Friday, January 24, 2014

Tugas Paradigma Feminis

DILEMA AFFIRMATIVE ACTION KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM LEMBAGA LEGISLATIF
Oleh : Binar Asri Lestari (1106057393)
In Britain, there will be no female prime minister. Not in my lifetime”
 –Margaret Thatcher

Menjelang Pemilu 2014, beberapa partai politik berlomba- lomba menampilkan beberapa kader unggulan mereka untuk bertarung di pesta politik tahun depan itu. Beberapa masalah pun muncul ketika proses verifikasi parpol. Salah satu masalah yang muncul adalah masalah keterwakilan perempuan dalam parpol. Batas bawah untuk perempuan dalam parpol adalah 30%. Namun, apakah angka tersebut telah mencerminkan keterwakilan hak dan kepentingan perempuan yang sesungguhnya?.
Gender seharusnya menjadi diferensiasi sosial bukan stratifikasi sosial. Namun dalam beberapa aspek, perempuan masih sering dianggap subordinat laki- laki. Hingga kini, politik masih dianggap sebagai dunianya laki- laki.
Banyak yang sering menganggap politik adalah masalah pemimpin dan kepemimpinan. Menurut trias politica ada tiga aspek kekuasaan dalam suatu negara yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pemimpin biasanya ada pada taraf eksekutif atau pemerintahan. Ketika perempuan memang dianggap belum atau tidak layak menjadi pemimpin negara. Namun legislatif adalah persoalan wakil untuk mengakomodasi kepentingan. Idealnya legislatif adalah para ‘wakil rakyat’ yang dipilih oleh rakyat yang diharapkan bisa mengakomodasi kepentingan rakyat.
Kepentingan dan hak perempuan seringkali absen dari perhatian lembaga negara ini. Lebih jauh, beberapa hak perempuan yang seharusnya menjadi otonominya malah terlalu jauh diatur oleh negara, baik disadari maupun tidak. Hal ini kemudian menjadi polemik karena para birokrat negara terdiri dari para laki- laki. Kemudian ditetapkan kebijakan affirmative action bagi perempuan untuk menduduki kursi legislatif dengan harapan para perempuan ini bisa mengakomodasi kepentingan dan memperjuangkan hak kaumnya.
Indonesia menetapkan keterwakilan 30 persen perempuan dalam lembaga legislatif (DPR, DPRD, DPD) yang diatur dalam pasal 8 butir d UU nomor 10/2008. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa salah satu syarat suatu parpol mengikuti Pemilu adalah sekurang- kurangnya terdapat 30% pengurus perempuan dalam parpol tersebut di tingkat pusat. Pasal 53 UU Pemilu Legislatif tersebut juga menyatakan daftar bakal calon memuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan.
Keterwakilan 30% ini sudah diterapkan sejak pemilu Indonesia tahun 2004. Hal ini merupakan tuntutan dari para aktivis perempuan. Kampanye kuota ini merupakan bentuk kelanjutan dari perjuangan perempuan di ranah politik setelah hak pilih perempuan di awal abad 20 terpenuhi.  Padahal sesungguhnya persamaan hak warga negara Indonesia telah tercantum pada UUD 1945 pasal 28H ayat 2 yang menyatakan  “Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan”.
Salah satu implementasi affirmative action yang kemudian diterapkan di Indonesia adalah dengan menggunakan zipper system, yakni dengan menetapkan setiap tiga calon legislatif terdapat satu calon perempuan.
Usaha ini memang telah membuahkan peningkatan yang cukup signifikan secara kuantitatif. Pada pemilu 2009 terdapat 18% perwakilan perempuan dalam legislatif, dibandingkan pemilu 1999 yang hanya 9%.
Peningkatan jumlah ini menurut saya tidak disertai dengan peningkatan kualitas perempuan yang menjadi wakil rakyat pembuat kebijakan di DPR. Masalah pertama ialah stereotip bahwa politik adalah ranah para laki- laki. Hal ini kemudian menurunkan minat perempuan untuk ikut bergabung dalam bidang tersebut. Bahkan untuk ngobrol atau diskusi tentang politik saja mungkin muncul keengganan.
Hal ini kemudian memunculkan terbatasnya akses perempuan untuk mendapatkan pendidikan politik yang memadai. Pun setelah mereka memperoleh pendidikan politik, jarang ada yang mau terjun ke dunia politik praktis. Mereka yang kemudian menjadi politisi perempuan di Indonesia adalah orang- orang yang memiliki ‘akses lebih’ misalnya para keluarga atau kerabat politisi, kelompok lain yang mempunyai kesempatan adalah para public figure, misalnya para artis atau tokoh masyarakat.
Setelah berhasil menjadi calon legislatif pun, peluang calon perempuan untuk menang dari calon laki- laki cukup kecil karena para perempuan belum tentu memilih sesama perempuan sebagai wakilnya. Seperti dilansir Psychology Today, hal ini disebabkan pemilih perempuan (dalam hal ini di Amerika Serikat) menginginkan ‘figur ayah’ dari para pemimpin mereka, selain itu beberapa perempuan menganggap diri mereka tidak lebih baik dari para laki- laki. Saya mengasumsikan bahwa para pemilih perempuan disini masih mengalami electra complex dalam memilih pemimpin atau anggota legislatif
Dalam buku Survival of The Prettiest juga disebutkan bahwa bagi perempuan, penampilan fisik sangat penting sebagai penentu dalam karirnya. Ternyata, hal ini tidak berlaku bagi laki- laki. Sebuah survey menyatakan bahwa Mitt Romney terlihat lebih tampan daripada Barack Obama, namun nyatanya Obama lah yang terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.
Fenomena yang disebut glass ceiling effect ini menjadi hambatan bagi perempuan untuk menyuarakan pendapatnya di tingkat negara.
Affirmative action ini kemudian seolah- olah hanya menjadi angka pembungkam belaka. Toh, perempuan yang sekarang menduduki kursi legislatif tidak terlalu memperhatikan kepentingan kaumnya. Bahkan tidak menuntup kemungkinan para laki- laki yang justru lebih memahami masalah perempuan lebih tepat untuk mewakili para perempuan dalam lembaga legislatif untuk mengakomodasi kepentingan- kepentingan perempuan.
Kesempatan laki- laki yang lebih besar dalam ranah politik memungkinkan mereka untuk lebih dulu mendapatkan pendidikan tentang politik, di dalamnya termasuk kepentingan- kepentingan perempuan. Jumlah laki- laki yang banyak dalam dunia politik membuat mereka benar- benar diseleksi secara ketat untuk mencapai posisi sebagai anggota legislatif.
Sesungguhnya keterwakilan perempuan dalam parlemen menjadi salah satu solusi untuk berbagai masalah perempuan yang kompleks. Namun kemudian ternyata hal ini menuntut kesiapan dari para perempuan yang mewakili kaumnya di parlemen ini.
Menurut saya, pendidikan politik bagi seluruh warga negara, terutama perempuan menjadi sangat krusial untuk masalah ini. Perempuan yang menjadi legislator bukan hanya menjadi boneka untuk semata- mata memenuhi kuota. Masyarakat Indonesia diharapkan untuk memahami perempuan dengan segala keterbatasannya dalam publik. Pemahaman ini kemudian memunculkan empati sebagai sesama warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Stereotip dan prasangka memang bukan hal yang mudah untuk diubah dalam masyarakat yang telah membudaya. Usaha untuk menghapuskan streotip lama yang mendiskreditkan perempuan bisa dilakukan dengan penerapan pola asuh parenthood bukan lagi motherhood. Pendidikan di sekolah dan peran media massa juga penting untuk pengubahan stereotip ini.
Memang perjuangan untuk menyuarakan hak dan kepentingan perempuan tidak harus ditempuh melalui jalur politik. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan untuk memenuhi haknya dan hak kaumnya seperti berkecimpung dalam dunia pendidikan, jurnalistik, sastra, ekonomi, sosial, industri, kesehatan, dan lain- lain. Namun politik sebagai penentu kebijakan menjadi penting bagi seluruh kegiatan warga negara yang ada di Indonesia.
Terakhir, hal yang paling penting adalah bagaimana negara kemudian menjamin perempuan dapat masuk ke dalam berbagai lini kehidupan bermasyarakat. Kebebasan perempuan dapat diatur dan dijamin dalam undang- undang untuk menjadi warga negara yang berdaulat.



Sumber :

 

Drexler, P. (2013, January 4). Gender : Why Aren't Women Voting for Women? Dipetik May 25, 2013, dari Psychology Today: psychologytoday.com/blog/our-gender-ourselves/201301/why-aren-t-women-voting-for-women
Mulyono, I. (2010). Strategi Meningkatkan Keterwakilan Perempuan. Diskusi Panel RUU Pemilu- Peluang untuk Keterwakilan Perempuan (hal. 1- 6). Jakarta: dpr.go.id.
N/A. (N/A). Keterwakilan Perempuan Di Lembaga Legislatif. Workshop gender, politik, dan kekuasaan, UGM (hal. 1- 5). Yogyakarta: menegpp.go.id.
Sarwono, S. W., & Meinarno, E. A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Tong, R. (2009). Feminist Thought. Charlotte: Westview Press.


ps: ini tugas akhir saya untuk mata kuliah Paradigma Feminis semester 4 lalu, walaupun kacrut menurut standar APA tapi dapet A lho, ehehehek. first time ngepost tugas di blog, haha semoga bermanfaat


Thursday, January 16, 2014

Tukeran Buku, Yuk!

*bersihin blog dari debu debu bertrbangan* haha apasih
halo teman- teman, apakabar 2014?
duh saya makin jarang nulis di blog ya :(

di tahun 2014 ceritanya saya ingin lebih banyak berbuat baik dan lebih banyak membaca, hihihi. kemarin ketika pindah kosan, saya menyadari bahwa koleksi buku saya segitu banyaknya :/ padahal jika disimpan gak akan lebih berguna, nah saya punya ide untuk barter/ tukeran buku yang kita punya!

...ini daftar judul yang bisa kita tukerin :p
1. Nasional Is Me - Pandji Pragiwaksono
2. Berani Mengubah - Pandji Pragiwaksono
3. Supernova: Akar - Dee
4. Supernova: Partikel - Dee
5. Madre - Dee
6. Larung - Ayu Utami
7. Lalita - Ayu Utami
8. Cerita Cinta Enrico - Ayu Utami
9. Eat, Pray, Love - Elizabeth Gilbert
10. The Alchemist - Paulo Coelho
11. Edensor - Andrea Hirata
12. Ayat- Ayat Cinta - Habiburahman el Shirazy
13. Ketika Cinta Bertasbih 1 - Habiburahman el Shirazy
14. Kana di Negeri Kiwi - Rosemary Kesauly
15. Putri Hujan dan Ksatria Malam - Sitta Karina
16. Lola Rose - Jacqueline Wilson
17. New Moon - Stephanie Meyer*

*buku berbahasa Inggris

sementara, ini dulu ya bukunya. kamu boleh meminjam buku diatas dengan cara kamu meminjami saya buku juga-- apa saja, haha, simpel kan? hubungi saya di twitter ya @binbinbinar

oia, karena saya belum bisa teleport, mungkin tawaran ini hanya berlaku untuk teman- teman di Depok dan sekitarnya, sebarkan kabar baik ini ya!

~b

Monday, November 11, 2013

Tanggung Jawab

setahun yang lalu, saat saya turut serta dalam sebuah acara orientasi kampus, salah satu dari kami melakukan kesalahan. pada akhir acara, saat evaluasi kami semua-- yang sudah kelelahan hampir saling menyalahkan satu sama lain. lalu ada seseorang yang saat itu melakukan kekeliruan ditanya oleh panitia yang lebih senior..

"mas angkatan berapa?"
*si mas ini menyebutkan angkatannya*
"oh kalo gitu kesalahan yang lo lakukan hari ini, salah gue juga, karena gue yang dulu ngospekin elu"

.....

beberapa hari gue kesel sama si senior ini, tapi setelah dia memberikan pernyataan ini, gue langsung berpikir dia cooool abeees maaaan, hahaha

berapa kali dalam sehari kita mengacungkan jari ke orang lain, menunjuk padanya, semua gara2 elu, salah elu, ini salah si a, b, c, d.... tapi pernah gak sih sekali kita diem sebentar merenungi, jangan- jangan semua kesalahan, keancuran, kegakjelasan di dunia ini gara- gara diri kita sendiri.... hmm...




Thursday, July 18, 2013

Industrial

Saya akan memulai cerita ini dengan potongan kisah dari film Man of Steel.

Planet Krypton sudah sedemikian maju dan penghuninya (yang mirip manusia) telah melakukan berbagai penemuan bagi bangsanya. Kemudian (mungkin untuk efisiensi) setiap bayi di Krypton lahir melalui proses seperti kloning (gue gatau namanya apa, haha) dari sebuah Codex (DNA- DNA pilihan warga Krypton sebelumnya). Jadi setiap bayi yang lahir sudah disiapkan untuk menjadi pemimpin, militer, pekerja, ilmuwan, dan lain- lain karena struktur biologis mereka memang sudah disiapkan sedemikian rupa untuk itu. Ratusan tahun sistem kelahiran bayi ini diterapkan di Krypton hingga seorang ilmuwan bernama Jor-El memutuskan bahwa ada yang absen dari sistem ini yakni kesempatan... pilihan...

Kemudian Jor-El dan istrinya memutuskan untuk memiliki anak secara alamiah tapi sedemikian sehingga juga dimasukkin Codex tadi (tapi semuanya!) Bayi itu kemudian dinamai Kal-El. Tapi karena tahu bahwa planet Krypton akan segera hancur. Jor-El mengirim Kal-El ke planet biru yang mengitari bintang kuning hingga akhirnya jatuh di sebuah ladang gandum di Texas dan dinamai Clark Kent.

Ehek, udah ya ceritanya. Dapet poinnya gak? Pasti enggak. Haha

Tenang tenaaang. Saya bukannya mau nyeritain Henry Cavill yang hawt itu kok. Hahaha

Jadi gini, beberapa hari yang lalu saya dapet tugas buat riset majalah SUMA tentang World Class University (WCU) yang lagi gencar-gencarnya di UI era Gumilar.
Jadilah saya nanya- nanya ke Ridha Intifadha yang notabene anak BK MWA UI UM. Haha. Tapi yaudah jadinya ngalor ngidul, hahaha.
Terus kata dia, sebelum abad ke 17 gak ada tuh yang namanya sistem pendidikan, belajar itu ya murni sendiri dan gak tergantung sama institusi.
Baru setelah ada revolusi industri. Universitas seolah menjadi tempat manusia untuk ditempa sebelum jadi 'kapital'. Iya, sering banget kan ada pertanyaan 'kuliah apa? Oh nanti kerjanya apa?'. Nah iya, sekolah dan kuliah semata mata mempersiapkan kita jadi pekerja. Kita kuliah untuk kemudian kerja di multinational company dan tiap hari ngomong  inglish (?) Karena ya masyarakat dunia saat ini adalah masyarakat industri. Pendidikan yang (mungkin) sejatinya adalah sarana untuk manusia mempelajari suatu ilmu pengetahuan menjadi salah arah.

Trus, apa nyambungnya sama film Superman, Bin?

Bukan tidak mungkin manusia bumi makin mirip penduduk Krypton. Tapi masalahnya sering banget terjadi mismatch antara manusia dan 'ilmu' yang ia pelajari. Apa jadinya kalau Andy Warhol kuliah kedokteran dan Obama kuliah teknik? Mungkin kita gak bakal denger nama mereka.
Sedihnya masih banyak orangtua melarang anaknya kuliah jurusan yang 'aneh'. Heuheu

Belajar bisa dalam bentuk apapun. Sistem pendidikan adalah salah satu sarana. Mungkin semua ini bakal jadi pepesan kosong karena saya pun belum melaksanan hal  ini dengan baik : "Belajar"

Well I just want to tell you what's poppin' in my brain. Thanks for reading :)

Sunday, July 7, 2013

Kelompok Manusia

Saya selalu terheran- heran kenapa ada orang yang hidup dengan begitu cool-nya. Kegiatan mereka selalu dinamis dan penuh warna.

Ada juga mereka hidupnya sangat biasa. Menghabiskan waktu dibalik meja dan selalu menanti akhir pekan agar mereka bisa tidur seharian.

Lalu saya berpikir, termasuk bagian manakah saya?

Atau jangan- jangan ada irisan di antara kedua kelompok itu. Atau ada kelompok lain diluar kedua mereka.

Ah, tapi bukankah kecenderungan saya untuk selalu mendikotomikan segala sesuatu.

Jadi, saya termasuk yang mana?

Friday, June 21, 2013

Yesterday

Heyy, it's been a long time since my last posting. Hahak. And my 19th birthday is just 5 days ahead.
Hahaha. Mungkin agak gak relevan sih. Cuma kayaknya pengen cerita. Hari ini akhirnya libur. Libur artinya bener bener gak ada 'kegiatan' yang diagendakan. Hahaha
Setelah bangun siang dan melakukan hal random kemudian saya memutuskan untuk beli majalah. Rasanya udah lama banget gak beli/ baca majalah. Ternyata setelah muter2 Depok. Gak nemu juga. Huft
Lalu takdir membawa saya ke sebuah tempat penyewaan DVD. Video Ezy namanya. Dulu waktu di Cilacap, saya sering pergi ke tempat ini. Ya, maksudnya franchise nya di tempat lain. Tentunya karena segitu langka nya hiburan di kota asal saya itu. Tapi akhirnya tempat itu tutup. Mungkin karena bangkrut karena gak ada yang nyewa. Huhu kasian.
Ya dan tadi ketika saya berhenti di Video Ezy jalan akses UI. Tandanya sudah menunjukan kata 'Tutup' tapi kemudian seorang mbak mbak tersenyum manis dari dalam dan memberikan tanda: masuk aja.
Saya pun masuk. Ternyata koleksi film nya bangak banget. Ya, kebanyakan film lama. Untung mbak nya ini ramah banget. Setelah milih2. Akhirnya saya pilih 5 film lama ini:
1. Love Actually
2. The Beaver
3. Ruang
4. The Photograph
5. The Flowers of War

Semuanya cuma 15.000 hahaha. Dan sebelum saya pulang, ada yang menjemput mbak ini. Saya duga mereka suami dan anaknya. Ampun deh anaknya (cowok) lucuu banget.

Pesan dari cerita ini adalah: mbak ini (siapa ya namanya) telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Dan kayaknya saya bakal gak tidur malem ini. Haha, bonsoir !!

Ps: ini post pertama yg saya buat pake aplikasi blogger di hp :p

Monday, April 29, 2013

Sendirian ?



Satu kata, dengan intonasi yang membuatnya jadi tanya. Sering ketika saya pergi ke perpusat, detos, margo city, gramedia, atau manapun yang masih dalam daerah teritorial UI sendirian dan bertemu dengan acquaintances, mereka bertanya demikian. Ingin sekali rasanya menjawab dengan meme “you don’t say” nya Nicolas Cage, haha. Kemudian, kujawab iya, lantas mereka memandang saya dengan emm, pandangan yang kurang mengenakan.

Mon Dieu, sesungguhnya apa sih yang begitu salah/ hinanya ketika seseorang berpergian sendiri. Toh mengutip dari nenekAfina, “manusia lahir sendirian, mati sendirian, jadi manusia itu hakikatnya sendirian”.
Ketika mama saya yang menanyakan ini lewat telepon mungkin saya mahfum bahwa maksudnya adalah menjamin/ mengkhawatirkan keselamatan saya. Tapi masalahnya, saya sungguh lebih suka kemana- mana sendirian. Bahkan kadang- kadang saya pergi ke tempat yang agak jauh (dari yang disebutkan diatas) demi keselamatan dari pertanyaan ini “sendirian ?”.

Petualangan terjauh saya sendirian mungkin saat apply magang ke Kompas Gramedia di daerah Palmerah. Huhuu, eh ada yang lebih jauh ! waktu itu saya ke Gandaria City sendiri hanya karena ada acara card to post, syukurlah saya bisa ngerampok beberapa kartu pos gratis. Kedua tempat itu belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Ah segitu doang, cupu lo bin. Lah, saya kan gak bermaksut pamer. Selain itu saya juga prefer melakukan perjalanan jarak jauh (ke Bandung atau Cilacap) sendirian. Ada kenikmatan tersendiri ketika semuanya dilakukan sendirian.

Okay, okay, pasti kalian gatal berkomentar bahwa saya ini, emm bahasa barbar nya jomblo. Okaay marilah kita anggap ini adalah justifikasi dari status saya tersebut di atas. Tapi tapi jikalau nanti saya pun punya pasangan, apakah semua mua kegiatan yang saya lakukan harus bersamanya ?. toh pada akhirnya, ada istilah ‘me time’. Nah, jadi gimana dong ?.

Pada akhirnya, saya hanya ingin mengungkapkan pendapat saya (that what’s blog are for) haha. Intinya, harap masyarakat sekalian menghargai pilihan orang- orang yang berpergian sendirian dengan tidak menanyakan “sendirian ?”