Salah satu cita-cita gue adalah jadi marbot masjid, karena mungkin itulah bentuk asketisme terdekat dalam Islam.
Bukan karena gue sangat saleh—atau setidaknya bukan itu alasan utamanya. Lebih karena ada sesuatu yang terasa sangat masuk akal dari hidup yang ritmenya sederhana: membuka pintu masjid sebelum subuh, menyapu halaman, mengganti air wudhu, mendengar gema azan lima kali sehari. Hidup yang tidak terlalu banyak distraksi, tidak terlalu banyak ambisi duniawi. Hidup yang dekat dengan sesuatu yang sakral.
Kadang gue iri pada tradisi lain yang punya institusi asketisme yang jelas: biksu, biarawan, monastery. Ada ruang sosial yang memang didedikasikan untuk orang-orang yang ingin mengambil jarak dari dunia. Seolah masyarakat berkata: baiklah, sebagian dari kita boleh mengabdikan hidup sepenuhnya pada kontemplasi.
Sementara dalam Islam, konsep seperti itu hampir tidak ada. Bahkan secara eksplisit ditolak. Ada hadis yang cukup terkenal: la rahbaniyyata fil Islam—tidak ada monastisisme dalam Islam.
Ini selalu membuat gue penasaran. Kenapa?
Kalau kita percaya bahwa tujuan akhir hidup ini adalah keselamatan di akhirat—atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, masuk surga—kenapa Islam justru tidak menyediakan jalur untuk sepenuhnya menarik diri dari kehidupan dunia yang mundane? Kenapa umatnya tetap didorong untuk bekerja, menikah, berkeluarga, berbisnis, berpolitik, dan terlibat dalam semua kompleksitas sosial yang sering kali terasa melelahkan?
Dari satu sisi, jawabannya teologis. Dalam banyak tradisi Islam, dunia tidak dipandang sebagai gangguan spiritual, tetapi sebagai arena ujian. Ibadah tidak hanya terjadi di ruang ritual, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari: mencari nafkah, memberi makan keluarga, membantu orang lain, bahkan sekadar tersenyum kepada sesama.
Dengan kata lain, Islam tidak memisahkan kehidupan spiritual dan kehidupan sosial. Justru yang mundane itu sendiri disakralkan.
Tapi semakin gue pikirkan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang menarik secara desain sosial di baliknya. Hampir seperti ada unsur game theory.
Bayangkan kalau monastisisme dilembagakan secara luas. Kalau banyak orang memutuskan untuk keluar dari kehidupan ekonomi dan sosial demi fokus pada keselamatan spiritual pribadi. Siapa yang akan tetap menjalankan masyarakat? Siapa yang akan bertani, berdagang, membangun kota, membesarkan anak, mempertahankan komunitas?
Dalam bahasa game theory, ini bisa menjadi masalah public goods. Kalau terlalu banyak orang memilih jalan kontemplatif, sistem sosial bisa kehilangan pemain yang menjaga keberlanjutannya.
Di titik ini, larangan monastisisme dalam Islam mulai terlihat seperti sebuah aturan yang logis: semua orang harus tetap berada di dalam arena sosial. Tidak ada kelas spiritual yang sepenuhnya keluar dari dunia. Semua orang tetap harus bekerja, berinteraksi, dan berkontribusi pada masyarakat.
Namun menariknya, insentif spiritual tidak dihilangkan. Ia hanya dipindahkan.
Bekerja bisa menjadi ibadah.
Memberi nafkah keluarga bisa menjadi ibadah.
Menolong orang lain bisa menjadi ibadah.
Alih-alih memberi pahala pada penarikan diri dari dunia, sistem ini justru memberi pahala pada keterlibatan di dalamnya.
Dari sudut pandang desain sosial, ini cukup elegan. Ia menyelaraskan tujuan individu: keselamatan spiritual dengan kebutuhan kolektif yang berujung keberlangsungan masyarakat.
Tapi di sinilah muncul keganjilan kecil dalam imajinasi gue tentang menjadi marbot.
Gue hampir belum pernah melihat marbot masjid perempuan.
Masjid—yang secara teori adalah rumah ibadah bagi semua umat—dalam praktiknya sering terasa seperti ruang yang lebih maskulin. Yang membuka pintu, menyapu lantai, menyiapkan karpet, biasanya laki-laki. Peran perempuan dalam memakmurkan masjid kadang masih tidak jauh dari perdapuran juga, memasak dan menyediakan takjil saat bulan Ramadan.
Padahal kalau dipikir-pikir, posisi marbot itu justru menarik: ia berada dekat dengan ruang sakral, tetapi tidak berada di pusat otoritas formal seperti imam atau ulama. Ia lebih seperti penjaga ritme spiritual sehari-hari.
Dan di situ muncul pertanyaan lain.
Kalau asketisme dalam Islam tidak dilembagakan seperti biara, lalu di mana tempat perempuan dalam imajinasi spiritual itu?
Sering kali, perempuan dalam Islam justru diglorifikasi melalui institusi pernikahan. Ibu disebut sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Surga dikatakan berada di bawah telapak kaki ibu. Perempuan dimuliakan sebagai penjaga rumah tangga.
Semua itu terdengar sangat indah.
Namun di balik retorika kemuliaan itu, ada struktur sosial yang cukup jelas: perempuan sering diposisikan terutama sebagai pusat reproduksi keluarga dan komunitas.
Yang ironis, logika ini tidak sepenuhnya berbeda dengan logika kapitalisme modern.
Dalam kapitalisme, tubuh perempuan juga sering ditempatkan dalam fungsi reproduktif—tidak selalu secara eksplisit, tetapi secara struktural. Rahim perempuan menjadi bagian dari siklus produksi sosial: menghasilkan generasi pekerja berikutnya, batch of labor yang akan menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Di satu sisi, institusi keluarga menjaga keberlanjutan masyarakat. Di sisi lain, ia juga menjadi mekanisme yang memastikan bahwa sistem sosial—baik religius maupun ekonomi—terus memiliki pemain baru.
Dan di titik ini, pertanyaan tentang asketisme kembali muncul dengan cara yang sedikit berbeda.
Kalau laki-laki kadang masih memiliki imajinasi untuk menjadi imam, ulama, sufi, atau bahkan marbot—figur yang setidaknya memiliki jarak tertentu dari permainan dunia—perempuan sering kali bahkan tidak diberi ruang imajinatif untuk menarik diri dari peran reproduktif itu.
Mungkin karena itu, keinginan sederhana untuk menjadi marbot terasa agak subversif dalam kepala gue sendiri.
Bukan karena itu adalah posisi yang tinggi atau prestisius. Justru sebaliknya: karena ia sederhana, sunyi, dan tidak terlalu dibebani ekspektasi sosial yang besar.
Seseorang yang menyapu lantai masjid sebelum subuh mungkin tidak sedang mengubah dunia. Seperti Diogenes yang hidup di dalam gentongnya dan hanya ingin berkat dari sinar matahari.
Untuk beberapa saat, setidaknya, ia berada cukup dekat dengan sesuatu yang lebih tenang daripada dunia yang terus berputar di luar sana.