Tuesday, March 1, 2016
Sosial Media dan Kemunduran Berinternet
Monday, November 9, 2015
Habiskan Makananmu! (Dan Curhatan Lain)
Saya mau mengumumkan pada dunia bahwa laptop saya rusak, hape saya rusak, tab saya rusak. Kiamatlah lah dunia. Lebay ya, padahal masih banyak anak- anak kelaparan di Afrika, di Suriah, bahkan mungkin di sekitar kita. Ini gak bisa haha hihi di whatsapp dan path aja kayak udah mau kiamat. Haha
Oke, sebenernya pembuka di atas gak nyambung sama apa yang ingin saya sampaikan. Belakangan ini pengen banyak nulis di blog aja. Semoga gak nyampah dan masih ada manfaat yang bisa dipetik ya.
Saya suka mengeluh kalau saya ini orang yang sangat boros. Walaupun saya udah bisa mencari uang jajan sendiri, semuanya habis buat hal- hal yang menurut saya gak penting. Kayak lipstik dan jajanan, haha. Saya suka menimbun banyak barang- barang dari mulai buku, kosmetik, perintilan stationery gak penting, sampai makanan. Saya kadang- kadang takut kalau perilaku menimbun ini sudah cukup kelewatan seperti di reality show Hoarders, huhu.
Saya pun menemukan 'terapi' untuk perilaku saya ini yaitu 'membuang' dua barang per hari. Membuang di sini tidak berarti harus berakhir di tong sampah, tapi juga bisa disumbangkan, dijual ke tukang loak, di recycle, dsb. Tapi recylenya harus beneran dilakuin ya, gak boleh wacana. Kayak beli berbagai macam pita warna warni buat kerajinan tangan tapi berakhir berdebu di atas lemari karena gak pernah dieksekusi. Ide ini saya dapatkan dari sebuah blog, tapi saya lupa linknya, huhu.
Oke, balik ke perilaku menimbun. Ketika saya menimbun buku atau baju, mungkin ke depannya bisa saya sumbangkan atau diberikan ke teman kita. Tapi tidak dengan makanan, makanan selalu berakhir basi. Saya sedih banget ketika harus membuang sekresek makanan kemasan yang sudah kadaluarsa. Ini saya tinggal sendirian di kamar kos loh ya, huhu.
Dan karena peristiwa ini saya teringat roomate saya waktu di Kairo. Namanya Alisha, (Hai Alisha, ijin mencatut nama kamu ya, haha). Satu hal dari Alisha ini, dia selalu menghabiskan makanannya!. Hal ini saya amati dari mulai kita berangkat bareng naik Emirates, walaupun makanan di pesawat gak semuanya
Selidik punya selidik, saya pun kepo pada Alisha. ternyata dia memang dibiasakan menghabiskan makanan sejak kecil, "kalo gak habis nanti petani nangis lho" ujar Alisha menirukan petuah ibunya saat ia kecil. Saya pun tertegun, pertama karena tiap keluarga pasti punya value yang unik masing- masing. Kedua, saya teringat dosa- dosa saya yang suka membuang makanan. Untuk insight kedua ini saya lama loh nyadarnya, karena waktu tinggal bareng ortu saya selalu yakin makanan yang gak habis di reuse jadi pakan untuk ayam, bebek, ikan atau kucing di 'kebun binatang' Ibu saya. Hal ini tentu gak bisa saya lakukan saat saya ngekos sendiri.
Mulai sekarang saya pengen tobat. Saya pengen ngabisin makanan saya dan kebanyakan laper mata. Supaya semakin hemat, dan gak mubazir. Hehe keliatannya sepele ya, padahal sebagian besar makanan di dunia ini memang berakhir jadi sampah [sumber]. Balik ke pembuka yang saya tulis, gak semua orang 'seberuntung' kita loh bisa buang- buang makanan.
Jadi mulai sekarang,
Habiskan makananmu!
Saturday, November 7, 2015
Charles Simonyi
Kemudian saya membaca halaman belakang di mana terdapat rangkuman isi buku dan profil penulis. Saya selalu suka membaca profil penulis pada sebuah buku, karena saya tertarik bagaimana penulis (atau mungkin editornya) mendeskripsikan dirinya dalam kolom yang sangat singkat. Dan dari deskripsi itu kemudian saya mengetahui bahwa Charles Dawkins adalah pemegang gelar keprofesoran Charles Simonyi untuk pemahaman publik atas ilmu pengetahuan. Tanpa kepo lebih lanjut, saya menyetujui bahwa Dawkins memang pantas menyadang gelar tersebut. Padahal Sungai Dari Firdaus juga buku karya Dawkins pertama dan baru satu- satunya yang saya baca.
Kepo selanjutnya mengantarkan saya pada pengetahuan bahwa Charles Simonyi adalah seorang saintis sekaligus filantropis ia menyumbangkan sejumlah kekayaannya beberapa proyek pengembangan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah bidang "Pemahaman publik atas ilmu pengetahuan" di Universitas Oxford ini.
Sekarang kita kembali ke Indonesia. Saya bukan tipe orang yang suka mengeluhkan keadaan tanah air karena menurut saya hal itu tidak menyelesaikan masalah bahkan mendorong kita untuk berpikir negatif terus menerus tentang negara kita. Tapi saat saya pergi ke toko buku - sebuah kemewahan yang tidak dapat saya nikmati di kampung halaman saya, karena di sana tidak ada toko buku yang bagus. Bagus dalam artian seperti Gramedia atau Toko Gunung Agung misalnya. Tak usah se muluk Kinokuniya atau Periplus. Oke selain keterbatasan akses pada buku yang saya alami ketika kecil, kini saya tinggal di kota dan dapat menikmati buku- buku populer. Ketika saya pergi ke rak psikologi misalnya, saya heran kok beda ya psikologi populer yang ada di toko buku dengan apa yang saya pelajari di kampus.
Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa memang ada gap antara para 'ilmuwan' dan masyarakat 'awam'. Sedihnya karena gap ini, membuat masyarakat awam gampang percaya pada berita hoax yang bertebaran di sosial media yang dengan mudah mereka akses. Para ilmuwan pun sudah kadung merasa tinggi dan berbeda kasta dengan si awam. Sang ilmuwan hanya membicarakan masalah sains dan apa yang ia pelajari dengan sesamanya. Opini saya ini sangat serampangan memang. Mungkin ada beberapa insan terpelajar yang tersinggung, hehe.
Tapi membicarakan ilmu pengetahuan dengan orang yang berbeda bidang dengan kita memang tidak mudah. Misalnya ketika saya coba menjelaskan topik skripsi saya pada kakak- kakak saya yang belajar Ekonomi dan Seni, tentu tak mudah bagi mereka memahami apakah memang ada hubungan antara kebahagiaan dan partisipasi politik, hingga topik ini pun tak menarik dan saya hanya bisa bilang "yah jurnalnya bilang gitu". Padahal ini tanda kalau mungkin saya sesungguhnya belum paham paham banget sama topik yang saya pelajari. Haha *ketawamiris*
Untuk apa kita terus terusan menerangi tempat yang sudah terang ya, bukankah lebih baik ketika menerangi tempat yang gelap. hihi
Selamat menerangi!
Wednesday, August 19, 2015
100 Years - Five for Fighting
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
I'm 22 for a moment
And she feels better than ever
And we're on fire
Making our way back from Mars
15 there's still time for you
Time to buy and time to lose
15, there's never a wish better than this
When you only got a hundred years to live
I'm 33 for a moment
Still the man, but you see I'm a "they"
A kid on the way, babe.
A family on my mind
I'm 45 for a moment
The sea is high
And I'm heading into a crisis
Chasing the years of my life
15 there's still time for you
Time to buy and time to lose yourself
Within a morning star
15 I'm all right with you
15, there's never a wish better than this
When you only got a hundred years to live
Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We're moving on...
I'm 99 for a moment
And dying for just another moment
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
15 there's still time for you
22 I feel her too
33 you’re on your way
Every day's a new day...
(oh oh ohs)
15 there's still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there's never a wish better than this
When you only got a hundred years to live
Tuesday, August 4, 2015
Sayur Tanpa Garam
Pasti kalian juga bosen bin sebel kan ditanyain sodara- sodara kapan lulus? Kapan kawin? Yang kemaren mana? #eh. Dan untuk saya ada satu kalimat yang rasanya wajib saya terima dari handao taulan ini: "tambah gede ya?" dan sejenisnya, haha. Dulu sih pasti sakit hati banget kalo denger gitu. Sekarang cuma dijawab "Alhamdulillah" sambil senyum aja mereka diem :) and I feel win haha. Lucu juga karena di hari Lebaran ada kawan yang mengeluh karena dibilang kurus oleh sodara- sodaranya. Hmm namanya juga manusia.
Ternyata tidak sesimpel itu, kenapa sih berat badan jadi hal yang sangat sensitif di dunia ini?. Berat badan adalah ukuran termudah dan paling tampak untuk mengukur kesehatan seseorang. Kurang lebih seperti itu kutipan dari reality show "The Men That Made Us Thin". Memang benar, untuk mengukur gula darah, kolesterol, atau tekanan darah pastinya lebih ribet dan sulit. Jadilah berat badan yang dijadikan ukuran paling umum untuk 'kesehatan'. Masuk akal juga menurut saya.
Kemudian Ibu saya membujuk saya untuk melakukan diet mayo yang sedang ngetren banget itu. Ibu saya memang berada di garda terdepan untuk masalah kurus kurusan, haha. Oke, karena Ibu mau menyediakan masakan yang harus saya konsumsi selama 13 hari, saya pun mengiyakan.
Inti dari diet mayo adalah tidak mengonsumsi garam sama sekali. Membatasi asupan karbohidrat, protein dan vitamin dengan seimbang serta mengurangi gorengan, nasi dan gula. Dan hari ini 4/7/15 saya menyelesaikan diet 13 hari saya. Menurut penggagasnya, Dr. Moyes garam mengikat air dalam tubuh sehingga membuat badan lebih besar, dan diet ini berfungsi untuk mengurangi kadar garam dalam tubuh.
Gimana hasilnya? Turun berapa kilo? Hmm saya gak nimbang before after sih, hehe. Cuma waktu seminggu diet berjalan saya ke apotik dan nimbang ternyata turun 5 kilo. Itu bonus sih, karena dari awal saya berkomitmen untuk diet tujuannya adalah supaya lebih sehat, anggap aja seperti terapi gitu.
Yakin gak cheating? Sebenernya program ini paling gak menyika sih buat saya. Menu makanannya lebih enak malah dibanding makan saya sehari hari, tiap hari ada menu daging sapi atau ayam atau ikan, walaupun hanya boleh dibakar dan dikukus. Yucks sih rasanya, tapi lama lama terbiasa. Kalau masih lapar saya makan roti gandum tawar dan minum susu low fat walau gak ada di menu, serta makan buah dan minum air putih sebanyak- banyaknya. Jeleknya juga saya masih kurang banget olahraga sih
Sebenernya diet ini mengingatkan saya pada tradisi masyarakat Jawa, terutama mereka yang masih menganut kepercayaan kejawen yaitu mutih atau ngadem. Mutih adalah hanya mengonsumsi nasi putih dan air sedangkan ngadem adalah mengonsumsi makanan tanpa rasa *cmiiw.
Saya menemui insight baru, mengapa beberapa keyakinan spiritual biasanya juga mengatur pola makan penganutnya, seperti Buddha yang vegetarian, Hindu yang tidak makan daging sapi, Islam yang melarang minuman beralkohol dan daging sapi, berpuasa serta beberapa diet lain yang mungkin tidak saya ketahui.
Semua itu adalah tentang self control, teman- teman. Selama ini saya menjadikan makanan sebagai 'hiburan' bukan kebutuhan. Menahan diri untuk tidak memasukan sesuatu ke mulut adalah hal yang sulit. Yang seharusnya manusia pahami sebagai latihan untuk mengontrol diri pada hal- hal yang lain. Ya, seperti Neraka Juu yang berhasil menaklukan si hawa nafsu :D
Toh saya masih hidup kok walau tidak makan nasi, indomie, gorengan, dan coca cola. Memang baru 13 hari sih. Tapi semoga sebagai awalan untuk hidup sehat. Karena, okelah standar kecantikan ada sangat banyak tapi kayaknya standar sehat cuma ada satu (sehat fisik ya, hehe). Mumpung masih diberi kesehatan, jagalah kesehatan itu :)
Semoga kita semua senantiasa sehat ya
Tuesday, June 30, 2015
Binar's Picks
Dalam rangka survival udara dingin Cairo kala itu saya mencoba hampir semua produk pelembab di drugstore. Vaseline ini memang terkenal banget dan katanya banyak banget manfaatnya. Sebelumnya belum pernah coba, akhirnya setelah coba memang multifungsi banget.Sama kayak vaseline, produk nivea yang ini juga kayanya 'klasik' banget. Terus pernah baca review nya konon krim ini setara sama creme de la mer yang jutaan itu. Ebucet kan haha. Yaudah daripada nganggur gue pake sebagai krim malam karena teksturnya yang terlalu berminyak jadi kayaknya gak mungkin dipakai siang hari. Ya khas produk drugstore 'barat' ya produk ini gak mungkin memutihkan, tapi fresh smooth and safe yak daripada krim gajelas yang bikin muka merah merah. Haha
Harga lip balm ini memang terlalu mahal buat saya. Ini pun dapetnya dari temen, haha. Penerbangan Garuda katanya juga dapet toiletries l'occitane ini dan termasuk lipbalm, haha.
Umumnya tekstur body butter emang kayak butter beneran ya, jadi susah dipake setiap hari. Dan saya juga jarang cocok sama body lotion atau butter. Sejauh ini cuma cocok beberapa merk, ehe. Nah herborist mango ini emezing banget wanginya enak (mirip body shop yang mango) gak terlalu berminyak juga cepet kering jadi bisa dipake siang hari, murah pula! Juara! Cinta produk Indonesia!Saturday, March 14, 2015
Feminis Bingung
Sebegitu signifikan hingga kemudian saya menaruh minat yang besar dalam topik- topik tentang perempuan. Membicarakan tentang ini dengan beberapa teman- teman saya, membaca Jurnal Perempuan dan buku- buku para pemikir feminis,hingga menjadi social climber di acara yang diadakan media tersebut. Hingga akhirnya saya memilih untuk magang di Yayasan Pulih yang fokus pada pemulihan penyintas kekerasan terhadap perempuan. Bahkan, saya jauh jauh ke benua Afrika untuk magang lagi Egyptian Feminist Union.
Kadang saya merenung dan juga bingung, kenapa saya sebegitu tergerak untuk menekuni bidang ini, walau saya sering mengaku "ah saya tertarik ke banyak hal kok". Melihat latar belakang, saya juga cukup beruntung sebagai perempuan. Saya anak perempuan satu- satunya, paling muda lagi, namun orangtua saya, terutama ayah saya mendukung saya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Ya, pendidikan, adalah hal yang kemudian saya yakini bisa membebaskan seorang manusia sebenar- benarnya. Bayangkan berapa kemungkinan yang muncul ketika seorang manusia yang tadinya buta huruf jadi bisa membaca, berapa banyak lagi kemungkinan ketika seorang bisa menguasai bahasa Inggris misalnya. Pendidikan sesungguhnya menyadarkan saya bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang tidak terbatas. Kata Ayah saya, kurang lebih begini "kita bukan apa- apa, bapak cuma buruh, dan yang nantinya bisa meningkatkan derajat kalian cuma pendidikan, cuma itu yang bisa bapak wariskan"
Saya juga beruntung, saya adalah warga negara Indonesia. Tidak berlebihan, saya harus mengakui bahwa negara ini cukup 'ramah' pada perempuan. Tentu saja masih terdapat kekurangan di mana mana, namun ketika saya memiliki kesempatan untuk melongok beberapa data tentang kekerasan terhadap perempuan di region MENA (Middle East and North Africa) keadannya jauh, jauh lebih parah daripada di negara ini. Praktek genital mutilation masih umum dilakukan, banyak perempuan tidak memiliki hak dalam politik, dan masih banyak dari para orangtua tidak mau menyekolahkan anak- anak perempuannya. Tahu kan, bahwa negara adidaya seperti Amerika Serikat pun baru memberikan hak pilih pada warga negaranya yang berjenis kelamin perempuan pada amandemen konstitusi yang ke 17.
Keberuntungan selanjutnya yang harus saya akui adalah karena saya beragama Islam. Tunggu dulu, anda pasti sering mendengar bahwa Islam berpaham opresif terhadap perempuan. Ada hal lucu yang ingin saya ceritakan, hal ini ketika kakak saya membuka Adobe reader di ponsel saya dan menemukan buku- buku tentang feminisme. Ia bertanya
"jadi feminis kamu sekarang?"
"masih belajar"
"hati- hati lho"
Hal ini menggelitik saya, bahkan kakak saya yang paling dekat dengan saya sekaligus sangat terbuka pemikirannya menyampaikan hal itu, hati hati kamu akan jadi feminis!. Belakangan saya berkesimpulan, kita terlalu terkekang dengan segala stereotip yang ada pada label- label tertentu, dan memang kecenderungan manusia mungkin untuk melabeli segala hal untuk mempermudah proses kognitifnya. Label 'feminis' yang dipahami kakak saya kala itu mungkin sama dengan label 'Islam' yang dipahami kebanyakan warga Eropa atau AS atau label 'seniman' yang dipahami kebanyakan orang di Indonesia. Hal ini saya jadikan penjelasan kepadanya karena notabene ia adalah seniman, tentu penghayatan seorang seniman tentang seniman begitu mendalam dibandingkan prasangka orang kebanyakan tentangnya. Kita cenderung membenci hal- hal yang tidak (belum) bisa kita pahami.
Oke, mengapa saya bilang saya beruntung sebagai perempuan- Islam. Salah satu contoh mudanya adalah, cara kami berpakaian. Ya, jilbab yang lagi- lagi mungkin banyak dianggap sebagai simbol opresi terhadap perempuan. Jadi begini, kita sudah mahfum bahwa banyak perempuan di dunia kini menjadi 'budak' kapitalisme industri kecantikan. Dari mulai fashion, kosmetik, operasi plastik, dan sebagainya. Perempuan yang sibuk mengurusi tubuh dan kecantikkannya sampai sampai lupa bahwa masih banyak hal lain di dunia ini. Lupa untuk belajar, lupa untuk mengupgrade kemampuan diri, lupa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya. Penghayatan saya adalah, sesungguhnya Islam melindungi perempuan dari hal ini. Tata cara berpakaian muslimah mengedepankan kesederhanaan, jadi idealnya perempuan tidak lagi dipandang dari rupa atau bentuk tubuhnya, tapi dinilai dari pemikirannya, perilakunya terhadap orang lain. Dengan demikian, kualitas diri yang intangible seharusnya lebih nampak dari penampilan tubuh yang fana. Kalau begitu, mengapa sekarang tren hijaber malah marak di kalangan muslimah. Bukan kapasitas saya untuk menilai, tapi semoga kita semua adalah orang- orang yang berproses menjadi baik. Suatu ketika saya ditanyai oleh teman saya yang orang Eropa dan atheis
"mengapa kamu berjilbab?"
"karena agama saya memerintahkan demikian"
"apakah kamu merasa terpaksa memakainya?"
"I'd rather be slave of my Allah, than slave of fashion industry"
Dia pun tersenyum dan mengangguk- angguk.
Tapi, pengetahuan saya tentang Islam masih cetek banget sih dan saya yakin semua pengalaman spiritual sifatnya sangat subjektif. Jika anda berpendapat lain, mohon tinggalkan komentar :)
Hingga akhirnya saya berpikir, sampai kapan saya akan 'ngulik' topik ini. Apakah saya akan istiqomah dengan perjuangan ini. Cielah perjuangan, padahal saya belum melakukan apa- apa. Saya juga kadang sangsi, apakah hal ini benar atau jalan ini akhirnya membuat saya tersesat. Yang jelas, jauh pada diri saya sesungguhnya hal ini membuat saya memiliki semangat baru dalam hidup. Walaupun mungkin terdengar berlebihan. I had to be powerful to empower others.
Saya pun sering terharu ketika banyak laki- laki, minimal di sekitar saya yang mendukung tentang 'gerakan' feminisme. Walaupun masih banyak juga yang skeptis. Seperti, "mengapa ada hari perempuan internasional, tapi tidak ada hari laki- laki internasional". Begini teman- teman, mungkin banyak kelakuan para pejuang hak perempuan yang akhirnya disalah artikan dan akhirnya membentuk stigma negatif. Tapi kita tidak boleh menutup mata, bahwa diskriminasi perempuan masih terjadi di mana mana. Memang bukan hanya perempuan satu satunya 'kaum' yang mengalami hal ini di dunia. Perjuangan para LGBT misalnya, atau ras- ras tertentu yang didiskriminasi. Kurang lebih sama semangat yang mendasarinya. Walaupun sejauh ini saya masih yakin kesetaraan yang mutlak mustahil untuk terjadi.
Jadi, gimana?




