Tuesday, October 3, 2017

8 Cara Menjadi Jomblo yang Baik, Nomor 5 Bakal Bikin Kamu Kaget

Betapa clickbait judulnya yes. Haha

Di tengah badai video bridestory Raisa Hamish dan iklan Meikarta sekaligus lagu Akad nya Payung Teduh, kadang menjadi jomblo sangat rentan di budaya ketimuran post modern ini. Dari mulai Ridwan Kamil hingga Raditya Dika masih aja menjadikan jomblo bahan olokan dan lelucon, heu. Nah, tanpa mengurangi segala hormat, saya ingin merangkum beberapa cara yang sesungguhnya sangat bisa dilakukan ketika kita jomblo. Kita? lu aja kali Bin!

1. Berbakti kepada orang tua

Sungguh sangat ketimuran dan NKRI yes, tapi bener loh, setelah saya lulus kuliah dan bekerja dan makin jarang pulang saya merasa orang tua makin butuh anak-anaknya (baca: saya) dan sayapun butuh mereka untuk bayarin kosan dan ngasih duit di tanggal tua.

Saya sadar saya termasuk beruntung masih bisa berinteraksi dengan kedua orang tua saya karena mereka masih sehat wal afiat. Dan karena anak terakhir, saya kadang juga merasa mereka sudah sangat tua, use your time wisely Pulang kampunglah selagi bisa. Beberapa dari kita yang masih bergaji UMR dan harga Ice latte kayaknya naik melulu, belum bisa ngasih banyak ke ortu, banyak dalam artian materi atau duwit, tapi bisalah kita kasih kado kecil buat mereka, misalnya jilbab buat mama atau... enaknya ngasih apa ya ke Bapak? Ada ide?

2. Merawat Diri

Ini istilahnya kok khas ukhti2 banget ya #eh. Secara evolusioner, kita sedang dalam masa mencari pasangan demi melestarikan keturunan. Maka layaknya burung merak jantan yang mengibaskan ekornya, kita butuh terlihat sehat dan menarik.

Siapa yang punya waktu untuk melakukan 10 steps Korean skincare kan? nah karena jomblo punya banyak waktu luang, kita bisa mecobanya selagi bisa. Merawat diri bukan cuma sekadar biar laku sih, lebih sebagai bentuk apreasiasi terhadap diri supaya kita makin love yourself kalo kata Justin Bieber mah.Selain itu, untuk berkembang biak, kita butuh gen yang sehat terutama untuk perempuan yang punya beban eh amanah hamil dan menyusui, maka makan makanan sehat dan olahraga lah. Cih, ngomong sih gampang

3. Hidup cuma sekali, YOLO

Membaca frasa di atas kadang membuat kita mikirin dua hal, hidup seliar-liarnya atau hidup sebaik-baiknya. Nah kadang ada kan hal-hal terliar yang pengen kita lakukan, yang kayaknya entar kalo udah nikah gak bisa dilakukan, atau bahasa solihahnya harus minta ijin suami, pret.

Kayak ngecat rambut jadi silver, solo travel ke Papua, skydiving, atau begadang sama temen sampe pagi, ehem ngapain yha begadangnya. Intinya, mumpung, mumpung nih lakukanlah apa yang ingin kalyan lakukan, tapi tetap mindful ya, jangan sampai membahayakan diri, kan kalian sudah dewasa :)

4. Save (and Invest!)

Tahukah Anda kalau biaya sekolah anak di Jakarta lebih mahal daripada kuliah di PTN? Tahukah Anda bahwa millenial tidak mungkin punya rumah di Jakarta? aku ingin pindah ke Meikarta. ya intinya masa depan ya jelas butuh uang, dan mumpung, mumpung nih ya, kita belum punya banyak tanggungan, maka sempatkanlah untuk menabung dan investasi.

Sebatang lipstick lime crime memang menggoda iman, namun alangkah baiknya kalau kita coba mulai investasi. Saya tertarik untuk nyobain di indves.com tapi belom nyoba haha, atau nabung emas pegadaian huhu #wacana. Tapi saya udah mulai nabung, sesuatu yang sangat sulit untuk saya lakukan sejak kecil,
hmm #crossfingers

izinkan ukhti Binar mengutip Salim A. Fillah "Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)"

sungguh wadidaw

5. LEARN PARENTING

nah, apakah beneran bikin kaget? sebagai mahasiswi Psikologi gadungan saya selalu dikelilingi dengan pop nya dunia parenting, dari mulai Montessori lah golden age nya Freud lah endesbra endesbre. Dan karena saya kepengen punya anak, maka saya sadar saya harus mempersiapkannya. Kata bapak saya "if you fail to prepare, you are preparing to fail", suer beneran belio pernah ngomong gini, walaupun konteksnya memang bukan parenting.

Gak ada metode parenting yang sempurna, oleh karenanya kita harus belajar dari berbagai sumber dan mengambil intisari yang pas dengan value kita, sungguh sotoy ya Binar. ya gitulah, intinya kita harus belajar bertanggung jawab kalau nantinya kita membesarkan seorang umat manusia yang harus dipenuhi hak-haknya, kayak tagline UNFPA

"delivering a world where every pregnancy is wanted, every childbirth is safe and every young person's potential is fulfilled"

wadidaw bingits

 6. Belajar

Mungkin kamu sudah terputus ikatannya dengan lembaga pendidikan formal, tapi belajar adalah tugas kita seumur hidup. Belajar bahasa baru, belajar masak, merajut, coding apakek BELAJAR NYETIR, OMG cewek- cewek di Saudi aja udah boleh nyetir tapi saya belum bisa nyetir, hiks.

learn to survive by your own self, you will save your family later. Hehe

7. Menapaki anak tangga karir

Kamu, masih punya waktu untuk lembur sampe jam 10 malem, masih bisa ngerjain tugas di weekend, masih bebas dinas ke luar negeri/ kota. dan lain sebagainya

maksimalkan potensi Anda untuk menjadi sekrup kapitalis sepenuhnya, selagi ada waktu dan tenaga.

8. Berkumpul dengan teman-teman

saya jadi ngeh kenapa kalau cewek mau nikah biasanya ngadain bridal shower, karena mungkin itu kali terakhir bisa ngumpul dengan teman teman sembari mendiskusikan kegagalan sosialisme di Eropa Timur, hiks. maka dari itu, pereratlah tali silaturahmi dengan handai taulan kita. Sekali lagi, selagi masih ada waktu.

hehehe, intinya tulisan ini sih sebagai pengingat bagi diri saya sendiri supaya gak sedih sedih amat jadi jombelo. Segalanya adalah, mensyukuri dan memanfaatkan waktu, tenaga dan biaya sebaik mungkin

salam wadimor, eh wadidaw,

Binski

Saturday, September 23, 2017

Hijrah? Ke mana?

Beberapa tahun lalu saya dikagetkan oleh seorang figur publik yang 'tiba-tiba' lepas jilbab. Saya beri tanda kutip karena saya yakin bahwa proses itu tidak mungkin tiba-tiba, dia mungkin menjalani berbagai kegalauan yang tidak tampak dari kejauhan.

Kakak saya kemarin berkelakar tentang seorang temannya yang 'hijrah'. Penampilannya berubah drastis katanya, pakai celana cingkrang dan menumbuhkan jenggot yang mungkin tidak cocok dengan feature wajah Asia nya. Kalau perempuan, yang hijrah ya berjilbab panjang menjulur hingga dada, memakai pakaian yang lebih longgar hingga aurat tertutup sesempurna mungkin.

Saya tidak akan menyinyiri siapapun.

Saya justru ingat waktu saya jadi volunteer Jakarta Fashion Week 2014 lampau. Saya berdesak-desakan di mushola mall untuk sholat maghrib, fi tempat wudhu saya bertemu dengan seorang model yang sering saya lihat di majalah. Saya bahkan melirik ke name tag nya untuk memastikan bahwa itu dia. Mungkin saya terlalu tinggi hati untuk tidak syok bahwa sholat juga kewajiban Mbak model itu. Hal yang sama juga saya amati ketika berkunjung ke kost salah satu sahabat saya, banyak sekali doa dan dzikir yang ia tulis dan tempel di dinding, ketika saya heran melihatnya, dia cuma berkata "Iya soalnya aku belum hapal". Dan ya, iya dia belum berjilbab.

Hati saya mengecil, saya takut kalau kualitas ibadah saya kalah dengan saudari-saudari saya yang belum menutup auratnya dengan sempurna, yah saya pun belum.

Mari memperbaiki, dari dalam dan luar, dan berhenti menghakimi saudara/i kita. Karena sesungguhnya kita sedang hijrah ke tujuan yang sama.

#selfreminder

Sunday, August 13, 2017

Taken For Granted

Kemarin malam, pilek yang sudah dua hari saya derita makin menjadi-jadi. Saya pun sudah dua hari gak masuk kantor. Akhirnya, mau tidak mau, saya harus ke dokter.

Saya punya asuransi Cigna dari kantor. Saya lihat di websitenya bahwa asuransi ini bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Jakarta, salah satunya Rumah Sakit Medistra. Saya pun menelepon untuk memastikan bahwa keperluan medis saya benar-benar bisa ditanggung, sekaligus reservasi dokter umum.
Di bagian pendaftaran, ternyata kartu saya ditolak, karena kartu saya terdaftar di Cigna Global, bukan Cigna Indonesia. Walhasil saya harus mendaftar dan membayar dengan biaya sendiri. Nantinya memang bisa direimburse, tapi kan ribet ya. Haha
Setelah cek dengan dokter, diberi resep, sampailah saya ke kasir. Ternyata tagihan cek dokter umum dan obat sekaligus administrasi tadi sampai 862.500 rupiah! Waduh! mahal gilak. Untung saya masih punya orangtua untuk bayarin ongkos berobat itu.

taken for granted, belakangan frasa tersebut menjadi favorit saya. Entah apa padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia, saya belum menemukannya.

Karena belakangan, saya sadar bahwa banyak sekali hal-hal dalam hidup ini yang saya take for granted. Kasus berobat tadi misalnya, waktu kecil biaya kesehatan saya sekeluarga ditanggung perusahaan tempat Bapak saya bekerja, kalau sakit tinggal ke dokter, ambil obat di apotek, pulang! gak mikir blas!.

Saya lulus pendidikan sarjana atas biaya orangtua, memiliki tempat tinggal dengan akses listrik, air dan pendingin ruangan yang layak, dan lain sebagainya. Semua itu saya anggap normal-normal saja saya terima.

Padahal, bisa jadi saya adalah sekian kecil persen warga dunia yang menikmati privilese ini.

Belakangan ini, saya takut, atas segala nikmat yang saya peroleh dalam hidup ini. Saya takut menjadi ignoran.

Kemudian ketus pada para gelandangan, ya mereka gak mau kerja sih!

Jauhkanlah hamba dari sikap demikian, ya Tuhan

Saturday, May 27, 2017

Air

disclaimer: ini adalah celotehan pribadi saya dan tidak mewakili organisasi manapun

Pernah dengar cerita tentang sumur Raumah? Pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah ada sebuah sumur yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Ia memberikan tarif yang sangat mahal bagi siapapun yang mengambil air di sumur tersebut. Melihat masalah tersebut, Utsman bin Affan berinisiatif untuk membeli sumur tersebut. Si pemilik pun menolak. Dengan negosiasi yang sengit, Utsman berhasil memiliki setengah hak milik sumur tersebut.
Bagaimana konsekuensinya? Utsman memiliki hak guna sumur tersebut selama sehari, dan Si Pemilik Yahudi pada hari yang lain. Tak dinyana, Utsman mewakafkan sumur tersebut atau menggratiskan orang-orang untuk mengambil air di sumurnya pada hari gilirannya, orang-orang pun berbondong-bondong datang untuk mengambil air. Pada hari giliran si Yahudi tiba, sumur pun tidak laku, karena kebutuhan air untuk hari itu sudah disiapkan kemarin.

Si Yahudi menyerah dan akhirnya menjual sumur raumah dengan penuh kepada Utsman. Beratus tahun berlanjut dan ternyata sumur Raumah ini masih memberikan manfaat bagi sekitarnya. Dimulai dari perkebunan, hingga usaha hotel, kini pun masih terdapat rekening atas nama Utsman bin Affan di Bank Arab Saudi.

Air bersih, adalah komponen dari hak asasi manusia. Pada SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, akses air bersih juga menjadi tujuan nomer 6.

Tentu, Utsman telah mengamalkan ini seribu tahun lebih sebelum dokumen internasional ini resmi dikumandangkan di ranah internasional.

Kini, kita taking for granted untuk membeli air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingat betul bahwa sumur rumah tetangga saya tidak layak untuk diminum, sehingga untuk air minum dan memasak ia meminta ke rumah tetangganya yang lain, ini karena hingga hari ini pipa PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) belum mengalir ke kampung saya.

Sehari-hari, darimana sumber air minum Anda? mungkin berasal dari botol plastik dengan label Aqua atau merk lain jika Anda tinggal di kota besar. Dan tidak perlu saya beritahu bahwa air tersebut menjadi hak jual korporasi asing.

Maka tidak lagi lucu ketika teman saya berceloteh, mungkin sebentar lagi udara bersih pun kita akan beli. Maka mengapa kita masih mencemooh ibu-ibu yang menyemen kakinya di depan istana negara, hanya karena ingin mempertahankan sumber air bersih di desanya.

Jangan lupa minum air ya! Stay hydrated

Monday, May 1, 2017

Memaknai Ulang Keikhlasan


خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas)

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain"

Saya sering sekali mendengar kutipan di atas. Dan kurang lebih telah menjadi motto favorit ketika saya sedang sok alim, hehehe.

Sepertinya bukan hanya saya, saya tumbuh dan hingga kini beraktivitas di sekitar manusia- manusia yang ingin berfaedah bagi sesamanya. Siapa sih yang enggak?

Walaupun dulu saya percaya homo homini lupus, tapi kiranya saya sekarang saya sudah bertobat dan ingin menjadi lebih altruist. Cie.

Bahkan setidaknya, hingga kini saya masih istiqomah bekerja di sektor sosial, bukan privat. Namun kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, apakah yang saya lakukan ini benar? tepat? efektif?

Apakah keikhlasan menjadi faktor utama ketika kita ingin menolong orang lain?. Apakah memang tidak ada indikator yang lebih 'profan' dalam hal kebaikan?.

Saya jadi ingat anekdot keikhlasan. Yaitu seperti saat kita, maaf, BAB. Setelah itu tidak usah dilihat. Hal ini tentu menjadi bahaya ketika, misalnya, kita mendonasikan sejumlah uang kepada suatu lembaga dan kemudian karena lembaga tersebut tidak diaudit secara berkala, terjadi penyelewengan oleh pengurusnya. Ini contoh yang terlalu ekstrem memang.

Tapi ketika kita hanya melihat dengan kacamata duniawi. Tentu kita ingin perbuatan baik (dan uang yang kita sumbangkan) bermanfaat untuk sesama manusia dan lingkungan di bumi ini.
Hingga entah bagaimana semesta berkonspirasi (yaelah) menyuruh Bimo merekomendasikan sebuah buku kepada saya.

Judulnya adalah: Effective Altruism oleh William MacAskill. Saya langsung meminta (setengah memaksa) meminta kopi e-book nya dari Bimo.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna. Dari judulnya kita bisa menebak, bahwa buku ini mirip seperti manual book bagi orang-orang yang ingin berbuat baik, bukan sekadar berbuat baik, namun berbuat baik seefektif efektifnya. Haha

Ini cukup menyentak diri saya. Karena selama ini, ketika kita berbuat baik, kita lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika (iya gak sih?) kita akan cenderung empati dan menyumbang untuk korban bencana alam- yang MacAskill temukan dalam buku ini bahwa perbuatan tersebut kurang efektif dibanding berdonasi misalnya, untuk usaha pengurangan cacingan (deworming)- yang MacAskill paparkan dapat meningkatkan angka partisipasi sekolah.

Buku ini menyuguhkan data statistik empiris tentang usaha-usaha sosial di dunia, yang gagal dan yang berhasil. Supaya kita bisa belajar dan merencanakan aksi sosial secara lebih efektif.
Bahkan MacAskill mengenalkan alat ukur QALY untuk mempermudah kita mengukur efektivitas sebuah kegiatan sosial.

Oh iya, ada satu bab yang menarik dalam buku ini, yaitu advise tentang karir. MacAskill mengukur probabilita seorang kawannya yang alumni PPE ketika ia akan berkarir sebagai politisi di UK. Saya juga jadi mengenal istilah earning to give. Bahwa waktu dan skill kita mungkin akan lebih efektif jika kita bekerja di sektor privat dan mendonasikan penghasilan kita untuk kegiatan sosial, alih-alih menjadi pekerja sosial (habis ini siap-siap jadi kutu loncat, eh :p).

Buku ini memang 'hanya' membahas efektivitas altruisme secara kuantitatif dan makro. Dan faktor afektif dalam berbuat baik tidak mungkin terhindarkan.

Tapi tenyata, kita harus memaknai ulang keikhlasan. Yaitu dengan rasional menghitungnya :)

catatan: makna Ikhlas dalam Bahasa Arab adalah 'melakukan segala sesuatu semata-mata untuk Allah SWT'. namun 'ikhlas yang saya maksud di tulisan ini adalah yang secara umum dipahami masyarakat Indonesia, yang dalam bahasa Arab lebih tepat disebut 'ridha'




Sunday, April 30, 2017

Bapak saya, seorang buruh pabrik semen.

Sejak awal usia 20an nya. Bapak saya mulai bekerja di Pabrik Semen di Cilacap. Pabrik ini telah sekian kali berganti kepemilikan, dari milik adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo setelah sebelumnya miliki Jepang hingga akhirnya dijual ke Perusahaan Swiss, Holcim.

Bapak selalu menyebut dirinya buruh. Walaupun hingga akhir karirnya, setelah lebih dari 30 tahun mengabdi di perusahaan yang sama dari menjadi operator mesin hingga level middle management. Ia tetap menyebut dirinya buruh.

Entah penghayatan apa yang ia miliki. Tapi saya mengenal Bapak sebagai orang yang selalu peduli dengan orang lain. Ia tetap aktif di Serikat Pekerja, berdebat dengan auditor-yang dibayar ratusan dollar per jam, menuntut upah yang 'layak' bagi kawan-kawannya. Bapak juga kerap lebih peduli pada 'orang lain' dibanding keluarganya sendiri, setidaknya Mama pernah protes begitu.

Status Bapak sebagai 'buruh' bukan lantas membuat kami menderita. Ketika rumah tetangga masih beralaskan tanah. saya bisa selonjoran di atas lantai keramik. Ketika kawan saya mandi dari sumur timba, keluarga kami sudah punya pompa listrik.

Tapi, Bapak tidak pernah menanamkan pada anak-anaknya bahwa kami orang 'kaya'. Semacam menolak kemapanan mungkin. Saya bersyukur dibesarkan di keluarga yang sederhana dan 'cukup'. Bapak membenci gaya hidup borjuasi. Ia kerap memberi contoh Pak ini atau Bu anu yang lebih mementingkan penampilan melebihi penghasilannya. Kelak, saya memperkenalkan filsafat Kierkegaard (atau Berdayev ya?, lupa hehe) tentang mahluk etika dan estetika kepada Bapak.

Bapak selalu menekankan substansi. Waktu itu, kalau tidak salah ingat, saya belum sekolah dan mungkin Mas Bondan masih SMP. Bapak memberikan tekanan bahwa kami bertiga saudara harus kuliah di perguruan terbaik di negara ini. Hanya dengan cara itu kita bisa meningkatkan derajat, katanya. Lebih baik tabungan Bapak dipakai untuk menyekolahkan kalian daripada membeli mobil Kijang terbaru.

Dari Bapak pun saya belajar integritas. Bapak sangat anti mengambil jalan pintas untuk cita-cita anaknya. Misalnya, praktek membayar lebih 'lewat jalur belakang' untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi sangat umum di lingkungan kami. Tapi Bapak tidak pernah melakukannya dan meyakinkan kami bahwa perilaku demikian haram di mata hukum, agama dan sosial. Begitu pula dengan pekerjaan, Bapak membebaskan anak-anaknya berjuang sendiri meraih apa yang diinginkan (dan kami masih berjalan menuju ke sana).

Bapak juga orang yang sangat open minded. Mas Bandu selalu bilang, bagaimana ceritanya di antara belukar dan asap di desa Karangtalun ada bocah yang kelak jadi seniman- kosakata yang bahkan tidak bisa dimasukkan di kolom 'pekerjaan' saat kakak saya membuat KTP di kelurahan. Ia membebaskan kami memiliki cita-cita dan pemikiran kami sendiri.

Syahdan, salah satu hal yang saya syukuri adalah Bapak dan kakak-kakak saya, yang laki-laki- namun selalu terbuka mengajak saya diskusi hingga larut malam, tentang agama, politik, sains, masalah sosial dan banyak hal lain di dunia ini. Yang mau mengajak saya, berpikir. Yang mungkin, membedakan saya dengan beberapa anak-anak perempuan lain di luar sana. Hingga saya meyakini, semua keluarga seharusnya seperti ini!.

Ini sedikit cerita tentang Bapak saya yang buruh. Yang taat bekerja mematuhi jam kerja sekaligus tetap kritis terhadap korporasi nya.

Selamat Hari Buruh, Bapak

Sunday, April 2, 2017

Belajar dari Sullivan

"I need scarers who are confident, tenacious, tough, intimidating. I need scarers like... like... James P. Sullivan."
-Henry J. Waternoose


Apa yang dapat kita pelajari dari Sullivan, salah satu monster di film Monster Inc. ?
Well kita mendapati bahwa Sullivan adalah salah satu pekerja yang jujur, passionate dan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

Tapi mari kita melihat ke masa lalunya yang diceritakan dalam film prekuel Monster University. Dari film itu kita tahu bahwa Sully ternyata drop out dari MU, tapi di akhir cerita ia tetap masuk ke Monster Inc. lewat jalur 'lain' yaitu menapaki tangga karir dari level pengantar surat.

Kisah Sullivan ternyata juga terjadi di dunia nyata manusia (Haha). Dari sebuah training, saya mengetahui Houtman Zainal Arifin sosok yang menapaki jenjang karir dari seorang Office Boy hingga Vice President di Citibank. [cerita pak Houtman]

Tidak seperti Sully, saya berhasil lulus dari universitas impian saya (walau dengan babak belur). Dan beberapa saat setelah menyanyikan Gaudeamus Igitur di Balairung (read: wisuda) saya begitu bingung 'shit, what's hella next?'. Masuk UI telah menjadi impian ultimate saya hingga seolah-olah setelah itu tidak ada yang perlu dicapai lagi. Konyol memang. Baca post saya yang ini

Kemudian saya menghabiskan waktu setahun setelah lulus dengan magang di KontraS dan UNDP. Sebuah pilihan yang sungguh antimainstream di kalangan teman-teman saya. Karena, alasan sesungguhnya adalah: I don't know what hella to do with my life, but at least I should keep my muscles and mind busy.

Saya juga sibuk kerja freelance (ngasong, kalo istilah anak Psikologi) dan melamar pekerjaaan di berbagsi company. Karena, ya saya butuh uang buat beli lipstik dan minum kopi, hehe. Ini karena kebutuhan pokok saya masih ditopanh oleh Ayah dan kakak-kakak saya. Maka hal tersebut juga privilese buat saya untuk tidak terburu-buru nyari uang.

Dan betul lah apa kata Francois Lelord. Perbandingan akan mendisrupsi kebahagiaan kita. Ih enak ya dia udah kerja di BUMN, Ih enak ya anu kerja di konsultan, Ih keren ya dapet lpdp bisa S2 di luar. Saya kerap melihat teman-teman saya yang jauh lebih 'sukses' dibandingkan saya.

Hingga saya mendarat di salah satu wawancara dengan perusahaan swasta. Interviewer bilang "saya lihat CV kamu, kalau kamu mau membangun karir di NGO, you are on the right track. Kenapa tiba-tiba daftar ke perusahaan ini?" Makjleb! Kalimat tersebut terasa seperti pujian sekaligus penolakan. Haruskah saya menjawab jujur, "saya butuh uang Pak!" Hahaha.

Hingga kini, saya masih menganggap passion itu mitos. Namun pekerjaan akan menjadi sangat melelahkan jika orientasinya hanya uang dan kita tidak happy melakukannya.

Saya juga meraba-raba ada sebuah sindrom millennial yang terlalu 'sombong' untuk mengerjakan pekerjaan remeh temeh, seperti pekerjaan Sullivan yang mengantar surat di kantor Monster Inc. Haha. Setelah lulus dari kampus, mungkin kita merasa sudah pro segalanya. Tapi yakinlah ketika masuk ke belantara pasar tenaga kerja, kita mulai semuanya dari dasar terendah rantai makanan. Hahaha

We're all get our perks and twerks. To all jobseekers, fresh graduates, millennials out there please stay tough, keep searching. Semoga kalian bisa seperti Sullivan atau seperti apapun yang kalian inginkan.

XO,

Kampung Bali
3 April 2017