Saturday, June 11, 2022

Bekal Perjalanan

Aku lagi di kosan Arin dan tiba-tiba listrik mati setelah petir besar menyambar di tengah hujan deras.

Artinya aku gak bisa menyelesaikan tugas yang sebentar lagi deadline karena sinyal HP juga jadi H doang, gak bisa buat internetan.


Kemarin waktu aku packing buat ke Jogja ini, seperti biasa aku cenderung over-packing, membawa baju-baju yang mungkin gak akan terpakai dan barang-barang lain yang kebanyakan. Sudah begitu, ada saja barang yang terasa penting buat dibawa eh malah ketinggalan.


Untungnya karena cukup sering berpergian, aku menemukan formula yang cukup praktis dalam packing, satu koper, satu ransel, dan satu tas selempang. Semuanya cukup aku bawa sendiri tanpa merasa repot.


Tentang bekal perjalanan di dunia (literally) belakangan aku juga terkesima dengan sebuah channel YouTube: thruhikers yang menceritakan sepasang suami istri yang melakukan perjalanan hiking lintas negara, dari Meksiko, Amerika Serikat, hingga Kanada! Berjalan kaki! Tentu kondisi hiking membuat thruhikers tidak bisa membawa bekal yang banyak. Sehingga mereka merencanakan bekal dengan sangat cermat. Misalnya untuk urusan logistik makanan, mereka mendehidrasi atau mengeringkan beberapa bahan makanan agar lebih awet, kemudian mengirimkan bahan makanan tersebut secara bertahap ke kantor pos di kota-kota yang akan mereka singgahi.


Sungguh sangat strategis dan cermat. 


Mengenai perbekalan ini saya juga excited mengikuti YouTube series yang dibuat oleh Ryan Trahan, kali ini ia memiliki misi mengantarkan koin satu sen ke YouTuber lain, Mr. Beast, dari California ke New York, atau bisa dibilang dari ujung ke ujung Amerika Serikat. Menariknya, Ryan Trahan juga cuma membawa bekal 1 sen, yang harus dia kembangkan berkali-kali lipat agar bisa sampai ke New York.


Di awal, Ryan mencari orang yang mau menjual sebuah pulpen dengan harga satu sen kepadanya, kemudian Ryan menjualnya dengan harga 1 dolar (100 kali lipat). Saya berpikir, transaksi pertama ini ya hanya karena orang kasihan saja. Namun kemudian Ryan sangat persisten dengan misinya, menjual permen, air minum, menawarkan jasa, hingga mengantar makanan dengan aplikasi online, walau hanya berjalan, bersepeda, hingga di hari ke sekian dia mampu menyewa mobil.


Konten yang sangat 'unik'. Oh ya, saya lupa menyebutkan bahwa Ryan juga melakukan penggalangan dana sembari ia melakukan misi ini. Sungguh mulia sekaligus menyenangkan.


Insight lain yang saya ambil, karena ia terus bergerak dari satu kota ke kota lain, Ryan juga sangat efisien dengan bawaannya. Ia membeli sepeda di satu kota untuk membuatnya bisa mengantar makanan, namun kemudian menjualnya lagi ke orang lain ketika ia meninggalkan kota tersebut.


Baik Ryan Trahan maupun truhikers memperjelas bahwa hidup ini adalah rangkaian perjalanan.


Setiap perjalanan, agar lancar harus dipersiapkan dengan baik dan dengan bekal yang cukup serta efisien.


Dan setiap perjalanan tentu harus memiliki tujuan.


Sungguh pun, air mata ini belum kering setiap menyimak tragedi meninggalnya Emmeril Kahn. Satu opini netizen yang menggelitik hati saya, amalan apa yang dimiliki Eril hingga begitu banyak orang yang mendoakannya, bahkan yang tidak pernah kenal seperti saya pun turut merasakan kehilangan yang dalam.


Kemudian @quranreview mengulas sebuah ayat Al Qur'an dan hadits yang sangat indah 


Maryam 96

96. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).

 

Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril, “Wahai JIbril, sesungguhnya aku mencintai si fulan” Kemudian Jibril pun mencintainya, lalu ia pun menyeru penduduk langit, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si fulan” Maka serempak penduduk langit pun mencintainya, lalu rasa cinta tersebut kemudian diberikan kepada penduduk bumi.

 

HR Imam Ahmad (2/514) dan HR Bukhari 6040, Muslim 2637.

 

Maka semoga kepergian Eril meneladani kita semua, bahwa waktu kita di dunia adalah mengumpulkan bekal, untuk perjalanan sejati menuju JannahNya, aamiin.


Tuesday, March 15, 2022

Midnight Library


Akhirnya saya berhasil menyelesaikan buku pertama tahun ini!, dan buku fiksi pertama juga setelah sekian lama. Setelah menyelesaikan dua buku non fiksi karya Matt Haig tahun lalu, tahun ini saya tertarik untuk membaca salah satu karya fiksinya.

Midnight Library bercerita tentang Nora Reed, perempuan berusia 35 tahun yang sangat 'lelah' dengan hidupnya, merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk ia hidup di dunia ini, hingga akhirnya (trigger warning) memutuskan untuk bunuh diri.

Setelah memutuskan mengakhiri hidupnya, Nora 'terjebak' di Midnight Library, secara ajaib punya kesempatan kedua- ketiga, dan seterusnya untuk menjajal skenario lain yang mungkin terjadi dalam hidupnya. "what if" kalau saja... kalau saja Nora serius berlatih renang, kalau saja Nora terus ngeband, kalau saja Nora menikah dengan Dan, mantan pacarnya, atau Ash- dokter bedah yang bekerja di rumah sakit tempat ibunya dirawat.

Matt Haig menggambarkan kondisi depresi yang dialami Nora dengan cukup dekat (tadinya saya mau bilang akurat, namun sepertinya dekat lebih pas). Mungkin karena Matt sendiri (dalam memoarnya Reason to Stay Alive) menjelaskan bahwa ia pernah mengalami depresi.

Saya terkesan dengan kemampuan Matt Haig menggambarkan depresi dan kesedihan di buku ini. Ndilalah, saya juga membaca buku ini setelah kucing saya Momo mati, sama seperti Nora yang kehilangan kucingnya juga. Atau ketika bahkan Mr. Banerjee tetangga Nora yang lansia sudah tidak membutuhkannya lagi.

Saya hampir kesal karena saya kira di akhir cerita, hidup versi sempurna untuk Nora adalah menjadi istri Ash sang dokter bedah dan ibu satu anak yang menggemaskan, namun ternyata itupun bukan hidup sempurna versi Nora. Skenario lain juga setelah disadari lebih lanjut adalah mimpi orang-orang lain untuk Nora. Menjadi atlet kelas dunia adalah mimpi ayahnya, menjadi rockstar adalah mimpi kakaknya, bahkan menjadi glaciologist adalah mimpi yang muncul dari interaksinya dengan Ms. ELm, pustakawati yang nantinya ia 'temui' di Midnight Library. Lalu sebenarnya, apa yang Nora inginkan? bagaimana hidup yang ideal seharusnya untuknya?

Resolusi konflik atau akhir dari cerita di buku ini cukup 'melegakan'. Bukan happy ending yang penuh dengan pelangi atau sedih yang begitu nestapa. Akhirnya, pesan dari buku ini yang bisa saya ambil adalah, walaupun hidup dengan pilihan, kita tidak bisa mencurangi takdir. Setiap pilihan yang kita ambil ada konsekuensinya, dan tidak ada pilihan yang begitu sempurna.

Berikut ilustrasi yang saya rasa cukup menggambarkan bagaimana hidup kita, setelah memaknai cerita Nora di Midnight Library




Tuesday, March 8, 2022

Yang Belum Kita Rayakan Hari Ini

 Mumpung internasional women days belum berakhir. Gue pengen refleksi apa yg gue lakukan beberapa bulan terakhir. 


Setelah bokap berpulang, gue memutuskan untuk stay di rumah. Kemudian beberapa bulan kemudian ndilalah nenek gue sakit.


Sembari semua ini terjadi, kebetulan gue baca bukunya Katrine Marçal yang berjudul "Who Cook Adam Smith Dinner?". Mungkin dari judulnya, udah ada beberapa orang yang bisa nebak, isinya bahas tentang unpaid care work dalam ekonomi, dan beyond.


Gue melihat nyokap gue yang hampir seumur hidupnya menjadi caregiver, buat alm suaminya, anak-anaknya, dan juga orang tuanya. Dalam hati, gue mikir, kayaknya gue gak akan bisa kayak gitu.


Kemudian gue menggali lebih jauh, kenapa gue bisa sampai kepada pemikiran itu. Bener apa kata Marçal, caregiving hampir gak pernah 'diperhitungkan' di dunia- literally diperhitungkan di GDP dan dalam kehidupan sosial.


Caregiving gak bisa dipamerin di CV dan LinkedIn. Ketika cerita-ceritanya mengemuka  pun, sangat potensial untuk hanya dianggap sebagai gerutuan belaka.


Di IWD, hari Kartini, atau hari-hari lain yang merayakan kehebatan perempuan. Biasanya yang ditonjolkan adalah kiprah mereka di luar rumah (wow apakah gue menjadi tradisionalis, wkwk). Bagaimana jika kemudian gue bilang kalau, peran yang dirayakan adalah peran dalam... industri?.


Itu sangat bagus dan gue tidak sedikitpun menentang. Sudah lama perempuan menerima peran caregiving as it is. Sehingga ketika tiba masa kita bisa memiliki peran-peran lain di luar itu dan sangat berhasil, tentu memang patut dirayakan.


Yang sedih adalah ketika kemudian kita mendiskreditkan peran-peran lain yang tidak dirayakan. Sedih juga ya wak ketika apa yang dianggap keren hanyalah apa yang berkontribusi pada GDP. hahaha


Kemudian akan ada sedikit slogan, jadi ibu rumah tangga JUGA keren kok. Padahal yang caregiving juga bukan cuma ibu rumah tangga.


Lalu siapakah yang take care of each other? Apakah akhirnya semua peran caregiving akhirnya akan dikomodifikasi? ngurus anak= masukin di day care, orang tua sudah jompo= masuk assisted care. Ngurus suami juga nanti akan ada suami care? Haha. Apakah solusi unpaid care work adalah dengan menjadikannya paid? Hehe


Sekali lagi tulisan ini tidak dibuat dengan intensi menyalakan pihak. Alih-alih, ini adalah refleksi bahwa ternyata perspektif kita secara kolektif (atau mungkin gue aja, tapi saya yakin bukan cuma gue aja) lol. Bahwa belum lama kita hidup di masyarakat industri, tapi self concept kita sangat terpatri dengan berbagai kerangkanya. Kerangka yang menjadi kerangkeng.


Dengan demikian, mari kita rayakan dengan mengapresiasi peran-peran yang tidak dirayakan oleh ekonomi. Yang dilakukan oleh ibu, bapak, nenek, kakek, kakak, adik, tetangga, ayang atau diri kita sendiri


Take care


Hati-hati di jalan 😌

Sunday, February 13, 2022

Hidden Gems di Jogja


haha judulnya click bait banget, inti dari tulisan ini adalah: Binar kalau ke Jogja tuh kemana aja. Barangkali bisa jadi referensi yang (agak) anti mainstream. Atau bahkan mengingatkan saya sendiri kalau lagi mati gaya di Jogja dan bingung mau ngapain.

1. Restoran: Nanamia Pizzeria

Berkenalan dengan restoran ini di tahun 2019 waktu makan di sini sama Tika. Temanya resto yang menghidangkan makanan autentik Italia. Dan beneran kerasa autentiknya!, setidaknya saya bisa membedakan rasa dan tekstur pasta yang memang dibuat handmade dan pasta yang direbus dari pasaran (kayak la fonte dan teman-temanya, haha). Pizza di sini juga beda dengan pizza hut yang roti dan pinggirannya empuk, pizza di Nanamia tipe yang garing dan krispi serta gosong gosong gitu deh. 

Menu favorit aku kalau makan di sini adalah Tortellini al Tonno dan Panna Cotta raspberry sauce sebagai dessert (duh baru beberapa hari yang lalu makan, tapi jadi kebayang enaknya)


Jadi ini daging tuna di dalam gulungan tortellini dan diselimuti saus mozzarela yang melimpah *nyam





Panna Cotta vanilla yang creamy berpadu dengan saus raspberry yang segar *ngiler


Oh iya, Nanamia ini ada di dua lokasi, di Tirto dan Mozes. Silakan dipilih yang terdekat dari tempat kamu stay. Dua-duanya sama kok kualitasnya. Lokasi yang di Tirto lebih luas dan outdoor, sedangkan yang di Mozes lebih kecil dan indoor, juga di sebelahnya resto yang di Mozes ada minimarket bahan-bahan makanan impor. Selain makan di tempat, Nanamia juga ada di GoFood kok, jadi kalo mager ya tinggal GoFood ajah.

2. Belanja: Artlinx

Seperti saya bilang di post yang ini, belakangan saya semangat journaling lagi. Walaupun gak terobsesi buat punya jurnal super estetik, belanja stationaries seperti washi tape dan stiker selalu menyenangkan, hehehe. Udah tua bukan berarti gak boleh belanja gremet gremet ga penting kan, hehehe *pembenaran.

Nah selain banyak pilihan stationaries impor di banyak marketplace, di Jogja ada nih toko stationaries dan pernak-pernik yang featuring banyak kreator lokal, namanya Artlinx dan lokasinya di Condongcatur. Sebenernya Artlinx juga punya toko online di marketplace, tapi sensasi belanja langsung tentu lebih greget ya bestie. Heheh. Lokasinya memang lumayan jauh dari pusat keramaian gitu sih, jadi kalau ke sini kayak memang cuma ke sini aja gak bisa mampir belanja atau nongkrong2 di sekitarnya (apa gue aja yang kurang gaul kali yeah). 

Harga rata-rata stiker di sini memang relatif lebih mahal dibanding item serupa yang diimpor dari China dan bertebaran di marketplace, tapi kurasi Artlinx untuk kreator-kreator lokal ini justru unik banget loh menurutku.

stationaries haul dari Artlinx


3. Oleh-oleh: Wahyu Austin 

Kalau ke Jogja, bawa pulang oleh-oleh apa? Bakpia? Gudeg? mainstream banget sih bestiee. Haha. Beberapa tahun lalu saya mengenal alternatif oleh-oleh dari Jogja kalau kalian bosen dengan jajanan dan penganan yang itu-itu aja. Namanya cake roll Wahyu Austin.

Ini mungkin item yang sesuai judul post ini sih, beneran hidden gem banget. Karena 'toko' cake roll ini ada di garasi komplek perumahan biasa dan cuma buka sebentar, terakhir saya di Jogja kemaren, toko ini sudah tutup jam 2 siang, hiks.

pilihan varian rasa cake roll *diambil dari instagram Wahyu Austin

Harga satu gulung cake yang puanjang cuma 75.000 rupiah (sangat worth it sebanding dengan kualitasnya). Dari pilihan rasa yang ada, saya pernah nyobain rasa Opera, Chesse dan Blueberry. Paling enak menurutku yang Opera, fillingnya mirip opera cake nya The Harvest, tapi pas banget sama bolu luarnya jadi gak terlalu mahteh. Kalau yang chesse juga enak, tapi ini chesse yang Indonesia banget (atau Jogja banget, hehe) karena rasanya manis :' bukan kayak cream chesse yang gurih gitu, jadi agak miss aja untuk selerakuhh. Kalau yang blueberry ini cocok buat yang suka dessert seger karena selai blueberry di dalam filling buttercreamnya asli, ada butiran blueberry beneran yang kerasa, asam ketemu manis yang pas.

Kalau beli langsung di sana, bisa pesan lewat SMS dulu (yes, not even whatsapp, kurang hidden gem apa lagi coba, wkwk). Nanti pesanan kita akan dikemas lapis styrofoam agar aman dibawa travelling. Kalau pas beruntung dan ke sana cukup pagi, biasanya kita bisa dapat sekotak snack buat sarapan gratis!, huhu baik banget kan :'. Di tokonya, juga tersedia kue kering dan roti-rotian, tapi ya stoknya harus ngecek sedang ada apa hari itu. Gak nyesel deh nyobain ini, benerannn ini aku gak dibayar (ala selebgram ngendorse). Kalau gak sempat ke tokonya, bisa pesan lewat GoShop, walau agak tricky jelasin ke abang gojeknya, tapi kemarin saya berhasil pesan lewat GoShop dan aman sentausa.

Sebetulnya ada beberapa tempat lagi di Jogja yang cukup berkesan, tapi kali ini featuring 3 dulu ya. heheheh. Mari terus berdoa agar bisnis-bisnis tetep eksis walau keadaan saat pandemi ini sulit buat kita semua yah :)

Monday, January 10, 2022

Momo

Waktu menulis gratitude list kemarin, aku tahu aku bakal nulis tentang Momo.

11 November 2021

Hari itu aku begadang seperti biasa, tiba-tiba melihat insta story yang direpost oleh straycats.club- sebuah kelompok yang suka ngasih makan kucing stray di Cilacap. Seseorang open adopt kucing stray yang ia rescue, aku sudah lama banget pengen pelihara kucing. Sayangnya mbak empunya post ini tinggal di Maos- satu kecamatan di Cilacap yang lumayan jauh dari rumah.

Tapi tekadku makin bulat, beberapa jam kemudian, ketika sudah pagi, aku sudah tidur sebentar, mama juga sudah bangun. Aku bilang ke mama "ma, aku mau pelihara kucing". Mama agak hesitant awalnya, tapi kemudian "ya udah, dari dulu kamu ngomong terus pengen pelihara kucing, tapi pokoknya kamu yang urusin, mama gamau bantu" "oke ma".

Aku gak bilang aku jemput kucing itu dimana, hehe, kalau bilang di Maos pasti gak diijinin. Haha

Singkat cerita aku berangkat dan pulang bawa Momo, dipangku! sambil aku naik motor. First stop aku langsung antar Momo ke klinik, karena dia punya scabies di kepala dan kupingnya. 

posisi Momo dipangku dari Maos ke klinik, sekitar sejam sejauh 17 kilometer :'

Sehari menginap di vet, aku bawa Momo pulang, dia langsung bisa pup dan pipis di litter box. Seneng banget akhirnya punya kucing, bisa diajak main dan kadang diajak ngomong. Lol. Setelah aku telatenin rawat Momo, scabiesnya pun hilang dan makin glowing. Ketika harus kondangan ke nikahan Danti di Jakarta, aku sempat bingung, karena mama sudah ultimatum gak mau merawat Momo. Cherry pet shop menolak dititipi Momo karena masih ada sedikit scabies, beruntung Loly pet shop mau merawat Momo selama aku di Jakarta.




Momo terus tumbuh makin gendut karena lahap makan, aku telaten bikin puding kepala ayam atau hati ayam buat makan Momo, karena Momo gak terlalu doyan dry food (duh, berasa sultan aja kamu Mo). Karena berat badannya sudah cukup (waktu baru direscue berat Momo cuma 600 gram), Momo pun akhirnya vaksin pertama, sesaat setelah vaksin, Momo kayak lemas tapi kemudian pulih lagi.

31 Desember 2021

Malam tahun baru, banyak suara kembang api. Kebetulan kakakku dan keluarganya juga sedang berkunjung ke rumah. Dua keponakanku suka bermain bareng Momo, tapi anehnya Momo mogok makan, dan lemas. Aku gak bisa bawa Momo ke klinik karena libur tahun baru. Baru besoknya aku bawa Momo ke vet di Cherry petshop, Momo disuntik dan diberi obat yang harus aku berikan pake pipet, setiap memberi obat rasanya seperti menyiksa Momo T.T

Karena gak kunjung kembali nafsu makannya, aku bawa Momo ke klinik biasanya, sambil menitipkannya untuk rawat inap karena aku harus mengantar keponakanku ke Denpasar. Dokter sempat bilang kalau kemungkinan Momo keracunan serangga yang ia makan, obat dari Cherry juga kayaknya kurang legit, gatau juga ya.

Akhirnya aku say goodbye ke Momo, berharap saat aku pulang nanti Momo sudah sehat dan lahap lagi makannya.


7 Januari 2021

Sehari setelah sampai di Bali, aku sempat ketemu Gugum di Renon, lalu ke Republic of Soap untuk bikin parfum custom- sesuatu yang dari dulu aku pengen. Pas pulang ke rumah kakak, aku cek hp, ternyata ada pesan WA yang membuat duniaku runtuh seketika.


Sedih, aku sempat menangis dan tidur siang cukup lama. Masih sulit rasanya buat grasp reality. Baru dua bulang Momo tinggal bareng aku, jadi temenku, kenapa harus pergi begitu cepat. Aku salah apa? sampai Momo sakit dan gamau makan dan akhirnya mati. Kenapa aku harus grieving terus-terusan.

Tiap lihat kucing lain kayak... kok kucing lain hidupnya lama, Momo enggak. Kalau lihat kucing besar yang bulunya mirip Momo, duh Momo kalau besar pasti mirip kayak gini, dan lain sebagainya.

Masih sulit menerima kenyataan nanti sore aku pulang tanpa ada Momo di rumah.

Sampai ketemu, Momo :'

Terima kasih pernah jadi teman baikku 



Thursday, January 6, 2022

Am I There Yet?

Tadi pagi ada seorang teman saya yang di tengah-tengah chat menanyakan "lo masih grieving?". Saya bingung harus menjawab apa. Kalau yang dimaksud adalah menangis tersedu-sedu setiap malam, syukurnya sudah tidak. Tapi saya masih selalu ingat Bapak, ketika menyemprotkan parfum yang biasa beliau pakai atau terlintas hal-hal yang... wah gue pengen obrolin ini sama Bapak- tapi sudah tidak bisa.

Saya menemukan ilustrasi menarik tentang grieving, bahkan sebelum Bapak saya meninggal, saya sering melihatnya di internet:





Saya mencoba untuk meyakininya, bahwa karena saya masih melanjutkan hidup, saya terus bertumbuh, menjadi lebih besar dari grief yang ada dalam diri ini- walaupun ia akan terus menjadi bagian dalam diri saya.

Oke deh, saya mau bahas buku lain yang saya baca tahun lalu- yang sedikit banyak turut menemani perjalanan bertumbuh saya.

- Am I There Yet? by Mari Andrew




Saya udah lama pengen baca buku ini karena follow Mari Andrew di instagram, konten-kontennya selalu sederhana tapi menarik. Buku pertama Mari, dengan ilustrasinya yang khas saya kira 'hanya' membahas perjalanan tentang anak muda mencapai impian, atau semacam itu. Ketika akhirnya saya mulai membaca di kindle, saya 'kaget' ternyata Mari juga menulis buku ini setelah kehilangan ayahnya (lagi-lagi timing yang pas).

Ada part yang exactly menggambarkan bagaimana perasaan saya setelah ditinggal Bapak:

“I once heard an interview with an artist whose father died at the height of his creative success. He was really close with his dad, and spent the next few years in a tense combination of obligatory gratitude and overwhelming sadness.

When asked to describe loss, this guy said that it was like having the casino cashier gone. He compared everything that happened to him—any happiness, any difficulty, any mundanity—to a poker chip, saying his father would validate those experiences like a cashier, making them worth something. His father turned every one of the man’s moments into something meaningful just by listening to his stories.
After his father died, the man said he was sitting among piles and piles of worthless poker chips. He was dwelling in loss, running his fingers through it. ”- Mari Andrew.

Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang proses Mari Andrew menjadi dewasa baik dari topik percintaan, karir, dan pemaknaan hidup secara general. Ia menuturkannya dengan manis, lengkap dengan ilustrasinya yang membuat kita tersenyum sambil bilang "relate banget bestie"




Sunday, January 2, 2022

Buku-Buku yang Menemani Saya Grieving

Tadinya tulisan ini mau saya jadikan part 3 kelanjutan dari 2 tulisan saya kemarin. Tapi kayaknya daftar buku-buku dalam list ini lebih dari yang bisa saya muat dalam post ini, haha. Jadi saya putuskan part ini adalah bagian tersendiri, yang mungkin nanti ada part 2 nya juga. Haha lieur.

Kuliah psikologi membuat saya mengenal istilah grieving, ini berbeda dengan mourning atau berduka, ya memang kadang-kadang saya merasa Bahasa Indonesia masih kekurangan kosakata. Kalau baca dari sini sih, mourning adalah ekspresi dari grief. Jadi grief tuh gak selalu 'kasat mata' seperti menangis atau marah.  Emosi manusia memang kompleks, tidak terkecuali grieving. Di sini saya gak akan bahas 5 tahap-nya Kubler-Ross yang terkenal itu, hehe. Karena percayalah saya juga gak tahu saya sedang ada di tahap mana.

Saya bersyukur punya support system yang baik selepas Bapak saya berpulang. Keluarga inti, teman-teman, kolega, semuanya mendukung saya dengan berbagai cara. Namun ada kalanya saya sendiri, berkontemplasi dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Beberapa cara saya lakukan agar tenggelam dalam perasaan sedih yang berlebih, salah satunya baca buku. Saya juga berada di lingkungan yang gemar membaca buku, tapi ada yang 'lucu', saya sering merasa orang-orang di sekitar saya meng-underestimate buku-buku yang berlabel self help. Mungkin karena sebagian besar teman saya juga memiliki latar belakang psikologi, sehingga menganggap buku semacam ini adalah pseudoscience dan terlalu pop. Duh apakah teman-teman saya terlalu fafifu wasweswos 😂

Namun, semakin dewasa saya semakin berani untuk 'bodo amat' dengan standar orang-orang. Toh, ini hidup saya, jika saya menikmati dan merasa terbantu dengan buku-buku 'receh' ini, gapapa dong, you do you, hidup aing kumaha aing, Lol

So, let's unapologetically reading self help books

Berikut buku-buku yang saya baca tahun 2021 dan saya suka kontennya, serta sedikit banyak membantu proses saya grieving.

- How to Stay Sane by Phillipa Perry




Hari itu Mama menelepon dan mengabari Bapak masuk rumah sakit tiba-tiba. Saya dan kedua kakak saya pun sepakat pulang ke rumah. Karena buru-buru, saya packing seadanya. Tahu perjalanan ke rumah dengan kereta api akan lumayan lama, saya sekenanya mengambil buku yang baru saya beli dengan niat menemani perjalanan saya pulang.

Ternyata saya menamatkan buku ini selama perjalanan itu, sudah lama saya tidak membaca satu buku sekali duduk. Seperti layaknya terbitan The School of Life yang lain, buku ini sangat 'ringan' untuk dibaca dengan bahasa yang mudah dipahami. Phillipa Perry- yang juga seorang psikoterapis menulis buku ini dengan praktikal, ada beberapa 'latihan' yang bisa kita coba untuk menjadi tetap waras- sebagaimana judulnya.

Ada empat bab dalam buku ini, salah satunya adalah Stress, lah gimana, mau waras kok malah disuruh stres.

"no stress at all means that the brain does not get any exercise. A brain is not unlike a muscle, in that the cliche 'use it or lose it' applies." -Phillipa Perry

Game apapun menjadi seru karena memiliki tingkat kesulitan tertentu, begitu pula hidup- akan makin exciting dengan kesulitan tantangannya, dan semoga kita terus semangat naik level. Dunia seperti tahu, saya menamatkan buku ini tepat 5 hari sebelum Bapak berpulang, seolah seperti menyiapkan saya menjalani 'level' baru.

- What I Know For Sure by Oprah Winfrey




Saya menghadiahi diri sendiri kindle ketika berulang tahun, karena sudah lama ngidam dan akhirnya tahun lalu ada budgetnya, salah satu benda duniawi yang saya kira dapat menjadi penawar kesedihan. Namun ternyata ada 'tugas' yang pasti harus saya selesaikan setelah beli kindle: beneran dipake buat baca buku 😂. Buku ini adalah buku pertama yang saya tamatkan di kindle.

Semua orang kayaknya tahu siapa Oprah Winfrey, beberapa mungkin tahu juga dia punya masa lalu yang kelam. Tidak mudah menjadi perempuan kulit hitam di ranah televisi AS saat itu. Buku ini memuat- seperti judulnya, hal-hal yang Oprah yakini selama ia hidup. Kalau lihat reviewnya di goodreads, ada yang kritik semacam "ya iya lah ngomong mah gampang, elu populer dan kaya raya". Mungkin ada benarnya, tapi saya sangat salut dengan approach Oprah di buku ini, alih-alih 'menyuruh' pembaca sukses sepertinya, dengan cara dia, Oprah seperti mempuk-puk punggung kita seraya bilang "gak papa kok kalau hidup kamu sekarang sulit".

Dari delapan bab yang ada, saya paling suka bab Resilience. Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Seperti saya, mungkin Anda juga perlu membaca kutipan Oprah di bab ini:

“I have always prided myself on my independence, my integrity, my support of others. But there’s a thin line between pride and ego. And I’ve learned that sometimes you have to step out of your ego to recognize the truth. So when life gets difficult, I’ve found that the best thing to do is ask myself a simple question: What is this here to teach me?” -Oprah Winfrey