Tuesday, June 30, 2015

Binar's Picks

Sebenernya tiap mau nulis di blog pasti selalu ragu. Apakah tulisan gue akan bermanfaat ? Apakah tulisan gue akan bermutu? Dan biasanya keraguan ini akan berujung gajadi nulis. Mungkin social pressure juga karena teman- teman saya blognya keren keren. Lah we? Lolz
Okedeh kali ini saya mau nulis hal yang rada 'gak penting' yaituuu: rekomendasi produk- produk kosmetik yang saya pakai. Hahaha walaupun saya bukan Michelle Phan, semoga list ini berguna. Enjoy!
1. Vaseline Petroleum Jelly
Dalam rangka survival udara dingin Cairo kala itu saya mencoba hampir semua produk pelembab di drugstore. Vaseline ini memang terkenal banget dan katanya banyak banget manfaatnya. Sebelumnya belum pernah coba, akhirnya setelah coba memang multifungsi banget.
Pertama sih bisa buat lipbalm yang jelas, untuk kondisi bibir yang chapped dan kering parah banget. Ini resep saya: apply some vaseline petroleum jelly on your lips then kiss some sugar, yes, lol after 5 minutes scrub your lips ta da your lips now is smoother than ever.
Kedua untuk menghilangkan bekas luka. Pas luka udah mau sembuh apply dikit aja. Inget ya pas udah sembuh jangan pas masih basah lukanya, haha. Koreng si luka pun bakal cepet hilang dan lembut, hihi
Ketiga menebalkan alis dan bulu mata, udah dicobain sih tiap mau tidur, gatau ngefek atau gak, haha
Pokoknya jago banget lah soal lembab melembabkan di seluruh bagian tubuh. Hahaha recommended sis
2. Nivea Creme
Sama kayak vaseline, produk nivea yang ini juga kayanya 'klasik' banget. Terus pernah baca review nya konon krim ini setara sama creme de la mer yang jutaan itu. Ebucet kan haha. Yaudah daripada nganggur gue pake sebagai krim malam karena teksturnya yang terlalu berminyak jadi kayaknya gak mungkin dipakai siang hari. Ya khas produk drugstore 'barat' ya produk ini gak mungkin memutihkan, tapi fresh smooth and safe yak daripada krim gajelas yang bikin muka merah merah. Haha
3. L'occitane lip balm
Harga lip balm ini memang terlalu mahal buat saya. Ini pun dapetnya dari temen, haha. Penerbangan Garuda katanya juga dapet toiletries l'occitane ini dan termasuk lipbalm, haha.
Kelebihan produk lipbalm ini adalah kalo dipake enak, buttery dan gak terlalu berminyak kayak abis makan gorengan, hehe. So I love it
4. Hada Labo Whitening Lotion
Udah tau kan peraturan dasar membersihkan muka, cleansing - washing - tonering, haha yha kurang lebih begitu lha. Nah Hada Labo Lotion ini sering saya gunakan sebagai toner. Haha gak istimewa istimewa banget sih tapi baunya enak (karena gak ada baunya) haha, tapi cocok cocokkan banget soalnya temenku ada yang pake Hada Labo malah jerawatan
5. Herborist Body Butter Mango
Umumnya tekstur body butter emang kayak butter beneran ya, jadi susah dipake setiap hari. Dan saya juga jarang cocok sama body lotion atau butter. Sejauh ini cuma cocok beberapa merk, ehe. Nah herborist mango ini emezing banget wanginya enak (mirip body shop yang mango) gak terlalu berminyak juga cepet kering jadi bisa dipake siang hari, murah pula! Juara! Cinta produk Indonesia!
Sekian dulu ya guys, ini edisi pelembab dulu, edisi lainnya menyusul, wkwk. Jangan lupa minum air putih, keep your skin hydrated :*

Saturday, March 14, 2015

Feminis Bingung

Kalau ada satu mata kuliah yang saya ingat sampai sekarang dan bisa dikatakan mengubah hidup saya, itulah Paradigma Feminis, mata kuliah lintas fakultas yang 'cuma' 2 sks namun sebegitu signifikan dalam hidup saya. Kenapa? feminisme memberikan saya perspektif baru tentang kehidupan, tentang dunia, mengajak saya melihat dunia ini dari sudut pandang baru. Tugas Akhir mata kuliah tersebut yang saya post di blog ini pun kemudian diakses teman- teman saya yang mengambil mata kuliah tersebut di semester selanjutnya, haha.

Sebegitu signifikan hingga kemudian saya menaruh minat yang besar dalam topik- topik tentang perempuan. Membicarakan tentang ini dengan beberapa teman- teman saya, membaca Jurnal Perempuan dan buku- buku para pemikir feminis,hingga menjadi social climber di acara yang diadakan media tersebut. Hingga akhirnya saya memilih untuk magang di Yayasan Pulih yang fokus pada pemulihan penyintas kekerasan terhadap perempuan. Bahkan, saya jauh jauh ke benua Afrika untuk magang lagi Egyptian Feminist Union.

Kadang saya merenung dan juga bingung, kenapa saya sebegitu tergerak untuk menekuni bidang ini, walau saya sering mengaku "ah saya tertarik ke banyak hal kok". Melihat latar belakang, saya juga cukup beruntung sebagai perempuan. Saya anak perempuan satu- satunya, paling muda lagi, namun orangtua saya, terutama ayah saya mendukung saya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Ya, pendidikan, adalah hal yang kemudian saya yakini bisa membebaskan seorang manusia sebenar- benarnya. Bayangkan berapa kemungkinan yang muncul ketika seorang manusia yang tadinya buta huruf jadi bisa membaca, berapa banyak lagi kemungkinan ketika seorang bisa menguasai bahasa Inggris misalnya. Pendidikan sesungguhnya menyadarkan saya bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang tidak terbatas. Kata Ayah saya, kurang lebih begini "kita bukan apa- apa, bapak cuma buruh, dan yang nantinya bisa meningkatkan derajat kalian cuma pendidikan, cuma itu yang bisa bapak wariskan"

Saya juga beruntung, saya adalah warga negara Indonesia. Tidak berlebihan, saya harus mengakui bahwa negara ini cukup 'ramah' pada perempuan. Tentu saja masih terdapat kekurangan di mana mana, namun ketika saya memiliki kesempatan untuk melongok beberapa data tentang kekerasan terhadap perempuan di region MENA (Middle East and North Africa) keadannya jauh, jauh lebih parah daripada di negara ini. Praktek genital mutilation masih umum dilakukan, banyak perempuan tidak memiliki hak dalam politik, dan masih banyak dari para orangtua tidak mau menyekolahkan anak- anak perempuannya. Tahu kan, bahwa negara adidaya seperti Amerika Serikat pun baru memberikan hak pilih pada warga negaranya yang berjenis kelamin perempuan pada amandemen konstitusi yang ke 17.

Keberuntungan selanjutnya yang harus saya akui adalah karena saya beragama Islam. Tunggu dulu, anda pasti sering mendengar bahwa Islam berpaham opresif terhadap perempuan. Ada hal lucu yang ingin saya ceritakan, hal ini ketika kakak saya membuka Adobe reader di ponsel saya dan menemukan buku- buku tentang feminisme. Ia bertanya
"jadi feminis kamu sekarang?"
"masih belajar"
"hati- hati lho"
Hal ini menggelitik saya, bahkan kakak saya yang paling dekat dengan saya sekaligus sangat terbuka pemikirannya menyampaikan hal itu, hati hati kamu akan jadi feminis!. Belakangan saya berkesimpulan, kita terlalu terkekang dengan segala stereotip yang ada pada label- label tertentu, dan memang kecenderungan manusia mungkin untuk melabeli segala hal untuk mempermudah proses kognitifnya. Label 'feminis' yang dipahami kakak saya kala itu mungkin sama dengan label 'Islam' yang dipahami kebanyakan warga Eropa atau AS atau label 'seniman' yang dipahami kebanyakan orang di Indonesia. Hal ini saya jadikan penjelasan kepadanya karena notabene ia adalah seniman, tentu penghayatan seorang seniman tentang seniman begitu mendalam dibandingkan prasangka orang kebanyakan tentangnya. Kita cenderung membenci hal- hal yang tidak (belum) bisa kita pahami.

Oke, mengapa saya bilang saya beruntung sebagai perempuan- Islam. Salah satu contoh mudanya adalah, cara kami berpakaian. Ya, jilbab yang lagi- lagi mungkin banyak dianggap sebagai simbol opresi terhadap perempuan. Jadi begini, kita sudah mahfum bahwa banyak perempuan di dunia kini menjadi 'budak' kapitalisme industri kecantikan. Dari mulai fashion, kosmetik, operasi plastik, dan sebagainya. Perempuan yang sibuk mengurusi tubuh dan kecantikkannya sampai sampai lupa bahwa masih banyak hal lain di dunia ini. Lupa untuk belajar, lupa untuk mengupgrade kemampuan diri, lupa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya. Penghayatan saya adalah, sesungguhnya Islam melindungi perempuan dari hal ini. Tata cara berpakaian muslimah mengedepankan kesederhanaan, jadi idealnya perempuan tidak lagi dipandang dari rupa atau bentuk tubuhnya, tapi dinilai dari pemikirannya, perilakunya terhadap orang lain. Dengan demikian, kualitas diri yang intangible seharusnya lebih nampak dari penampilan tubuh yang fana. Kalau begitu, mengapa sekarang tren hijaber malah marak di kalangan muslimah. Bukan kapasitas saya untuk menilai, tapi semoga kita semua adalah orang- orang yang berproses menjadi baik. Suatu ketika saya ditanyai oleh teman saya yang orang Eropa dan atheis
"mengapa kamu berjilbab?"
"karena agama saya memerintahkan demikian"
"apakah kamu merasa terpaksa memakainya?"
"I'd rather be slave of my Allah, than slave of fashion industry"
Dia pun tersenyum dan mengangguk- angguk.

Tapi, pengetahuan saya tentang Islam masih cetek banget sih dan saya yakin semua pengalaman spiritual sifatnya sangat subjektif. Jika anda berpendapat lain, mohon tinggalkan komentar :)
Hingga akhirnya saya berpikir, sampai kapan saya akan 'ngulik' topik ini. Apakah saya akan istiqomah dengan perjuangan ini. Cielah perjuangan, padahal saya belum melakukan apa- apa. Saya juga kadang sangsi, apakah hal ini benar atau jalan ini akhirnya membuat saya tersesat. Yang jelas, jauh pada diri saya sesungguhnya hal ini membuat saya memiliki semangat baru dalam hidup. Walaupun mungkin terdengar berlebihan. I had to be powerful to empower others.

Saya pun sering terharu ketika banyak laki- laki, minimal di sekitar saya yang mendukung tentang 'gerakan' feminisme. Walaupun masih banyak juga yang skeptis. Seperti, "mengapa ada hari perempuan internasional, tapi tidak ada hari laki- laki internasional". Begini teman- teman, mungkin banyak kelakuan para pejuang hak perempuan yang akhirnya disalah artikan dan akhirnya membentuk stigma negatif. Tapi kita tidak boleh menutup mata, bahwa diskriminasi perempuan masih terjadi di mana mana. Memang bukan hanya perempuan satu satunya 'kaum' yang mengalami hal ini di dunia. Perjuangan para LGBT misalnya, atau ras- ras tertentu yang didiskriminasi. Kurang lebih sama semangat yang mendasarinya. Walaupun sejauh ini saya masih yakin kesetaraan yang mutlak mustahil untuk terjadi.

Jadi, gimana?

Saturday, January 24, 2015

Homemade Beauty (1)

Dulu pas masih tinggal di rumah Cilacap, gue sering acak acak isi dapur, bukan buat masak dan dimakan melainkan buat ‘diaur aurin’ ke muka dan badan. Haha, iya kalian pernah ada yang suka baca majalah Kartini gak, kalo gak salah di situ ada rubrik Aduhai yang isinya bahas tips tips rumahan, termasuk tips ‘kecantikan’ hihihi. Nah dari situlah gue hobi coba2 isi dapur buat perawatan muka dan tubuh. Bahkan dulu sempet pingin buat blog khusus untuk itu dengan judul ‘Homemade Beauty’ tapi ya akhirnya biasa, mager, hadu.
Nah tahun berganti tahun, sekarang masih suka juga bacain beauty blognya kak alodita dan mrsdelonika *sok kenal*. Dan karena sekarang juga sedang tinggal di rumah (rumah= lengkap dengan kulkas, dapur dan kamar mandi pribadi) saya bisa menyalurkan hobi lama. Terutama karena kemarin kulit sempat bereaksi terhadap udara dingin iklim gurun saat winter jadi keriiing. Padahal dari Indonesia bawanya skincare untuk kulit berminyak semua (karena normalnya kulit gue begitu) jadilah googling tips tips rumahan buat kulit kering. Nah disini gue akan coba merangkum beberapa benda dari dapur yang bisa dipakai untuk skincare, hehe, enjoy!
1.       Minyak Zaitun
Kayaknya gue bahkan pernah nulis ttg zaitun ini ya. Emang cairan satu ini super sekalih deh, wattini wazaitun ! *apadeh*. Minyak zaitun bisa dipake untuk seluruh badan dan muka. Caranya gampang, tinggal usapkan minyak zaitun ke seluruh badan sebelum tidur. Pas bangun pagi jangan lupa mandi ya, hehe. It helps banget deh saat kulit lagi kering. Oia kulit kita kan selalu regenerasi yah, nah walaupun gak keringetan atau kena debu harus wajib dibersihin tuh, nah minyak zaitun bisa mempermudah proses pembersihan ini, bisa dibantu dengan scrub juga.
Minyak zaitun juga bisa dicampur dengan brown sugar sebagai scrub. Oia, kakak iparku pas hamil juga pake minyak zaitun untuk menghindari strechmarks. Bisa pake minyak zaitun untuk pijat atau untuk masak yang gampang dibeli dimana saja. Untuk pemakaian di wajah, jangan lupa bersihin dulu wajahnya yaa.
2.       Yoghurt
Ini iseng banget nyobain karena harga yoghurt di Mesir murah, haha. Waktu itu nyobain buat masker di muka dan karena sisa aku pakein di kaki, hahaha. Pake yoghurt yang plain yaa. Memang kurang ngefek untuk kulit kering tapi abis maskeran ini jadinya seger gituu, haha (mungkin lebih cocok untuk kulit berminyak?)
3.       Madu
Campur madu dengan brown sugar atau gula pasir biasa untuk exfoliating wajah dan bibir. Kalau kemakan gapapa kan maniss, hehe. Ini juga membantu banget. Bibir yang pecah pecah dan kulit wajah yang kering mengelupas gitu, huhu iya kemarin kulit gue separah itu. Lebih oke pake air hangat ya ngebilasnya, hehe.
4.       Brown Sugar
Nah ini dia *berasa pos kota* bumbu yang bisa dicampur dengan apapun untuk menjadi homemade scrub, hihi. Bedanya sama gula pasir biasa apa? Warna dan teksturnya yang lebih kasar, selain itu gatau haha. Belinya dimana? Gak beli! Biasanya ngambil kalo pas ngopi di sbucks atau kafe lain buat persediaan, hehe.


Silakan mencoba, semoga bermanfaat. Efeknya mungkin beda ke masing- masing kulit orang ya. Kalau aku sih lebih seneng ngubek ‘bumbu dapur’ untuk skincare daripada nyobain krim krim gajelas, hihihi. kisskiss

Wednesday, January 21, 2015

Berpikir dengan Berani dan Hati- Hati


Tulisan ini merupakan after affect kompre (ujian komprehensif) mata kuliah Pelatihan II. Tugas akhir mata kuliah ini adalah membuat rancangan pelatihan dan kemudian diuji secara lisan. Unfortunately, kelompok saya memang kurang siap, mendapat giliran ujian awal, dan penguji kami adalah dosen senior yang merupakan pakar di bidang pelatihan J (not to mention her J).
Insight dari kompre tadi adalah sangat mendalam. Seperti judul artikel ini, kita harus berpikir dengan hati- hati, apalagi dalam konteks sebagai akademisi. Setiap frasa dan kalimat harus dapat divalidasi, siapa yang mengucapkan, kapan, tercantum di mana, dan seterusnya. Bagaimana kaitan antar argumen dan sebagainya dan seterusnya. Pusing ya?
Iya, tapi kemudian saya mikir, kalau kita, kaum akademisi nan tercerahkan dan budiman  yang sudah tahu kalau berpikir itu harus sistematis, logis dan rasional (halah) malah mager dan menyerah. Nanti bisa bisa dikalahkan oleh para kaum modal screenshot itu (wkwk, mungkin Cuma saya yang mengerti). Apalagi lahan kami, psikologi, yang sangat rawan untuk diambil alih common sense.
Sedih memang kalau alur berpikir kita yang pemula ini dikomentari pedas pedas oleh dosen. Tapi lebih sedih lagi jika kemudian apa yang ‘benar’ dan akademis hanya dapat dinikmati sebagian kecil kalangan. Sedangkan khalayak malah menikmati wacana wacana yang tak jelas sumbernya.

Mungkin benar apa kata pak menteri pendidikan, mendidik adalah kewajiban setiap terdidik. Jika ada memiliki ilmu, bagilah kepada sekitar, maka ilmu itu akan bertambah *walah so bijak banget* Semoga teman saya yang pintar- pintar kelak tidak membangun pagar dengan dunia luar. Semoga semua yang berilmu bisa membagi ilmunya dengan siapa saja.
semoga kita semua sadar bahwa berpikir itu memang tidak mudah, maka kita harus berani dan hati- hati

Wednesday, December 24, 2014

Salon Muslimah

Beberapa waktu yang lalu saya –untuk pertama kalinya pergi ke salon muslimah *sebenernya mau nulis right after nyalon di sana, tapi ya dasar mager. Karena pengen potong rambut, dan bersantai saya akhirnya memutuskan untuk mencoba salon langganannya Mala. Salon macem Johny Andrean menurut saya terlalu mahal dan layanannya sangat minimal, sedangkan salon murah yang ada di Plaza Depok tempatnya terlalu terbuka kayak akuarium.
‘muslimah’ memang telah menjadi segmentasi pasar yang baru dan ‘empuk’ di kancah perekonomian Indonesia *walahsotoy. Bahkan majalah SWA pernah menerbitkan satu edisi bertajuk “Merayakan Kelas Menengah Muslim Indonesia”. Bayangkan, satu dekade terakhir atau lima tahun terakhir saja berapa banyak produk, fashion muslimah, kosmetik halal, makanan halal, perbankan syariah, hingga jasa- jasa training dan ‘self help’ islami, dan masih banyak lagi hihihi. Tentunya kita (muslim/ah) harus berkaca, bahwa muslim yang produktif jauh lebih baik daripada muslim yang konsumtif *eak (ini quote dari gue asli)
Oke, kembali pada pengalaman pertama saya mencicipi salon muslimah ini. Salon ini memang dirancang dengan sangat syar’i. Yang paling utama, tidak ada laki- laki yang boleh masuk ke salon ini, tidak ada karyawan laki- laki, dan tempatnya tertutup. Pokonya isinya cewe semuah. Yang paling unik, ketika mbak mbak (yang ternyata lebih muda dari saya, err) hendak memijat kepala saya, dia bilang “baca bismillah dulu ya mbak” hihihi, masyaAllah. Pelayanannya rekomindid lah 3,5 out of 5. Oia, ini salon namanya salon Tewink #bukanendorse
Terakhir, saya juga tertarik mengungkapkan, kenapa sih perempuan selalu tertarik untuk jadi ‘cantik’. Why oh why, cantik itu apa sih blablabla. Alkisah, ketika saya masih SD, kelas 5 mungkin, saya membaca iklan suatu produk di tabloid Nova langganan mama saya. Iklan itu mengungkap definisi cantik dari berbagai tokoh. Tidak ada yang saya ingat. Tapi saya saat itu berkhayal, apa yang akan saya ungkapkan jika definisi versi saya yang tampil di iklan itu... hmm.
Lama, saya memikirkannya cukup serius. Hingga saya sampai pada definisi kurang lebih seperti ini “beauty is happiness, for yourself and others” ya, hal itu termaktub dalam benak saya dan masih saya ‘pegang’ hingga saat ini. Maksudnya begini, cantik adalah bahagia: anda akan cantik hanya jika anda senang dengan diri anda, anda senang jika alis anda rapi, anda senang mengenakan baju warna orange, dan lain- lain. Memang ini mungkin agak berlawanan dengan konsep ‘beauty is pain’. Tapiii, beberapa hal memang membutuhkan pengorbanan kan? *wink-wink*. Dan bukan hanya untuk anda sendiri, tapi juga orang lain, orang di sekitar anda tentu lebih suka jika anda beraroma segar dibanding aroma asem, orang di sekitar anda lebih suka jika anda banyak tersenyum, orang di sekitar anda lebih nyaman jika pakaian anda rapi daripada compang- camping.

Gila ya, setengah umur saya yang lalu saya sudah memikirkan kecantikan sebagai aktualisi diri, self esteem, dan juga kontruksi sosial, halah :D Hingga akhirnya kita yang menentukan, mana yang akan lebih kita ‘bahagiakan’ ? diri sendiri atau orang lain? J tentu akhirnya keputusan ada di tangan anda? At the end, don’t forget to be happy and radiant your happiness J

Tuesday, November 25, 2014

Keping


Jujur sesungguhnya kunjunganku ke acara maha akbar pasar seni itb malah menyisakan banyak kesedihan.
Diawali dari ketinggalan kereta hingga harus muter muter nyasar dago dan menyusahkan keluarga pede yang kami tumpangi pulang :(

Merasa bersalah sama Puput. Merasa bersalah karena seharusnya bisa bangun lebih pagi. Merasa bersalah karena seharusnya punya kemampuan spasial yang lebih baik.

Kesal dengan hujan hari itu dan manusia yang sungguh penuh sesak, yang membuatku tidak bertemu Bandu dan tidak sempat melihat karyanya yang keburu rusak karena hujan.

Pikiranku pun terokupasi emosi negatif. Di perjalanan pulang, aku pun seperti ingat kepingan yang tidak akan kutemukan kembali.

Aku kangen Bandu. Mas Bandu. Sedih sekali rasanya aku ke Bandung hari itu dan hanya beberapa jam bertemu dengannya.

Aku sangat sayang kedua kakak laki lakiku. Ketika banyak temanku yang perempuan bilang mereka ingin punya kakak laki laki. Aku selalu berkata maupun menggumam dalam hati, aku punya dong! Mereka sangat keren! Dan hey, aku punya dua!

Di perjalanan pulang, ketika aku melihat Pede dan adiknya, tiba tiba aku kangen mas Bandu. Mas Bandu yang dulu mengajariku sholat dan puasa. Mas Bandu yang membawakanku brem yang didapatkannya dari abang abang lotre di sekolah. Yang selalu mengajakku bermain, bersama teman temannya. Aku hampir kenal semua teman Bandu, dari dia TK hingga kuliah di FSRD ITB. Yang mengajakku diskusi apapun hingga larut malam. Yang selalu mendukung gagasan gagasan anehku. Yang nampaknya tau segalanya.

Iya, kami sekarang jadi makin jarang bertemu. Setelah ia bekerja, menjadi seniman freelance nampaknya sangat sibuk. Kadang dia pulang, aku tidak. Seringnya aku pulang, dia tidak.

Jika ada dua orang paling signifikan dalam hidupku, mungkin ya Bondan dan Bandu. Dua kakakku yang keren itu. Bondan anak UGM, Bandu anak ITB. Dan hey, aku mungkin bisa jadi anak UI karena termotivasi oleh mereka. Ingin rasanya mengulang saat kami bertiga main kapal kapalan di kasur bapak yang luas.
Mereka berdua yang sangat berbeda. Bagai dua kutub. Bondan pendiam, penyuka sejarah dan geografi, konservatif, sangat gila bola berbanding terbalik dengan Bandu yang cerewet, seniman yang pandai matematika dan fisika, antimainstream, dan tidak bisa main gitar tidak suka bola. Kalau mungkin ada yang heran kenapa aku suka sekali dengan hal hal trivial. Kata mama, itu agar aku bisa 'mengimbangi' mereka saat ngobrol. Aku harus tau sistem politik di Kuba dan Rusia sekaligus karya karya Andy Warhol dan Rembrandt. Pula, kami biasa berkelakar satir tentang depresi 1929. Supaya tetep bisa ngobrol sama mereka, sesimpel itu.

Kini keluargaku menjadi keping- keping. Depok, Bandung, Cilacap, dan Denpasar.

Kangen kepada Bandu pun menjalar menjadi kangen pada Bondan, mama, bapak, mbah uti dan mbah kakung. Ah betapa rindu aku dengan rumahku yang dulu ramai dan selalu banyak makanan karena memang ada banyak orang. Sekarang rumah besar itu selalu sepi, cukup besar untuk membuat seluruh penghuninya beraktivitas tanpa bertemu muka.

Aku tidak ingat persis. Tapi nampaknya aku selalu ditinggalkan. Pertama, bapak yang sangat workaholic, Bondan yang kuliah ke Jogja, Bandu ke Bandung, dan mbah kakung yang meninggal sebelum aku lulus SMP. Aku pun bosan di rumah dengan mama dan mbah uti. Aku pun seperti ingin balas dendam. Suatu hari aku ingin meninggalkan rumah ini dan melihat dunia.

Sekarang, sebanyak apapun teman yang kumiliki di Depok, sebanyak apapun hal yang sudah aku rasakan. Aku rindu nyanyian bapak di malam hari, rindu makanan lezat mbah uti, rindu saat minum teh sore tiba, rindu diskusi dengan bapak, mas bandu, mas bondan tentang pemerintah, dunia, Tuhan, leluhur kita, dan apapun itu, rindu mama dan ayam ayamnya, dan mainan- mainan serta cerita buatan mbah kakung.

Keluargaku, rumahku, mungkin bukan tipe keluarga cemara atau mereka yang biasanya ditampilkan di iklan asuransi atau bank. Keluargaku unik. God tailored them for me. They are shapes us. Ingin rasanya menceritakan mereka satu persatu.

Saat ini ketika tekanan menjadi mahasiswa tingkat akhir melanda. Di saat aku rasanya tidak cukup resilien. Ini mungkin yang namanya homesick, belum pernah separah ini. Aku ingin kembali pada kepinganku. Atau mungkin aku harus menjadi kepingan yang utuh sendiri :')

Kukusan, 25 November 2014

Friday, August 29, 2014

Working Mother's Dilemma

No no,

I am not working yet, and not even be a mother (yeiyalah, sang calon aja masih disimpan baik- baik oleh Nya *curhat*)

Tapi beberapa kejadian dalam hidup saya belakangan ini membuat saya mulai memikirkan hal- hal beginian. Pertama, akhirnya saya punya keponakan *yeay. Dan kakak ipar saya adalah seorang ibu pekerja, praktis ia pun sempat bingung bagaimana merawat anaknya ini. Setelah curhat sana sini kemungkinan untuk menitipkan di daycare kelak akan diambil setelah usai masa cuti melahirkannya. Kedua, atasan saya di tempat magang (saya magang dimana, ntar diceritain yak, hehe) juga baru saja memiliki baby, uwuwu, kemudian saya amati profesinya (sebagai psikolog dan trainer) lebih 'ramah' terhadap anak gitu, ia kerap membawa bayinya ke tempat kerja, tentu berbeda dengan profesi kakak ipar saya yang ngantor di salah satu bumn itu, hihu.

trus... kebayang gak sih punya anak ituh ribeeet? huh hah. Di sebuah perjalanan saya di atas KRL Cikini- UI saya berpikir "apa ntar jadi full time mom aja ya, hihihi" *sambil cekikikan unyu* tiba tiba alter ego saya yang lain bicara "lantas, apa kontribusimu bagi negeri ini?" woehlan Bin!. Pasti kepikiran jawab: anak yang kamu rawat dengan baik itu nanti yang akan berkontribusi untuk negeri ini, woehlah. Hu huw, maksudnya sebagai individu gitu, *aduh semoga saya dapat dimengerti*. Iya kan, mungkin bagi kalangan tercerahkan seperti kami ini *cieh, bekerja bukan hanya semata mencari nafkah, tapi sebagai sarana aktualisasi diri dan menjadi bermanfaat bagi sesama. Bukan tidak mungkin sih memang ada seorang perempuan (atau laki- laki) yang sangat passionate dalam menjadi orang tua dan mengurus anak. Tapi banyak juga yang lain kan, hehe

Yah pokoknya gitu, sedikit lega akhirnya bisa menumpahkan curhatan saya di sini, walaupun gak jelas. haha

kalo kata temen saya sih, "yaudahlah, nanti pas tiba masanya juga siap sendiri" eeerrr gitu ya? okedeh :<