keadaan negara hari ini.
Anggota legislatif yang kita pilih 5 tahun lalu tiba-tiba kepingin serangkaian Rancangan Undang-Undang bermasalah. Termasuk Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang mana beberapa poin di dalamnya amat sangat konyol.
Belum lagi, institusi yang kiranya menjadi terakhir dan satu-satunya, jika tidak satu dari sedikit yang masih dipercaya rakyat habis-habisan dikebiri.
Di tengah udara sesak di Sumatera dan Kalimantan yang dihirup bayi baru lahir hingga meninggal tanpa sempat diberi nama, presiden kita memilih pamer kemesraan dengan cucunya.
Marah.
Jika kita marah dengan pacar atau orangtua. Mungkin bisa saja kita ngambek. Pergi atau mengunci diri sebentar.
Bagaimana jika kita sedih, marah dan bahkan helpless kepada negara?
Dari dulu saya tidak pernah menganggap demo atau unjuk rasa sebagai sesuatu yang negatif. Ia adalah salah satu bentuk partisipasi politik. Agar penguasa tahu kita marah, agar semua orang tau ada masalah.
Tadi malam saya tidak bisa tidur, terus melihat linimasa twitter, amarah publik yang menjadi-jadi.
Padahal pagi hingga siang esoknya saya harus rapat di 3 tempat berbeda. Saya bangun dengan kalut. Rasanya ingin turut ambil bagian dalam Mosi Tidak Percaya ini, tapi ada kewajiban yang harus ditunaikan.
Semua rapat saya selesai jam 5 lebih, ditambah macet saat harus kembali ke kantor. Saya lelah, merasa lemah. Tiba-tiba ada rasa hendaya, ketidakmampuan untuk bertindak.
Sesaat kemudian, teman dekat saya yang ikut aksi mengabari. Dia dikejar polisi dan terkena gas air mata. Beruntung berhasil selamatkan diri.
Sedih,
Tapi sekaligus bangga melihat adik-adik mahasiswa, yang bahkan mungkin baru lahir 1998. Mereka tidak kenal Soeharto. Mereka lahir dalam udara reformasi yang bersama-bersama kita rayakan. Maka mereka yang pertama maju ketika reformasi ini dikorupsi.
Panjang umur perjuangan,
dari kami yang tidak mampu berbuat banyak
