Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Sunday, December 1, 2019

Kim Ji Young, Born 1982

Beberapa hari lalu nonton film Kim Ji Young, Born 1982. Walaupun telat beberapa menit dan melewatkan scene yang penting, overall film ini memang bagus dan sukses bikin nangis beberapa kali. Huhu

Katanya film ini begitu dibenci di negara asalnya sampai aktrisnya dibully sama netizen. Memang kayaknya semua isu patriarki ditumpahkan dalam satu film sampai beberapa agak terkesan 'maksa'.

Sutradaranya cukup jago melihat segala 'keribetan' dari angle perempuan, misalnya saat Ji Young mau pipis di toilet umum sambil gendong anaknya dan bawa segala tentengan. Mungkin ini pentingnya peran perempuan di segala bidang, biar 'sudut pandang' kita terwakili.

Cerita film ini 'biasa' banget. Bahkan kayak cuma dengerin cerita tetangga atau temen deket lo. Saking 'biasa'nya isu-isu seperti ini lah yang sering diabaikan. Nah mungkin film ini pengingat buat kita untuk look around dan aware dengan orang-orang di sekeliling kita yang mungkin butuh bantuan.



Ini adegan yang relatable banget saat Ji Young nunggu cucian. Gue yang ngelakuinnya seminggu sekali aja bosen banget. Nah dia tiap hari. Tulung 

Sunday, June 2, 2019

Unicorn Store: Tentang Berdamai dengan Masa Kecil

Sejak kecil, Kit menginginkan seekor unicorn untuk menjadi temannya. Seperti kita tahu, hewan itu hanya ada dalam dongeng belaka.

Tumbuh dewasa, Kit mencoba mengejar passion-nya dengan kuliah seni rupa, yang ternyata gagal karena ia terlalu 'nyeleneh'. Ia pun mencoba bekerja di kantor menjadi staf pengganti yang ternyata tidak berujung mulus juga.

Di tengah-tengah  itu ada surat misterius yang yang mengatakan bahwa kit mendapatkan kesempatan untuk membeli Unicorn di Unicorn Store Beberapa syarat harus ia lewati untuk lolos kualifikasi sebagai pemilik Unicorn. Semua orang tentu tidak percaya kepadanya karena Unicorn adalah hewan dalam dunia dongeng belaka.

Film ini sedikit mengobati Kerinduan saya akan cerita yang ringan dan hangat, seperti yang saya rasakan ketika nonton film Little Miss Sunshine atau Easy A.

Agak aneh memang melihat Brie Larson dan Samuel L. Jackson beradu peran bukan sebagai Captain Marvel dan Nick Fury melainkan dalam cerita drama komedi yang agak absurd.

Di akhir film saya dapat menangkap pesan yang tersirat, tapi plot film ini kurang ngena aja gitu. Agak terlalu lamban akting Brie juga kurang cocok memerankan Kit.

Karena ceritanya yang agak membosankan, saya sampai harus pause berkali-kali untuk menyelesaikan film ini.

Overall 6/10 lah

Monday, May 6, 2019

Resensi Knock Down The House

Knock Down The House
"Everyday American deserved to be represented by everyday American"
-Alexandria Ocasio-Cortez
Amerika adalah negara maju, kita semua tahu itu. Tapi Amerika juga negara dengan ketimpangan yang besar. 0,1 % orang terkaya di Amerika menguasai 188 kali kekayaan dibanding 90% orang lainnya (inequality.org).
Bukan hanya ekonomi, mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan juga berasal dari kalangan berpunya. Biasanya mereka adalah laki-laki, kulit putih, kalangan menengah ke atas, dan kemungkinan besar pengacara.
Dokumenter Knock Down The House menceritakan empat perempuan di Amerika Serikat yang mencoba melawan politisi mapan.
Mereka adalah pelayan bar, suster, ibu yang kehilangan anaknya karena tidak memiliki asuransi dan anak penambang batubara.
Selama menonton film ini saya sangat larut dalam emosi. Kemarahan yang berapi-api, ketakutan melawan si besar dalam kontestasi politik hingga kesedihan dan keputusasaan.
Menonton film ini membuat saya merasa ikut berjuang betapa susahnya untuk menjadi calon kandidat kongres dari partai demokrat. Sambil tetap bekerja, mengetuk pintu demi pintu, meminta tanda tangan dukungan, mengikuti berbagai kegiatan politik dan tetap menjaga eksistensi dengan harapan terpilih sebagai kandidat kongres.
Salah satu 'bintang' utama dokumenter ini Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) yang akhirnya berhasil menduduki kursi kongres Amerika, anggota kongres perempuan termuda sepanjang sejarah AS menujukkan betapa ia meraih semua ini dengan tidak mudah. Hal yang menarik darinya, menurut saya adalah dia benar-benar besal dari konstituennya di daerah Bronx dan Queens, New York. Salah satu distrik yang penuh dengan imigran. AOC pun berusaha berbicara dalam bahasa mereka dan berinteraksi dengan mereka. Inilah, mungkin, yang membuat ia akhirnya terpilih.
Tiga calon kandidat lain tidak semujur AOC, mereka kalah dari politisi mapan dari distriknya masing-masing. Saya pun tertegun dengan quote dalam film ini:
"For one of us make it through, a hundred of us had to try."
David telah berhasil mengalahkan Goliath, tapi dengan perjuangan yang memakan energi luar biasa.
Ini semua baru permulaan.
Oh iya, dokumenter ini bisa ditonton di Netflix ya