Monday, April 6, 2020

5 Cara untuk Memenangkan Hatiku

apa banget deh Binn judulnyaaa

sebenernya di karena ditag challenge sama Kak Dea di instagram namun aku malu kalau ngepost nya di instagram, tapi pengen #lah. Oke langsung aja yak

1. Diskusi tentang apapun sambil makan

Aku suka deep talk gitu kak, hahaha kenanganku soal deep talk ini inget banget makan di angkringan (itu pertama kalinya aku makan di angkringan, idih sok princess) sampe malem, sampe literally suara aku serak. Sayang teman ngobrolku itu sekarang sudah menikah dengan wanita lain, huahaha. But I'll cherish every moment #akurapopo.

2. Ditemenin nonton film serem

Aku suka nonton film serem tapi terlalu penakuttt. Jadi butuh temen untuk nontonnya, dan film horror itu akan makin nampol kalau nontonnya di bioskop, jadi butuh temen buat jerit2 atau kaget2 biar ga malu2in. Hahaha, dan biar ga takut2 amat. Nghhh dasar plin plan

3. Dikirimi surat/kartu pos

Dari beberapa tahun lalu aku ikutan exchange postcard lewat postcrossing.com seneng banget rasanya kalau nerima postcard dari stranger, dari stranger aja seneng kan apalagi dari orang yang kita kenal. Berasa personalnya dan bisa disimpen itu sebagai kenang-kenangan.

4. Dibantuin, apapun.

Sebagai orang yang self-claimed independent dan bisa ngapa-ngapain sendiri, akutuh sesungguhnya love language nya act of service (selain quality time) guyss. Jadi kalau ada orang yang mau bantuin aku, tuh kayak kemewahan, because I can do it for myself, but it's nice if you want to do it for me. Hahaha. Ohiya! gue juga suka banget kalau dikasih kesempatan untuk bantuin kalian, asal jangan ngelunjak ye.

5. Dikasih masukan

But this come with a big warning: it's trickyyyy, karena sesungguhnya akutuh baperan kalau dikomentarin apapun. Haha, tapi kalau 'tepat sasaran' pasti akan sangat gue inget dan gue sangat menghargainya. Sejujurnya gue juga suka orang yang jujur alias radical candor (ashiaap), jadi ya, just talk to me, okeh. Jangan ngomongin di belakang

ragu-ragu banget nih mau pencet post apa engga. but since pembaca blog gue adalah mahluk gaib yaudahlah yaaa...

barangkali ada gebetan gue yang lagi kepo ya kan, gue ultah 27 Juni, Jo Malone Lime & Basil Mandarin won't hurt! laaaah ngelunjaaak


Wednesday, April 1, 2020

Kenapa Negara Baik sama Pengusaha?

Tadi pagi saya menonton siaran pers stimulus ekonomi untuk pandemi Covid19. Ini darurat kesehatan kok malah ngomongin ekonomi?! Nyatanya semua ranah kehidupan manusia modern memang tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonomi. Semua negara yang terkena dampak wabah ini pun mengeluarkan kebijakan ekonominya masing-masing.

Jika seorang pedagang misalnya, jatuh sakit dan tidak bisa berdagang seperti biasanya, maka penghasilannya menurun- atau bahkan tidak berpenghasilan sama sekali. Maka pedagang tersebut harus membobol celengannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu bahkan mungkin berhutang ke orang lain karena pengeluarannya pun bertambah untuk berobat.

Nah wabah pada level negara ini pun memiliki efek yang kurang lebih sama. Setiap negara punya kebijakan berbeda-beda untuk 'menangani' pelemahan ekonomi. Beberapa memilih memberikan basic income (ini mungkin bakal saya bahas besok, kalau mood, wkwk). Nah Indonesia agak 'unik'.

Kata Sri Mulyani, kita ngeluarin 405,1 triliyun rupiah buat nanganin Covid19 ini (itu kalau dalam bentuk duit 100 ribuan kita bisa berenang kali ya di antara duit-duit, wkwk). 75 T buat belanja alat kesehatan dan insentif tenaga kesehatan, 110 T buat jaringan pengaman sosial (kayak bansos gitu deh), 70,1 T buat dukungan indsutri, 150 T buat pemulihan ekonomi nasional (gatau deh maksudnya apaan, belum baca, wkwk).

Nah, caranya gimana?!. Di tulisan kali ini gue bakal bahas yang dukungan industri. Nah, instead ngasih duit ke ruckyut kecil (walaupun udah diakomodir di jaring pengaman sosial sih). Pemerintah juga berbaik hati nih ngasih berbagai keringanan ke pengusaha. Di antaranya pengurangan pajak penghasilan (Pph 21 karyawan dan PPh 22 impor, serta pembebasan bea masuk impor).

Kenapa sihhh negara baek banget ama pengusaha? ini gue (nah kan tadi saya sekarang jadi gue) baru paham juga setelah denger langsung dari Bu Ani di acara World Bank (wedeh, akrab #highprofile). "Harapannya kalau uang itu stay di perusahaan, akan lebih bermanfaat buat masyarakat, misalnya untuk pelatihan, riset, instead uang itu disetor ke pemerintah".

Gini guys: kata kuncinya adalah HARAPAN. wkwkw. Pemerintah gak bisa betul-betul ngontrol duit itu bakal diapain sama pengusaha. Memang bisa misalnya dengan super deduction riset atau vokasi, atau dalam kasus Covid19 ini, Pph21 nya dibalikin ke karyawan, tapi selebihnya kalau duit tadi balik ke shareholder dan buat liburan ke Bahama atau beli tas Hermes. who knows?

Inilah yang namanya: TRICKLE DOWN ECONOMY

Makanya kalo di Amrik, banyak pengusaha prefer politisi Republican karena terkenal dengan kebijakan ini. hehe. Asumsinya kalau pengusaha dibaikin, tax rate nya rendah, pengusaha bakal baik juga ke buruh-buruhnya.

wwkwkkwk, becanda deh kamu negara.

Monday, March 16, 2020

Seniman, Taksonomi Bloom dan Nadiem Makarim

Kemarin gue dan Muthia datang ke pameran lukisannya Ugo Untoro di Galeri Nasional. Terus, Muthia bilang: (yang kemudian juga dia tweet)

"I really like being around artists, i can see what i barely have: conviction, in this world full of doubts."

Entah kenapa gue kepikiran mulu, kayak sebenernya bisa menjawab (duh anaknya semua argumen harus ditanggapi) atau menjelaskan komentarnya Muthia barusan.

Besoknya, baru keingetan Taksonomi Bloom.


Menurut Bloom, tahapan belajar manusia dikategorikan secara bertahap. Yang paling rendah adalah mengingat yang paling tinggi adalah menciptakan sesuatu yang baru. Dalam kasus pameran Ugo Untoro di Galnas tadi, mungkin Muthia ada benarnya: seniman telah mencapai piramida Bloom yang paling puncak: menciptakan karya.

Namanya juga piramida, main ke atas makin mengerucut, meaning: tidak banyak orang yang akhirnya sampai pada level itu. Karena untuk mencapai level di atas, harus sudah 'selesai' dengan level di bawahnya.

Trus apa hubungannya sama Nadiem Makarim? haha. Karena dia mau menghapuskan Ujian Nasional. Menurut Mz mentri, UN cuma menguji hapalan siswa, alias level tercetek dari piramida Bloom. Sedih banget yak.

Apakah dan bagaimana cara menguji 'level kemudian' di piramida Bloom ini juga gue gak tahu. Haha, dan apakah tesnya bisa distandardisasi? gak tahu juga, kan eyke bukan Mendikbud. Wkwk

Yang jelas, memang menurut gue 'pendidikan' tidak bisa disempitkan pada bangunan dan institusi bernama sekolah aja. Hehe

Ohiya, puncak Create pada piramida Bloom ini gak terbatas pada seniman ya. Menciptakan resep makanan, apps, teori ekonomi, obat penyakit tertentu, dsb juga create. 

Semoga kita semua bisa mendaki hingga piramida tertinggi nya Bloom

Amen

Sunday, February 23, 2020

Money Can Buy Happiness

Iya gak salah tulis

Kemarin aku dengerin podcast favorit 30 days of lunch. Edisi kali ini bintang tamunya Prita Ghozie, salah satu financial planner terkenal. Di akhir sesi, Mbak Prita membahas riset terbaru dari Harvard Business Review, premisnya sama seperti judul: uang bisa membeli kebahagian! Hah? Gimana caranya?

1. Uang membuat kita bisa membeli 'waktu'

Mbak Prita mencontohkan, dia gak suka grocery shopping, karena punya uang, dia bisa nyuruh orang lain untuk melakukannya. Demikian juga dengan tutor anak. Biar gak marah-marah sama anaknya, yaudah belajar sama tutor aja, meminmalisir konflik. Hehe

tapi tentu kita harus tahu mana 'waktu' yang mau kita 'beli'. Supaya bahagianya optimal cenah.

2. Uang membuat kita bisa berbagi

Bener banget. Anekdotnya, gak ada orang jatuh miskin karena suka zakat. Hehehe

Kalau ini sih saya mengamini banget. Berbagi, sekecil apapun, membuat kita bahagia banget.

Walau kadang, kalau kasus saya sih, jadi overthink, Haha

So, mau beli kebahagiaan yang mana?


Sunday, February 16, 2020

Freedom to Fail

"the great succes comes from freedom to fail"

Katanya Mark Zuckerberg di pidato wisuda Harvard beberapa tahun lalu. Belakangan, gue punya life hacks buat diri sendiri, yaitu: aim to fail. Hahaha. 

Aneh emang, but it works for me.

Ketika nyobain sesuatu, do it for the sake of trying it. Pull down my expectations to 0.

Mungkin di sini 'kesungguhan' gue diuji. Bukan cuma berorientasi ke hasil tapi memang usahanya itu sendiri. 

And I know it's a lot of privilege when I can fail freely. Gue masih punya pijakan yang nyaman ketika harus gagal.

Ayo gagal sebanyak-banyaknya 😂

Thursday, February 6, 2020

January Was A Free Trial Month

Januari kemarin banyak banget kejadian gak mengenakan yaa...

- Coronavirus
- Qassem Soleimani killed - Brexit - Iran shoots down Ukrainian plane - Kobe Bryant dies - Natural disasters: Australia, Brazil, Indonesia, Turkey, India, Pakistan - Trump impeachment trial - Middle East peace plan - Libya and Syria conflicts


sumber: Spectator Index

Image

Sampai ada yang bikin ilustrasinya kayak gini :(

Makanya banyak yang bilang kalau bulan Januari 2020 ini kayak free trial aja, semoga tahun 'beneran'nya baru dimulai di bulan Februari. Buat gue kayaknya ini ada benernya juga.

Tanggal 4 Februari kemaren gue dapet email yang begitu membahagiakan. Hahaha, alhamdulillah. Pertama, email dari Basic Income Bootcamp yang menyatakan gue lolos sebagai peserta. Udah lama ngepoin Basic Income Lab nya UI, yang ternyata penggagasnya adalah Dr. Sonny Mumbunan- orang keren yang cukup banyak gagasan expertisenya di ranah 'creative public financing'. Makanya lah, excited banget gue ikutan bootcamp ini. Pertama tahu konsep universal basic income itu setelah baca Utopia for Realist nya Rutger Bregman. Bootcamp ini gue ibaratkan kayak coachella nya UBI, haha. Okedeh really looking forward to join this bootcamp. Semoga ekspektasi gue gak ketinggian.

Image

Selang beberapa jam, iya, really, beberapa jam. Ada email lagi dong, dari Whiteboard Journal yang menyatakan esai submisi gue lolos seleksi dan akan masuk buku cetak ke-dua mereka. DICETAK MEEN! hahaha maaf lebay. Sebenernya gue bahkan udah lupa pernah submit tulisan ke mereka, karena udah bulan November yang lalu, submitnya pun mepet deadline. Tulisan ini pernah gue submit ke media lain, tapi gak lolos. Ternyata dengan kurator Aan Mansyur dan Baskara Putra (Hindia) tulisan gue malah lolos.

There is always first time for everything kan?!. Semoga validasi dari Whiteboard Journal ini makin membuat tulisan gue 'bagus' dan bisa dibaca banyak orang, aamiin. Jangan lupa beli bukunya ya nanti kalau udah cetak!

HAHAHA


Image

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan bahwa: I am doing okay sometimes :)

Again, alhamdulillah
xoxo


Thursday, January 16, 2020

Benarkah Orang Indonesia Tidak Produktif?

"ah orang Indonesia mah kebanyakan males-malesan"

Tukas ayah saya ketika menceritakan sebuah proyek pembangunan pabrik di Banten yang menggunakan TKA (Tenaga Kerja Asing) ilegal dari Cina. Kenapa ya narasi seperti itu jamak terdengar di kalangan masyarakat Indonesia?.

Apakah ini adalah self-fulfiling propechy dari narasi yang digaungkan oleh kolonial pada masa itu?

Lalu jika orang Skandinavia punya Hygge dan Lagom, orang Jepang punya Ikigai. Orang Indonesia punya apa?

aduh, bingung


[aww mlu bgt]