Showing posts with label Papua. Show all posts
Showing posts with label Papua. Show all posts

Monday, February 4, 2019

Tentang Bekerja

one who has why can bear almost any how

Seorang teman pernah menulis adagium itu di status pesan singkatnya. membuat saya mengingat-ingatnya hingga kini.

Tahun lalu saya menandatangani kontrak baru di kantor saya, kali ini untuk membantu proyek konservasi di Papua-pendeknya begitu.

Papua, tak ubahnya Narnia dalam sistem berpikir saya, suatu tempat yang hanya saya kenal lewat layar televisi dan lembaran buku. Dan konservasi alam bukanlah topik saya, walau satu dekade lalu saya sangat gemar membaca artikel tentang go green di majalah Cosmogirl, hehe. Tentu pengetahuan saya tak bisa sebanding dengan kolega-kolega saya yang menyandang gelar doktor bahkan profesor dalam bidang ini.

Tempat baru, teman baru, topik baru. Banyak sekali tantangan (karena saya tidak mau menyebutnya sebagai hambatan) yang saya temui.

Saya mulai frustrasi dan bertanya-tanya akan banyak hal. Apakah yang saya kerjakan ini berguna? apakah betul-betul memberikan dampak? kenapa semuanya seolah begitu rumit dari hulu ke hilir.

Semua pertanyaan itu berujung pada pertanyaan. Kenapa saya bekerja? atau lebih spesifiknya, kenapa saya memilih pekerjaan ini?.

Lama saya berpikir dan mencoret-coret jawaban dalam buku catatan saya. Hingga saya meraih kaus gratisan dari kitabisa.com dengan tagar #orangbaik. Saya ingin jadi orang baik, bisakah? salahkah? terlalu muluk-muluk kah? terlalu narsistis kah?.

Saya ingin jadi orang baik. Lantas bagaimana caranya?

Saya bisa memberi makan anak-anak jalanan. Saya bisa pergi ke timur tengah untuk jihad. Saya bisa mendonorkan darah saya. Saya bisa menikah dan menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga saya.

He* who has why can bear almost any how.

*and also she, of course

Gagasan menjadi orang baik begitu abstrak, kurang spesifik, tidak operasional. Kemudian saya ingat kutipan milik Eckhart Tolle "salvation is here and now". Sesaat kemudian saya juga teringat brosur Visi Papua 2100 yang dibawa oleh kolega saya.

2100, sebuah angka tahun, 81 tahun dari sekarang. Jika beruntung saya sudah menjadi pupuk subur bagi tanah tempat jenazah saya dikubur kelak. Dan apakah visi-visi itu, yang coba kami bantu wujudkan, akan menjadi kenyataan kelak? siapa tahu, mungkin belum, mungkin kenyataan melebihi.

Tiba-tiba hati terasa ringan, jika bekerja bukan melulu tentang hasil, kita bisa berserah tanpa menyerah. Menanam pohon yang kita tahu tak akan pernah kita nikmati buah atau teduh dahannya.

Saya belum menemukan why ultima saya. Namun barangkali serupa doa yang disisipkan orang tua lewat nama saya, menjadi Binar yang Asri nan Lestari.

Ijinkan, saya menjadi Binar itu, walau hanya redup setitik.

Aamiin

Thursday, September 29, 2016

Mbak Nara, Sebenarnya Ada Apa di Papua?

Waktu itu kalau tidak salah saya duduk di kelas 3 SD. Ketika Mbah Sunu, kakek saya membelikan sebuah buku Atlas. Saya pun sangat senang, dan kemudian membacanya bersama Mas Bandu. Saya kagum melihat warna-warni bendera negara-negara di dunia dalam buku tersebut. Saya tanya ke Mas Bandu

"mas, sekarang ini masih ada negara yang dijajah negara lain gak?"

"hmmm, ya enggaklah kan sudah ada PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)"

Saya mengangguk mafhum.

***

Pagi tadi nampaknya ada seorang perempuan yang cukup menggegerkan media tanah air, karena ia dengan beraninya memberikan pernyataan di forum PBB, menjawab pernyataan Presiden Kepulauan Solomon dan 5 kepala negara Pasifik lain tentang Papua. Adalah Nara Rakhmatia, yang headline beberapa media massa katakan 'menampar' enam kepala negara pada KTT PBB ke 71 di New York, AS.

Afina membagikan berita tentang Mbak Nara (sok akrab) ini, "kenapa ya yang dikomentarin cantiknya?". Sebagai orang yang cukup cermat membaca berita. Seharusnya kita bertanya, ada apa sebenarnya di Papua sana? (ya, 'sana' karena Papua nampak begitu jauh walau kita masih saudara). Kenapa tiba-tiba enam negara yang namanya jarang kita dengar ini, yang lokasinya paling hanya berupa titik-titik pada peta dunia, tidak ada angin tidak ada hujan menyinggung masalah Papua. Benarkah ini benar-benar tiba-tiba?.

Tadi, ketika menonton cuplikan jawaban Mbak Nara di youtube, banyak komen yang mengomentari tentang: NKRI harga mati! I love Papua!, dan sebagainya. Benarkah kita mencintai Papua?. Kalau kita cinta sama orang, bukankah kita pengen tahu segalanya tentang dia?. Nah sekarang marilah kita kepoin si Papua tercinta. Kenapa, ternyata ada saudara-saudara kita di sana yang pengen merdeka? nih websitenya kalau mau tahu? www.wplo.org

Lalu, apakah saya mendukung Papua merdeka? mendukung para 'separatis' itu membuat Papua bukan lagi bagian dari Indonesia? tidak, tentu saja tidak. Indonesia indah karena keanekaragamannya. Namun Bhineka Tunggal Ika tidak akan dicapai dengan menutup-nutupi peristiwa-peristiwa yang ada, bukan pula dengan membunuh suara-suara yang ingin didengarkan. Karena yang saya tahu, Indonesia itu adalah dari Sabang sampai Merauke.

Terimakasih Mbak Nara, yang telah melakukan tugasnya sebagai perwakilan Indonesia di PBB dengan baik. Membuat kita kagum akan kecantikan dan keberaniannya. Dan membuat kita bertanya, "Sebenarnya Ada Apa di Papua?"