Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

Thursday, April 13, 2023

Cita-cita Ibu

 Suatu hari aku pernah bertanya kepada Ibu, apa cita-citanya dulu

"Punya sumur" katanya, kemudian Ibu bercerita bagaimana dia dulu harus berjalan sekian puluh meter ke kali untuk ngangsu atau mengambil air di kali. Aktivitas mencuci pakaian pun dilakukan di kali, dan ini sangat melelahkan. Jadi memiliki sumur di rumah sendiri adalah kemewahan yang tak hingga buat Ibu di masa kecilnya. 

Bahkan tak terpikirkan pompa air dan keran yang bisa menyala setiap saat. Ibu sekarang sudah memiliki jauh melampaui apa yang ia imajinasikan berpuluh tahun lalu.

"Lalu apa lagi Bu?," tanyaku 

"Jendela kaca, dulu Ibu pernah melihat orang kaya sedang membersihkan jendela rumahnya sampai kinclong, kok sepertinya asyik sekali"

"Kok sekarang sudah punya jendela kaca, malah jarang dibersihkan?"

"Malas, hahaha"

Kemudian kami tertawa bersama. Aku coba gali lagi, tapi nampaknya mimpi-mimpi Ibu selanjutnya fokus kepada orang lain, suaminya, anak-anaknya, dan orang tuanya. Aku urung bertanya lebih jauh.

Senang rasanya mengetahui bahwa Ibu sudah bisa menggapai cita-citanya. Betapapun remeh di mataku. Sekaligus iri, andai saja cita-citaku sesederhana cita-cita Ibu.

Tuesday, March 8, 2022

Yang Belum Kita Rayakan Hari Ini

 Mumpung internasional women days belum berakhir. Gue pengen refleksi apa yg gue lakukan beberapa bulan terakhir. 


Setelah bokap berpulang, gue memutuskan untuk stay di rumah. Kemudian beberapa bulan kemudian ndilalah nenek gue sakit.


Sembari semua ini terjadi, kebetulan gue baca bukunya Katrine Marçal yang berjudul "Who Cook Adam Smith Dinner?". Mungkin dari judulnya, udah ada beberapa orang yang bisa nebak, isinya bahas tentang unpaid care work dalam ekonomi, dan beyond.


Gue melihat nyokap gue yang hampir seumur hidupnya menjadi caregiver, buat alm suaminya, anak-anaknya, dan juga orang tuanya. Dalam hati, gue mikir, kayaknya gue gak akan bisa kayak gitu.


Kemudian gue menggali lebih jauh, kenapa gue bisa sampai kepada pemikiran itu. Bener apa kata Marçal, caregiving hampir gak pernah 'diperhitungkan' di dunia- literally diperhitungkan di GDP dan dalam kehidupan sosial.


Caregiving gak bisa dipamerin di CV dan LinkedIn. Ketika cerita-ceritanya mengemuka  pun, sangat potensial untuk hanya dianggap sebagai gerutuan belaka.


Di IWD, hari Kartini, atau hari-hari lain yang merayakan kehebatan perempuan. Biasanya yang ditonjolkan adalah kiprah mereka di luar rumah (wow apakah gue menjadi tradisionalis, wkwk). Bagaimana jika kemudian gue bilang kalau, peran yang dirayakan adalah peran dalam... industri?.


Itu sangat bagus dan gue tidak sedikitpun menentang. Sudah lama perempuan menerima peran caregiving as it is. Sehingga ketika tiba masa kita bisa memiliki peran-peran lain di luar itu dan sangat berhasil, tentu memang patut dirayakan.


Yang sedih adalah ketika kemudian kita mendiskreditkan peran-peran lain yang tidak dirayakan. Sedih juga ya wak ketika apa yang dianggap keren hanyalah apa yang berkontribusi pada GDP. hahaha


Kemudian akan ada sedikit slogan, jadi ibu rumah tangga JUGA keren kok. Padahal yang caregiving juga bukan cuma ibu rumah tangga.


Lalu siapakah yang take care of each other? Apakah akhirnya semua peran caregiving akhirnya akan dikomodifikasi? ngurus anak= masukin di day care, orang tua sudah jompo= masuk assisted care. Ngurus suami juga nanti akan ada suami care? Haha. Apakah solusi unpaid care work adalah dengan menjadikannya paid? Hehe


Sekali lagi tulisan ini tidak dibuat dengan intensi menyalakan pihak. Alih-alih, ini adalah refleksi bahwa ternyata perspektif kita secara kolektif (atau mungkin gue aja, tapi saya yakin bukan cuma gue aja) lol. Bahwa belum lama kita hidup di masyarakat industri, tapi self concept kita sangat terpatri dengan berbagai kerangkanya. Kerangka yang menjadi kerangkeng.


Dengan demikian, mari kita rayakan dengan mengapresiasi peran-peran yang tidak dirayakan oleh ekonomi. Yang dilakukan oleh ibu, bapak, nenek, kakek, kakak, adik, tetangga, ayang atau diri kita sendiri


Take care


Hati-hati di jalan 😌

Sunday, May 12, 2019

Ibu Sumarsih

Hari Ibu Internasional jatuh pada hari ini. Dunia tidak akan kehabisan cerita tentang cinta kasih, perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu.

Maka ijinkan saya menceritakan kisah tentang cinta Ibu yang satu ini. Kalau teman-teman berkunjung ke Taman Aspirasi Monas- tepat di seberang Istana Negara, ada seorang ibu yang hadir setiap Kamis di sana. Seorang Ibu yang kian hari rambutnya kian memutih menunjukkan makin senja usianya.
Namanya Bu Sumarsih, putranya, Wawan wafat pada tragedi Semanggi I 21 tahun yang lalu. Bu Sumarsih dan Suciwati, istri Alm. Munir menginisiasi Aksi Kamisan, menuntut Presiden menyelesaikan pelbagai kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Sudah lebih dari 580 hari kamis berlalu, belum ada jawaban yang mantap dari Pemerintah.

Kita bisa bicara HAM dan keadilan, tapi bagi saya Bu Sumarsih adalah bentuk nyata kasih ibu yang sepanjang jalan. Tidak habis dimakan tahun, tidak surut tanpa takut.

Semoga, perjuangan Bu Sumarsih segera menemui jawabannya.

#MenolakLupa

Sunday, July 8, 2012

DOA IBU



Hihihi, mungkin judul di atas kayak tulisan- tulisan yang ada di belakang truk pantura, atau tatto preman pasar. Tapi kali ini saya gak akan membahas itu, yaiyalah ngapain juga, hahaha.

Ceritanya, mama saya itu suka banget berdoa, tapi caranya menurut saya agak ‘lain’. Yes, she is muslim like I am, tapi beliau suka melakukan apa yang disebutnya ‘amalan’ misalnya membaca surat tertentu sekian kali untuk tujuan tertentu, atau puasa di hari tertentu untuk tujuan yang lain. Yang jelas sih tujuannya baik.

Terus karena penasaran saya iseng2 nanya
“mah, emang ngelakuin gitu ngepek (baca : memberi efek signifikan) ?”
Lalu dengan dramatis mamah menarik nafas panjang dan menjawab
“yaaa, emm, ya ini udah kejadian yaa, gapapa lah ya diomongin”
“kenapa maah kenapa ?”
*makin kepo dan penasaran*
“waktu dulu kamu snmptn, mama juga berdoa dengan cara ini, soalnya mama khawatir banget yang liat kamu belajar asal- asalan gak jelas, ya waktu itu sih dapet pilihan kedua juga gak masalah, tapi Alhamdulillah yaa (tidak dengan logat syahrini) kamu tembus UI nya”
*tercengang*
“wah, berarti aku ketrima bukan gara- gara aku dong yaa”
“hussss, ya gak gitu, doa kan Cuma buat memperlancar jalan, ndilalah nya”
Mulai sekarang saya menghargai deh, setiap cara orang berdoa, toh katanya bahasa Tuhan itu kan universal. Dan saya menyadari bahwa segala pencapaian yang saya terima sampai saat ini (uhukk) bukan semata hasil usaha saya, tapi juga berkat doa- doa orang yang menyayangi saya :*


Huhu, I Love You Mooma